Hidupku Seperti Dongeng
..."What we know is a drop, what we don't know is an ocean," --Isaac Newton--...
..."Apa yang kita ketahui hanyalah setetes, sedangkan apa yang tidak kita ketahui adalah lautan."...
...♡♡♡...
Dua belas tahun setelah tangis putra pertama dari sepasang suami istri memecah keheningan, kini seorang putri lahir menyempurnakan silsilah keluarga. Paras yang ayu, sepasang mata zamrud yang jernih, serta lengkung senyum yang merekah, seolah menjadi kepingan terakhir yang melengkapi mosaik rumah tangga.
"Muha, ujar sang Ayah. "Adikmu akan mewarisi binar keindahan yang Ayah bawa ke dunia ini. Ayah akan menyematkan nama Nuha untuknya, selaras dengan namamu. Indah, bukan?"
Muha tersenyum, "Dia cantik, persis Ibu."
Naraya Muha, 12 tahun.
Remaja itu, kini tak lagi sendiri. Di balik tatapan lembutnya, ada gejolak khas anak laki-laki seusianya yang sedang berada di ambang masa pubertas.
Dunia Muha adalah tentang riuhnya lapangan basket dan ambisi memenangkan turnamen e-sports bersama teman-temannya. Menimang bayi adalah wilayah asing yang jauh dari aroma keringat dan debu sekolah yang biasa ia hirup.
Tahun-tahun berikutnya ia perlahan berbagi ruang dengan derap langkah kecil adiknya di lorong rumah. Muha belajar menjadi kakak yang tanggung jawab dan membantu Ibu mengurus rumah.
Muha selalu memastikan Nuha tidak pernah merasa sendirian. Ia yang mengajari Nuha cara mengikat tali sepatu hingga menjadi "tameng" pertama saat sang adik mulai menangis karena jatuh saat belajar bersepeda.
Tak terasa, enam tahun berlalu seperti hembusan angin. Nuha kini resmi mengenakan seragam merah-putih, sementara Muha telah berdiri di puncak masa remajanya, mengenakan putih-abu dengan pundak yang jauh lebih tegap.
Hingga tibalah hari di mana pengumuman SNBP muncul di layar laptopnya. Sebuah garis biru menyatakan ia diterima di universitas ternama di luar kota. Prestasi yang membanggakan, namun sekaligus menjadi lonceng perpisahan.
"Kak Muha benar-benar harus pergi?" suara Nuha kecil, nyaris tenggelam oleh suara selotip yang ditarik.
Muha menghentikan gerakannya. Ia berlutut di depan adiknya, menatap sepasang mata zamrud yang kini berkaca-kaca.
"Asramanya jauh, Nuha. Kakak harus belajar di sana supaya nanti bisa jadi orang hebat untuk Ibu, Ayah, dan tentu saja untuk kamu," ucap Muha lembut. Ia merapikan kerah seragam Nuha yang sedikit miring.
"Kamu sudah kelas satu sekarang. Sudah besar. Harus berani sarapan sendiri dan tidak boleh rewel kalau Ayah pulang telat, ya?"
Nuha tidak menjawab.
Ia justru menghambur ke pelukan kakaknya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Muha tempat favoritnya sejak bayi. "Tapi nanti siapa yang mengantar Nuha ke gerbang sekolah? Siapa yang membela Nuha kalau ada teman nakal?"
Muha memejamkan mata, menghirup aroma bedak bayi yang masih samar tertinggal di rambut adiknya. "Nuha kan adik kakak Muha yang paling kuat. Ingat apa saja yang kakak ajarkan ya, jangan gampang menangis dan jangan gampang dipukul teman."
Muha melepaskan pelukannya.
Besok pagi, bus akan membawanya pergi. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, rumah itu akan kehilangan suara tawa berat Muha, dan Nuha harus belajar berjalan tanpa bayangan pelindung di sampingnya. Perpisahan itu tidak hanya memisahkan jarak, tapi juga menandai berakhirnya masa kecil mereka yang indah di bawah satu atap yang sama.
