PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Bab 1: Malam Berdarah di Bukit Kancah

Udara di Bukit Kancah, malam itu, terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk tulang walau tak ada angin berhembus kencang.

Bau kembang kenanga yang lumrahnya menenangkan, kini bercampur dengan anyir yang samar, seolah alam sendiri ikut berduka.

Di dalam bilik sederhananya, Arya Wiguna mencoba memejamkan mata, namun ketenangan tak kunjung datang. Sejak senja, firasat buruk telah menggelayuti hatinya, seperti mendung yang tak kunjung pergi.

Arya, dengan tubuh tegap dan otot yang terbentuk dari latihan keras sejak usia muda, adalah salah satu murid terbaik di Padepokan Macan Putih.

Pemuda itu dikenal akan kegigihan dan kesetiaannya pada ajaran para sesepuh. Rambutnya hitam legam, terikat rapi di belakang, dan matanya yang tajam selalu memancarkan kecerdasan. Namun malam ini, kilatan di matanya adalah kegelisahan.

Arya Wiguna bisa merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Pikiran Arya melayang pada obrolannya siang tadi dengan Bujang Larang, paman kandungnya, adik dari mendiang ayahnya, Bujang Baik.

Arya tahu, semenjak ayahnya tiada, pamannya itu selalu berusaha mendekati para sesepuh, mencoba mencari celah untuk mengambil alih segala peninggalan ayahnya yang kini menjadi tanggung jawab Arya sebagai pewaris tunggal.

Termasuk harta di luar padepokan yang dititipkan ayahnya kepadanya, dan tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya kecuali dirinya dan Bujang Larang.

Bahkan, ia tahu bahwa Bujang Larang selalu mengincar posisi kepala padepokan, posisi yang seharusnya diwariskan kepadanya, namun ditunda oleh ayahnya karena usianya yang masih terlalu muda.

"Arya, keponakanku," Bujang Larang menepuk bahu Arya siang tadi di halaman padepokan, senyumnya terasa begitu licik, "Kau terlalu keras berlatih. Istirahatlah sesekali. Jangan sampai kau sakit dan tak bisa lagi memimpin padepokan ini di masa depan."

Arya hanya membalas dengan senyum tipis, "Terima kasih atas perhatian Paman. Tapi saya harus terus berlatih. Ayah mengajarkan saya untuk tak pernah lelah mengejar kesempurnaan."

"Ah, kesempurnaan," Bujang Larang terkekeh, "Ayahmu memang terlalu keras padamu, juga terlalu keras pada dirinya sendiri. Lihat saja, ia pergi terlalu cepat," Nada suaranya mengandung sindiran, seolah kematian ayahnya adalah kesalahan ayahnya sendiri.

"Kau tahu, seharusnya akulah yang memegang amanah kepala padepokan ini. Aku lebih tua, lebih berpengalaman," sindir Bujang Larang dengan senyum tipis seakan di paksakan.

"Ayah telah memutuskan," jawab Arya, suaranya dingin, ia benci setiap kali pamannya mengungkit-ungkit masalah ini, "Ia percaya saya mampu."

"Mampu?" Bujang Larang mengangkat alis, "Kau bahkan belum bisa menjaga warisan ayahmu sendiri. Konon, ada harta tersembunyi yang ditinggalkan almarhum kakakku untukmu. Harta yang sangat besar, bukan? Kau yakin bisa menjaganya dari mata-mata serakah?"

Arya menatap tajam pamannya. "Paman tak perlu mengkhawatirkan itu. Saya akan menjaganya sebaik mungkin." jawab Arya Wiguna singkat.

"Hmm, kita lihat saja nanti," Bujang Larang tersenyum miring, lalu pergi meninggalkan Arya dengan perasaan tak nyaman. Firasat buruk itu sudah muncul sejak saat itu, dan kini terasa semakin kuat.

Tiba-tiba, sebuah teriakan memecah kesunyian malam. "Api! Api!"

Arya sontak membuka mata. Firasatnya benar. Pemuda itu bergegas keluar, jantungnya berdegup kencang. Langit yang tadinya gelap gulita kini dihiasi jingga api yang menjilat-jilat, berasal dari arah perpustakaan padepokan, tempat di mana Kitab Penggetar Langit yang keramat disimpan.

Kekacauan langsung menyelimuti padepokan. Murid-murid berhamburan, sebagian membawa timba berisi air, sebagian lagi berteriak panik.

"Cepat! Selamatkan kitab-kitab!" teriak salah satu murid.

"Api terlalu besar!" balas yang lain.

