Kisah cinta antara Elana dan Fedro mungkin tidak berakhir dengan kata perpisahan.
Tidak ada kalimat, “Kita udahan aja.”
Tidak ada juga kata, “Aku sudah tidak mencintaimu.”
Semuanya hanya berakhir… dengan diam.
Hari itu, Fedro mengatakan bahwa dirinya sangat sibuk.
Elana memahami. Setidaknya, ia mencoba memahami.
Sejak pagi, Elana menunggu kabar. Sesekali ia membuka ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Fedro.
Namun, tidak ada.
Pagi berlalu.
Siang berlalu.
Sore pun tiba.
Akhirnya, Elana memberanikan diri mengirim pesan.
“Kamu ke mana?”
Pesan itu terkirim.
Dilihat.
Lalu Elana kembali menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Berjam-jam lamanya.
Barulah Fedro membalas.
“Maaf, lagi sibuk.”
Elana membaca pesan itu dengan perasaan kesal.
“Sibuk apa?”
Fedro menjawab santai.
“Tetangga ulang tahun.”
Elana terdiam beberapa saat.
Lalu ia mengetik.
“Tetangga ulang tahun, kamu yang sibuk?”
Fedro hanya membalas,
“Heheh.”
Satu kata sederhana.
Namun entah kenapa, bagi Elana, jawaban itu terasa menyebalkan.
Malamnya, Fedro kembali
menghilang.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar.
Elana mencoba untuk tidak memikirkan semuanya.
Mungkin memang sibuk, pikirnya.
Mungkin memang tidak sempat memegang ponsel.
Namun sampai tengah malam, tidak ada satu pun pesan dari Fedro.
Elana akhirnya tertidur.
Saat terbangun dan membuka ponselnya keesokan paginya, ada sebuah pesan masuk.
Pesan itu dikirim pukul dua lewat dini hari.
“Sayang, maaf. Baru pegang HP.”
Elana hanya membaca pesan itu.
Tidak membalas.
Ia meletakkan ponselnya kembali.
Bukan karena tidak ingin menjawab.
Ia hanya sedang marah.
Tapi kali ini, Elana memilih diam.
Siang harinya, sebuah pesan kembali masuk.
“Sayang.”
Elana melihatnya.
Namun tetap tidak membalas.
Entah kenapa, kali ini ia ingin Fedro merasakan bagaimana rasanya menunggu.
Bagaimana rasanya mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban.
Namun malam harinya, ketika akhirnya mereka kembali berbicara, semuanya justru berubah menjadi pertengkaran.
Fedro bertanya,
“Kenapa baru chat?”
Elana menjawab singkat.
“Sibuk.”
Fedro membalas,
“Sibuk sampai malam?"
Elana tersenyum pahit.
Jarinya mengetik cepat.
“Emang kamu aja yang boleh sibuk?”
Dan dari situlah semuanya dimulai.
Kata demi kata berubah menjadi emosi.
Pesan demi pesan semakin dingin.
Tidak ada yang mau mengalah.
Tidak ada yang benar-benar berusaha memahami.
Fedro merasa Elana terlalu marah.
Elana merasa Fedro tidak pernah mengerti perasaannya.
Mereka bertengkar.
Padahal mungkin, semuanya hanya dimulai dari sebuah pesan yang tidak dibalas.
Keesokan malamnya, Elana mulai merasa bersalah.
Ia sadar bahwa dirinya memang terlalu emosional.
Mungkin karena beberapa hari itu ia sedang PMS.
Mungkin emosinya memang tidak terkendali.
Atau mungkin, sebenarnya ada banyak hal yang selama ini ia pendam.
Dengan memberanikan diri, Elana mengirim pesan kepada Fedro.
“Maaf ya kalau aku marah-marah.”
Beberapa menit kemudian, ia kembali mengetik.
“Mungkin karena lagi PMS, jadi marahnya gak kekontrol.”
Elana menunggu.
Pesannya dibaca.
Dan akhirnya Fedro membalas.
Bukan dengan kata-kata.
