I'M Falling In Love With A Ballet Boy

I'M Falling In Love With A Ballet Boy

BAB 1

Di sebuah Rumah Mewah dengan Interior lampu kristal besar di atas langit-langitnya yang terbuat dari kristal swarovski. Anna berdiri memandangi pemandangan dari balik jendela tinggi. Entah apa yang dilihatnya dari balik jendela itu, namun tatapan matanya hanya terlihat datar seakan pikirannya kosong.

Lalu tak lama datang seorang lelaki tua dengan stelan jas dan dasi kupu-kupunya menghampiri Anna.

"Nona Anna, Nyonya besar memanggil anda." Ucap lelaki tersebut.

Anna tak menjawab ia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan. Iapun mengikuti lelaki itu menuju kamar Nyonya besar yang ia sebutkan.

Lelaki itupun mengetuk terlebih dahulu pintu ruangan yang sangat besar yang merupakan tempat di mana Nyonya besar keluarga Miller yaitu Soraya Miller, mertua dari Anna.

"Tok! Tok! Tok!"

"Masuk" Suara jawaban dari Nyonya Miller.

Anna masuk dengan langkah yang sedikit berhati-hati dan mencoba untuk tampil elegan layaknya seorang istri bangsawan ternama. Ya, seperti itu yang biasanya ia lakukan sebagai seorang istri dari Steven Miller seorang bangsawan menengah yang namanya cukup dikenal di Negaranya yaitu Negara M.

Anna sudah berhenti tepat dihadapan Nyonya Miller yang sedang asik menyeruput teh Camomilenya.

"Duduklah!" Pinta Nyonya Miller kepada Anna sambil mengarahkan jemarinya ke arah bangku yang ada di depannya.

"Ehm, Anna kamu tahu apa maksud ku memanggil mu kemari?." Tanya Nyonya Miller.

"Tidak tahu Ibu." Jawab Anna yang masih menjaga sopan santun saat berbicara dengan Ibu Mertuanya.

"Kamu tahu Steven anak ku satu-satunya dan penerus keluarga ini. Tentunya ia membutuhkan seorang penerus dan aku ingin ia mewujudkan itu secepatnya. Dan kamu tahu solusi dari itu Anna?." Tanya Nyonya Miller lagi.

"Saya mengerti Ibu." Jawab Anna yang seperti pasrah dengan apapun keputusan sang mertua.

"Aku tahu sebagai seorang wanita pasti kamu tak ingin dimadu dan aku juga tak ingin anak ku menduakan mu hanya karena masalah ini. Jadi perceraiaan adalah solusinya, aku yakin Steven sudah memberitahukan hal ini kepada mu." Ucap Nyonya Miller tak ingin berbasa basi.

"Iya, Ibu." Jawab Anna lagi. Tak ada rasa sedih atau penyesalan yang ada di raut wajah Anna saat mendengar kata-kata dari mertuanya itu.

"Lalu ada yang ingin kamu utarakan atau apakah kamu keberatan dengan ini?" Tanya Nyonya Miller yang agak sedikit terkejut dengan kesan dari Anna terhadap keputusannya.

"Tidak ada Ibu. Saya terima semua keputusan Ibu dan Steven." Jawaban Anna yang lebih mengejutkan Nyonya Miller. Pasalnya Anna tak meminta kompensasi apapun pada perceraian ini.

"Kamu tidak merasa dirugikan atas apa yang telah kami putuskan?. Karena setelah bercerai hubungan keluarga kita benar-benar akan terputus. Dan tak banyak kompensasi yang kami berikan kepada mu." Ucap Nyonya Miller menegaskan.

"Tidak apa-apa, saya terima semua keputusan Ibu dan Steven." Jawab Anna kembali yang masih teguh pada pendiriannya bahwa dirinya menerima semua keputusan dari pihak Steven.

"Baiklah! Jika itu keputusanmu aku hanya ingin ini semua berakhir damai, karena bulan depan Steven harus sibuk dengan persiapan pernikahan dengan Nona Meyer. Kamu pulanglah dulu ke rumah kalian dan selesaikan urusanmu dengan Steven secepatnya. Kamu tidak perlu khawatir perusahaan Kakek mu Adam, kami sudah kembalikan asetnya dan sekarang sudah bisa beroperasi kembali seperti sedia kala." Ucap Nyonya Miller yang langsung merubah wajah lesu Anna menjadi sedikit cerah, karena memang dari dulu hanya aset itu lah yang membuat dirinya bertahan dalam pernikahan selama 9 tahun lamanya bersama Steven.