Arya tak berpikir panjang, ia tahu betul betapa pentingnya Kitab Penggetar Langit. Tanpa menghiraukan api yang semakin membesar, pemuda itu menerjang ke arah perpustakaan, menerobos kerumunan yang panik.

Panas membakar kulitnya, asap pedih menyengat matanya, namun tekadnya lebih kuat dari segalanya.

"Minggir! Minggir!" teriak Arya seraya menyikut beberapa murid yang menghalangi jalannya. "Kitab itu harus selamat!"

Saat Arya Wiguna berhasil mencapai pintu perpustakaan yang sudah mulai roboh, ia melihat bayangan seseorang di dalam, bergerak cepat di tengah kobaran api.

Sebuah bayangan yang dikenalnya, postur tubuhnya, langkahnya yang cepat, bahkan jubahnya yang gelap. Jantung Arya berdegup lebih kencang. Bayangan itu terlalu mirip dengan... Bujang Larang?

Arya Wiguna melihat bayangan itu meraih sesuatu dari rak yang paling tinggi, tempat Kitab Penggetar Langit biasa disimpan. Lalu, bayangan itu melompat keluar melalui jendela yang pecah, menghilang dalam gelapnya malam, diselimuti pekatnya asap.

Arya hanya sempat melihat punggungnya yang tegap dan jubahnya yang gelap, sama seperti jubah yang dikenakan pamannya siang tadi.

"Paman?" gumam Arya, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.

Arya Wiguna masuk ke dalam, matanya menyapu sekeliling, mencari Kitab Penggetar Langit. Rak-rak buku sudah hangus, sebagian besar kitab telah menjadi abu.

Ketakutan mencekik lehernya. Lalu, di sudut ruangan, di bawah tumpukan kayu yang terbakar, ia melihatnya. Sebuah peti kayu berukiran naga, tempat kitab itu seharusnya berada, tergeletak kosong. Kitab Penggetar Langit, pusaka agung padepokan, telah tiada.

"Tidak mungkin...?" Arya berdiri terpaku, terengah-engah. Api melahap seisi perpustakaan. Panasnya semakin tak tertahankan, ia harus cepat keluar.

Saat Arya berbalik, sebuah suara berat menggelegar di belakangnya.

"Arya Wiguna! Apa yang kau lakukan di sini?!"

Suara itu milik Guru Cipta, salah satu sesepuh padepokan, berdiri di ambang pintu yang sudah mulai runtuh, dengan wajah memerah karena marah dan terkejut.

Di belakangnya, beberapa murid lain menatap Arya dengan tatapan curiga. Mata mereka terpaku pada Arya yang berdiri sendirian di tengah sisa-sisa perpustakaan yang terbakar, seolah ia adalah biang keladi bencana ini.

Di samping Guru Cipta, berdiri Bujang Larang, wajahnya terlihat terkejut, namun ada kilatan aneh di matanya yang Arya tak bisa baca. "Arya? Kenapa kau di sini? Apa yang terjadi?" nada suaranya penuh kepura-puraan.

Arya menatap tajam pamannya, "Paman! Aku melihat seseorang mengambil Kitab Penggetar Langit! perpustakaan ini... api sudah membesar saat aku sampai!" kata Arya berusaha menjelaskan.

"Kau melihat seseorang? Siapa? Mengapa kau satu-satunya yang ada di sini? Kami mendengar teriakanmu. Apakah kau yang menyalakan api ini?" tanya Guru Cipta melangkah maju, sorot matanya tajam menusuk,

"Tidak, Guru! Aku tidak menyalakan api! Aku datang karena melihat asap dan api! Aku ingin menyelamatkan kitab itu!" jawwb Arya Wiguna berusaha menjelaskan, namun kepulan asap membuat suaranya tercekat.

"Omong kosong!" bantah Bujang Larang tiba-tiba berteriak, suaranya memancing perhatian murid-murid lain.

"Semalam, aku mendengar Arya gelisah, ia berbicara tentang kekuatan, tentang bagaimana dirinya ingin memiliki semua kekuatan padepokan ini! Apakah ini rencanamu, Arya? Mengambil kitab itu untuk dirimu sendiri?" kata Bujang Larang memojokkan Arya.

"Tutup mulutmu, Paman!" Arya balas berteriak, amarahnya meluap, "Kau tahu itu tidak benar! Aku tak pernah berniat mengkhianati padepokan ini!" ujarnya lantang.

"Tidak benar, katamu?" Bujang Larang tertawa sinis, "Lalu mengapa jubahmu robek di bagian bahu? Aku melihatnya siang tadi. Pasti tersangkut saat kau melarikan diri dari sini, bukan?"

Arya terdiam, ia ingat jubahnya sempat tersangkut dahan saat ia menerobos semak-semak menuju perpustakaan. Detil kecil yang kini menjadi alat untuk menjeratnya.

