Nuri pernah percaya bahwa pernikahan adalah tempat terakhir seseorang pulang.
Ia menikah dengan Andi dengan harapan sederhana: membangun rumah kecil, memiliki anak-anak, dan menua bersama.
Beberapa tahun kemudian, harapan itu menjadi kenyataan.
Mereka dikaruniai tiga anak yang sangat mereka cintai—Tyo, Sarah, dan Riki.
Dulu, rumah mereka selalu dipenuhi suara tawa.
Tyo yang suka berlari-larian.
Sarah yang banyak bertanya.
Dan Riki, si bungsu, yang selalu ingin berada di dekat Mama dan Papanya.
Nuri merasa hidupnya sempurna.
Setidaknya, begitulah yang ia pikirkan.
Namun perlahan, sesuatu berubah.
Andi semakin sering pulang terlambat. Ia mulai lebih banyak memegang ponselnya, sering tersenyum sendiri ketika membaca pesan, dan semakin jarang berbicara dengan Nuri.
Nuri berusaha tidak curiga.
Ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin Andi sedang sibuk.
Bukankah rumah tangga memang membutuhkan kepercayaan?
Nuri memilih percaya.
Sampai suatu sore, sebuah benda kecil mengubah seluruh hidupnya.
---
Kertas Kecil Itu
Hari itu Nuri sedang membereskan rumah.
Ketika hendak membersihkan meja, matanya menangkap selembar kertas kecil yang tergeletak di sana.
Ia mengambilnya.
Di atasnya hanya tertulis sebuah nomor telepon.
Tidak ada nama.
Nuri mengernyitkan dahi.
"Nomor siapa ini?"
Ia sebenarnya ingin membuangnya.
Namun entah mengapa, hatinya terasa tidak tenang.
Nomor itu seperti memanggil rasa penasarannya.
Akhirnya Nuri mengambil ponsel.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia memasukkan nomor tersebut.
Jarinya berhenti di atas tombol panggil.
Beberapa detik ia ragu.
Namun akhirnya ia menekan tombol itu.
Tuut...
Tuut...
Tuut...
"Halo?"
Suara seorang perempuan terdengar dari seberang.
Nuri terdiam.
"Maaf... ini dengan siapa?"
"Siska."
Nuri mengerutkan kening.
"Siska siapa?"
Perempuan itu menjawab dengan santai.
"Saya Siska... istrinya Andi."
Jantung Nuri seakan berhenti.
Dunia seperti mendadak sunyi.
"Apa?"
"Saya Siska, istrinya Andi."
Tangan Nuri gemetar.
Ponselnya hampir terjatuh.
"Anda... siapa?"
"Siska."
"Sejak kapan Anda mengenal Andi?"
Hening.
Lalu jawaban itu datang.
"Sudah cukup lama."
Nuri tidak sanggup lagi bertanya.
Telepon dimatikan.
Ia terduduk di lantai.
Air matanya mengalir begitu saja.
Saat itu ia tidak berteriak.
Tidak menghancurkan barang.
Tidak juga memaki.
Ia hanya menangis.
Menatap foto keluarganya yang tergantung di dinding.
Foto dirinya, Andi, Tyo, Sarah, dan Riki.
Sebuah keluarga yang terlihat bahagia.
Padahal ternyata ada perempuan lain di dalam kehidupan suaminya.
---
Pengakuan Andi
Malamnya Andi pulang.
Nuri sudah menunggu.
Ketiga anak mereka sudah tidur.
Rumah sunyi.
"Mas..."
Andi menoleh.
"Aku mau tanya."
Nuri menunjukkan kertas kecil itu.
"Ini nomor siapa?"
Wajah Andi berubah.
"Teman."
"Namanya Siska?"
Andi terdiam.
Nuri mulai menangis.
"Dia bilang dia istrimu."
Andi menundukkan kepala.
Nuri menatapnya.
"Jawab aku."
Andi akhirnya menghela napas panjang.
"Iya."
Satu kata itu menghancurkan hati Nuri.
"Sejak kapan?"
Andi diam.
"Sejak kapan kamu mengkhianati aku?"
"Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan apa?"
Nuri menangis.
"Aku ini istrimu."
"Aku ibu dari anak-anakmu."
"Apa selama ini aku kurang?"
Andi justru menyalahkan Nuri.
"Kamu kurang dewasa."
Nuri terdiam.
"Kamu terlalu banyak melarangku. Kamu tidak pernah mengerti aku. Kamu juga melarangku berbakti kepada ibuku."
Nuri menggeleng.
"Aku tidak pernah melarangmu berbakti kepada ibumu."
"Aku cuma ingin kamu adil."
Andi terdiam.
