PUSAKA TAMBUN TULANG
Udara di Bukit Kancah, malam itu, terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk tulang walau tak ada angin berhembus kencang.
Bau kembang kenanga yang lumrahnya menenangkan, kini bercampur dengan anyir yang samar, seolah alam sendiri ikut berduka.
Di dalam bilik sederhananya, Arya Wiguna mencoba memejamkan mata, namun ketenangan tak kunjung datang. Sejak senja, firasat buruk telah menggelayuti hatinya, seperti mendung yang tak kunjung pergi.
Arya, dengan tubuh tegap dan otot yang terbentuk dari latihan keras sejak usia muda, adalah salah satu murid terbaik di Padepokan Macan Putih.
Pemuda itu dikenal akan kegigihan dan kesetiaannya pada ajaran para sesepuh. Rambutnya hitam legam, terikat rapi di belakang, dan matanya yang tajam selalu memancarkan kecerdasan. Namun malam ini, kilatan di matanya adalah kegelisahan.
Arya Wiguna bisa merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Pikiran Arya melayang pada obrolannya siang tadi dengan Bujang Larang, paman kandungnya, adik dari mendiang ayahnya, Bujang Baik.
Arya tahu, semenjak ayahnya tiada, pamannya itu selalu berusaha mendekati para sesepuh, mencoba mencari celah untuk mengambil alih segala peninggalan ayahnya yang kini menjadi tanggung jawab Arya sebagai pewaris tunggal.
Termasuk harta di luar padepokan yang dititipkan ayahnya kepadanya, dan tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya kecuali dirinya dan Bujang Larang.
Bahkan, ia tahu bahwa Bujang Larang selalu mengincar posisi kepala padepokan, posisi yang seharusnya diwariskan kepadanya, namun ditunda oleh ayahnya karena usianya yang masih terlalu muda.
"Arya, keponakanku," Bujang Larang menepuk bahu Arya siang tadi di halaman padepokan, senyumnya terasa begitu licik, "Kau terlalu keras berlatih. Istirahatlah sesekali. Jangan sampai kau sakit dan tak bisa lagi memimpin padepokan ini di masa depan."
Arya hanya membalas dengan senyum tipis, "Terima kasih atas perhatian Paman. Tapi saya harus terus berlatih. Ayah mengajarkan saya untuk tak pernah lelah mengejar kesempurnaan."
"Ah, kesempurnaan," Bujang Larang terkekeh, "Ayahmu memang terlalu keras padamu, juga terlalu keras pada dirinya sendiri. Lihat saja, ia pergi terlalu cepat," Nada suaranya mengandung sindiran, seolah kematian ayahnya adalah kesalahan ayahnya sendiri.
"Kau tahu, seharusnya akulah yang memegang amanah kepala padepokan ini. Aku lebih tua, lebih berpengalaman," sindir Bujang Larang dengan senyum tipis seakan di paksakan.
"Ayah telah memutuskan," jawab Arya, suaranya dingin, ia benci setiap kali pamannya mengungkit-ungkit masalah ini, "Ia percaya saya mampu."
"Mampu?" Bujang Larang mengangkat alis, "Kau bahkan belum bisa menjaga warisan ayahmu sendiri. Konon, ada harta tersembunyi yang ditinggalkan almarhum kakakku untukmu. Harta yang sangat besar, bukan? Kau yakin bisa menjaganya dari mata-mata serakah?"
Arya menatap tajam pamannya. "Paman tak perlu mengkhawatirkan itu. Saya akan menjaganya sebaik mungkin." jawab Arya Wiguna singkat.
"Hmm, kita lihat saja nanti," Bujang Larang tersenyum miring, lalu pergi meninggalkan Arya dengan perasaan tak nyaman. Firasat buruk itu sudah muncul sejak saat itu, dan kini terasa semakin kuat.
Tiba-tiba, sebuah teriakan memecah kesunyian malam. "Api! Api!"
