Ibu di Pelaminan, Mama di dalam Do'a
Author: Alvaraby
Keluarga
Rasa sepi yang paling pekat sebenarnya bukan hadir saat kita sedang duduk sendirian di dalam kamar yang gelap. Rasa sepi yang paling menyayat adalah ketika kita berada di tengah keramaian, memegang penawaran kebahagiaan terbesar dalam hidup kita, namun sadar bahwa kita harus merobek separuh dari hati kita sendiri agar kebahagiaan itu bisa berjalan tanpa pertumpahan darah.
Malam itu, di kamar bernuansa krem dengan lampu belajar yang remang, jemariku gemetar melipat selembar kain brokat warna bungsu pilihan calon suamiku. Di atas meja, menumpuk puluhan amplop undangan pernikahan berbahan linen tebal yang harum lavender. Di bagian depan, terukir namaku dan namanya dengan tinta emas yang berkilau di bawah lampu.
Sebuah nama. Sebuah perayaan. Sebuah janji suci.
Namun bagi wanita mana pun yang dibesarkan dalam rumah tangga yang retak, pesta pernikahan bukanlah sekadar perayaan cinta. Ia adalah sebuah gelanggang eksekusi, di mana seorang anak harus menjadi hakim, algojo, sekaligus korban bagi dua orang yang paling dicintainya di dunia.
Aku menarik napas panjang, meraba nama yang tertera di kertas undangan tersebut. Lalu mata ini terhenti pada sebuah dilema yang telah menggerogoti tidurku selama bertahun-tahun: Siapa yang akan duduk di pelaminan itu bersama Ayah?
Jika aku bisa memutar waktu ke lima belas tahun yang lalu, aku ingin memeluk gadis kecil berumur delapan tahun yang berdiri di balik pintu dapur, menutupi kedua telinganya sambil menangis sesenggukan.
Rumah kami dahulu tidak pernah benar-benar hangat. Ada ketegangan yang merayap di setiap sudut temboknya. Mama adalah wanita dengan kepribadian seperti angin badai—mudah terbakar, menuntut banyak hal yang sering kali di luar jangkauan Ayah saat itu. Padahal, Ayah bukan laki-laki yang malas. Ayah adalah pria pekerja keras yang telapak tangannya penuh kapalan, bekerja dari pagi hingga larut malam demi mewujudkan semua mimpi Mama.
"Mama mau rumah tingkat! Mama capek tinggal di rumah kerdil begini! Teman-teman Mama suaminya sudah punya mobil, kamu punya apa?!"
Teriakan Mama malam itu masih bergema jelas di ingatanku. Ayah hanya menunduk, mengusap wajahnya yang lelah, lalu berbisik pelan, "Sabar, Ma. Tabungan Ayah sebentar lagi cukup. Ayah sedang kumpulkan uangnya. Ayah janji, rumah tingkat dan mobil impian Mama pasti Ayah belikan."
Namun, kesabaran Ayah tak pernah cukup untuk menampung ketidaksabaran Mama.
Hingga hari kelam itu tiba. Hari di mana Mama benar-benar mengemas seluruh pakaiannya ke dalam koper besar. Ayah menangis. Seorang laki-laki dewasa yang biasanya menjadi benteng terkuat di keluarga kami, berlutut di lantai semen memohon agar Mama tidak pergi. Paman, Bibi, bahkan tetangga-tetangga yang begitu menyayangi Mama memadati teras rumah kami, menyuruh Mama berpikir dingin dan mengingat kami—aku dan adikku yang masih sangat kecil.
"Pulang, Ma. Kasihan anak-anak," bujuk seorang tetangga tua dengan suara bergetar.
Namun jawaban Mama bukan kata-kata manis. Wajahnya gelap oleh amarah yang entah berasal dari mana. Dicacinya Ayah dengan kata-kata paling kasar, kata-kata yang memusnahkan seluruh harga diri Ayah sebagai seorang suami dan manusia. Dan sebelum Mama melangkah keluar pintu, beliau meraih sebuah kursi kayu di sudut ruangan, lalu melayangkannya menghantam tubuh Ayah.