Nuri mengingat semua yang selama ini terjadi.
Ketika ibu Andi membutuhkan sesuatu, Andi selalu berusaha datang.
Tetapi ketika anak-anak mereka sakit, Andi tidak pernah mau mengantar.
Bahkan ada satu kejadian yang tidak pernah bisa dilupakan Nuri.
Hari itu Riki demam tinggi. Sarah juga sedang sakit. Tyo masih kecil dan terus menangis.
Nuri sudah meminta Andi berkali-kali untuk mengantar mereka ke dokter.
Namun Andi hanya menjawab,
"Kamu saja yang pergi."
Akhirnya Nuri membawa ketiga anaknya sendirian.
Naik angkot.
Dengan jarak rumah ke dokter yang cukup jauh.
Riki yang tubuhnya panas ia pangku.
Sarah menangis karena tubuhnya lemas.
Tyo terus bertanya,
"Mama, kapan sampai?"
Nuri hanya mampu menjawab sambil menahan air mata,
"Sebentar lagi, Nak."
Padahal dalam hati, Nuri sendiri tidak tahu berapa lama lagi ia sanggup bertahan.
Bukan perjalanan naik angkot yang paling menyakitkan.
Bukan pula lelah membawa tiga anak kecil.
Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa suaminya sebenarnya bisa mengantar, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
---
Cerita yang Akhirnya Keluar
Beberapa waktu kemudian Nuri bertemu dengan sahabatnya, Evi.
Mereka duduk berdua.
Nuri tidak mampu lagi menyembunyikan semuanya.
"Vi..."
"Iya?"
"Aku gagal mempertahankan rumah tanggaku."
Air mata Nuri jatuh.
Evi langsung menggenggam tangannya.
"Ceritakan."
Nuri menarik napas panjang.
"Suamiku selingkuh."
Evi terdiam.
"Dia memilih perempuan itu."
"Katanya aku kurang dewasa."
"Katanya aku melarang dia berbakti kepada ibunya."
Nuri tersenyum pahit.
"Padahal aku nggak pernah melarang."
"Aku cuma ingin dia adil."
Nuri menangis semakin deras.
"Aku cuma ingin dia ingat bahwa selain ibunya, dia juga punya istri dan tiga anak yang membutuhkan dia."
Evi memeluk Nuri.
"Yang paling sakit bukan karena dia selingkuh saja, Vi."
"Aku merasa sendirian dalam pernikahanku."
"Ketika anak-anak sakit, aku pergi sendiri."
"Naik angkot."
"Membawa tiga anak kecil."
"Dan suamiku tidak merasa perlu datang."
Nuri menutup wajahnya.
"Aku bertahan karena anak-anak."
Evi mengusap punggung sahabatnya.
"Kamu bukan gagal, Nur."
"Kamu hanya terlalu lama berjuang sendirian."
Kalimat itu membuat tangis Nuri pecah.
---
Gugatan Cerai
Nuri masih berharap Andi akan berubah.
Ia berharap Andi meninggalkan Siska.
Ia berharap suaminya memilih keluarga mereka.
Namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Tidak lama kemudian Andi mengajukan gugatan cerai.
Ketika mendengar kabar itu, Nuri merasa seperti kehilangan seluruh hidupnya.
"Kamu serius?"
Andi mengangguk.
"Kita sudah tidak bisa seperti dulu."
Nuri menatap laki-laki yang pernah menjadi tempatnya menggantungkan harapan.
"Jadi kamu memilih dia?"
Andi tidak menjawab.
Dan diamnya menjadi jawaban.
Perceraian itu akhirnya terjadi.
Tidak ada yang menang.
Tidak ada yang benar-benar bahagia.
Hanya ada dua orang yang pernah saling mencintai, kemudian memilih jalan berbeda.
Namun ada tiga anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Tyo.
Sarah.
Riki.
Mereka hanya tahu bahwa dulu Mama dan Papa selalu bersama.
---
Sebuah Kesepakatan
Setelah perceraian, Nuri dan Andi membuat sebuah kesepakatan.
Mereka tidak ingin anak-anak mengetahui semuanya.
Belum sekarang.
Tyo, Sarah, dan Riki masih terlalu kecil.
Maka di depan anak-anak, mereka tetap berpura-pura menjadi keluarga.
Andi tetap datang ke rumah.
Mereka makan bersama.
Mengantar anak sekolah bersama.
Menghadiri acara sekolah bersama.
Bahkan terkadang mengambil foto berlima.
Semua terlihat seperti keluarga bahagia.
Padahal setelah anak-anak tidur, Nuri dan Andi kembali menjadi dua orang yang sudah tidak memiliki hubungan sebagai suami istri.