"Satu lagi," Bujang Larang melanjutkan, matanya berbinar licik, "Bukankah kau yang paling sering bertanya tentang rahasia Kitab Penggetar Langit? Tentang isinya, tentang jurus-jurus hebat di dalamnya? Apa kau ingin menguasainya sendiri?"

"Arya, jawablah. Mengapa jubahmu robek? Dan apa maksud dari tuduhan pamanmu ini?" tanya Guru Cipta menatap Arya dengan tatapan penuh kekecewaan.

"Jubahku tersangkut saat aku menerobos semak, Guru!" jawab Arya setengah putus asa, "Bujang Larang hanya memfitnahku! Dia ingin menjebakku!" bantahnya.

"Menjebakmu?" Bujang Larang tertawa lebih keras, "Mengapa aku harus menjebak keponakanku sendiri? Aku hanya khawatir dengan perilakumu akhir-akhir ini, Arya. Kau terlalu ambisius," tertawa sinis.

Bau anyir yang samar tadi, kini tercium lebih jelas. Bukan anyir darah, melainkan bau yang asing, seperti obat-obatan yang bercampur dengan bau hangus, dan sedikit aroma minyak tanah.

Bau minyak itu adalah petunjuk kecil, namun di tengah huru-hara, Arya tak sempat memikirkannya. Ia hanya bisa menatap Guru Cipta, kata-kata tercekat di tenggorokannya. Malam itu, di Bukit Kancah, adalah awal dari kehancuran Arya Wiguna.

Api terus membesar di belakang Arya, cahayanya memantulkan bayangan-bayangan menari di wajah-wajah murka di depannya. Arya merasa terjebak, seolah semua mata menuduhnya. Suara-suara bisikan mulai terdengar dari kerumunan murid.

"Benar juga, ya. Arya memang sering terlihat di sekitar perpustakaan." kata salah seorang murid pada temannya.

"Siapa lagi yang berani masuk ke sana selarut ini?" timpal murid yang lain.

"Tapi dia murid kepercayaan Guru Cipta. Mungkinkah?" ujar yang satunya lagi.

Bujang Larang menyeringai tipis, sebuah senyum kemenangan yang tak terlihat oleh orang lain selain Arya, ia telah berhasil menebar benih keraguan, dan kini, benih itu mulai tumbuh subur di tanah ketidakpercayaan.

"Baiklah, Arya," Guru Cipta menarik napas panjang, suaranya terdengar lelah namun penuh keputusan, "Kita tidak bisa memutuskan di sini. Besok pagi, kita akan adakan sidang padepokan. Semua akan jelas di sana."

Arya hanya bisa mengepalkan tinjunya. Pemuda itu tahu, sidang itu adalah kesempatan Bujang Larang untuk menyelesaikan rencananya.

Malam itu, di tengah kobaran api dan tuduhan tak berdasar, Arya tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Bersambung....

