Saat Sara hendak kembali ke kamarnya, ia berpapasan dengan bawahan Leo yang membawa kardus menuju ruangan Leo.
" Apa itu?" Tanya Sara.
" Paket tuan Leo nyonya."
" Boleh aku lihat..."
Namun pengawal itu malah menghindar saat Sara hendak mengambil kardus itu.
" Lo barusan ngehindar dari gue?"
" Saya tidak bermaksud begitu nyonya."
" Ya udah sini, gue mau lihat..."
" Sara!"
" Iii apaansih!" Kesal Sara.
Saat Leo tengah mengajak Sara kembali berdebat, ia pun mengode bawahannya untuk pergi.
Dan ketika bawahannya sudah pergi, Leo kembali berhenti berdebat dengan Sara.
" Ya udah aku minta maaf." Ucap Leo pasrah.
" Segampang itu? Aku nggak yakin kamu beneran minta maaf."
" Yang aku lakuin aku di mata kamu itu salah terus, kamu mau apasih? Bilang aja."
" Kamu kok gitu sih?"
" Aku gimana sih?"
" Ya nggak usah gitu juga." Kesal Sara lalu pergi.
" Sara... Woi Sara!!!!"
" APA!!!!" Jerit Sara lebih keras. " Apa! Apa! Apa! Ha! Kamu kenapa bentak aku!!! Kamu brengsek!!!"
" Kamu kekanak-kanakan banget sih!"
" Iya!! Aku emang kekanak-kanakan! Aku memang anak-anak! Jadi perlakukan aku seperti anak-anak!!!"
" Sara..."
" Kamu nyebelin banget sih!!!"
Sara lalu naik sambil berdebat dengan Leo yang tentunya juga tak mau kalah.
Saat di kamar, Sara pergi duduk di tepi ranjangnya dan memainkan handphonenya.
Leo pun juga lalu masuk ke kamar dan langsung membuka bajunya dan terlihatlah badan bugarnya yang di penuhi tato yang di isi oleh nama Sara juga.
' lihatlah dia, dia pasti pengen lihatin badan kekarnya di umurnya yang sudah tua.' Sara tersenyum miring. ' dia pasti ingin ngerayu gue.... Ngapain dia mendekat ni.' Sara membulatkan matanya besar saat Leo mendekat.
Leo perlahan mendekatinya dan bahkan mendekatkan wajahnya pada Sara.
Sara pun juga langsung menutup matanya menunggu ciuman itu. Namun siapa sangka Leo malah melewatinya dan mengambil handuk yang ada di belakangnya.
Sara membuka matanya dan Leo tersenyum lebar. " Kamu mikirin apa?"
" Nggak, aku nggak mikirin apa-apa!" Elak Sara.
" Lalu kamu nutup mata kamu buat apa?"
" Emang nggak boleh aku nutup mata aku? Mata, mata aku."
" Baiklah, aku mau mandi." Leo masih tersenyum membuat Sara kesal sendiri.
' nyebelin banget sih.' Sara memukul-mukul bantalnya. " Nyebelin! Nyebelin! Leo nyebelin!!!"
beberapa saat kemudian*
Leo pun selesai mandi dan memakai baju yang di siapkan Sara.
Meski sedang marah, Sara tetap mengurusnya seperti halnya seorang istri yang baik.
Saat Sara fokus bermain game di handphonenya, tiba-tiba handphone berdering yang membuatnya kembali kesal.
" Siapa ini? Kenapa harus menelpon saat aku sibuk ha!!!" Sara lalu menjawabnya. " Halo!! Ada apa!"
" Sara ini gue."
" Gue siapa?"
" Adrian."
" Ha?"
" Ternyata Lo belum ganti nomor telepon Lo yah, baguslah."
" Ada apa?" Tanya Sara bernada lembut mebuat Leo penasaran.
" Gue ingin ketemu Lo di taman yang dulu sering kita kunjungi."
" Tanam Fores itu?"
" Iya." Jawab Adrian. " Gue mau ngomong sama Lo."
" Tentang apa dulu ni?"