Arya sontak membuka mata. Firasatnya benar. Pemuda itu bergegas keluar, jantungnya berdegup kencang. Langit yang tadinya gelap gulita kini dihiasi jingga api yang menjilat-jilat, berasal dari arah perpustakaan padepokan, tempat di mana Kitab Penggetar Langit yang keramat disimpan.
Kekacauan langsung menyelimuti padepokan. Murid-murid berhamburan, sebagian membawa timba berisi air, sebagian lagi berteriak panik.
"Cepat! Selamatkan kitab-kitab!" teriak salah satu murid.
"Api terlalu besar!" balas yang lain.
Arya tak berpikir panjang, ia tahu betul betapa pentingnya Kitab Penggetar Langit. Tanpa menghiraukan api yang semakin membesar, pemuda itu menerjang ke arah perpustakaan, menerobos kerumunan yang panik.
Panas membakar kulitnya, asap pedih menyengat matanya, namun tekadnya lebih kuat dari segalanya.
"Minggir! Minggir!" teriak Arya seraya menyikut beberapa murid yang menghalangi jalannya. "Kitab itu harus selamat!"
Saat Arya Wiguna berhasil mencapai pintu perpustakaan yang sudah mulai roboh, ia melihat bayangan seseorang di dalam, bergerak cepat di tengah kobaran api.
Sebuah bayangan yang dikenalnya, postur tubuhnya, langkahnya yang cepat, bahkan jubahnya yang gelap. Jantung Arya berdegup lebih kencang. Bayangan itu terlalu mirip dengan... Bujang Larang?
Arya Wiguna melihat bayangan itu meraih sesuatu dari rak yang paling tinggi, tempat Kitab Penggetar Langit biasa disimpan. Lalu, bayangan itu melompat keluar melalui jendela yang pecah, menghilang dalam gelapnya malam, diselimuti pekatnya asap.
Arya hanya sempat melihat punggungnya yang tegap dan jubahnya yang gelap, sama seperti jubah yang dikenakan pamannya siang tadi.
"Paman?" gumam Arya, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Arya Wiguna masuk ke dalam, matanya menyapu sekeliling, mencari Kitab Penggetar Langit. Rak-rak buku sudah hangus, sebagian besar kitab telah menjadi abu.
Ketakutan mencekik lehernya. Lalu, di sudut ruangan, di bawah tumpukan kayu yang terbakar, ia melihatnya. Sebuah peti kayu berukiran naga, tempat kitab itu seharusnya berada, tergeletak kosong. Kitab Penggetar Langit, pusaka agung padepokan, telah tiada.
"Tidak mungkin...?" Arya berdiri terpaku, terengah-engah. Api melahap seisi perpustakaan. Panasnya semakin tak tertahankan, ia harus cepat keluar.
Saat Arya berbalik, sebuah suara berat menggelegar di belakangnya.
"Arya Wiguna! Apa yang kau lakukan di sini?!"
Suara itu milik Guru Cipta, salah satu sesepuh padepokan, berdiri di ambang pintu yang sudah mulai runtuh, dengan wajah memerah karena marah dan terkejut.
Di belakangnya, beberapa murid lain menatap Arya dengan tatapan curiga. Mata mereka terpaku pada Arya yang berdiri sendirian di tengah sisa-sisa perpustakaan yang terbakar, seolah ia adalah biang keladi bencana ini.
Di samping Guru Cipta, berdiri Bujang Larang, wajahnya terlihat terkejut, namun ada kilatan aneh di matanya yang Arya tak bisa baca. "Arya? Kenapa kau di sini? Apa yang terjadi?" nada suaranya penuh kepura-puraan.
Arya menatap tajam pamannya, "Paman! Aku melihat seseorang mengambil Kitab Penggetar Langit! perpustakaan ini... api sudah membesar saat aku sampai!" kata Arya berusaha menjelaskan.
"Kau melihat seseorang? Siapa? Mengapa kau satu-satunya yang ada di sini? Kami mendengar teriakanmu. Apakah kau yang menyalakan api ini?" tanya Guru Cipta melangkah maju, sorot matanya tajam menusuk,
"Tidak, Guru! Aku tidak menyalakan api! Aku datang karena melihat asap dan api! Aku ingin menyelamatkan kitab itu!" jawwb Arya Wiguna berusaha menjelaskan, namun kepulan asap membuat suaranya tercekat.
