"Kamu cuti berapa hari?" tanyaku pada Indah.
"Mungkin satu minggu. Anakku sakit, jadi nunggu dia pulih."
"Sakit apa memangnya?"
"Hanya demam, tapi terus memanggil namaku."
"Kalau begitu hati-hati di jalan. Sampai bertemu minggu depan."
"Tentu. Jangan pernah merasa sendiri, jika ada apa-apa cerita saja."
"Aku tahu."
Obrolan kami berhenti saat suami Indah datang menjemputnya. Indah bekerja untuk ketenangan anak dan ibunya juga suaminya. Mereka berdua sama-sama bekerja agar rumah tangga mereka bisa cukup secara finansial, meski untuk waktu jelas mereka sangat kurang.
Aku terus menatap motor yang di bawa suami Indah sampai mereka tidak terlihat. Meski berbeda jarak dan waktu, tapi mereka bisa merasa tenang tanpa memikirkan hal yang tidak perlu.
Sementara diriku, aku sudah tahu orang tuaku. Aku punya suami yang mampu mencukupi semua kebutuhanku. Sayangnya hidupku tidak setenang itu, aku harus memikirkan hal yang di luar diriku. Hanya karena rasa serakah dari orang lain.
"Heera."
"Kamu sudah sampai?"
"Sejak tadi. Kenapa masih di sini saja? Melihat apa?" tanya Mada sembari melihat ke arah yang baru saja aku lihat.
"Tidak ada. Aku hanya merasa hidup itu saling melihat. Tergantung apa yang kita tunjukkan."
"Syukuri saja apa yang kau punya saat ini. Iri hanya akan membuat hatimu terluka."
"Aku tahu itu."
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Setelah ini aku dan Mada akan ke rumah sakit di mana Mada membawa tante Mira. Meski kondisinya masih belum sadar, tapi aku ingin melihatnya. Tidak mungkin ada orang di serang tanpa alasan yang jelas. Apa lagi serapih ini cara dia menyerang.
Mengingat bagaimana Tante Mira bersimbah darah aku jadi teringat tentang ibu Heni. Mereka sama-sama memegang pisau dengan tubuh bersimbah darah. Apakah yang melakukannya orang yang sama, tapi kenapa Tante Mira juga terkena imbasnya.
Mobil masuk ke parkiran rumah sakit. Mada terus mengingatkan aku agar tidak jauh-jauh darinya. Kami masuk di depan ruang rawat Tante Mira ada dua orang yang khusus menjaga. Ma…
Heera. Siapakah Aku?
42
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Comments