Malam itu, Angga baru saja merebahkan badannya yang pegal di sofa setelah seharian berkutat dengan pekerjaan kantor. Rumahnya yang kecil dan tenang di kawasan perumahan pinggiran kota selalu jadi tempat berlindung paling nyaman. Namun, ketenangan itu mendadak terganggu oleh suara ketukan pelan di pintu depannya.
Saat pintu dibuka, berdiri Laras, tetangga baru yang baru pindah ke sebelah rumah dua minggu lalu. Perempuan itu tersenyum manis, memegang sebaskom kecil berisi sesuatu yang mengepul hangat. Rambutnya terurai santai, mengenakan pakaian rumahan yang sederhana namun entah mengapa selalu tampak pas di badannya.
"Malam, Mas Angga. Ini, aku baru belajar bikin gulai ayam. Kebanyakan kalau buat sendiri, jadi mau bagi ke Mas Angga. Diterima ya?" kata Laras dengan suara lembut yang rasanya sanggup meluluhkan rasa lelah siapa saja.
Aroma rempah gurih langsung menusuk hidung Angga, memancing perutnya yang memang belum diisi sejak sore. "Wah, makasih banyak ya, Mbak Laras. Padahal repot-repot," jawab Angga canggung, berusaha menjaga tatapannya tetap fokus pada baskom gulai, bukan pada senyuman Laras yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Nggak repot kok, Mas. Lagian aku di rumah sendirian, bosan juga. Kalau Mas Angga ada waktu, kapan-kapan mainlah ke sebelah. Aku sering mati gaya kalau malam," sahut Laras pelan, diakhiri dengan tawa kecil yang terdengar sangat luwes sebelum dia berbalik kembali ke rumahnya.
Angga berdiri terpaku di ambang pintu selama beberapa detik, memegang baskom hangat di tangannya dengan pikiran yang mendadak buyar. Godaan itu bukan cuma tentang aroma gulai yang menggiurkan, melainkan keramahan berlebih dari tetangga sebelah rumahnya yang perlahan mulai mengusik ketenangan pikirannya setiap kali malam tiba.
Sejak malam pemberian gulai ayam itu, ritme hidup Angga berubah total. Tetangga sebelahnya tidak lagi sekadar sosok yang lewat di depan rumah, melainkan gangguan manis yang terus membayangi pikirannya. Laras seolah punya seribu alasan untuk mengetuk pintunya—mulai dari meminta bantuan membetulkan kran air yang bocor, meminjam tangga alumunium, hingga sekadar mengantarkan camilan sore.
Setiap kali berdekatan, Angga harus bekerja keras mengendalikan diri. Laras selalu bersikap sangat ramah, penuh perhatian, dan tidak ragu menunjukkan tatapan mata yang dalam. Bicaranya yang lembut dan gesture-nya yang santai membuat dinding pertahanan Angga perlahan mengikis. Ada getaran aneh yang terus menggoda logikanya untuk melangkah lebih jauh.
Hingga pada suatu Sabtu malam yang diguyur hujan deras, listrik di perumahan mereka mendadak padam total. Suara petir menyambar bersahut-sahutan di udara. Baru saja Angga hendak menyalakan lilin di meja makan, pintu rumahnya kembali diketuk cukup kencang.
Saat membuka pintu, Angga menemukan Laras berdiri di sana dengan tubuh sedikit gemetar. Dia memeluk lengannya sendiri, matanya menyiratkan rasa takut yang nyata terhadap gelap dan suara guntur.
"Mas... rumahku gelap banget, aku takut petir," bisik Laras pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Boleh aku tunggu listrik nyala di sini aja?"
Angga terpaku di depan pintu yang terbuka lebar. Cahaya remang dari lilin di belakangnya menerangi sebagian wajah Laras, menciptakan atmosfer yang sangat intim di antara mereka. Suara hujan yang lebat di luar seolah mengisolasi mereka berdua dari dunia luar. Di satu sisi, nuraninya mengingatkan untuk tetap menjaga jarak dan batas-batas ketetanggaan yang sehat. Namun di sisi lain, godaan di hadapannya terasa begitu nyata dan sulit untuk diabaikan.
"Boleh, Mbak. Masuk dulu," kata Angga akhirnya, membiarkan Laras melangkah melewati ambang pintunya, tanpa tahu ke mana batas yang tipis ini akan membawa mereka berdua malam itu