Episodes
1 Bab 1: Malam Berdarah di Bukit Kancah
2 Bab 2: Fitnah Keji Bujang Larang
3 Bab 3: Sidang Padepokan
4 Bab 4: Di Ambang Pengusiran
5 Bab 5: Langkah Pertama di Jalan Duri
6 Bab 6 : Bukit Tambun Tulang
7 Bab 7: Penampakan Misterius
8 Bab 8: Pertolongan Misterius
9 Bab 9: Panglima Hijau dan Danau Cahaya
10 Bab 10: Ujian Pertama: Cermin Jiwa
11 Bab 11: Pusaka Terpilih: Kebenaran Pedang Hijau Zamrud
12 Bab 12: Pusaka Harimau Putih
13 Bab 13: Kitab Jurus Pedang Tiada Tanding
14 Bab 14: Petuah Suci dan Jalan Sang Penegak Keadilan
15 Bab 15: Pulang ke Desa Sungai Merah: Kebohongan Bujang Larang
16 Bab 16: Pertarungan di Warung Simpang Tiga: Perampok Hutan Kulim
17 Bab 17: Ancaman Si Bagor Tangan Besi
18 Bab 18: Pertarungan Melawan Si Bagor Tangan Besi
19 Bab 19: Pesan Terakhir dan Senyuman Perpisahan
20 Bab 20: Pertemuan Tak Terduga
21 Bab 21: Prahara Mawar Putih dan Kemunculan Sang Penyelamat
22 Bab 22: Amukan Harimau Putih dan Kekaguman Sang Pendekar Cantik
23 Bab 23: Strategi, Cemburu, dan Kedatangan Tangan Maut
24 Bab 24: Pertarungan Melawan Si Tangan Maut
25 Bab 25: Senyuman Tersembunyi dan Bisikan Hati Anggun Sari
26 Bab 26: Undangan Adipati dan Perjalanan Hati
27 Bab 27: Ikatan Janji di Bawah Langit Senja
28 Bab 28: Lelucon Maut dan Kemarahan Iblis Mata Merah
29 Bab 29 - Lelucon Maut Dan Kemarahan Arya Wiguna
30 Bab 30: Perkumpulan Pendekar dan Wajah Baru
31 Bab 31: Ujian Kekuatan dan Kejatuhan
32 Bab 32: Pembentukan Pasukan
33 Bab 33 - Badai Pertarungan Melawan Topeng Emas
34 Bab 34 - Menjelajahi Kedalaman Hutan Angker
35 Bab 35 - Kedalaman Yang Makin Kelam
36 Bab 36: Misteri di Balik Gerbang Kuil
37 Bab 37: Melawan Sang Iblis Bagasandra
38 Bab 38: Pusaran Badai dan Perang Para Dewa
39 Bab 39: Kemunculan Kekuatan Agung dan Wujud Iblis Singa Hitam
40 Bab 40: Pertarungan Penentuan:
41 Bab 41: Sang Pahlawan Kembali dan Badai Baru di Cakrawala
42 Bab 42: Intrik Gelap di Perguruan Macan Putih
43 Bab 43: Terbongkarnya Kebenaran dan Badai di Perguruan Macan Putih
44 Bab 44: Jebakan dan Pengkhianatan
45 Bab 45: Balas Dendam Bujang Larang dan Jejak Harimau Putih
46 Bab 46: Jejak Sang Harimau Putih dan Cahaya Harapan
47 Bab 47: Misi Baru di Sarang Perampok Jubah Merah
48 Bab 48: Kemarahan di Hati dan Awan Merah di Musi
49 Bab 49 : Kecemburuan Anggun Sari
50 Bab 50: Badai Kemarahan dan Nyala Pedang Mawar
51 Bab 51 : Marahnya Sang Pemimpin dan Amarah Arya
52 Bab 52: Duel Sang Harimau dan Kapak Pembelah Bumi
53 Bab 53: Puncak Kekuatan dan Harimau Mengoyak Bukit
54 Bab 54: Jejak Harimau Putih dan Bayangan Masa Lalu
55 Bab 55: Evakuasi dan Anggota Lain Jubah Merah
56 Bab 56: Umpan dan Pertaruhan di Warung Sepi
57 Bab 57: Tarian Maut di Warung Sepi
58 Bab 58: Tarian Maut di Warung Sepi 2
59 Bab 59: Pertobatan, Jejak Ritual Hitam, dan Kekejaman Si Kembar Tanpa Jiwa
60 Bab 60: Ujian Ketenangan dan Taktik Licik Si Kembar
61 Bab 61: Kecurangan Si Kembar dan Kebangkitan Pusaka Hidup
62 Bab 62: Amarah Harimau dan Pukulan Balik Pedang Tiada Tanding
63 Bab 63: Jalan Tobat dan Pujian Anggun Sari
64 Bab 64: Menuju Markas Jubah Merah
65 Bab 65: Kedatangan Pendekar Gila Tapak Dewa
66 Bab 66: Pedang Iblis yang Merah Membara
67 Bab 67 : Kerjasama Tak Terduga Dan Kekuatan Pedang Matahari Merah
68 Bab 68: Kemenangan Pedang Cahaya Merah dan Misteri Pedang Harimau Putih
69 Bab 69: Gerbang Istana Lembah Setan
70 Bab 70: Mengguncang Gerbang Lembah Setan
71 Bab 71: Pengkhianatan dan Pertarungan Baru
72 Bab 72. Tarian Petir Langit'.
73 Bab 73: Kekuatan Lambang Harimau Putih
74 Bab 74 - Pendekar Harimau Putih vs Manusia Beruang Hitam
75 Bab 75: Pasukan Mayat Hidup Dewi Hitam
76 Bab 76: Kemunculan Tangan Iblis dan Dewi Hitam
77 Bab 77: Duel Melawan Gadis Pedang Tujuh Warna
78 Bab 78: Bangkitnya Para Algojo
79 Bab 79: Dewi Hitam Bukit Tengkorak
80 Bab 80 : Puncak Kekuatan di Lembah Setan
81 Bab 81 : Dewi Hitam Bukit Tengkorak vs Arya Wiguna
82 Bab 82: Pertarungan Keris Kobra Kuning
83 Bab 83: Bebasnya Tawanan dan Janji di Balik Cemburu