Hanya sebuah…
😂
Emoji tertawa.
Elana menatap layar ponselnya cukup lama.
Dadanya terasa aneh.
Ia tidak tahu harus merasa marah, sedih, atau kecewa.
Dia ketawain aku karena minta maaf?
Begitu pikir Elana.
Ia kembali mengetik.
“Maksudnya?”
Pesan itu terkirim.
Fedro melihatnya.
Namun tidak menjawab.
Elana menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Satu jam.
Tetap tidak ada jawaban.
Malam itu, Elana akhirnya mengerti sesuatu.
Terkadang, seseorang tidak perlu mengatakan bahwa ia sudah berubah.
Sikapnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Hari berikutnya, tidak ada lagi percakapan panjang.
Tidak ada lagi kata,
“Sudah makan?”
Tidak ada lagi,
“Jangan lupa istirahat.”
Tidak ada lagi,
“Aku rindu.”
Semuanya perlahan berubah menjadi asing.
Elana memilih diam.
Bukan karena sudah tidak peduli.
Bukan juga karena sudah tidak mencintai.
Namun karena ia merasa, mungkin diam adalah satu-satunya cara untuk menghargai keputusan seseorang yang perlahan menjauh.
Elana tidak ingin terus mengganggu.
Tidak ingin terus bertanya.
Tidak ingin terus mengejar seseorang yang sudah tidak lagi berusaha tinggal.
Ia hanya diam.
Dan membiarkan Fedro menjalani hari-harinya tanpa dirinya.
Kadang Elana masih membuka percakapan lama mereka.
Membaca pesan-pesan yang dulu membuatnya tersenyum.
Mengingat bagaimana dulu Fedro selalu ada.
Bagaimana mereka bisa tertawa hanya karena hal-hal kecil.
Bagaimana sebuah kata “sayang” dulu terasa begitu hangat.
Tapi sekarang…
Kata itu hanya tinggal kenangan.
Yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi.
Melainkan ketika seseorang masih ada…
tetapi memilih untuk menjadi asing.
Elana akhirnya berhenti mengirim pesan.
Bukan karena tidak ingin berbicara.
Tapi karena ia lelah menjadi satu-satunya orang yang selalu berusaha memperbaiki semuanya.
Ia pernah marah.
Pernah meminta maaf.
Pernah menunggu.
Pernah berharap.
Namun mungkin, tidak semua hubungan harus diperjuangkan sendirian.
Dan sejak hari itu, Elana memilih diam.
Diam karena menghargai Fedro.
Diam karena tidak ingin mengganggu.
Dan diam karena akhirnya ia sadar…
bahwa terkadang sebuah kisah cinta tidak membutuhkan kata selesai untuk benar-benar berakhir.
Cukup dengan dua orang yang
perlahan berhenti berbicara.
Berhenti bertanya.
Berhenti mencari.
Lalu…
menjadi asing.
Elana masih menyimpan satu pertanyaan dalam hatinya.
“Apa aku benar-benar terlalu berlebihan?”
Namun ia tidak pernah lagi mengirim pertanyaan itu kepada Fedro.
Karena mungkin, ia sudah tidak membutuhkan jawabannya.
Sebab dari semua diam yang diberikan Fedro, Elana akhirnya menemukan jawabannya sendiri.
Bahwa tidak semua yang kita cintai akan memilih untuk tetap tinggal.
Dan tidak semua perpisahan diawali dengan ucapan selamat tinggal.
Ada yang hanya…
perlahan menghilang.
Seperti Fedro.
Dan Elana…
yang akhirnya memilih untuk melepaskan.
Bukan karena cintanya sudah hilang.
Tetapi karena ia tidak ingin terus memegang seseorang…
yang sudah tidak lagi menggenggamnya.
Dan begitulah kisah Elana dan Fedro selesai.
Tanpa perpisahan.
Tanpa penjelasan.
Tanpa kata terakhir.
Hanya dua orang yang pernah saling menyayangi…
lalu perlahan menjadi asing.
Selesai.