PRESIDIR KOCAK DAN JAWIR CUPU
Zelin sedang duduk sendirian di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia tersenyum melihat layar, lalu kembali serius seperti seorang presdir yang sedang mengurus masalah perusahaan.
Padahal, yang sedang ia lihat hanyalah video kucing jatuh dari sofa.
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka.
Cekrek!
“Selamat malam, Bu Presdir.”
Arnel muncul dari balik pintu dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa, tepat di samping Zelin.
Zelin mematikan layar ponselnya.
“Mana Jawir?”
Belum sempat Arnel menjawab, seseorang muncul dari arah pintu.
Jawir.
Cowok itu masuk sambil menenteng sebuah ransel berwarna pink yang terlihat terlalu mencolok untuk ukuran seorang laki-laki.
Zelin langsung berdiri.
Matanya berbinar.
“Wah! Selamat, Jawir!”
Zelin menghampirinya dan menjabat tangannya dengan penuh semangat.
Jawir mengernyit.
“Selamat apaan?”
“Lo udah jadi asisten artis profesional!”
Zelin langsung tertawa. Tangannya bergerak mengacak-acak rambut Jawir.
“Zelin! Jangan gila dong!”
Jawir berusaha menyelamatkan rambutnya yang sudah berantakan.
Arnel hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
“Bu Presdir, obatnya habis ya?”
Zelin langsung menoleh.
“Arnel! Lo belain Jawir, ya?”
“Gue cuma—”
Belum selesai bicara, Zelin sudah menerjang Arnel dan menggelitik pinggangnya.
“Eh! Hahaha! Zelin! Stop!”
Jawir hanya berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Dasar Zelin.”
Beberapa menit kemudian, suasana kembali tenang.
Jawir dan Arnel duduk bersebelahan di sofa. Zelin sudah kembali memainkan ponselnya.
Jawir tiba-tiba menoleh.
“Nel.”
“Hm?”
“Lo tahu nggak arti nama lo?”
Arnel mengangkat alis.
“Tahu lah.”
“Paling cuma arti dalam bahasa Jepang.”
“Memangnya dalam bahasa lain ada?”
Jawir tersenyum penuh misteri.
“Dalam bahasa Indonesia lama, ada.”
Arnel langsung penasaran.
“Serius?”
“Iya.”
“Gue belum sempat Googling.”
“Makanya, gue kasih tahu.”
Jawir memasang wajah serius.
“Arnel artinya bunga.”
Arnel langsung tersenyum.
“Bunga?”
“Iya.”
“Wah, bagus dong.”
“dengerin dulu.”
Arnel mengangguk.
Jawir menahan tawa.
“Hikaru artinya pasir.”
Arnel mengerutkan kening.
“Lho, kok jadi Hikaru?”
Jawir langsung tertawa.
“SERIUS TAU.”
“Terus?”
“Bunga pasir.”
Arnel mulai curiga.
“Kayaknya bagus.”
“Bisa jadi.”
Jawir mengangguk serius.
“Gue dalemin maknanya ya.”
Arnel menatapnya.
“Bunga pasir berarti bunga yang ADA di atas pasir.”
“Kenapa harus DI ATAS PASIR?”
“Ya EMANG GITU"
Arnel mulai merasa ada sesuatu yang salah.
“Terus?”
“Dan biasanya bau.”
“Jawir!”
Jawir TERSENYUM YAKIN.
“Biasanya yang suka pup di pasir itu kucing.”
“Jawir!”
BUNGA PASIR ARTINYA TAI KUCING.
Arnel langsung mencubit pinggangnya.
“Wkwkwk!”
“Jahat banget sih!”
Jawir buru-buru mengangkat kedua tangannya.
“Maaf, maaf. Cuma bercanda.”
Arnel membuang muka.
“Ah, nggak asyik.”
Zelin yang sejak tadi pura-pura tidak mendengar akhirnya berdeham.
“Ehem!”
Keduanya langsung diam.
“Berisik banget sih kalian.”
Arnel segera pindah mendekati Zelin dan memeluk lengannya.
“Zelin, Jawir ngatain gue bunga pasir.”
Zelin menoleh kepada Jawir.
Jawir langsung pura-pura melihat ke arah lain.
Zelin tersenyum.
“Menurut gue bagus.”
Arnel menatapnya tak percaya.
“Bagus apanya?”
“Bunga pasir. Kedengarannya sweet.”
“Itu artinya ee kucing!”
Zelin dan Jawir saling pandang.
Lalu...
“Wkwkwkwk!”
Mereka tertawa bersamaan.
Arnel memelototi keduanya.
“Jawir! Lo jahat banget sih!”
Jawir menggaruk kepalanya.
“Bercanda doang, Nel.”
Arnel masih cemberut.
Namun beberapa detik kemudian, sudut bibirnya ikut terangkat.
Sebenarnya ia tidak benar-benar marah.
Justru ia menyukai momen-momen sederhana seperti ini.
