Wanita Gemuk Istri Komandan
Kepala Netha terasa seolah baru saja dilindas oleh buldoser. Rasa sakitnya berdenyut statis, berpusat di pelipis dan menjalar hingga ke pangkal leher. Hal pertama yang menarik kesadaran Netha kembali ke dunia nyata bukanlah rasa pening itu, melainkan sebuah aroma yang sangat mengganggu penciumannya yang sensitif.
Tidak ada wangi semerbak seduhan kopi espresso pekat yang selalu disiapkan asistennya. Sebagai gantinya, rongga hidungnya diserang oleh perpaduan bau tengik dari bumbu kacang kemasan, sisa minyak goreng, dan aroma karamel buatan yang terlalu manis.
"Ugh..." Netha mencoba menarik napas panjang.
Namun, dadanya terasa sangat sesak. Ada beban mati yang menekan tulang rusuknya. Dengan mata terpejam, refleks pertama Netha adalah meraba bagian perutnya. Di kehidupan sebelumnya, sebagai seorang Direktur Pemasaran yang memuja kedisiplinan tingkat dewa, tubuh ramping dan perut rata berotot adalah aset utamanya. Namun pagi ini, jemarinya tidak menemukan permukaan perut yang kencang.
Tangannya justru mendarat di atas sebungkus keripik kentang ukuran jumbo. Kengerian sesungguhnya baru dimulai ketika jari-jarinya menelusuri bagian bawah bungkus plastik tersebut. Ia menyentuh sebuah gundukan daging lembut yang menonjol tebal, berlipat, dan terasa sangat asing.
"Ugh..." Netha mencoba menarik napas panjang.
Namun, dadanya terasa sangat sesak. Ada beban mati yang menekan tulang rusuknya. Dengan mata terpejam, refleks pertama Netha adalah meraba bagian perutnya. Di kehidupan sebelumnya, sebagai seorang Direktur Pemasaran yang memuja kedisiplinan tingkat dewa, tubuh ramping dan perut rata berotot adalah aset utamanya. Namun pagi ini, jemarinya tidak menemukan permukaan perut yang kencang.
Tangannya justru mendarat di atas sebungkus keripik kentang ukuran jumbo. Kengerian sesungguhnya baru dimulai ketika jari-jarinya menelusuri bagian bawah bungkus plastik tersebut. Ia menyentuh sebuah gundukan daging lembut yang menonjol tebal, berlipat, dan terasa sangat asing.
"Apa-apaan ini?!" batin Netha menjerit.
Ia tertidur dengan posisi yang luar biasa canggung di atas sebuah sofa. Ruang itu sangat luas, didesain dengan konsep modern minimalis. Lantainya terbuat dari granit putih bersih yang mengkilap. Namun, kemewahan itu ternoda oleh meja di hadapannya yang dipenuhi tumpukan sampah camilan basi, minuman bersoda, dan kotak pizza berminyak. Karpet di bawah meja itu bahkan memiliki noda saus yang mengerikan.
"Di mana aku...?" gumamnya parau. Suaranya terdengar cempreng, sengau, dan sempit di pangkal tenggorokan.
Didorong oleh kepanikan, Netha menyingkirkan bungkus keripik itu dan mencoba bangkit. Krek! Sofa itu berdecit menahan pergeseran beban badannya. Ia harus mengerahkan seluruh tenaga di lengan dan pahanya hanya untuk berdiri. Paha bagian dalamnya bergesekan dengan tidak nyaman. Ia menunduk dan melihat tubuhnya dibalut oleh sebuah daster katun berukuran XXL bermotif macan tutul kuning yang menyakitkan mata.
"AAAAAAAAAGHHH!"
Ia menatap tangannya. Tidak ada lagi jari-jemari lentik dengan kuku yang dipoles nude elegan. Yang ada hanyalah jemari yang membengkak, kulit yang kusam, dan lengan atas yang bergelambir lebar. Ia meraba perutnya, menemukan timbunan lemak yang terasa begitu nyata di balik daster satin murah berwarna tentu saja merah muda.
"Ini mimpi. Ini pasti mimpi buruk akibat kebanyakan minum vodka," Netha tertawa histeris, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Lebih berat dan serak.
Ia memejamkan mata erat-erat, merapalkan doa agar saat ia membukanya lagi, ia sudah kembali ke apartemennya yang dingin. Satu menit, dua menit... ia membuka mata. Masih di sana. Di tengah lautan merah muda yang memuakkan.
Tiba-tiba, kepalanya diserang gelombang rasa sakit yang jauh lebih hebat dari sekadar hangover. Potongan-potongan memori asing masuk tanpa permisi, berputar seperti film rusak yang diputar paksa.
Sesosok pria dengan seragam militer yang kaku dan rapi. Tatapannya dingin, sedingin es kutub. Di sampingnya, dua anak laki-laki kembar berusia sekitar lima tahun berdiri gemetar, memegang ujung celana sang papa dengan ketakutan.
Lalu muncul bayangan seorang wanita. Wanita itu sedang berteriak, melemparkan piring berisi makanan ke arah kedua anak itu sambil mengumpat dengan kata-kata kasar. Wajahnya yang penuh lemak tampak merah padam karena amarah yang tidak jelas ujung pangkalnya.