Brak!
Suara pecahan kayu dan ringisan sakit Ayah menjadi kenangan terakhir yang menutup tabir masa kecilku. Mama pergi melenggang tanpa pernah menoleh lagi.
Proses perceraian itu seperti pusaran angin puting bunyi yang menghancurkan apa saja di lintasannya. Di pengadilan, ketika palu hakim mengetuk meja dengan bunyi tak! tak! tak! yang nyaring, sah sudah hubungan mereka berakhir. Namun kehancuran yang sebenarnya baru saja dimulai.
Setelah perceraian itu, Ayah berada di titik terkritis dalam hidupnya. Beliau hampir kehilangan kewarasan. Kecewa yang teramat dalam merusak akal sehatnya. Uang tabungan bertahun-tahun yang rencananya digunakan untuk membangun rumah tingkat dan membeli mobil impian Mama, beliau hamburkan begitu saja tanpa arah. Ayah berjalan seperti mayat hidup. Matanya kosong, tubuhnya kurus kering, dan jiwanya remuk redup.
Keadaan semakin parah karena sebuah kesalahpahaman yang tragis.
Saat proses perceraian memuncak, kami—aku dan adikku—dititipkan di rumah Nenek dari pihak Mama. Kami yang masih sangat kecil tidak tahu apa-apa tentang konstelasi kebencian orang dewasa. Kami hanya tahu satu hal: kami sangat merindukan Mama.
Tanpa sepengetahuan Ayah, Mama diam-diam mendatangi sekolah kami dan memindahkan berkas sekolahku ke daerah tempat tinggal Mama yang baru. Ayah yang datang ke sekolah lama dengan tangan hampa merenung di depan kelas yang kosong. Beliau mengira anak-anaknya telah membohonginya. Beliau mengira aku dan adikku sengaja memilih untuk ikut Mama dan membuang Ayah yang sedang hancur-hancurnya.
"Anak-anakku pun meninggalkan aku..." Suara Ayah malam itu, seperti yang kemudian diceritakan oleh Paman, adalah tangisan paling memilukan yang pernah terdengar di keluarga kami. Ayah benar-benar berada di ambang gila.
Tuhan tidak pernah membiarkan hambanya berada di dasar jurang selamanya. Ketika Ayah hampir benar-benar tenggelam, Tuhan mengirimkan penolongnya dalam wujud seorang wanita bersahaja: Ibu sambungku.
Ibu datang bukan dengan keanggunan yang mentereng, melainkan dengan ketenangan telaga. Dengan ketelatenan luar biasa, Ibu memunguti puing-puing kehancuran jiwa Ayah satu per satu. Ibu mengobati luka hatinya, mengurus makannya, menata kembali keuangan Ayah yang berantakan, dan yang terpenting: Ibu mempercayai Ayah ketika Ayah sendiri sudah tidak percaya pada dirinya sendiri.
Perlahan tapi pasti, roda kehidupan Ayah berputar naik secara drastis. Rezeki melimpah ruah seperti air sungai yang membendung. Usaha Ayah bangkit melesat pesat, keuangan keluarga membaik jauh melebihi apa yang pernah dibayangkan. Ibu sambungku benar-benar menjadi keran rezeki dan pembawa damai bagi Ayah.
Namun, kedamaian itu dibayar dengan batas yang sangat tegas: Ayah memutus seluruh akses dan ingatan tentang Mama. Bagi Ayah, Mama adalah traumu masa lalu yang sudah terkubur dalam-dalam. Ayah tidak mau lagi bertemu, mendengar nama, atau berurusan dengan Mama dalam bentuk apa pun, dengan alasan apa pun.
Setelah kelulusan SD, saat aku mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi, aku memilih pulang dan ikut bersama Ayah dan Ibu. Adikku tetap memilih tinggal bersama Mama. Keluarga kami terbelah dua oleh batas garis trauma yang tebal.
Tiga tahun setelah aku lulus SMA, takdir membawa pria luar biasa ke dalam hidupku. Kami memutuskan untuk menikah. Namun semakin dekat hari bahagia itu, semakin malam-malamku dipenuhi derai air mata yang tak kunjung kering.