Seorang pemuda tinggi, berpenampilan rapi, keluar dari mobil. Seragam SMAnya tampak sempurna. Kemeja putih bersih dengan dasi hitam yang tergantung rapi di lehernya, dan blazer yang menambah kesan elegan.
Rambutnya hitam pekat, sedikit berantakan namun tetap menawan, memberikan kesan kasual yang memikat. Matanya, tajam namun penuh ketenangan, langsung tertuju pada gadis yang berdiri terpaku menatapnya.
Wajah pemuda itu begitu sempurna, dengan rahang tegas dan senyuman tipis yang nyaris tidak terlihat.
"Tapi, aku harus terlihat membosankan supaya dia segera pergi," batin gadis itu mencoba untuk tetap tampak tak tertarik.
Hatinya berdebar berirama dengan kedua matanya saat Pemuda itu berjalan mendekat. Pemuda itu mengulurkan tangan. Sorot matanya begitu teduh. Dia memperkenalkan dirinya dengan lembut, "Aku Rui Naru. Siapa namamu?"
Gadis itu masih terpaku. Meski hatinya terus berdegup, dia tetap memilih menutup semua ekspresi di wajahnya, memberi tanda bahwa dia tidak tertarik dengan perkenalan yang diberikan pemuda tampan tersebut.
Rui mengernyit, merasa sedikit kecewa oleh dinginnya sikap gadis itu. "Oke, aku akan pergi. Tapi, beritahu dulu siapa namamu?"
Setelah jeda yang terasa abadi, gadis itu menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Nuha. Namaku, Inara Nuha."
Gadis SMP itu tidak mau memberikan wajahnya lagi sampai akhirnya pemuda SMA itu sudah tidak terlihat.
"Tuan, kita harus cepat sebelum kakek Tuan marah besar." kata sopir mengingatkan waktu yang ada di pergelangan tangannya.
Sejenak timbul perasaan kecewa, gadis SMP itu menggigit bibirnya. "Ah, sudahlah."
Setelah pemuda itu pergi, sesuatu tergeletak di tanah. Benda yang lucu, mirip dengan kaki kucing. "Apa dia menjatuhkannya?" pikirnya.
Seperti Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya, Nuha kini memegang benda yang mungkin bisa menjadi awal dari sesuatu yang baru dan tak terduga dalam hidupnya.
Inara Nuha, gadis SMP kelas tiga yang baru selesai menjalani ujian akhir nasional, sebentar lagi akan menjadi pelajar SMA seperti pemuda yang baru saja dijumpainya.
Meskipun ia telah mencoba tampil membosankan, Nuha tidak bisa menahan perasaan yang muncul saat melihat pemuda itu.
Nuha terpana akan penampilan pemuda tersebut. Penampilan yang dia dambakan karena sebentar lagi dia juga akan menjadi pelajar SMA. Menjadi seorang gadis SMA yang bisa bahagia dan menjalani kehidupan dengan menyenangkan.
"Moga-moga, aku masih bisa ketemu dengannya. Tapi, sepertinya aku telah memberikan kesan yang gak menarik dan membosankan. Dia pasti langsung melupakanku. Hff. Ya sudahlah. Karena itulah yang kumau," keluh Nuha seraya menatap kembali kepergiaannya.
Benda yang pemuda itu tinggalkan juga membuat perasaan Nuha menjadi gelisah. Seperti putri Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya. Sang Pangeran yang menemukannya pun mencarinya dan mengembalikan lagi ke pemiliknya.
"Aku akan menjaganya dengan baik."
Nuha mengingat kisah yang pernah diceritakan ayahnya kepadanya ketika masih kecil. Cinderella. "Ayah, aku melihat Cinderella. Tapi, dia seorang cowok," bisik Nuha dalam hati, sambil tersenyum kecil mengingat dongeng masa kecilnya itu.
Namun, jika Nuha mengharapkan ingin bisa bertemu lagi, maka sesuatu yang berbeda akan mulai terjadi. Seperti apa dilema yang akan Nuha hadapi? Lanjut lagi yuk :')
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Roxanne MA
wah quotes nya mantap
2025-08-01
0