Netha tersentak, napasnya tersengal-sengal.
"Tidak! Itu bukan aku."
Ia tertawa getir, air mata mulai menggenang. "Bertransmigrasi? Benar-benar lelucon. Dari sekian banyak novel yang ku baca, kenapa aku harus masuk ke tubuh wanita gemuk yang jahat ini?"
Netha melangkah gontai menuju kamar mandi yang untungnya berada di dalam kamar. Setiap langkahnya terasa berat, menciptakan bunyi dentum halus pada lantai. Ia segera menyalakan keran wastafel, membiarkan air dingin membasuh wajahnya berkali-kali, berharap sensasi dingin itu bisa membangunkannya dari mimpi buruk ini.
Saat ia menegakkan tubuh, ia terpaksa berhadapan dengan cermin besar di hadapannya. Jari-jarinya yang gemuk menyentuh pipi chubby yang terasa kenyal dan penuh. Ia menggeser jemarinya ke bawah, menekan dagu bulat yang kini bertumpuk dua
“Oke, Netha. Tarik napas. Tahan,” bisiknya pada diri sendiri, mencoba menenangkan debaran jantung yang tak keruan.
Ia kemudian tertawa getir. Suara tawanya memantul di dinding kamar mandi, terdengar ironis. Namun, sebagai wanita yang terbiasa memenangkan tender mega proyek dengan otak encernya, Netha mulai memutar logika. Kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah.
"Tunggu dulu," pikirnya sambil menyeka sisa air di wajah. "Apa yang sebenarnya kau takutkan?"
Ia mulai menghitung keberuntungannya di tengah kemalangan ini. Di dunia aslinya, ia adalah wanita karier lajang yang selalu sibuk di kantor. Sekarang? Ia bangun dengan paket lengkap, punya suami dan dua anak.
"Bukankah ini enak? Aku tidak perlu mengalami sakitnya mengandung sembilan bulan atau bertaruh nyawa saat melahirkan. Aku tinggal terima jadi saja. Betapa indahnya, bisa hidup tanpa rasa sakit dan bebas dari penderitaan." gumamnya dengan senyum miring yang dipaksakan.
Berdasarkan memori yang samar-samar melintas, ia tahu bahwa hubungan pemilik tubuh ini dengan suaminya sangat buruk. Mereka bahkan tidak pernah tidur di kamar yang sama selama bertahun-tahun. Ini adalah poin plus baginya, ia tidak perlu berpura-pura mesra dengan pria asing itu.
"Lagipula, kalau nanti aku benar-benar tidak cocok hidup di sini, aku bisa minta cerai dari suami nominal ini. Dengan statusnya, harta gono-gininya pasti cukup untuk membuatku hidup santai," Netha terkekeh, mentalitas pebisnisnya mulai keluar. "Netha, Netha... kau masih pintar seperti biasanya."
Namun, tawa itu langsung hilang saat matanya kembali melirik ke arah perut yang membuncit di balik daster. "Tapi... dengan tubuh gemuk ini, apa yang harus kulakukan?"
Netha mendesah frustrasi. Ia tahu betul perjuangan menurunkan berat badan. Di dunianya yang lama, naik satu kilogram saja sudah membuatnya panik setengah mati dan menghabiskan berjam-jam di gym. Sekarang, ia harus memulai dari titik nol, atau mungkin minus.
Tubuh ini terasa sangat lambat, dan ia bisa merasakan betapa sulitnya membakar kalori dengan metabolisme yang sepertinya sudah rusak ini.
Dengan perasaan campur aduk, ia melangkah keluar dari kamar mandi dan menuju walk-in closet. Ia menarik pintu lemari besar itu, berharap menemukan sesuatu yang layak dipakai untuk menutupi lemaknya.
Begitu pintu terbuka, Netha kembali terpaku. Matanya melotot menatap pemandangan di depannya.
"Astaga... apa ini?"
Isi lemari itu benar-benar sebuah bencana visual. Bukannya pakaian yang fungsional atau elegan, lemari itu dipenuhi dengan gaun-gaun berenda yang terlalu ketat, rok pendek dengan motif bunga-bunga besar yang mencolok, dan hampir semuanya berwarna merah muda menyala.
Kainnya terlihat tipis, sama sekali tidak cocok untuk menyamarkan bentuk tubuh yang besar. Di sudut lain, ada deretan tas-tas bermerek dan koleksi sepatu hak tinggi yang ia ragukan bisa menopang berat badannya tanpa patah.
Netha memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut lagi. "Selera pemilik asli ini benar-benar minta ampun. Aku lebih baik memakai karung goni daripada memakai sampah-sampah berwarna pink ini!"
Ia mengacak-acak barisan baju itu, mencari satu saja pakaian yang berwarna gelap atau setidaknya berpotongan normal, namun usahanya sia-sia. Di tengah keputusasaan itu, ia menyadari satu hal: bertransmigrasi ke tubuh ini bukan hanya soal menurunkan berat badan, tapi juga soal merombak total kehidupan memuakkan yang ditinggalkan wanita ini.
