Di sisi lain seorang pria berjubah sedang berdiri menatap ke jendela. Senyum kecil terlukis dari sudut bibirnya. Azrael, dia masih hidup. Azrael mengingat betul saat terakhir ia menghancurkan Mr, X demi menyelamatkan Lucifer dan keluarganya.
"Aku harap kalian baik-baik saja ." ucapnya, sambil mengasah belati yang bersinar merah di tangannya.
"Master"
Seorang prajurit bayang masuk ke ruangannya, mengabarkan jika Lucifer dalam bahaya.
*Ada apa? "
Suaranya nyaris pelan namun masih penuh ketegasan.
"Elijah masih hidup"
Azrael mengangkat kepalanya, berhentilah sejenak gerakannya. menatap lekat prajurit yang berada di hadapannya.
"Apa kau yakin? *
Sahutnya, wajah penuh emosi tatapan tajam seperti b menghunus kan belati nya pada musuh.
" Sekarang Elijah bekerjasama dengan Adrian D'angelo, dan... Lucifer dan keluarganya dalam bahaya "
Azrael berdiri diam, memproses informasi yang baru saja ia dengar. Ia menutup matanya sejenak, seolah mencari ketenangan di tengah kekacauan yang mulai menyelimuti pikirannya. Belati merah di tangannya berkilauan, seakan merespon kemarahan yang mulai membara di hatinya.
"Adrian D'Angelo..." gumamnya pelan, nama itu keluar dari bibirnya seperti racun. "Dan Elijah... Mereka tidak pernah belajar, bukan?"
Prajurit bayang itu menunduk, menunggu perintah selanjutnya. Azrael berjalan mendekat ke jendela, menatap gelap malam yang penuh misteri.
"Lucifer adalah sahabatku. Keluarganya adalah tanggung jawabku," ucap Azrael, lebih kepada dirinya sendiri daripada prajuritnya. Ia berbalik, menatap tajam prajurit itu. "Siapkan pasukan bayangan. Kita bergerak malam ini."
"Master,"
Sahut prajurit itu sambil membungkukkan badan sebelum menghilang dalam kegelapan.
Azrael kembali menatap belatinya.
"Elijah, Adrian... Kalian memilih perang ini. Dan aku akan memastikan kalian menyesalinya."
Kini Lucifer dan rombongannya mulai berjalan menyusuri hutan gelap yang berada di sekeliling bunker. Dengan penuh percaya diri, Lucifer memimpin perjalan itu. Sesekali ia menoleh kebelakang mengintai seseorang yang mencoba mengikuti langkah mereka.
"Apa lain yakin, mereka tidak akan menyadari kepergian kita? " tanya Alex,
Ia mulai ragu, sebab keadaan begitu sepi, namun terasa mencekam. Zara dan Xander hanya mengikuti langkah Lucifer tanpa berbicara sedikit pun,. Sementara Lucifer tak menanggapi keraguan Alex.
Sementara Frank menuntun istrinya Lusi yang menggendong putra mereka. Sama hal nya seperti Alex, Frank juga merasakan hal yang sama.
Suasana semakin mencekam seiring langkah mereka yang semakin jauh masuk ke dalam hutan. Kegelapan malam terasa lebih pekat, seolah menyelimuti setiap sudut, membuat mereka merasa seperti diawasi oleh sesuatu yang tak kasat mata.
"Lucifer,"
Panggil Frank akhirnya, suaranya pelan namun tegas.
"Kita semua merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Kau benar-benar yakin jalan ini aman?"
Lucifer menghentikan langkahnya. Ia berbalik, matanya tajam menyapu wajah setiap orang di belakangnya.
"Aku tahu apa yang kulakukan," jawabnya dingin.
"Percayalah padaku, ini satu-satunya cara untuk menjauh dari mereka."
Alex membuka mulutnya, hendak membalas, tetapi tatapan Lucifer membuatnya bungkam. Tidak ada yang berani berbicara lagi, meskipun keraguan terus menghantui mereka.
Langkah mereka berlanjut dalam keheningan. Hanya suara gemericik dedaunan dan angin malam yang mengiringi perjalanan mereka. Sesekali, Zara berhenti untuk memastikan tak ada tanda-tanda musuh yang mengikuti. Namun, perasaan aneh tetap tidak hilang.
Lusi yang menggendong bayinya tampak semakin cemas. Ia menggenggam tangan Frank erat-erat.
"Aku takut," bisiknya pelan, suaranya bergetar.
"Kita semua takut," balas Frank sambil mencoba menenangkan istrinya.
"Tapi kita harus percaya pada Lucifer."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan, menghentikan perjalanan mereka. Semua orang langsung siaga. Zara mengangkat senjatanya, sementara Xander bergerak ke posisi bertahan. Lucifer mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka diam.
"Dengar,"
Bisik Lucifer, matanya menyipit menembus kegelapan.
"Mereka ada di sini."
"Siapa?" bisik Alex panik.
"Apa mereka musuh kita?"
Lucifer tidak menjawab. Sebaliknya, ia menajamkan pendengarannya, mencoba memastikan jumlah mereka yang mendekati mereka.
"Kalian? " ucap Kieran,
Dari tadi Kieran bersembunyi dibalik pohon m, memastikan mereka yang berjalan semakin mendekati nya. Ada ketenangan yang terpancar pada raut wajah mereka. Ancaman mulai berkurang.
Lusi menarik nafasnya merasa lega setelah melihat kehadiran Kieran dan bukan musuh. Ia pun mengendurkan gendongannya.
Kieran melangkah keluar dari balik bayang-bayang pohon, wajahnya tenang namun penuh kewaspadaan. Ia menyapu pandangannya ke arah rombongan, memastikan semua orang selamat.
"Kalian terlalu tergesa-gesa," katanya tanpa basa-basi, nadanya datar namun menusuk.
"Aku masih memastikan jalan ini aman, tapi kalian tetap saja bergerak sebelum aku datang."
Lucifer menatap Kieran tajam.
"Kami harus bergerak sebelum musuh mengepung.Kau tahu kesalahan mu?." Ia melangkah mendekati Kieran, sorot matanya menyelidik.
"Suapa yang kau mintai bantuan?"
Kieran menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Azrael, dia masih hidup."
"Benarkah?Aku sudah menduganya." kata Lucifer singkat.
Namun ia berbalik ke arah rombongan. "Kita akan terus berjalan. Jangan berhenti, jangan berbicara. Kita harus keluar dari sini sebelum mereka mendeteksi kita."
Dalam pikirannya, Lucifer merasa senang. Namun ini bukan saatnya menanggapi berita itu. Hal yang paling penting saat ini. Bagaimana mereka bisa keluar tanpa membahayakan Lusi, Frank dan bayi mereka. Juga semua anggota keluarga yang ikut dalam pelarian ini.
Gadis Bercadar Milik Sang Mafia
Azrael juga masih hidup
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 194 Episodes
Comments
MeghaMd
lanjut thor
2024-12-07
1