Calon Ratu Tangguh
Di sebuah rumah mewah di pusat kota, seorang perempuan cantik menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Pagi ini Alana kesiangan. Ia baru bisa memejamkan mata pukul empat subuh setelah berkutat dengan laporan perusahaan yang dikirim asisten pribadinya. Padahal, setengah jam lagi Alana memiliki jadwal operasi penting.
"Ck, gara-gara lembur semalaman," gerutu Alana sambil melirik jam tangannya.
"Aaaakkk!"
"BRUK!"
Karena kurang waspada, kaki Alana terpeleset. Ia terjatuh dan berguling di anak tangga. Jerit histeris langsung pecah dari mulut kakek dan neneknya yang menyaksikan cucu kesayangan mereka terhempas.
"ALANA!!!!!"
"NONA!!!!!"
Para pelayan pun ikut berteriak menyaksikan tubuh Alana yang tak berdaya di lantai bawah.
"Alana, bertahan sayang!" tangis sang nenek sambil memangku kepala Alana yang mulai bersimbah darah. "Pah, cepat! Kita harus bawa cucu kita ke rumah sakit!"
"O-oma... O-opa..." panggil Alana dengan suara yang nyaris hilang.
"Bertahan, Dear. Opa akan membawamu sekarang juga," ucap sang kakek gemetar, hendak menggendong cucu semata wayangnya itu.
Namun, Alana menahan tangan kakek dan neneknya. "T-tidak per-lu..." ucapnya terbata-bata. "O-ma... O-pa... t-te-ri-ma k-ka-sih... s-su-dah... s-sa-yang Al-lana..."
Oma dan Opa Alana hanya bisa menangis sesenggukan. "Kamu bicara apa, Sayang? Tidak perlu berterima kasih, Alana... Hiks..."
"W-waktu Al-lana... s-su-dah t-tidak b-ba-ny-ak l-lagi," gumam Alana dengan tatapan yang mulai sayu. "Al-lana pam-it... O-ma... O-pa... A-al-an-a m-en-c-i-nta-i k-kalian."
Napas itu akhirnya terputus. Alana mengembuskan napas terakhirnya di pelukan orang-orang yang paling mencintainya.
"ALANAAAA! BANGUN SAYANG! HIKS... BANGUN!"
Sang nenek berteriak histeris, memeluk tubuh yang kini telah dingin dan tak bernyawa. Sementara itu, sang kakek memegangi dadanya yang berdegup kencang karena syok. Hatinya hancur berkeping-keping melihat permata mereka pergi menyusul kedua orang tuanya ke keabadian.
"Bangun, Sayang... Siapa nanti yang akan menemani Oma memasak? Hiks..."
"Sabar, Sayang," bisik sang kakek mencoba menguatkan istrinya, meski ia sendiri merasa dunianya telah runtuh.
Kematian Alana Maureen, seorang profesor muda sekaligus CEO jenius, seketika menggemparkan dunia. Ia bukan sekadar dokter, melainkan sosok yang dijuluki "Dokter Ajaib" karena kemampuannya menyembuhkan pasien yang tak terhitung jumlahnya. Pasien dari seluruh penjuru dunia rela terbang jauh ke REEN Hospital hanya demi mendapatkan sentuhan tangan dinginnya.
Kini, ribuan orang berbondong-bondong mendatangi kediamannya untuk memberikan penghormatan terakhir. Langit pun seolah ikut berduka, mengiringi kepergian perempuan dengan sejuta talenta itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Di depan nisan yang masih basah, tiga sahabat karibnya Karin, Erica, dan Keysha, bersimpuh dengan hati yang hancur. Persahabatan yang terjalin sejak sekolah dasar itu kini terputus oleh maut.
"Al, kenapa perginya jauh sekali? Hiks..." isak Karin.
"Siapa yang akan menasihati dan memarahi kami lagi?" Erica memeluk nisan Alana dengan erat.
Keysha hanya terdiam, bibirnya kelu. Kehilangan Alana adalah pukulan paling telak dalam hidup mereka. Sepuluh tahun suka dan duka seolah berputar kembali dalam ingatan.
"Selamat beristirahat, orang baik," ucap Erica lirih.
"Pasti kamu senang di sana, kan Al? Sekarang kamu sudah bisa bertemu Mama dan Papa..." tambah Karin sesenggukan.
"Keinginanmu akhirnya terwujud... Kamu sudah bisa memeluk mereka sekarang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 151 Episodes
Comments
Deera__
Assalamu'alaikum salam kenal interaksi dan izin mampir Onel yg baik hati. /Pray/
Awal yang dimulai dengan cerita yg manis hangat bercampurkan duka dan air mata.
2024-11-17
0
Acin minduk
baru mampir Thor, semoga ceritang ga bikin bosan ya
2024-11-09
0
Casse_wang
awal baca udah menguras air mata,padahal dulu pernah baca dan emang ceritanya seru tapi aku kangen jadi baca lagi deh tetap aja bab 1 ikutan nangis
2025-11-25
0