Cerita Horor Di Kampung
Bukan sekadar cerita pengantar tidur, bukan pula sekadar rumor yang sengaja diembuskan untuk menakuti anak-anak kecil agar tak pulang larut malam. Kisah tentang tanah tempat kaki Nenek berpijak adalah sebuah misteri yang masih berdenyut, hidup, dan bernapas hingga detik ini.
Kampung Cimpela. Sebuah nama yang terdengar bersahaja, namun menyimpan memori yang teramat kelam. Jika kau bertanya pada tanahnya, mungkin ia akan bercerita tentang warna merah yang pernah mengalir deras, membasahi akar-akar pohon besar sebelum ia menjadi pemukiman seperti sekarang. Jauh sebelum rumah-rumah permanen berdiri, Cimpela adalah hutan rimba yang rapat—sebuah benteng hijau bagi jiwa-jiwa yang ketakutan.
Dulu, saat negeri ini masih dicengkeram oleh kuku-kuku tajam penjajah, orang-orang lari ke Cimpela. Mereka bersembunyi di balik rimbunnya semak, berharap pepohonan bisa menyembunyikan detak jantung mereka yang berpacu. Mereka mencari keselamatan, sebuah pelarian dari pembantaian yang membabi buta. Namun, maut ternyata punya telinga yang lebih tajam.
Naas, persembunyian itu terendus. Dalam sekejap, kesunyian hutan pecah oleh deru sepatu laras dan teriakan komando dalam bahasa asing yang dingin. Para penjajah itu tidak mengenal belas kasihan. Dengan pisau-pisau yang berkilat di bawah sinar matahari yang menembus celah daun, mereka menggorok leher para pribumi yang tak berdaya. Tak cukup sampai di situ, bambu-bambu runcing yang seharusnya menjadi senjata pertahanan justru digunakan untuk menghujam tubuh mereka sendiri hingga mati mengenaskan.
Ironisnya, hingga hari ini, kematian yang tidak diinginkan itu meninggalkan sisa-sisa energi yang tak mau pergi. Meski kini Cimpela sudah ramai oleh penduduk, meski listrik sudah menerangi gang-gang sempitnya, "mereka" masih di sana. Mereka bergentayangan, terjebak dalam memori kesakitan yang tak berujung.
Setiap malam, di saat kau tertidur lelap dan berpikir bahwa kesunyian adalah tanda kedamaian, kau salah besar. Di Cimpela, kesunyian adalah panggung bagi masa lalu.
"Bukan sekadar langkah kaki biasa, tapi bunyi gesekan sepatu laras di atas tanah berbatu yang berirama... sreg... sreg... sreg..."
Aku sering terbangun di tengah malam dengan peluh dingin yang membasahi bantal. Telingaku seolah dipaksa mendengar derap langkah tentara yang berbaris rapi di luar jendela, diikuti jeritan melengking seorang wanita yang meminta tolong, merintih dalam kesakitan yang amat sangat. Suara itu begitu nyata, begitu dekat, seolah-olah pembantaian itu sedang terjadi kembali tepat di balik dinding kamarku.
"(Semoga Allah menerima amal mereka dan mengampuninya...)" bisikku dalam hati. Pipi ini tak jarang basah oleh air mata. Bukan karena takut akan sosok mereka, melainkan rasa syukur yang amat dalam karena aku tidak hidup di zaman biadab itu. Namun, kelebihanku memaksaku untuk ikut "merasakan" sisa pedih mereka.
Cerita tentang sejarah kelam Cimpela ini pertama kali kudengar dari Mama, beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu, setiap kali libur sekolah semester pertama tiba, ada dorongan kuat dalam diriku untuk pulang ke sana.
"Aku ingin sekali pergi menemui Nenek," ujarku sore itu sambil membelai permukaan album foto lama. Di sana, aku dan Nenek tersenyum bahagia. Nenek adalah pelabuhanku, tempat di mana aku merasa paling dimengerti.
Tapi sebelum aku melanjutkan ceritaku, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?