Ia akhirnya menyerah. Tangannya meraih satu-satunya daster paling longgar dengan warna krem polos yang terselip di sudut terdalam lemari. Tanpa membuang waktu, Netha menyeret langkahnya kembali ke kamar mandi.
Saat ia memutar keran, ia menatap deretan botol sampo, sabun, dan losion di tepi bathtub. Semuanya bermerek dengan merek yang sama dengan yang biasa ia gunakan di apartemen mewahnya. Netha sedikit tersenyum sinis. "Yah, setidaknya suami nominal pemilik tubuh ini tidak pelit."
Ia mandi dengan terburu-buru, menggosok kulitnya yang terasa lengket hingga memerah, dan berkali-kali membilas rambutnya yang berminyak sampai terasa benar-benar bersih. Saat ia keluar dari kamar mandi, aroma sabun mandi mahal menyelimuti tubuhnya, memberikan sedikit rasa percaya diri yang hilang.
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, Netha berdiri di depan jendela kamar yang menghadap ke halaman belakang. Pikirannya mulai bekerja seperti saat ia menyusun strategi negosiasi tender di kantor.
Cerai. Kata itu terasa begitu manis sekaligus logis. Lagipula, anak kembar El dan Al jelas-jelas takut padanya, dan ingatan samar dari pemilik tubuh asli menunjukkan bahwa wanita ini tidak pernah menaruh kasih sayang sedikit pun pada mereka.
Sebaliknya, anak-anak itu pun terlihat takut dengan keberadaannya. Mengapa harus bertahan dalam sandiwara rumah tangga yang saling menyiksa?
"Aku akan minta cerai hari ini," gumamnya tegas.
"Ambil harta gono-gini lalu pindah ke kota lain dan mulai hidup baru yang jauh lebih tenang."
Sementara itu, di ruang tamu lantai bawah, suasana terasa jauh lebih dingin. Sean, pria dengan seragam militer yang masih terpasang rapi meski sudah lepas jam dinas, duduk di sofa tunggal. Bahunya yang lebar dan otot lengannya yang tersembunyi di balik kemeja tipis memperlihatkan fisik seorang prajurit yang disiplin. Wajahnya tajam, dengan rahang yang kokoh dan sepasang mata elang yang tidak pernah melepaskan ponsel di tangannya. Matanya menatap tajam ke arah lantai, memberikan instruksi tegas kepada bawahannya di ujung telepon.
Tadi, saat jeritan keras memecah keheningan rumah, jeritan yang mereka kenali sebagai suara Netha, ketiganya sempat membeku. Keheningan yang menyusul setelahnya justru terasa lebih mencekam.
"Papa," panggil El pelan, matanya tidak berani menoleh ke arah tangga. "Kenapa Mama berteriak? Apa dia marah lagi?"
Sean mematikan panggilan teleponnya dan menyimpan ponsel ke saku celana. Ia menatap kedua putra kembarnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gurat lelah yang dalam di wajahnya.
"Kalian tetap di sini. Mainlah dengan tenang," perintah Sean dengan suara rendah namun otoriter.
"Papa mau ke atas?" tanya Al ragu.
"Ya. Ayah akan melihat apa yang terjadi," jawab Sean singkat.
Sean bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang berat dan tegap menciptakan irama yang tegas di atas lantai. Ia menaiki tangga satu per satu, pikirannya sudah menyiapkan skenario terburuk: mungkin wanita itu sedang merusak sesuatu, atau mungkin ia sedang dalam fase tantrum lainnya
Sampai di depan pintu kamar utama, Sean tidak langsung masuk. Ia terdiam sejenak, mendengarkan suara langkah kaki dari dalam.
Sean mengetuk pintu tiga kali. "Netha?" panggilnya.
Di dalam kamar, Netha yang sedang menyisir rambutnya yang mulai mengering sedikit terlonjak. Ia mengenali suara bariton itu dari memori pemilik asli. Suara Sean. Pria yang seharusnya menjadi suaminya, pria yang ia rencanakan untuk diajak bercerai hari ini.
Netha membuang napas panjang. "Oke, mari kita mulai permainan ini," pikirnya.
Ia berjalan menuju pintu, memutar knop, dan membukanya dengan tenang. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Sean berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan dingin dan waspada. Jika biasanya pemilik asli akan langsung memaki dengan wajah yang terlihat jijik saat melihat suaminya, Netha justru berdiri tegak, menatap mata pria itu tanpa rasa takut, dengan wajah yang tak terlihat jijik ketika melihatnya. Mata nya saat melihat nya ada tatapan polos dan tampak bening.
Sean sedikit mengernyit. Ada sesuatu yang berbeda. Pandangan wanita di depannya tidak lagi terlihat histeris atau penuh tuntutan.
"Kau berteriak," ujar Sean datar, memecah kesunyian. "Apa yang terjadi?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
guntur 1609
sbtulnya berhasil siapanya sikembar sih?
2025-04-17
0
mecca
mampir thor...support kak othor banyak banyakkkkk😘😘😘😘
2025-04-13
0
mumu
suka sama netha ini..
2025-03-22
0