84 Bab 84: Kedatangan Si Kembar
85 Bab 85: Fitnah dan Pertarungan di Warung Tua
86 Bab 86: Perdamaian di Warung Tua dan Misteri Baru
87 Bab 87: Reruntuhan Bangau Putih dan Janji yang Terukir
88 Bab 88: Jejak Sang Pemetik Bunga dan Pertarungan di Desa
89 Bab 89: Pengejaran di Hutan Rimba
90 Bab 90: Pertarungan di Bukit Ular Hitam
91 Bab 91: Pertarungan di Puncak Bukit Ular Hitam
92 Bab 92: Pertarungan di Tanah Iblis dan Kekuatan yang Terkandung
93 Bab 93: Bara Cemburu dan Amarah Pendekar Mawar Putih
94 Bab 94: Kabar Buruk di Tengah Perjalanan
95 Bab 95: Rahasia di Balik Perguruan Mawar Putih
96 Bab 96: Pelukan Sang Ibu di Desa Sungai Merah
97 Bab 97: Kabar Gembira dan Restu Seorang Ibu
98 Bab 98: Menghadap Calon Mertua di Sanggar Puyuh
99 Bab 99: Pertarungan di Balairung Sanggar Puyuh
100 Bab 100: Ksatria Sejati di Balairung Sanggar Puyuh
101 Bab 101: Sambutan Hangat dan Doa Restu
102 Bab 102: Menuju Persembunyian Guru Cipta
103 Bab 103. Perjumpaan Dengan Guru Cifta
104 Bab 104 : Pertarungan di Desa Tanjung
105 Bab 105 : Tabir Kebenaran
106 Bab 106 :Tabir Kebenaran
107 Bab 107 : Guru Agung Danu Batur
108 : Bab 108 : Rencana Busuk Bujang Larang.
109 Bab 109 : Rencana Busuk Bujang Larang
110 Bab 110 : Kekuatan Hitam
111 Bab 111 : Bujang Larang vs Guru Lintar
112 Bab 112 : Kemenangan Bujang Larang
113 Bab 113 : Kelompok Rompi Merah
114 Bab 114 : Kemarahan Dewi Pedang Mawar
115 Bab 115 : Perpisahan Dengan Rangga
116 Bab 116 : Perampok Dari Gunung Medan
117 Bab 117 : Tujuh Samurai dari Koto Nan Ampek
118 Bab 118 : Formasi Pedang Tujuh Bintang
119 Bab 119 : Kabar
120 Bab 120 : Kesombongan Bujang Larang
121 Bab 121 : Penyambutan
122 Bab 122 : Penyambutan Sang Pewaris
123 Bab 123 : Paman Yang Berkhianat
124 Bab 124 : Dukungan Dan Penebusan
125 Bab 125 : Pengakuan
126 Bab 126 : Pembelotan
127 Bab 127 : Penghianat Yang Merasa Dikhianati
128 Bab 128.
129 Bab 129 : Pendekar Gila Tapak Dewa
130 Bab 130 : Kedatangan Bantuan
131 Bab 131 : Jurus Pedang Mawar Berduri
132 Bab 132 : Kekalahan Yang Tak Di Sangka
133 Bab 133 : Bayangan Hitam
134 Bab 134 : Kelelawar Iblis
135 Bab 135 : Pimpinan Baru
136 Bab 136. Berpisah
137 Bab 137 : Memulai Perjalanan
138 Bab 137 : Markas Kelelawar Hitam
139 Bab 138 : Rahasia Yang Belum Terungkap
140 Bab 140 : Melanjutkan Pencarian
141 Bab 141 : Desa Yang Aneh
142 Bab 142 : Topeng Serigala
143 Bab 143 : Topeng Serigala part 2
144 Bab 144 : Kelompok Topeng Serigala
145 Bab 145 : Dalang Di Balik Tirai
146 Bab 146 : Menuju Hutan Kelelawar
147 Menuju Hutan Kelelawar 2
148 Bab 148 : Hutan Kelelawar
149 Bab 149 : Sarang Kelelawar
150 Bab 150 : Pertarungan Di Sarang Kelelawar
151 Bab 151 : Empat Kelelawar Besi
152 Bab 152 : Kekalahan Empat Kelelawar Besi
153 Bab 153 : Arya Wiguna vs Walang Seta
154 Bab 154 : Tujuh Kelelawar Siluman
155 Bab 155 : Racun Kelelawar Hantu
156 Bab 156 : Tarian Pedang Di Sarang Kelelawar
157 Bab 157 : Pedang Harimau Putih vs Pedang Kelelawar Iblis Seribu Darah
158 Bab 158: Jurus-jurus Pedang Tiada Tanding
159 Bab 159 : Jurus Sejuta Pedang Membelah Langit
160 Bab 160 : Racun Kelelawar Hitam
161 Bab 161 : Kepedulian
162 Bab 162 : Hati Yang Tak Berdusta
163 Bab 163 : Istirahat Sebentar
164 Bab 164 : Sang Mandiri
165 Bab 165 : Sisa Racun
166 Bab 166 : Lembah Rahasia
167 Bab 167 : Rencana Kelelawar Iblis
168 Bab 168 : Utusan Datuk Panglima Hijau
169 Bab 169 : Datuk Putih
170 Bab 170 : Desa Kayu Bersibak
171 Bab 171 : Para Pendekar Yang Hilang
172 Bab 172 : Pembantaian Yang Tak Jelas
173 Bab 173 : KEHENINGAN YANG PENUH MISTERI
174 Bab 174 : Rencana Di Kesunyian
175 Bab 175 : Sergapan
176 Bab 176 : Kedatangan Tiga Gagak Merah
177 Bab 177 : Ancaman Yang Mendebarkan
178 Bab 178 : Menuju Hutan Sunyi
179 Bab 179 : Berbicara Pada Harimau
180 Bab 180 : Aura Hatimau Putih
181 Bab 181 : SI RAJA BERUANG
182 Bab 182 : Bantuan Yang Tidak Biasa
183 Bab 183. Lawan Jadi Kawan
184 Bab 184 : Lembah Gagak Hitam
185 Bab 184 : Tiga Gagak Merah
Episodes