"Omong kosong!" bantah Bujang Larang tiba-tiba berteriak, suaranya memancing perhatian murid-murid lain.
"Semalam, aku mendengar Arya gelisah, ia berbicara tentang kekuatan, tentang bagaimana dirinya ingin memiliki semua kekuatan padepokan ini! Apakah ini rencanamu, Arya? Mengambil kitab itu untuk dirimu sendiri?" kata Bujang Larang memojokkan Arya.
"Tutup mulutmu, Paman!" Arya balas berteriak, amarahnya meluap, "Kau tahu itu tidak benar! Aku tak pernah berniat mengkhianati padepokan ini!" ujarnya lantang.
"Tidak benar, katamu?" Bujang Larang tertawa sinis, "Lalu mengapa jubahmu robek di bagian bahu? Aku melihatnya siang tadi. Pasti tersangkut saat kau melarikan diri dari sini, bukan?"
Arya terdiam, ia ingat jubahnya sempat tersangkut dahan saat ia menerobos semak-semak menuju perpustakaan. Detil kecil yang kini menjadi alat untuk menjeratnya.
"Satu lagi," Bujang Larang melanjutkan, matanya berbinar licik, "Bukankah kau yang paling sering bertanya tentang rahasia Kitab Penggetar Langit? Tentang isinya, tentang jurus-jurus hebat di dalamnya? Apa kau ingin menguasainya sendiri?"
"Arya, jawablah. Mengapa jubahmu robek? Dan apa maksud dari tuduhan pamanmu ini?" tanya Guru Cipta menatap Arya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Jubahku tersangkut saat aku menerobos semak, Guru!" jawab Arya setengah putus asa, "Bujang Larang hanya memfitnahku! Dia ingin menjebakku!" bantahnya.
"Menjebakmu?" Bujang Larang tertawa lebih keras, "Mengapa aku harus menjebak keponakanku sendiri? Aku hanya khawatir dengan perilakumu akhir-akhir ini, Arya. Kau terlalu ambisius," tertawa sinis.
Bau anyir yang samar tadi, kini tercium lebih jelas. Bukan anyir darah, melainkan bau yang asing, seperti obat-obatan yang bercampur dengan bau hangus, dan sedikit aroma minyak tanah.
Bau minyak itu adalah petunjuk kecil, namun di tengah huru-hara, Arya tak sempat memikirkannya. Ia hanya bisa menatap Guru Cipta, kata-kata tercekat di tenggorokannya. Malam itu, di Bukit Kancah, adalah awal dari kehancuran Arya Wiguna.
Api terus membesar di belakang Arya, cahayanya memantulkan bayangan-bayangan menari di wajah-wajah murka di depannya. Arya merasa terjebak, seolah semua mata menuduhnya. Suara-suara bisikan mulai terdengar dari kerumunan murid.
"Benar juga, ya. Arya memang sering terlihat di sekitar perpustakaan." kata salah seorang murid pada temannya.
"Siapa lagi yang berani masuk ke sana selarut ini?" timpal murid yang lain.
"Tapi dia murid kepercayaan Guru Cipta. Mungkinkah?" ujar yang satunya lagi.
Bujang Larang menyeringai tipis, sebuah senyum kemenangan yang tak terlihat oleh orang lain selain Arya, ia telah berhasil menebar benih keraguan, dan kini, benih itu mulai tumbuh subur di tanah ketidakpercayaan.
"Baiklah, Arya," Guru Cipta menarik napas panjang, suaranya terdengar lelah namun penuh keputusan, "Kita tidak bisa memutuskan di sini. Besok pagi, kita akan adakan sidang padepokan. Semua akan jelas di sana."
Arya hanya bisa mengepalkan tinjunya. Pemuda itu tahu, sidang itu adalah kesempatan Bujang Larang untuk menyelesaikan rencananya.
Malam itu, di tengah kobaran api dan tuduhan tak berdasar, Arya tahu hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 185 Episodes
Comments