Pertanyaan yang sama terus berputar bak kaset rusak di kepala: Siapa yang akan duduk di samping Ayah saat aku berada di pelaminan?
Secara hukum alam dan ikatan darah, Mama adalah wanita yang melahirkanku. Beliau mempertaruhkan nyawanya saat aku lahir ke dunia. Bayangan Mama duduk di pojokan tamu, menyaksikan pernikahan anak kandungnya dari jauh sementara wanita lain duduk di pelaminan di sebelah Ayah, membayangkan betapa hancurnya hati Mama jika merasa tidak dianggap oleh anaknya sendiri... itu cukup untuk merobek dadaku sampai sesak.
Namun, jika aku memaksa Mama untuk hadir dan duduk di pelaminan, aku tahu apa yang akan terjadi. Luka traumatik Ayah yang sudah berdarah-darah bertahun-tahun akan terbuka kembali. Ayah yang sudah sehat, bahagia, dan kembali memiliki martabat hidupnya, bisa runtuh dalam sekejap. Aku tidak akan pernah sanggup melihat mata Ayah kembali berbayang kosong seperti lima belas tahun lalu.
Di satu sisi ada Mama, wanita yang memberiku kehidupan.
Di sisi lain ada Ayah, pria yang membesarkanku dengan sisa-sisa napas dan air mata, didampingi Ibu sambung yang telah menjadi malaikat penyelamat keluarga kami.
Beberapa malam sebelum hari pernikahan, aku mendatangi kamar Ayah. Ayah sedang duduk di tepi ranjang, merapikan jas yang akan beliau kenakan di hari pernikahanku. Wajahnya yang kini dipenuhi kerutan halus terlihat begitu bahagia dan bangga.
"Nanti putri kecil Ayah bakal jadi istri orang," kata Ayah tersenyum hangat, matanya berbinar-binar. "Ayah sudah siapkan semuanya. Ayah mau pernikahanmu jadi yang paling indah."
Aku duduk di lantai, menyandarkan kepalaku di lutut Ayah, persis seperti yang sering kulakukan saat kecil. Suaraku bergetar lirih, "Yah..."
"Iya, Nak?"
"Kalau... kalau Mama..."
Seketika, tubuh Ayah membeku. Suasana kamar yang tadinya hangat langsung berubah menjadi dingin dan kaku. Jemari Ayah yang tadinya mengelus rambutku berhenti seketika.
"Jangan sebut nama itu," suara Ayah berubah pelan, namun mengandung kepedihan dan ketegasan yang teramat dalam. "Ayah menyayangimu melebihi nyawa Ayah sendiri. Ayah akan berikan apa saja untuk pernikahanmu. Tapi kalau wanita itu datang... Ayah tidak akan ada di sana."
Aku menunduk. Air mataku menetes membasahi celana Ayah. Aku bisa merasakan gemetar halus di kaki Ayah—gemetar trauma yang tidak pernah benar-benar hilang, walau waktu telah berlalu puluhan tahun.
Malam itu, di dalam sujud panjangku di sepertiga malam, aku mengambil keputusan terberat dalam hidupku.
Aku memilih untuk mengalah.
Aku tahu, ada sebagian orang yang mungkin akan menghakimiku. Ada yang mungkin akan berkata aku adalah anak yang durhaka, anak yang tidak menghargai ibu kandungnya sendiri. Tapi mereka tidak pernah berdiri di posisiku. Mereka tidak pernah melihat bagaimana seorang ayah hampir kehilangan nyawa dan kewarasan akibat luka penolakan yang teramat kejam.
Aku memutuskan bahwa Ibu sambungku yang akan duduk di pelaminan mendampingi Ayah.
Ini bukan karena aku tidak mencintai Mama. Demi Allah, aku mencintai Mama dengan seluruh jiwaku. Dalam setiap doa rahasia yang kusebut di pelataran malam, nama Mama selalu menjadi yang utama. Memang benar kata orang, dunia akan terasa baik-baik saja selama seorang ibu masih bernapas di bumi. Tapi bagiku, melihat Ayah tetap sehat, tenang, dan bahagia di sisa umurnya adalah utang bakti yang harus kubayar.