Anna menikah dengan Steven Miller karena sebuah perjanjian hutang yang dibuat mendiang Kakeknya Adam dengan keluarga Miller. Anna yang saat itu baru saja lulus kuliah dan belum sempat mengejar cita-citanya harus terjebak pernikahan. Apalah daya Anna yang merupakan cucu perempuan satu-satunya harus rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan perusahaan. Akhirnya di sinilah ia sekarang berada dan menjadi menantu dari keluarga Miller. Namun karena 9 tahun pernikahan ia dan Steven tak kunjung diberikan keturunan, Steven pun memutuskan untuk menceraikan Anna itupun yang iya yakini merupakan keputusan dari Nyonya Miller.

Anna pun tak bisa berbuat apa-apa ia hanya bisa pasrah akan keadaan ini. Lagipula yang ia butuhkan hanya perusahaan milik Kakeknya, dengan ini ia dapat mengulang sukses kejayaan keluarga Smith terdahulu.

Anna pun permisi pulang diantar pelayan keluarga Miller sampai ke depan mobilnya. Ia lalu pergi menuju kediaman yang ditinggali dirinya bersama Steven yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya.

***

Kediaman Steven Miller

Matahari sudah mulai terbenam, kegiatan Anna di kediaman tersebut hanya membuat sulaman cantik yang akan dia hadiahkan kepada sang suami seperti biasanya. Di sini tak banyak kegiatan yang bisa Anna lakukan, karena semenjak menikah Anna tak diperbolehkan bekerja oleh Steven bahkan pekerjaan rumah saja sudah dikerjakan oleh pelayan yang bisa ia lakukan hanya merajut, menyulam, menjahit dan berkebun. Untuk keluar rumah pun Steven cukup posesif terhadap Anna, Ia tak ingin istrinya itu dilirik lelaki lain biar bagaimanapun Anna merupakan sosok wanita yang sangat cantik. Bahkan lelaki yang melihatnya hampir tak bisa berkedip, Steven pun yang awalnya ragu akan pernikahannya begitu melihat Anna ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun apa yang membuat Steven berubah pikiran hingga ia menerima keputusan Nyonya Miller untuk menceraikan Anna?. Ini juga menjadi tanda tanya di pikiran Anna hingga saat ini, dan herannya sejak obrolan terakhirnya dengan Steven soal perpisahan seminggu yang lalu, Steven tak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di hadapan Anna. Hingga saat ini pun ia tak kunjung pulang.

Meski sebentar lagi dirinya menyandang status janda, namun kebiasaan Anna yang menunggu Steven pulang tetap tak berubah bahkan ia tetap menyiapkan makan malam di meja mereka berharap Steven makan malam bersamanya.

"Nyonya, sepertinya Tuan tidak kembali. Apa perlu saya membereskannya dan membawanya kembali ke dapur?." Tanya Pelayan wanita yang bernama Gaby yang selalu setia mendampingi hari-hari kesepian Anna selama di kediaman mereka.

"Tidak! Tunggu sebentar lagi siapa tahu Tuan akan datang." Jawab Anna.

Jam menunjukkan pukul 9 malam dan benar dugaan Anna. Steven pulang terdengar dari suara mobilnya yang terparkir di bagasi mobil rumah. Anna pun langsung bergegas ke depan pintu untuk menyambut kedatangan suaminya.

"Suami ku, kamu sudah pulang?." Sambut Anna dengan senyum menghiasi bibirnya. Memang tak bisa dikatakan bahwa Anna mencintai suaminya tapi ia sudah terbiasa hidup bersama dengan Steven dan ia tak memiliki tujuan hidup lagi selain menjadi istri yang baik bagi Steven selama pernikahan.Dan ia ingin tetap menjadi istri yang baik bahkan disisa-sisa waktunya sebagai Nyonya keluarga Miller.

"Oh, ada kamu?." Sahut Steven yang hanya memasang wajah datar untuk sambutan dari Anna.

Steven langsung melangkah dengan cepat menuju kamarnya dan berganti pakaian lalu bersih-bersih. Anna masih berusaha untuk melayaninya dengan sepenuh hati. Ia membereskan pakaian suaminya yang berceceran dan membawanya ke tempat cucian kotor lalu menyiapkan handuk serta baju bersih untuk dikenakan suaminya.

Selepas mandi, Steven dikejutkan dengan Anna yang masih berdiri di kamarnya untuk memberikan pakaian bersih kepadanya. Ia tak habis pikir Anna masih begitu setia meski dirinya sudah menalaknya.

"Apa yang kamu lakukan di sini?." Tanya Steven kepada Anna.