Pernahkah kau mengalami kejadian yang amat janggal sekali saja dalam hidupmu? Sesuatu yang membuat logikamu patah dan bulu kudukmu berdiri tanpa alasan?
Bagi kebanyakan orang, malam adalah waktu untuk memejamkan mata dan beristirahat. Tapi apa jadinya jika kau memiliki apa yang disebut orang sebagai 'Indra Keenam'? Di mana matamu dipaksa melihat apa yang seharusnya tersembunyi, dan telingamu dipaksa mendengar apa yang seharusnya sudah senyap.
Orang tua zaman dulu di Jawa Barat sering berpesan: "Tong kaluar ti maghrib, pamali bisi aya sanekala." Jangan keluar rumah saat senja adzan Maghrib berkumandang, itu pantangan. Karena senjakala adalah waktu pergantian shift antara dunia kita dan dunia mereka. Saat itulah mahluk halus mulai berkeliaran, mencari celah untuk menampakkan diri.
Aku masih ingat, saat usiaku baru lima tahun, aku menyaksikan "dia" untuk pertama kalinya. Sosok wanita berambut panjang yang menutupi seluruh wajahnya, mengenakan pakaian merah besar yang menjuntai. Ia tidak berjalan, ia terbang tepat di atas kepalaku, menyapu udara dengan aura dingin yang mencekam.
Aku berlari sekencang mungkin menuju rumah di gang sempit itu, berteriak sekaku-kakunya untuk mengusir rasa takut yang hampir melumpuhkan kakiku.
"MAMAAAAaaaa...!" teriakku histeris.
Mama keluar dengan wajah panik, langsung menyambutku di ambang pintu. "Mama... takut..." hanya itu yang bisa kuucapkan sambil membenamkan wajah di lehernya. Mama menggendongku masuk, mengunci pintu rapat-rapat, dan membisikkan doa-doa penenang. Itu adalah pengalaman pertamaku yang menjadi pembuka gerbang bagi penglihatan-penglihatan selanjutnya.
Sampai di mana kita tadi? Oh, iya. Perjalanan menuju rumah Nenek.
Perjalanan kali ini terasa jauh lebih melelahkan. Mama tidak bisa ikut karena ada kepentingan mendesak yang tak bisa ditinggalkan, jadi aku pergi sendiri dengan keberanian yang dipaksakan. Jalanan berbatu yang tak rata membuat kendaraan terguncang hebat, memperlama waktu tempuh.
Udara pegunungan mulai terasa menusuk tulang. Hawa angin yang dingin serasa datang dari arah hutan lebat yang mengelilingi akses menuju Cimpela. Di sepanjang jalan, aku merasa ada sesuatu dari kejauhan, dari balik pepohonan yang gelap, sedang mengintaiku. Memperhatikanku dengan tatapan yang lapar dan penuh tanya. Huuu... merinding banget rasanya!
Namun, rasa lelah akhirnya menang. Begitu kakiku melangkah masuk ke rumah Nenek dan melihat wajah teduhnya, separuh bebanku terangkat. Tanpa basa-basi, aku langsung merebahkan diri di atas kasur tua yang empuk. Aroma sprei yang dijemur di bawah matahari dan bedak dingin Nenek menyambutku.
"Benar-benar melelahkan," gumamku sambil memejamkan mata.
Aku mengira ini akan menjadi liburan yang tenang. Namun, aku lupa satu hal. Cimpela tidak pernah benar-benar tidur. Dan kedatanganku kali ini, seolah menjadi sinyal bagi "mereka" yang telah lama menunggu seseorang untuk mendengarkan kisah mereka yang belum usai.
Di balik dinding rumah kayu ini, sesuatu sedang bergerak. Dan liburanku... baru saja dimulai
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
SABILA FISILMI
main yukk
2022-10-08
0
YNTKTS
Vote pertama dari ane
2022-09-14
2
[🦉]Susi Soemarsi
huaaaa pas baca ini kx sak ndelalahnya mlm2 jam 10an. hiks auto ndak bisa tidur. tpi ceritanya seru bikin org penasaran🤭
2022-09-13
1