Cuma ya itu, orderan tidak pasti. Jadi mau tidak mau kamu jadi tukang sablon freelance.
Nanang
Jadi sekalian saja, pumpung kita sedang membicarakan hal ini.
Nanang
Kita sekalian rembukan.
Nanang tersenyum sedih, mengingat sudah 30 tahun ia membangun usahanya. Sedikit - banyak pemasukan yang ia terima dari usahanya ia slalu bersyukur. Hanya saja hari ini pilihannya adalah menyudahi usahanya atau melanjutkan dengan penghasilan minimal. Itu kondisi yang jauh dari apa yang ia harapkan. Banyak tanggungan keluarga yang harus ia penuhi. Belum lagi keinginannya untuk mempunyai pengasuh anak.
Karyawan itu mengangguk.
Karyawan
Ya kalau keadaannya baru seperti ini aku gak masalah freelance, pak.
Karyawan
Aku sudah ikut bapak enam tahun. Kalau pisah gara-gara bangkrut kan aku yo sedih.
Nanang hanya bisa berterima kasih.
Ken
Jadi intinya gimana, pakdhe?
Nanang memeriksa jam. Satu jam lagi kedua anak kembarnya sudah pulang sekolah.
Nanang
Karena konveksi ini yang mau saya jual terlebih dahulu. Ada baiknya yo mulai sekarang beres-beres.
Nanang
Peralatan sablon di bawa ke toko, sementara yang lainnya taruh di rumah saya.
Nanang
Nanti setelah jemput si kembar, saya kesini lagi untuk mengkoordinir.
Ken dan Karyawan Nanang hanya bisa mengangguk pasrah.
Sementara sisa waktu yang cukup lama dijadikan Nanang untuk mengecek barang-barang rijek dan tidak layak jual---entah karena jahitannya yang tidak rapi atau cat sablon yang tidak presisi.
Sementara Ken dan Karyawan itu mulai mengecek dan mendata barang-barang berharga yang harus di pindahkan.
Cinta Di Ujung Senja
Cinta di Ujung Senja S2
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Comments
Herlina Maharani
harus di jual beneran kah ini... q kok jd sedih😩😢
2022-05-25
0
Arfi
titik terlemahnya Nanang, sama persis dg kangmas kaysan waktu di australi, mudah2an segera membaik Yo Nang....
2022-05-20
2
Umine LulubagirAwi
kasihan nanang. ujiannya kok sama dg pembca yg dsni.
usaha mulai surut. ada banyak anak yg harus dinafkahi.🙈
2022-05-20
1