Malam semakin larut dengan bulan yang bersinar cukup indah malam ini. Tampak sepasang kekasih sedang berjalan di taman dengan cahaya bulan dan juga bintang.
"Kamu pasti sudah tahu keputusanku bukan?" tanya Sebastian dengan menatap ke arah Anne.
"Apa kamu marah?" tanyanya.
Wanita itu hanya diam dengan memandang langit sebelum akhirnya kini menatap ke arah Sebastian.
"Aku marah? Tentu saja tidak, aku tahu bahwa kamu akan memilih untuk tetap setia di sisi yang mulia pangeran Rion."
Anne tersenyum lembut lalu mengelus wajah Sebastian dengan lembut.
"Kamu adalah kesatria yang sangat terhormat Ian, aku jatuh cinta padamu karena sikap kesatriamu ini jadi kenapa aku harus marah dengan sikap yang sangat kusuka ini," jelas Anne.
"Tapi... bagaimana jika aku tidak kembali?" tanya Sebastian dengan tatapan sayu.
"Aku akan menunggumu karena kamu pasti akan kembali," jawab Anne dengan penuh percaya diri.
Sebastian tersenyum kecil lalu menggenggam tangan Anne yang ada di pipinya.
"Tidak, jika aku tidak kembali maka kamu jangan menungguku lagi. Carilah seseorang yang baik ya, seseorang yang sangat mencintaimu dan bisa membahagiakanmu di masa depan Anne," pinta Sebastian. Ia tahu pasti bahwa ketika besok dia berada di sisi Rion maka dia akan di kecam sebagai penghianat. Sangat sulit bagi mereka untuk bisa selamat dengan lawan sebuah Kekaisaran.
Tidak ada jawaban dari Anne kecuali menatap Sebastian dengan mata bulatnya.
"Katakan sesuatu jangan menatapku seperti itu," pinta Sebastian.
Dengan menahan tangisnya Anne mencoba untuk kembali tersenyum.
"Aku akan tetap menunggumu karena kamu pasti akan kembali," gumamnya.
Sebastian menatap wanita itu dengan pandangan yang sulit di artikan. Tapi sedetik kemudian ia langsung memeluk erat Anne.
"Jika kamu seperti itu maka aku akan berusaha untuk kembali," bisiknya di telinga Anne.
"Hmm kamu harus menepatinya," jawab wanita tersebut dengan membalas pelukan dari Sebastian.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di kamar Rion, tampak Alana menatap pria itu lalu tersenyum kecil.
"Besok adalah hari penentuannya, kali ini aku akan bertaruh untukmu," gumamnya lalu mengambil tangan Rion dan menciumnya beberapa kali.
"Kamu kapan akan sadar, kami semua membutuhkanmu Rion termasuk aku, ternyata begitu berat melihatmu seperti ini," gumam Alana.
"Bahkan air mataku sudah kering untuk menangisimu di setiap harinya," lanjut Alana dengan suara yang begitu pelan.
"Aku merindukanmu...."
Tanpa di sadari Alana terdapat air mata mengalir di sudut mata Rion.
Suasana benar-benar hening tanpa ada suara sedikitpun. Malam itu benar-benar menjadi moment paling menegangkan bagi beberapa orang. Mereka harus siap untuk menjalani hari esok yang menjadi penentu bagi mereka.
Hingga pagi hari telah tiba dan matahari telah terbit dengan begitu sempurna. Semua prajurit di kediaman Rion telah siap dengan jubah besi mereka. Bahkan di kamar Rion saja Alana telah sedia dengan pedangnya.
'Tampaknya kali ini aku harus mengeluarkan kemampuan ku," gumamnya dengan melihat bilah tajam pada pedangnya.
Sedangkan sesuai dengan prediksi Robin dimana saat ini kaisar telah meminta pasukannya untuk memusnahkan kediaman Rion. Bahkan pria itu mengutus putra mahkota yang baru untuk menjadi pimpinan pasukan.
"Ternyata dari awal dia memang berniat untuk menghancurkan semuanya," gumam Robin lalu menutup matanya sejenak.
"Rencananya masih seperti awal bukan? Kita akan berjuang sekuat tenaga?" tanya Sebastian masih dengan sifat jenakanya yang aneh.
"Huh, ya lakukan apapun yang kau suka. Tugas kita adalah menyelamatkan yang mulia bagaimana pun keadaanya. Jadi kita harus memberikan waktu untuk Alana bisa membawa yang mulia pergi dari istana ini," jelas Robin.
Mendengar hal tersebut Sebastian mengangguk patuh.
"Baiklah, jika hanya waktu maka itu tidak akan begitu susah," jawab Sebagai lalu keluar dari ruangan Robin tanpa mengatakan apapun.
"Kali ini semuanya bergantung pada Anda nona Alana," gumam Robin dengan terus memperhatikan prajurit-prajurit istana yang sudah mulai mencoba untuk menghancurkan pagar.
"Cepat hancurkan! Habisi semua orang yang ada disini karena mereka adalah para penghianat kekaisaran ini!" perintah Glen.
Mendengar hal tersebut membuat pasukannya semakin semangat untuk mendobrak masuk istana Rion.
Hingga akhirnya beberapa saat kemudian pagar itu telah hancur bertepatan dengan ratusan tanah yang menyerang pasukan Glen.
"TERUS PANAH! DAN UNTUK TIM PENYERANG BERSIAPLAH UNTUK MENYERANG!" perintah Sebastian.
Tampaknya kali ini pertumpahan darah tidak bisa lagi dihindarkan. Banyak korban jiwa yang jatuh dari kedua sisi.
"Sial, jika begitu maka aku akan kalah," gumam Glen saat melihat pasukan Rion yang benar-benar hebat dalam bertarung.
'Tapi walaupun begitu, akan datang untuk membantuku. Setelah itu mereka akan benar-benar ku habisi tanpa menyisakan seorangpun,' batinnya di akhir.
Transmigrasi Menjadi Pelayan Pria Jahat
Penyerangan (1)
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 93 Episodes
Comments
Eka suci
kemana kah allana membawa Rion🤔
2025-05-30
0
Indri Lestari
yg banyak donk kak upnya
2025-05-30
0