Hari berjalan dengan cepat. Semua waktu terasa berat. Ketiga kakak Qila sudah memboyong keluarganya untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Rumah yang beberapa waktu ini terlihat ramai dan hangat, kembali terasa sunyi. Seperti ketika ibu hampir terbunuh.
Mata Qila menatap sendu lampu gantung yang panjangnya menjulang yang terletak di ruang tamu. Bayangan ibu ketika tercekik selendang masih terngiang-ngiang. Kakinya terus membabi-buta dan mata melotot. Kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya, lalu lehernya tercekik. Di bawahnya ada seorang laki-laki tua bangka membawa pisau dengan senyum dibuat-buat, hendak menusuk perut ibu.
Sebuah peluru melesat, menerobos ke punggung lelaki itu hingga dia ambruk dengan darah yang bercucuran mengotori lantai rumah. Lelaki itu diseret oleh beberapa polisi ke luar rumah. Tak lupa juga tangannya diborgol. Qila tidak tahu motifnya ingin membunuh ibu dan membekap ayah di gudang. Posisinya hanya mengintip dari balik tembok, takut-takut dia menangkapnya. Kebetulan usianya masih kecil dan dia tidak tahu apa-apa. Qila kecil hanya mampu terisak. Iza masuk ke dalam rumah, lalu melepas selendang yang mencekik leher ibu. Di depan rumah ada Indri sedang berjabat tangan dengan polisi, seperti mengucapkan terima kasih. Yuli berlarian di dalam rumah untuk mencari Qila. Dia menemukannya, lalu memeluknya. Iza mencoba melepaskan selendang yang mengikat leher ibu. Wajahnya sudah memucat dan tubuhnya sangat lemas, seperti tidak bernyawa. Ayah berlari tergopoh-gopoh setelah Indri melepaskannya di gudang. Beruntung ibu mendapat pertolongan secepat mungkin. Walau masih ada bekas ikatan selendang yang memerah di leher dan terasa sangat sakit jika dipegang sampai beberapa hari.
Beberapa hari setelah itu, oma—ibu dari ayah—meninggal. Kasusnya sama persis seperti ibu. Karena kecerobohan anak-anaknya yang tidak bisa selalu disisinya, mereka tewas. Pelakunya adalah teman dari lelaki yang mencoba membunuh ibu.
Ayah menepuk bahunya. Qila terlonjak.…
STOP IT!
nine
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Comments