Updated 185 Episodes

1
Bab 1: Malam Berdarah di Bukit Kancah
2
Bab 2: Fitnah Keji Bujang Larang
3
Bab 3: Sidang Padepokan
4
Bab 4: Di Ambang Pengusiran
5
Bab 5: Langkah Pertama di Jalan Duri
6
Bab 6 : Bukit Tambun Tulang
7
Bab 7: Penampakan Misterius
8
Bab 8: Pertolongan Misterius
9
Bab 9: Panglima Hijau dan Danau Cahaya
10
Bab 10: Ujian Pertama: Cermin Jiwa
11
Bab 11: Pusaka Terpilih: Kebenaran Pedang Hijau Zamrud
12
Bab 12: Pusaka Harimau Putih
13
Bab 13: Kitab Jurus Pedang Tiada Tanding
14
Bab 14: Petuah Suci dan Jalan Sang Penegak Keadilan
15
Bab 15: Pulang ke Desa Sungai Merah: Kebohongan Bujang Larang
16
Bab 16: Pertarungan di Warung Simpang Tiga: Perampok Hutan Kulim
17
Bab 17: Ancaman Si Bagor Tangan Besi
18
Bab 18: Pertarungan Melawan Si Bagor Tangan Besi
19
Bab 19: Pesan Terakhir dan Senyuman Perpisahan
20
Bab 20: Pertemuan Tak Terduga
21
Bab 21: Prahara Mawar Putih dan Kemunculan Sang Penyelamat
22
Bab 22: Amukan Harimau Putih dan Kekaguman Sang Pendekar Cantik
23
Bab 23: Strategi, Cemburu, dan Kedatangan Tangan Maut
24
Bab 24: Pertarungan Melawan Si Tangan Maut
25
Bab 25: Senyuman Tersembunyi dan Bisikan Hati Anggun Sari
26
Bab 26: Undangan Adipati dan Perjalanan Hati
27
Bab 27: Ikatan Janji di Bawah Langit Senja
28
Bab 28: Lelucon Maut dan Kemarahan Iblis Mata Merah
29
Bab 29 - Lelucon Maut Dan Kemarahan Arya Wiguna
30
Bab 30: Perkumpulan Pendekar dan Wajah Baru
31
Bab 31: Ujian Kekuatan dan Kejatuhan
32
Bab 32: Pembentukan Pasukan
33
Bab 33 - Badai Pertarungan Melawan Topeng Emas
34
Bab 34 - Menjelajahi Kedalaman Hutan Angker
35
Bab 35 - Kedalaman Yang Makin Kelam
36
Bab 36: Misteri di Balik Gerbang Kuil
37
Bab 37: Melawan Sang Iblis Bagasandra
38
Bab 38: Pusaran Badai dan Perang Para Dewa
39
Bab 39: Kemunculan Kekuatan Agung dan Wujud Iblis Singa Hitam
40
Bab 40: Pertarungan Penentuan:
41
Bab 41: Sang Pahlawan Kembali dan Badai Baru di Cakrawala
42
Bab 42: Intrik Gelap di Perguruan Macan Putih
43
Bab 43: Terbongkarnya Kebenaran dan Badai di Perguruan Macan Putih
44
Bab 44: Jebakan dan Pengkhianatan
45
Bab 45: Balas Dendam Bujang Larang dan Jejak Harimau Putih
46
Bab 46: Jejak Sang Harimau Putih dan Cahaya Harapan
47
Bab 47: Misi Baru di Sarang Perampok Jubah Merah
48
Bab 48: Kemarahan di Hati dan Awan Merah di Musi
49
Bab 49 : Kecemburuan Anggun Sari
50
Bab 50: Badai Kemarahan dan Nyala Pedang Mawar
51
Bab 51 : Marahnya Sang Pemimpin dan Amarah Arya
52
Bab 52: Duel Sang Harimau dan Kapak Pembelah Bumi
53
Bab 53: Puncak Kekuatan dan Harimau Mengoyak Bukit
54
Bab 54: Jejak Harimau Putih dan Bayangan Masa Lalu
55
Bab 55: Evakuasi dan Anggota Lain Jubah Merah
56
Bab 56: Umpan dan Pertaruhan di Warung Sepi
