Bab 5

Dira mematut dirinya di depan cermin. Meja riasnya. Gaun sebatas lutut lengan pendek bermotif bunga itu melekat indah di tubuh rampingnya yang bak model papan atas.

Dira adalah gadis cantik yang begitu sempurna. Kulit putih dengan hidung yang tidak terlalu mancung namun begitu pas dengan bentuk wajahnya. Tinggi badan profosional.

"Hah! Kenapa bisa jadi begini sih! Kenapa harus ada perjodohan?" Gumamnya seraya menatap penampilanya yang sempurna. Bak seorang model papan atas.

"Semoga saja pria itu nggak jelek, kalau jelek mending aku jomblo aja seumur hidup." Tukas Dira lagi yang sudah mengakhiri sesi berkacanya.

"Cantik sekali anak Ibu!" Puji Mirna saat melihat kedatangan Dira yang cantik.

Ketiganya kini sudah berkumpul di ruang keluarga siap berangkat saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh.

"Loh Bu. Raya mana? Kenapa dia belum siap juga?" Tanya Faizal saat menyadari jika putri bungsunya tidak ada di ruangan itu.

"Raya tidak ikut Yah! Katanya jam tujuh nanti ada jadwal les. Tadi sudah bilang sama Ibu." Jawab Mirna.

"Hmm.. Si Raya masih hobi saja ngumpulin receh! Ngapain sih capek-capek les privat segala. Mending dia sekolah yang bener aja nanti bisa magang di kantorku. Gajinya lumayan besar daripada jadi guru les yang tidak seberapa itu." Cetus Dira mencibir pekerjaan adiknya. Sombong.

"Dira, tidak baik berkata seperti itu. Biarkan dia melakukan apa yang dia suka selagi itu dalam hal positif. Ayah tidak mau mendengar kamu merendahkan pekerjaan Raya. Biarpun bayarannya tidak seberapa tapi itu hasil kerjanya bukan hasil menipu orang. Ayah selalu mendukung apapun pekerjaan kalian termasuk Raya yang menjadi guru les. Dia masih sekolah tapi sudah berani mengambil resiko sebagai guru. Menjadi guru itu tidak mudah seperti yang kita bayangkan. Jadi saling menghargai satu sama lain." Nasehat Faizal yang langsung menegur putri nya itu.

"Baik Ayah, maaf!" Dira tidak berani membantah sang Ayah sembari merutuki dirinya yang keceplosan merendahkan Pekerjaan Raya di hadapan sang Ayah.

"Sudah yuk, kita berangkat! Sudah mau jam tujuh ini. Jangan sampai calon besan menunggu terlalu lama." Ucap Mirna. Berusaha menetralkan suasana.

*

*

Abian turun lebih dulu dari mobil kemudian berjalan menutari badan mobilnya untuk membukakan pintu untuk Ibunya.

Kedua anak dan Ibu itu memasuki restoran yang cukup terkenal di kota itu.

Tiba di pintu Restoran mereka langsung di sambut oleh pelayan dan langsung di arahkan ke meja yang telah di reservasi oleh Abian sebelumnya.

"Mereka belum tiba, syukurlah kita tidak terlambat." Ucap Hesti sembari duduk di kursi yang sudah di tarik oleh Abian. Abian begitu menyayangi Ibunya. Orangtua satu-satunya yang tersisah di dunia ini.

"Iya Ma, kita kecepatan keknya." Timpal Abian usai ikut mendudukkan dirinya di sebelah sang Ibu.

"Nggak apa-apa laki-laki duluan itu bagus Nak. Itu melambangkan jika kamu adalah orang yang bertanggung jawab." Balas Hesti sembari mengulas senyum manisnya.

Tidak berapa lama Keluarga Faizal tiba di Restoran itu. Dengan di antar oleh seorang pelayan menuju meja dimana Hesti dan Abian sudah berada di sana.

"Halo! Maaf jeng, kita sedikit terlambat!" Suara seorang wanita yang tiada lain adalah Mirna membuat Abian dan Hesti mengangkat kepala mereka. Hesti dan Abian kompak berdiri dari kursinya masing-masing. Menyambut kedatangan keluarga Faizal.

"Tidak apa-apa, kami juga baru tiba kok!" Sahut Hesti bercipika-cipiki dengan Mirna. Kemudian Hesti mempersilahkan mereka duduk.

Abian juga bersalaman dengan Faizal calon Ayah mertuanya.

"Kenalin jeng, ini anak kami yang bernama Dira, yang akan di jodohkan dengan nak Abian." Tukas Mirna sembari merangkul bahu Dira yang memasang senyum manisnya. Walaupun sedikit terpaksa.

"Halo Tante saya Dira!" Adira menyalim tangan Hesti seraya menyebutkan namanya.

Hesti pun menyambutnya dengan ramah "Cantik sekali putrinya." Puji Hesti. Yang sukses membuat Dira tersipu malu. Sedikit bangga kendirinya sendiri karena kecantikannya di akui oleh Hesti. Narsis

"Ini anak Tante namanya Abian. Hesti mencolek lengan Abian yang ada di sampingnya.

Abian pun mengulur kan tangannya berkenalan dengan Dira dengan saling menyebutkan nama mereka satu sama lain

"Ganteng juga ternyata!" Batin Dira saat bersalaman dengan Abian.