Karena bersama Jawir, hal-hal yang seharusnya biasa saja bisa berubah menjadi sesuatu yang membuatnya tertawa.
Zelin memperhatikan keduanya dari sudut matanya.
Senyumnya berubah menjadi senyum penuh arti.
“Btw... gimana kalian?”
Arnel dan Jawir serempak menoleh.
“Apanya?” tanya Arnel.
Zelin menunjuk mereka berdua bergantian.
“Ya kalian.”
Jawir langsung menggaruk kepala.
“Anu... itu...”
Arnel menunduk.
Zelin semakin curiga.
“Jadi pelajaran tadi pagi belum dipraktikkan?”
Wajah Arnel langsung memerah.
Jawir hanya tersenyum kaku.
“Belum.”
Zelin menghela napas panjang.
“Ya ampun... nggak jelas.”
Ia kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
Arnel menatap Jawir.
Jawir menatap Arnel.
Keduanya sama-sama diam.
Namun tanpa disadari, keduanya tersenyum kecil.
---
Pagi berikutnya...
“Tin... ting... ting!”
Suara mangkuk porselen dipukul berkali-kali dari depan kamar.
“Hikaru! Zelin!”
Arnel yang masih setengah sadar membuka mata.
“Hmm...”
“Buruan bangun! Sarapan! Gue udah masak!”
Jawir berdiri di depan pintu kamar sambil memukul-mukul mangkuk dengan sendok.
Arnel dan Zelin akhirnya bangun hampir bersamaan.
“Iya!”
Jawir pergi menuju meja makan.
Arnel berjalan berjingkat sambil mengikat rambutnya.
“Masak apa, Wir?”
“Udang capcay sama saus Padang.”
Arnel langsung menghirup aroma makanan.
“Hmmm...”
Kemudian ia menghela napas panjang.
“Jadi pengen galau.”
Jawir menatapnya heran.
“Kok malah galau?”
“Gara-gara lo.”
Jawir mengernyit.
“Hah?”
Arnel tersenyum jahil.
“Pagi-pagi udah nge-bug.”
“Ko bug?”
“Bu-bu ibu gila.”
Jawir melotot.
“Arnel!”
Arnel tertawa dan memukul pelan jidatnya.
“Dasar bunga pasir.”
“Kan lo yang duluan!”
Zelin muncul dari belakang mereka.
“Udah, kalian ini kayak T-Rex sama tokek.”
Jawir menoleh.
“Kok nggak nyambung?”
“Ya memang nggak nyambung.”
Zelin berjalan santai menuju meja makan.
Arnel memandang Jawir lalu Zelin bergantian.
“Makin aneh sih tema kalian.”
“Udah, yuk. Sikat meja makannya.”
Jawir menunjuk hidangan.
Mereka bertiga akhirnya duduk bersama.
Sarapan berlangsung dengan suasana yang jauh dari kata formal.
Zelin bahkan beberapa kali tertawa melihat Arnel dan Jawir saling mengejek.
Namun di tengah suasana santai itu, Zelin tiba-tiba meletakkan gelasnya.
“Arnel.”
“Hm?”
“Jawir.”
Jawir berhenti makan.
“Ada apa?”
Zelin memandang keduanya bergantian.
“Gimana perkembangan kalian?”
Arnel mengernyit.
“Maksud lo?”
Zelin menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Jawir suka sama lo.”
Nasi yang baru saja masuk ke mulut Arnel langsung hampir menyembur.
“Uhuk!”
Jawir membeku.
Zelin melanjutkan dengan santai.
“Dan gue tahu lo juga suka sama Jawir.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arnel menunduk.
Jawir memandangi meja.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani saling melihat.
Beberapa detik berlalu.
“Gue...” Arnel akhirnya bersuara pelan.
Zelin menunggu.
“Gue belum yakin.”
Jawir tetap diam.
Arnel menarik napas.
“Dan gue belum siap kalau semuanya berubah.”
Zelin menatapnya lebih lembut.
“Gue ngerti.”
Ia kemudian tersenyum.
“Tapi kalian mau nunggu sampai kapan?”
Arnel mengangkat wajah.
“Apa?”
“Nunggu masing-masing punya pasangan lain baru berani jujur?”
Jawir akhirnya menoleh kepada Arnel.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Tapi cukup untuk membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat.
Zelin menghela napas.
“Besok gue ke Surabaya. Mungkin satu atau dua minggu.”
Ia berdiri.
“Gue berharap ketika gue pulang, gue dapat kabar baik dari kalian.”
Arnel ikut berdiri.
“Gue mau mandi dulu.”
Ia berjalan menuju kamar.
Sebelum menghilang di balik pintu, ia sempat menoleh kepada Zelin.
“Zel... gue masih belum yakin.”
Zelin tersenyum.
“Ya sudah. Gue juga nggak bisa bantu banyak.”
Kemudian Zelin menoleh kepada Jawir.
“Oh iya, Jawir.”
“Siap, Bu Presdir.”
“Entar sore anterin gue ke bandara.”