57
Bab 57: Tarian Maut di Warung Sepi
58
Bab 58: Tarian Maut di Warung Sepi 2
59
Bab 59: Pertobatan, Jejak Ritual Hitam, dan Kekejaman Si Kembar Tanpa Jiwa
60
Bab 60: Ujian Ketenangan dan Taktik Licik Si Kembar
61
Bab 61: Kecurangan Si Kembar dan Kebangkitan Pusaka Hidup
62
Bab 62: Amarah Harimau dan Pukulan Balik Pedang Tiada Tanding
63
Bab 63: Jalan Tobat dan Pujian Anggun Sari
64
Bab 64: Menuju Markas Jubah Merah
65
Bab 65: Kedatangan Pendekar Gila Tapak Dewa
66
Bab 66: Pedang Iblis yang Merah Membara
67
Bab 67 : Kerjasama Tak Terduga Dan Kekuatan Pedang Matahari Merah
68
Bab 68: Kemenangan Pedang Cahaya Merah dan Misteri Pedang Harimau Putih
69
Bab 69: Gerbang Istana Lembah Setan
70
Bab 70: Mengguncang Gerbang Lembah Setan
71
Bab 71: Pengkhianatan dan Pertarungan Baru
72
Bab 72. Tarian Petir Langit'.
73
Bab 73: Kekuatan Lambang Harimau Putih
74
Bab 74 - Pendekar Harimau Putih vs Manusia Beruang Hitam
75
Bab 75: Pasukan Mayat Hidup Dewi Hitam
76
Bab 76: Kemunculan Tangan Iblis dan Dewi Hitam
77
Bab 77: Duel Melawan Gadis Pedang Tujuh Warna
78
Bab 78: Bangkitnya Para Algojo
79
Bab 79: Dewi Hitam Bukit Tengkorak
80
Bab 80 : Puncak Kekuatan di Lembah Setan
81
Bab 81 : Dewi Hitam Bukit Tengkorak vs Arya Wiguna
82
Bab 82: Pertarungan Keris Kobra Kuning
83
Bab 83: Bebasnya Tawanan dan Janji di Balik Cemburu
84
Bab 84: Kedatangan Si Kembar
85
Bab 85: Fitnah dan Pertarungan di Warung Tua
86
Bab 86: Perdamaian di Warung Tua dan Misteri Baru
87
Bab 87: Reruntuhan Bangau Putih dan Janji yang Terukir
88
Bab 88: Jejak Sang Pemetik Bunga dan Pertarungan di Desa
89
Bab 89: Pengejaran di Hutan Rimba
90
Bab 90: Pertarungan di Bukit Ular Hitam
91
Bab 91: Pertarungan di Puncak Bukit Ular Hitam
92
Bab 92: Pertarungan di Tanah Iblis dan Kekuatan yang Terkandung
93
Bab 93: Bara Cemburu dan Amarah Pendekar Mawar Putih
94
Bab 94: Kabar Buruk di Tengah Perjalanan
95
Bab 95: Rahasia di Balik Perguruan Mawar Putih
96
Bab 96: Pelukan Sang Ibu di Desa Sungai Merah
97
Bab 97: Kabar Gembira dan Restu Seorang Ibu
98
Bab 98: Menghadap Calon Mertua di Sanggar Puyuh
99
Bab 99: Pertarungan di Balairung Sanggar Puyuh
100
Bab 100: Ksatria Sejati di Balairung Sanggar Puyuh
101
Bab 101: Sambutan Hangat dan Doa Restu
102
Bab 102: Menuju Persembunyian Guru Cipta
103
Bab 103. Perjumpaan Dengan Guru Cifta
104
Bab 104 : Pertarungan di Desa Tanjung
105
Bab 105 : Tabir Kebenaran
106
Bab 106 :Tabir Kebenaran
107
Bab 107 : Guru Agung Danu Batur
108
: Bab 108 : Rencana Busuk Bujang Larang.
109
Bab 109 : Rencana Busuk Bujang Larang
110
Bab 110 : Kekuatan Hitam
111
Bab 111 : Bujang Larang vs Guru Lintar
112
Bab 112 : Kemenangan Bujang Larang
113