Sandiwara itu melelahkan.
Tetapi Nuri bersedia melakukannya demi anak-anak.
---
"Mama dan Papa Jangan Cerai, Ya..."
Suatu malam mereka makan bersama.
Tyo duduk di sebelah Andi.
Sarah berada di samping Nuri.
Riki duduk di tengah-tengah mereka.
Tawa anak-anak memenuhi meja makan.
"Papa, besok antar aku sekolah ya?" tanya Sarah.
"Iya."
"Kalau aku juga!" kata Tyo.
Andi tertawa.
"Iya, semuanya Papa antar."
Nuri hanya tersenyum.
Padahal hatinya sakit.
Kemudian Riki tiba-tiba bertanya,
"Mama..."
"Iya, Sayang?"
"Papa sama Mama jangan cerai, ya."
Tangan Nuri berhenti.
Andi terdiam.
Riki menatap keduanya.
"Janji?"
Nuri menahan air mata.
Andi menatap Nuri.
Mereka tahu bahwa mereka sudah bercerai.
Tetapi di hadapan anak-anak, mereka hanya bisa tersenyum.
Nuri mengusap kepala Riki.
"Papa dan Mama tetap sayang kalian."
"Janji?"
"Janji."
---
Malam Setelah Anak-Anak Tidur
Setelah Tyo, Sarah, dan Riki tertidur, Nuri berdiri di dapur.
Air matanya jatuh.
Andi datang menghampiri.
"Kamu masih marah sama aku?"
Nuri menggeleng.
"Bukan marah."
"Lalu?"
"Capek."
Andi terdiam.
"Aku pernah berharap kamu datang ketika anak-anak sakit."
"Aku pernah berharap kamu menggenggam tanganku ketika aku takut."
"Aku pernah berharap kamu melihat aku sebagai istri yang juga membutuhkan suami."
Nuri mengusap air mata.
"Tapi semuanya sudah terlambat."
Andi menunduk.
Nuri melanjutkan,
"Aku tidak mau anak-anak membenci kamu."
"Aku tidak mau mereka merasa kehilangan ayah."
"Karena kesalahan kita bukan kesalahan mereka."
Andi menatap Nuri.
Untuk pertama kalinya, mungkin ia benar-benar menyadari bahwa selama ini Nuri tidak pernah meminta dirinya memilih antara ibu dan keluarga.
Nuri hanya ingin suaminya belajar adil.
Berbakti kepada ibu adalah kewajiban.
Tetapi menjaga istri dan anak-anak juga tanggung jawab.
---
Suatu Hari Mereka Akan Tahu
Tahun-tahun berlalu.
Tyo, Sarah, dan Riki perlahan tumbuh.
Suatu hari nanti mereka akan mengetahui kebenaran.
Mereka akan tahu bahwa Mama dan Papa sebenarnya sudah lama tidak bersama.
Mereka akan tahu bahwa dulu ada pengkhianatan.
Mereka akan tahu bahwa Mama pernah menangis sendirian.
Bahwa ketika mereka sakit, Mama membawa mereka naik angkot ke dokter.
Bahwa Mama pernah merasa sangat sendirian meskipun masih memiliki seorang suami.
Namun Nuri tidak pernah ingin mengajarkan mereka untuk membenci ayahnya.
Ia hanya ingin mengatakan,
"Tyo, Sarah, Riki..."
"Jangan pernah berpikir bahwa kalian adalah alasan Mama dan Papa berpisah."
"Kalian tidak pernah salah."
"Mama dan Papa mungkin tidak bisa lagi menjadi pasangan, tetapi kami akan selamanya menjadi orang tua kalian."
Karena pada akhirnya, perceraian memang bisa mengakhiri sebuah pernikahan.
Tetapi tidak seharusnya mengakhiri sebuah keluarga.
Dan sampai hari itu tiba, Nuri akan terus tersenyum di depan ketiga anaknya.
Bukan karena ia sudah melupakan semua luka.
Bukan karena ia sudah memaafkan semuanya.
Tetapi karena ia seorang ibu.
Dan terkadang seorang ibu memilih menyembunyikan air matanya sendiri—
agar anak-anaknya masih bisa tidur dengan perasaan bahwa dunia mereka baik-baik saja.
Di balik senyum Nuri, ada luka.
Di balik kedatangan Andi, ada sebuah sandiwara.
Dan di balik keluarga yang terlihat utuh itu, ada dua orang dewasa yang sedang belajar menerima kenyataan:
Mereka sudah tidak lagi menjadi suami dan istri.
Tetapi mereka akan selamanya menjadi Mama dan Papa bagi Tyo, Sarah, dan Riki.