“Taruh, ... steplesnya taruh. Takutnya kena tangan kamu,” ucap Ardhan langsung sigap.
“Eh, ... bisa enggak ini jantung biasa saja jangan jedak-jeduk terus? Si Orang Keren bisa tahu kalau aku deg-degan. Keras banget detak jantungku. Aku saja keberisikan sendiri!” batin Arini. Sebab selain bertutur saja sangat lembut dan terdengar sangat perhatian, Ardhan juga sampai membopongnya.
Ardhan yang memakai kaos lengan pendek warna putih dan mengekspose keindahan tubuhnya. Dipadukan dengan celana piama panjang warna biru tua, menaruh Arini di meja Arini menaruh ponsel. Meja tersebut dirasa Ardhan paling aman. Karena setelah ia tatap saksama, di meja tak sampai ada steples.
“Mungkin kebetulan ada stelpes yang ketinggalan enggak kelihatan pas dibersihin sama Mbak,” ucap Arini kepada Ardhan yang tengah menatap saksama keadaan di sana.
Alih-alih membiarkan Arini membersihkan dan membereskan kamar, Ardhan justru melakukannya sendiri. Walau geraknya bukan tipikal cekatan layaknya orang yang sudah terbiasa melakukan, cara Ardhan bekerja menegaskan bahwa pria itu tipikal sangat teliti.
“Jangan-jangan, si Pilen sengaja sebar steples bahkan jarum gara-gara kesel ke kamu,” ucap Ardhan sudah mulai menarik selimut kemudian para bantal dari tempat tidurnya.
“Jangan gitu ... si Pilen itu ... kayak cuma butuh perhatian kok. Andai dia menemukan orang apalagi wanita yang cocok bisa kasih dia arahan, dia pasti balik normal,” yakin Arini yang juga jadi berbicara lembut mengimbangi Ardhan.
Mendengar itu, Ardhan yang awalnya fokus beres-beres langsung panik. “Kamu enggak perhatian terus kasih saran dan arahan juga kan, ke Pilen?” sergahnya kemudian menyugar poni rambutnya yang masih setengah basah. “Kalau dia sampai baper terus naksir ke kamu, gimana?”
“Masya Allah Pak Suami, ... pamer jidat saja sekeren ini?” batin Arini yang jadi tidak fokus. Fokusnya justru teralih pada jidat sekaligus wajah sang suami. Keluh kesah tentang Pilen sama sekali tidak masuk ke telinganya apalagi sampai masuk ke pikirannya.
Di mata Arini, Ardhan terlihat sangat tampan. Meski kali ini, ekspresi Ardhan tampak layaknya orang frustrasi pada kebanyakan. Entah apa yang terjadi, tapi walau terprsona kepada ketampanan pria yang sudah resmi menjadi suaminya, Arini berusaha kembali fokus.
Di lain sisi, diamnya Arini yang berakhir kebingungan dan terlihat tidak fokus, justru membuat Ardhan gemas geregetan. Ardhan refleks mengangkat tubuh Arini kemudian membaringkannya dengan buru-buru sekaligus paksa ke tempat tidur. Namun tanpa direncanakan, ulah Ardhan tersebut justru membuat bibir mereka bertemu sekaligus menempel secara paksa.
Pelan tapi pasti, Arini yang awalnya memejamkan erat kedua matanya, berangsur membukanya. Ia rasakan, Ardhan tak mengubah keadaan dan seolah sengaja, walau ternyata, kedua mata pria itu sudah lebih dulu terbuka. Arini yang sadar tadi Ardhan melakukannya karena kesal, sengaja menarik diri. Meski tentu saja, ia tak bisa sepenuhnya pergi dari tubuh Ardhan yang menindihnya.
“Pak Suami, ... marah? Itu tadi, kita bahas apa, sih? Aku enggak fokus. M—maaf ...,” lirih Arini dan membuatnya mendapati sang suami jadi bingung sendiri.
Sadar Ardhan belum bisa…
Kau Selingkuh Dengan Istriku, Kuratukan Istrimu
30. Beneran Pengantin Baru
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 58 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Selamat menikmati menjadi pasangan halal Arini Ardhan
2024-11-06
0
Teh Yen
duh so sweet banget kalian berdua hihii 😁
2025-12-03
0
Sandisalbiah
itu krn suamimu yg sekarang itu beneran dr bangsa manusia Rin.. tp kalau suamimu dulu itu kolaborasi antara siluman kadal dan bangsa jin
2025-02-20
1