" Gue mau ngomong kalo Lo udah di sini, gue tunggu Lo ya." Adrian lalu mematikan handphonenya.
" Ni anak mau ngomong apa ya."
" Siapa yang nelpon."
" Iii kepo banget sih."
" Apasih."
" Aku mau pergi." Sara lalu mengambil mantelnya. " Kamu makan aja duluan."
" Kamu mau kemana?"
" Ketemu seseorang."
" Siapa? Cowok atau cewek?"
" Cowok, emangnya kenapa?"
" Jadi kamu bicara selembut tadi sama cowo."
" Iya." Angguk Sara tersenyum.
" Kalao gitu aku ikut."
" Ih kamu kurang kerjaan banget sih, kamu ngapain terus ikutin aku. Aku juga nggak bakalan hilang kok..."
" Ya intinya aku mau ikut."
" Nggak mau."
" Aku mau ikut! Titik!"
" Cemburuan banget sih kamu! Lagian aku juga nggak bakalan ngapa-ngapain lalu ninggalin kamu."
" Siapa yang tahu?"
" Dasar pria posesif ini, nggak, pokoknya kamu nggak boleh ikut."
" Kalo nggak boleh, kamu juga nggak boleh pergi."
" Ckkk, sialan." Umpat Sara. " Terserah deh."
Leo langsung tersenyum lebar dan mengikuti Sara pergi.
xxxxxxxxxxx
Saat di taman, Sara melihat kesana kemari mencari keberadaan Adrian yang entah ada dimana.
Saat sampai di tengah taman, akhirnya Sara pun menemukan Adrian yang tengah duduk di bawah pohon.
" Kamu di sini aja. Nggak usah ikut."
" Itu kan cowok yang kemarin, dia siapa sih?"
" Temen SMA aku." Sara lalu pergi.
Adrian lantas tersenyum saat melihat Sara yang menyapanya.
" Lo udah datang ya."
" Lo nggak nunggu lama kan?"
" Nggak kok."
" Omong-omong Lo mau ngomong apa?" Tanya Sara melihat ke sana kemari.
" Gue..."
" Tunggu dulu, biar gue yang ngomong duluan dulu."
" Ya udah."
" Perasaan gue ke Lo udah hilang 11 tahun yang lalu. Sekarang gue udah punya suami dan pesan yang gue kirim itu karena, Lo tiba-tiba pergi waktu nggak ngejawab perasaan gue. Tapi gue udah bahagia sekarang sama gue."
" Gue tahu kok."
" Jadi kalo Lo punya perasaan Ama gue, lebih baik jangan deh."
" Ha?" Adrian mengerutkan keningnya.
" Gue nggak bisa sama Lo lagi, andai Lo jawab perasaan gue waktu itu... Mungkin... Ya gitu lah."
" Baiklah. Gue cuma mau kasi ini ke Lo." Adrian memberikan sebuah surat undangan pernikahan. " Gue harap Lo datang."
Senyuman Sara langsung hilang di sertai malu karena mengucapkan perkataan sombongnya tadi.
Sara terus menatap undangan pernikahan itu dengan mimik wajah yang begitu menyedihkan karena begitu malu.
Sedang Leo yang berada di kejauhan langsung tertawa melihat ekspresi Sara.
" Haha, gue ucapin selamat ya. Hahha."
" Ah iya, Lo jatuh jepitan Lo waktu itu, gue niatnya mau kasih Lo waktu itu, tapi Lo tiba-tiba pergi."
" Hahaha." Sara tertawa paksa. " Terimakasih." Tunduk Sara. ' anjink, kok gue kepedean banget sih.' benak Sara.
" Lo nggak apa-apa?"
" Nggak kok, gue harus pergi kalo gitu."
Saat Sara hendak pergi, Adrian menahan tangannya dan bahkan memeluknya membuat Leo membulatkan matanya besar.
" Gue minta maaf karena nggak jawab perasaan Lo waktu itu, tapi gue juga sama Lo. Tapi gue…
Mafia Posesif Terobsesi Cinta Detektif Bar-Bar
23 Tahun Yang Lalu
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 20 Episodes
Comments