Bab 113 : Kelompok Rompi Merah
114
Bab 114 : Kemarahan Dewi Pedang Mawar
115
Bab 115 : Perpisahan Dengan Rangga
116
Bab 116 : Perampok Dari Gunung Medan
117
Bab 117 : Tujuh Samurai dari Koto Nan Ampek
118
Bab 118 : Formasi Pedang Tujuh Bintang
119
Bab 119 : Kabar
120
Bab 120 : Kesombongan Bujang Larang
121
Bab 121 : Penyambutan
122
Bab 122 : Penyambutan Sang Pewaris
123
Bab 123 : Paman Yang Berkhianat
124
Bab 124 : Dukungan Dan Penebusan
125
Bab 125 : Pengakuan
126
Bab 126 : Pembelotan
127
Bab 127 : Penghianat Yang Merasa Dikhianati
128
Bab 128.
129
Bab 129 : Pendekar Gila Tapak Dewa
130
Bab 130 : Kedatangan Bantuan
131
Bab 131 : Jurus Pedang Mawar Berduri
132
Bab 132 : Kekalahan Yang Tak Di Sangka
133
Bab 133 : Bayangan Hitam
134
Bab 134 : Kelelawar Iblis
135
Bab 135 : Pimpinan Baru
136
Bab 136. Berpisah
137
Bab 137 : Memulai Perjalanan
138
Bab 137 : Markas Kelelawar Hitam
139
Bab 138 : Rahasia Yang Belum Terungkap
140
Bab 140 : Melanjutkan Pencarian
141
Bab 141 : Desa Yang Aneh
142
Bab 142 : Topeng Serigala
143
Bab 143 : Topeng Serigala part 2
144
Bab 144 : Kelompok Topeng Serigala
145
Bab 145 : Dalang Di Balik Tirai
146
Bab 146 : Menuju Hutan Kelelawar
147
Menuju Hutan Kelelawar 2
148
Bab 148 : Hutan Kelelawar
149
Bab 149 : Sarang Kelelawar
150
Bab 150 : Pertarungan Di Sarang Kelelawar
151
Bab 151 : Empat Kelelawar Besi
152
Bab 152 : Kekalahan Empat Kelelawar Besi
153
Bab 153 : Arya Wiguna vs Walang Seta
154
Bab 154 : Tujuh Kelelawar Siluman
155
Bab 155 : Racun Kelelawar Hantu
156
Bab 156 : Tarian Pedang Di Sarang Kelelawar
157
Bab 157 : Pedang Harimau Putih vs Pedang Kelelawar Iblis Seribu Darah
158
Bab 158: Jurus-jurus Pedang Tiada Tanding
159
Bab 159 : Jurus Sejuta Pedang Membelah Langit
160
Bab 160 : Racun Kelelawar Hitam
161
Bab 161 : Kepedulian
162
Bab 162 : Hati Yang Tak Berdusta
163
Bab 163 : Istirahat Sebentar
164
Bab 164 : Sang Mandiri
165
Bab 165 : Sisa Racun
166
Bab 166 : Lembah Rahasia
167
Bab 167 : Rencana Kelelawar Iblis
168
Bab 168 : Utusan Datuk Panglima Hijau
169
Bab 169 : Datuk Putih
170
Bab 170 : Desa Kayu Bersibak
171
Bab 171 : Para Pendekar Yang Hilang
172
Bab 172 : Pembantaian Yang Tak Jelas
173
Bab 173 : KEHENINGAN YANG PENUH MISTERI
174
Bab 174 : Rencana Di Kesunyian
175
Bab 175 : Sergapan
176
Bab 176 : Kedatangan Tiga Gagak Merah
177
Bab 177 : Ancaman Yang Mendebarkan
178
Bab 178 : Menuju Hutan Sunyi
179
Bab 179 : Berbicara Pada Harimau
180
Bab 180 : Aura Hatimau Putih
181
Bab 181 : SI RAJA BERUANG
182
Bab 182 : Bantuan Yang Tidak Biasa
183
Bab 183. Lawan Jadi Kawan
184
Bab 184 : Lembah Gagak Hitam
185
Bab 184 : Tiga Gagak Merah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!