New York City, 2026.
Marcus Vance—biasanya dipanggil Marc—berusia 22 tahun. Ia teknisi mekanik magang di sebuah perusahaan kontraktor militer swasta di Long Island. Sifatnya praktis, berpikir logis, sinis, egois, fokus tinggi, mandiri, dan sangat keras kepala. Ia suka sekali ngelisah sendiri di dalam kepala, tapi tetap peduli pada orang lain… selama tidak mengganggu rencananya.
Perusahaan tempatnya bekerja sedang mengembangkan Exo-Mantis: purwarupa exosuit super-ringan yang meniru anatomi belalang sembah. Lengan serat karbon fleksibel yang bisa melesat secepat peluru, dilengkapi sensor saraf yang meningkatkan refleks pemakainya hingga sepuluh kali lipat.
Suatu malam, sekelompok perampok bersenjata menyusup ke fasilitas itu. Tujuan mereka jelas: mencuri teknologi Exo-Mantis. Marc terjebak di dalam gudang. Ia mencoba bersembunyi di antara peti-peti dan rak peralatan. Tapi para perampok meledakkan ruangan penyimpanan data untuk menghapus jejak.
Ledakan itu menghancurkan tabung cairan Bio-Gel Konduktif—cairan penstabil sinyal saraf kostum. Marc tertindih puing-puing lengan mekanis purwarupa Exo-Mantis. Alih-alih mati, arus listrik tegangan tinggi dari ledakan justru memaksa cairan bio-gel dan komponen mikro-serat karbon menyatu serta meresap ke dalam jaringan saraf biologis lengannya.
Secara medis, ini adalah kasus langka bernama Bio-Electronic Integration. Otak Marc kini terhubung langsung dengan sisa-sisa micro-chip Exo-Mantis yang tertanam di bawah kulit lengan dan tulang belakangnya.
Marc berhasil keluar dari gudang. Di luar, dunia berubah. Sarafnya memproses visual sepuluh kali lebih cepat. Gerakan peluru atau pukulan musuh akan terlihat melambat—seperti bullet time. Ia melihat seekor kucing berjalan sangat lambat di trotoar. Tanpa sengaja, Marc memukul mobil yang parkir di sampingnya. Kepalan tangan itu menghantam dengan kecepatan dan daya hancur luar biasa, presisi seperti terkaman belalang sembah. Kap mesin penyok dalam. Mobil bergoyang hebat.
Efek sampingnya langsung terasa. Tubuhnya membakar energi dengan sangat cepat. Ia harus mengonsumsi banyak kalori.
Sesampainya di rumah, Marc makan sebanyak yang ia bisa—nasi, roti, daging, apa saja yang ada di kulkas—lalu langsung tidur.
Keesokan harinya ia kembali ke lokasi perusahaan. Gedung itu sudah hancur. Bahkan seolah-olah tidak pernah ada. Ia bertanya kepada orang-orang di sekitar. Semua menjawab sama: “Tidak ada perusahaan seperti itu di sini.”
Marc bingung. Ada yang janggal. Di antara reruntuhan ia menemukan sisa lengan mekanis Exo-Mantis. Ia membawanya pulang. Sejak saat itu ia punya tujuan: menyelidiki kenapa perusahaan itu dibuat menghilang, dan siapa pelakunya.
Dari sisa-sisa material yang ia temukan, Marc merakit kostum. Hijau tua, dengan tangan mekanis yang menambah daya hancur pukulannya. Ia menamai dirinya sendiri: Mantis Strike.
Malam harinya, dengan kostum itu, Marc mulai mencari informasi. Di salah satu sudut kota ia bertemu seorang wanita berusia 23 tahun bernama Emma Grave. Emma bilang ia mengetahui tentang kehancuran perusahaan dan beberapa informasi lain.
Awalnya Marc keras kepala. Ia menolak bantuan. “Aku bisa selesaikan sendiri,” katanya sinis. Lama-kelamaan, ego itu sedikit menurun. Ia akhirnya bekerja sama dengan Emma.
Emma menceritakan: setelah ledakan ruang penyimpanan data, semua staf mati tanpa sisa. Gedung hancur total. Pemerintah takut dihakimi dan dihujat, jadi mereka menyuap orang-orang yang tahu kejadian malam itu dan menghapus seluruh jejak digital perusahaan.
Marc tidak percaya. Ego dan sinismenya naik lagi. “Omong kosong,” pikirnya. Ia berteori bahwa perampok bersenjata itu yang memaksa pemerintah menghapus jejak dan memaksa saksi untuk “melupakan” segalanya. Lalu ia pergi dengan langkah keras kepala.
Di dalam hati, Marc sedikit ngelisah. Mungkin kata-kata Emma bukan omong kosong. Tapi ia memutuskan untuk fokus mencari informasi sendiri.
Di jalan ia bertemu seorang pengemis yang pernah ia lihat saat keluar dari gudang malam itu. Marc memaksa pengemis memberi informasi. Awalnya pengemis menolak. Marc menendangnya dengan keras dan berteriak. Pengemis menangis, meminta ampun, lalu berbicara. Ceritanya persis dengan yang disampaikan Emma. Lebih penting lagi, pengemis itu tahu lokasi markas para perampok.
Marc pergi ke sana dengan mobil. Dari kejauhan ia melihat para perampok memakai exosuit dan topeng. Ia menganalisa situasi, lalu menyerang. Gaya bertarungnya memakai teknik dasar MMA yang ia tahu, dipadukan dengan kecerdasan dan kemampuan menjebak. Satu per satu ia jatuhkan. Ratusan orang. Setelah itu ia berhadapan dengan ketua mereka—seorang wanita yang juga memakai exosuit dan topeng.
Pertarungan sangat sengit. Pada akhirnya Marc berhasil mengalahkannya. Ia membuka topeng itu.
Emma.
Emma mengakui semuanya. Ia mendekati Marc karena Marc adalah orang spesial—satu-satunya yang mampu menahan Bio-Gel Konduktif dan tetap hidup. Teori Marc tentang perampok yang memaksa pemerintah ternyata benar. Pengemis itu sudah diancam jauh sebelum Marc kembali ke lokasi perusahaan.
Sirene polisi terdengar. Mereka datang untuk menangkap semua orang di sana. Marc tidak mau ditangkap. Ia melawan polisi dan berhasil kabur.
Sesampainya di rumah, tubuhnya gemetar. Ia terkejut, lapar luar biasa, lalu makan sebanyak mungkin untuk mengisi kalori yang habis.
Setelah malam itu, Marc membuat keputusan. Saat bertarung di markas, ia hanya memakai teknik-teknik dasar. Mulai sekarang ia akan melatih MMA-nya ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Ancaman di masa depan tidak akan menunggu.
Mantis Strike baru saja lahir.
Tamat.