Jawir langsung berdiri tegak dan memberi hormat seperti sedang mengikuti upacara bendera.
“Siap!”
Zelin tertawa.
“Lebay.”
---
Malam berikutnya, pukul sepuluh.
Jawir sedang duduk di atas tempat tidurnya ketika ponselnya berdering.
Nama Zelin muncul di layar.
Ia langsung mengangkat.
“Halo?”
“Malam, Jawir.”
“Malam, Lin. Ada apa telepon malam-malam?”
“Nggak apa-apa.”
Zelin terdiam sebentar.
“Arnel ke mana?”
“Lagi streaming di kamar.”
“Oh.”
Jawir tersenyum kecil.
“Lo udah makan?”
“Udah. Lo sendiri?”
“Gue diet.”
Zelin langsung tertawa.
“Tumben.”
“Biar nanti pas gue pulang, lo kaget lihat gue.”
“Biar lo berubah jadi kodok juga gue tetap ngenalin.”
“Bohong.”
“Harusnya sih.”
Percakapan yang awalnya hanya berlangsung beberapa menit ternyata berubah menjadi satu jam.
Lalu dua jam.
Mereka membicarakan hal-hal tidak penting.
Makanan.
Pekerjaan.
Arnel.
Kelucuan masa lalu.
Bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan pun tetap mereka bicarakan.
“Jawir, gue udah harus tidur nih,” kata Zelin akhirnya. “Besok masih mau keliling.”
“Iya.”
“Gue nggak mau besok bawa-bawa kantung beras di bawah mata gue.”
“Betul juga.”
Jawir tertawa.
“Lo harus jaga penampilan. Biar tetap perfect.”
“Ya nggak segitunya juga.”
“Oke, gue ngerti.”
“Baguslah.”
Hening sejenak.
Jawir kemudian menarik napas.
“Lin.”
“Hm?”
“Gue boleh ngomong sesuatu nggak?”
“Apaan?”
“Jadi... gue harus ngomongin ini sebelum tuyul jadi gondrong.”
Zelin tertawa.
“Maksud lo?”
“Sebelum genderuwo jadi bencong.”
“Jawir! Kok serem sih?”
Jawir ikut tertawa.
“Gue cuma mau ngomong.”
“Ya udah, ngomong.”
“Pakai puisi boleh?”
“Nggak usah sok romantis.”
Jawir tersenyum.
“Ya udah.”
Malam semakin larut.
Namun percakapan mereka justru semakin panjang.
“Sudah waktunya tarik selimut,” kata Zelin.
“Ya udah, tarik aja.”
“Cuci kaki biar nggak banyak semut.”
“Lo sok imut.”
“Jangan dengerin lagu dangdut.”
“Emang kenapa?”
“Nanti tidurnya manggut-manggut.”
“Dasar Jawir!”
Tawa Zelin terdengar dari ujung telepon.
Jawir ikut tertawa.
Mereka tidak sadar bahwa waktu terus berjalan.
Sampai akhirnya percakapan itu benar-benar berhenti.
---
“Tok... tok... tok...”
“Jawir!”
Tidak ada jawaban.
“Jawir, udah bangun belum?”
Jawir yang masih setengah sadar membuka mata.
“Iya, Hikaru...”
“Udah jam lima!”
Jawir langsung duduk.
“Hah?”
“Lo mau kerja nggak?”
“Iya!”
“Ya udah, gue tungguin.”
“Iya.”
Telepon terputus.
Jawir menatap layar ponselnya.
Kemudian ia melirik jam.
Matanya membesar.
“Gila...”
Ia baru sadar.
Ternyata semalam ia dan Zelin berbicara sampai hampir pagi.
Di kamar lain, Zelin juga baru menyadari hal yang sama.
Ia menatap ponselnya sambil tersenyum kecil.
Percakapan mereka memang tidak pernah membahas sesuatu yang penting.
Tidak ada pengakuan cinta.
Tidak ada kata-kata romantis.
Hanya lelucon receh dan obrolan tidak jelas.
Namun mungkin...
Justru dari percakapan sederhana seperti itulah, seseorang mulai merasa nyaman.
Dan tanpa mereka sadari, rasa nyaman itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit untuk disembunyikan.
Sementara di kamar sebelah, Arnel sedang tersenyum sendiri melihat layar ponselnya.
Ia membuka sebuah pesan dari Jawir yang dikirim beberapa menit lalu.
“Bunga pasir, jangan lupa sarapan.”
Arnel menutup mulutnya agar tidak tertawa.
“Dasar Jawir.”
Namun senyum di wajahnya tidak juga hilang.
Mungkin Zelin benar.
Mungkin mereka memang hanya tinggal menunggu keberanian untuk mengakui apa yang sebenarnya sudah mereka rasakan.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Arnel tidak lagi bertanya-tanya apakah Jawir menyukainya.
Ia justru mulai bertanya pada dirinya sendiri...
Sampai kapan aku mau pura-pura tidak menyukainya?