Aku membiarkan hatiku sendiri yang berdarah. Aku membiarkan diriku menanggung rasa bersalah dan duka yang teramat dalam, asal tidak ada lagi perpecahan, asal tidak ada lagi perkelahian, dan asal tidak ada lagi air mata trauma yang harus menetes dari mata Ayah.
Hari pernikahan itu akhirnya tiba.
Gedung pernikahan dihiasi bunga-bunga mawar putih dan aroma melati yang menyerbak lembut. Musik seruling Sunda mengalun syahdu membelah ruangan. Semua orang tersenyum, bertepuk tangan, dan mengucapkan selamat.
Di atas pelaminan yang megah, Ayah tampak begitu gagah dengan beskap mewahnya. Di sampingnya, Ibu sambungku tersenyum anggun dengan kehangatan seorang ibu yang selalu melindungi. Mereka berdua tampak begitu bahagia menyaksikan aku berdiri anggun berbalut gaun pengantin bersama suamiku.
Namun di balik senyum manis yang kutampilkan kepada setiap tamu yang bersalaman, dadaku terasa remuk redam.
Setiap kali pintu ballroom terbuka, mataku secara refleks memandang ke arah luar dengan cemas dan rindu. Ada bisikan kecil di sudut hatiku yang paling dalam: Mama ada di mana sekarang? Apakah Mama sedang mendoakanku dari jauh? Apakah Mama tahu anak perempuannya hari ini sangat cantik dengan gaun pengantin ini?
Saat prosesi sungkem tiba, aku berlutut di depan Ayah. Ayah memelukku erat sekali, menumpahkan air mata bahagianya di pundakku.
"Terima kasih ya, Nak... Terima kasih sudah jadi anak yang baik untuk Ayah," bisik Ayah dengan suara terisak.
Lalu aku bergeser berlutut di depan Ibu sambungku. Kuelus tangannya yang telah merawat Ayah dan membimbing keluarga kami keluar dari kegelapan. "Terima kasih, Ibu... Terima kasih sudah menjaga Ayah..."
Namun, ketika kepala ini tertunduk mencium lutut mereka, bayangan wajah Mama hadir dengan begitu jelas. Di dalam hati yang paling tersembunyi, aku berbisik lirih:
Mama... Maafkan aku. Maafkan anakmu ini yang harus memilih. Hari ini aku tidak bisa memeluk Mama di pelaminan ini. Hari ini aku harus mendudukkan Ibu di samping Ayah agar tidak ada lagi luka yang berdarah. Tapi demi Allah, Ma... di dalam setiap helaian kain pengantin ini, di setiap helak napasku saat mengijabkan janji, ada cinta Mama yang mengalir di darahku.
Aku mengalah, Ma... Aku mengalah bukan karena aku membuang Mama. Aku mengalah karena aku ingin Ayah tetap hidup, dan aku ingin Mama tetap tenang tanpa harus menghadapi masa lalu yang kelam. Jika di dunia ini kita tidak bisa bersanding dalam satu panggung kebahagiaan yang utuh... biarlah kelak di surga Allah menyatukan kita tanpa ada lagi rasa sakit hati, tanpa ada lagi dendam, dan tanpa ada lagi air mata.
Pesta terus berlanjut. Gelak tawa membahana di seluruh penjuru ruangan. Aku berdiri tegak di atas pelaminan, menggenggam erat tangan suamiku. Dari luar aku terlihat seperti pengantin paling bahagia di dunia. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, ada sebuah ruang kosong yang akan selamanya dingin dan sepi—sebuah ruang tempat aku menyimpan cinta, kerinduan, dan rasa bersalahku yang abadi kepada wanita yang kupanggil Mama.
Terima kasih untuk siapa saja yang telah membaca potongan kisahkan ini. Jangan pernah hakimi keputusan seorang anak yang memilih mengalah, karena terkadang, mengalah adalah satu-satunya cara terbaik untuk mencintai dua orang yang tidak bisa lagi saling menyayangi.