Makan malam yang begitu berkesan. Dengan membahas banyak hal terutama tentang kesiapan Abian dan Dira tentang perjodohan ini. Apakah keduanya saling menerima.

Keduanya pun di beri waktu untuk mengobrol berdua. Dengan Abian mengajak Dira berpindah meja.

Makan malam di akhiri dengan kesepakatan jika anak-anak mereka akan menikah tiga minggu lagi. Abian maupun Dira juga telah menyetujui keputusan dari orang tua mereka itu.

*******

Sepanjang jalan pulang senyum Hesti tidak luntur. Menggambarkan jika perasaan wanita paru baya itu tengah bahagia malam ini. Abian yang melihat Ibunya sebahagia itu pun juga ikut senang. Apapun yang membuat Ibunya bahagia akan ia lakukan. Baginya kebahagiaan sang Ibu di atas segalanya untuk saat ini karena dirinya belum menikah.

"Mama bahagia banget keknya. Dari keluar resto sampai sekarang senyum-senyum terus nih!" Goda Abian yang senang melihat sang Ibu bahagia.

"Iya dong, Mama bahagia sekali malam ini. Akhirnya amanah Papa kamu akan segera terlaksana. Selain itu juga Mama bahagia karena sebentar lagi Anak bujang Mama ini bakal laku." Balas Hesti yang terkekeh di akhir kalimatnya.

Sementara Abian hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala dengan tingkah Ibunya itu yang selalu berpikir jika dirinya tidak laku.

*

*

Dira melempar Tas mahal nya ke sembarang arah kemudia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur dengan memandang langit-langit kamarnya.

"Hm, ganteng sih iya, tapi... Diliat dari outfitnya sepertinya biasa saja." Dira menghela nafasnya mencoba membandingkan dirinya dengan calon suaminya.

Dira meraih Tas mahal yang di lemparnya tadi. Mencari ponselnya dan menghubungi nomor Abian calon suaminya. Keduanya saat makan malam tadi sempat bertukar nomor ponsel.

Dira["Mas Bian, ini Dira. Bisa nggak besok kita ketemuan?"]

Sedetik dua detik Dira masih menunggu balasan dari Abian.

Tring!!

Abian["Iya Dira, boleh saja. Mau jam berapa dan di mana?"] Balas Abian.

Dira["Jam pulang kantor saja mas. Nanti aku chat alamatnya!"]

Abian["Oke!"]

*******

"Ayah, Ibu lihat-lihat jeng Hesti sekarang ini kehidupannya jauh berbeda ya sama yang dulu!. Tidak seperti saat suaminya masih hidup. Mereka kelihatan sekali jauh berkecukupan. " Tukas Mirna yang mengomentari penampilan Hesti yang terlihat sederhana saat makan malam tadi.

Mirna sedikit heran dan penasaran. Dan sekarang hal itu ia ungkapkan pada suaminya.

"Hesti memang sederhan Bu. Dari dulu juga begitu-begitu saja penampilannya. Walaupun mereka kaya tapi tidak berlebihan." Sahut Faizal seraya memperbaiki letak kaca mata bacanya yang sedikit melorot tanpa menatap istrinya.

"Beda Yah, sekarang tuh Ibu lihat seperti memang tidak sekaya dulu kehidupannya. Apa kita tidak salah menjodohkan Dira sama Abian Yah?" Mirna masih kekeuh dengan pendapatnya tentang kehidupan Hesti calon besannya itu.

"Maksud Ibu apa? Salah menjodohkan Dira bagaimana? Abian pemuda yang baik, yang bertanggung jawab. Apanya yang salah? Jangan menilai baiknya seseorang itu dari materinya Bu! Belum tentu yang berharta itu mampu bertanggung jawab pada keluarganya." Balas Faizal lagi sembari membalik halaman bukunya yang sudah selesai dia baca.

"Tapi kan kita sebagai orang tua wajib memastikan masa depan anaknya dengan baik Ayah. Dan Ibu sedikit ragu jika....."

"Masalah harta mereka bisa sama-sama mencarinya nanti setelah menikah. Tidak melulu kebahagiaan itu di ukur dengan harta. Ayah yakin putri kita akan bahagia bersama Abian nantinya." Tegas Faizal sembari meletakkan bukunya di atas nakas di samping tempat tidurnya. Sudah tidak tertarik melanjutkan baca bukunya mendengar kata-kata istrinya itu.

"Tapi Ayah!"

"Sudahlah Bu, ini sudah malam. Ayah sudah ngantuk mau tidur. Sebaiknya Ibu juga segera tidur jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting." Potong Faizal sembari menarik selimut hingga menutupi separuh tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.

Mirna hanya bisa menghela nafasnya dengan ketegasan suaminya itu. Tak berapa lama Mirna pun ikut naik ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.

*

*

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Biasanya seorang IBU akan bisa merasakan mana yg baik dan Gak dengan calon mantunya..Tapi Hesti saking bahagianya dapat mantu,gak sadar akan bakal dihadapkan badai..

2025-11-29

0

Evi Lusiana

Evi Lusiana

kykny dira sm ibuny agk matre y thor

2025-10-14

1

❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄

❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄

lahhh ternyata Dira 11,12 sama emaknya sama sama punya karakter tidak baik memandang orang dari hartanya ck ck ck 🧐😏

2025-08-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Ban 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113 End
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Ban 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113 End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!