"Aku sudah menyiapkan pakaian bersih mu lalu setelah ini makanlah!. Makan malam sudah disiapkan." Pinta Anna.

"Kamu pergilah terlebih dulu!. Aku akan menyusul setelah ini." Ucap Steven yang sepertinya tak ingin melihat Anna berada di dekatnya.

"Baiklah. Aku akan menunggu mu." Jawab Anna lalu pergi meninggalkan kamar.

****

Denting suara piring beradu dengan suara alat makan yang memecah kesunyian diantara mereka saat makan malam bersama. Tak ada sedikit pun kata yang terucap diantara Anna dan Steven kala itu. Sampai akhirnya Steven pun mulai membuka suaranya setelah makan malam mereka selesai.

"Besok kamu tak perlu menyiapkan apapun untuk ku, juga jangan menunggu ku pulang. Dan mulai berkemas lah! Karena aku sudah menghubungi Bibi Linda di Desa untuk menjemputmu." Ucap Steven yang seketika membuat Anna mengarahkan pandangannya ke arah suaminya itu.

"Apa kamu keberatan?." Tanya Steven yang melihat ekspresi Anna.

"Tidak." Jawab Anna kembali datar.

Steven sedikit terkejut dengan jawabannya seakan-akan Anna memang tak pernah keberatan dengan perceraian ini.

"Adakah yang ingin kamu katakan kepada ku Anna? Atau yang ingin kamu tanyakan? Atau keinginan terakhir mu?." Tanya Steven kembali karena tak ingin perpisahan mereka diliputi penyesalan.

"Ada." Jawaban Anna yang membuat Steven terkejut karena ia awalnya berpikir jika Anna akan menjawab tidak kembali.

"Apa itu? Katakanlah!." Pinta Steven.

"Apa semua ini benar-benar keinginanmu? Maksud ku perceraian ini?." Tanya Anna yang hanya ingin memastikan jawabannya langsung dari mulut Steven.

"Ya, ini semua keinginan ku." Jawab Steven tegas.

Anna hanya ingin tahu jawaban itu saja, karena selama 9 tahun pernikahan, Steven memperlakukan Anna dengan sangat baik. Ia tak pernah memarahinya apalagi membentaknya. Ia selalu bertanya terlebih dahulu jika ingin melakukan sesuatu terhadap Anna. Bahkan ia tak ingin Anna capek atau bosan di kediaman dan Steven selalu berusaha memberikan apapun yang Anna mau, hingga ia sempat berpikir bahwa perceraian ini bukanlah keinginan dari Steven karena yang Anna tahu Steven sangat mencintai dan menghargainya sebagai seorang istri.

"Baiklah jika itu maumu aku akan segera pergi dari kediaman ini secepatnya." Ucap Anna lalu pergi dari meja makan meninggalkan Steven sendirian.

Steven tak melihat sedikitpun ke arah Anna yang tengah pergi meninggalkannya begitu saja. Ia terlihat tak peduli dan tak mau tahu lagi tentang dirinya. Sungguh inilah akhir dari sebuah pernikahan yang dulunya berjalan manis dan indah kini berakhir begitu saja tanpa adanya sebuah kata perpisahan yang berarti.

Anna menutup pintu kamarnya lalu menguncinya rapat-rapat, kamar yang ditempatinya beberapa minggu ini setelah Steven memutuskan untuk pisah ranjang dengannya. Ia terduduk lemas, menundukkan kepalanya lalu membenamkannya diantara kedua lututnya. Menangis? Tentu saja, siapa wanita yang tak merasa tersakiti bila di ceraikan begitu saja?. Anna juga manusia yang memiliki hati, ia bukan sebuah robot yang dapat dibuang begitu saja bila sudah tidak dibutuhkan. Anna menangis sejadi-jadinya meluapkan kesedihan mengingat perkataan jahat dari calon mantan suaminya.

Anna menangis sambil mengingat kisah manis yang dilalui bersama sang suami  selama 9 tahun pernikahan. Ternyata kesetiaannya sebagai seorang istri sia-sia begitu saja setelah mendengar kata-kata kejam dari Steven. Mungkin bila ini murni merupakan keputusan Ibu mertuanya ia akan menerima dengan patuh. Namun lain hal jika ini adalah keputusan Steven sendiri. Dirinya benar-benar hancur berkeping-keping apalagi mendengar dirinya bahkan dipulangkan sebelum resmi bercerai. Ia merasa dibuang begitu saja olehnya, hanya karena Tuhan belum memberinya keturunan?. Sungguh miris nasib Anna yang telah menyia-nyiakan masa mudanya hanya untuk sebuah pernikahan yang sia-sia.

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

hadir

2025-05-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!