My Dear Fahrana
Di suatu hari yang seperti biasa tiba-tiba datang sebuah mobil yang berisi kurang lebih 10 orang dengan jas almamater dari kampus di kota. Mereka datang ke desa untuk menyelesaikan KKN yang ditugaskan ke desa tersebut.
Ranti yang melihat itu dari kejauhan merasa penasaran hingga terdiam sejenak di tempatnya bersama dengan temannya Rifa yang hendak pergi ke pasar untuk membeli sayuran dan juga lauk.
"Mereka anak-anak kota yang kemarin bapak aku bilang. "Ujarnya kepada Ranti saat mendengar informasi dari ayahnya yang merupakan pegawai kelurahan.
"Mereka mau apa di sini? ." Tanya Ranti yang penasaran.
"Katanya mau buat tugas perkuliahan gitu bantu desa sini tapi nggak tahu juga mereka mau buat apa."
Meski penasaran lebih lanjut tetapi keduanya memilih untuk segera ke pasar sebelum hari semakin panas dan penjual di sana sudah mulai kehabisan stok sayuran maupun lauk yang hendak dibeli.
Turun dari mobil salah seorang laki-laki yang merupakan mahasiswa KKN tersebut melihat seorang wanita itu dari jauh dan hanya kelihatan punggungnya saja, tetapi ia tidak memikirkan apapun karena ia tahu mereka berdua hanyalah penduduk daerah sini.
"Kita lapor dulu ke kepala desa atau RT setempat kalau kita udah dateng sekalian tanya di mana kita tinggal nanti." Ujar lelaki tersebut kepada teman-temannya karena dialah yang memimpin KKN itu sementara selama mereka berada di desa ini.
"Semoga aja kita nggak dapat bangunan tua yang udah lapuk, nggak bisa tidur kalau tempatnya serem." Ucap salah satu gadis yang merupakan mahasiswi tersebut.
Mereka semua melapor ke kelurahan dan di sana disambut oleh pegawai kelurahan untuk memastikan kedatangannya dan mempersiapkan tempat tinggal sementara untuk mahasiswa KKN tersebut.
Sebuah rumah yang cukup dekat dengan rumah pak lurah sudah dipersiapkan walaupun kondisinya masih kotor dan harus dibersihkan terlebih dahulu. Beberapa mengucapkan terima kasih dan beberapa mahasiswa merasa tempat itu kurang layak untuk ditinggali.
"Duh kotor banget sih."
"Udah nggak usah ngeluh nih sapu, elo bagian nyapu teras." Sapu lidi diberikan dan diterima dengan wajah yang kurang senang.
"Di rumah aja gue jarang nyapu di sini malah disuruh bersih-bersih."
Hampir setengah hari mereka bersih-bersih rumah tersebut meski dilakukan dengan hati yang berisik tetapi jika dilakukan bersama maka akan lebih cepat selesai. Rumah yang sudah lama tidak dihuni itu nampak bersih dan layak huni sekarang.
"Permisi kami mau ngasih ini disuruh sama pak lurah." Satu teko penuh berisi es sirup dan juga satu piring penuh berisi gorengan mereka berikan. Padahal Rifa dan juga Ranti tidak berniat memberikannya tetapi tiba-tiba waktu kembali dari pasar mereka disuruh membuatkan minuman dan juga camilan untuk anak KKN karena kasihan membersihkan tempat tinggal itu sendiri.
"Iya terima kasih." Yudi yang merupakan ketua KKN menerimanya dan kedua gadis tersebut hendak pergi. "Oh iya nama kalian siapa biar kita tahu warga lokal sini."
"Namaku Rifa lalu ini temenku namanya Ranti, kalian bisa bertanya kepada kami kalau mau ke suatu tempat di desa ini atau butuh sesuatu, kalau begitu sudah dulu ya kami mau pergi."
"Iya sekali lagi terima kasih."
Keduanya sudah pergi dan Yudi mencuci tangannya karena ia mau minum es yang tadi dibawakan, kebetulan tenggorokannya sangat haus.
"Emang kita perlu ya kenalan sama warga lokal sini ?."
"Perlulah Kita kan nggak tahu apa-apa soal desa ini, kenal sama warga lokal itu bisa sangat membantu apalagi kalau kita butuh sesuatu." Saut Yudi sambil menuangkan es di gelasnya. "Kalian nggak mau ? seger nih apalagi habis bersih-bersih lumayanlah buat ganjel."
"Siapa yang nggak mau jangan dihabisin gue cuci tangan dulu."
...****************...
Mereka memulai proyeknya sambil berkoordinasi dengan orang kelurahan dan juga warga setempat agar ikut membantu atau setidaknya mengenalkan program mereka kepada masyarakat.
Ada beberapa hal yang tidak diketahui dan Yudi meminta bantuan kepada Rifa yang merupakan anak dari kepala desa tetapi Rifa sedikit enggan untuk membantu di saat sibuk, meski begitu ia tetap membantu dengan sukarela bahkan ia mengesampingkan beberapa hal demi membantu mahasiswa KKN tersebut.
Karena hal itulah Yudi dan Ranti mulai dekat tetapi hanya sebatas teman yang saling membantu dan melihat mahasiswa KKN itu berusaha mengembangkan potensi desa yang masih tertutup.
"Kayaknya elo mulai jatuh hati sama gadis lokal sini ya ?." Salah seorang teman Yudi yang perempuan bertanya karena ia sudah lama merasakan perasaan kepada Yudi dan tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati pria yang disukainya.
"Kita cuma teman lagian Ranti gadis yang lugu, dia baik tapi bukan tipe gue."
"Syukur deh kalau gitu, gue kira lu suka sama si Ranti itu." Kamila menghela nafas, Ia merasa lega tetapi entah kenapa ada perasaan yang terasa mengganjal, meski dibilang hanya teman tetapi saat Yudi menatap Ranti.
Hari demi hari berlalu proker sudah dilaksanakan dan tidak terasa menghitung hari untuk mereka selesai berada di desa tersebut. Namun kedekatan Ranti dan juga Yudi malah semakin lama semakin mendalam.
"Bulan depan aku dan juga teman-temanku sudah harus kembali ke kota karena tugas kami di tempat ini udah selesai."
"Aa Yudi jangan lupa mampir-mampir ke desa ini, kayaknya aku bakalan kangen sama kebersamaan teman-teman yang lain."
"Kangen sama semua ? Kirain kangen sama aku aja ?." Ujarnya sambil tertawa tetapi Ranti menyikapinya dengan hal yang berbeda, iya terdiam sejenak dan memandang ke bawah lalu kembali melihat Yudi dan tersenyum tipis.
"Kalau aku nggak akan pernah mampir ke sini lagi gimana ?." Tanyanya untuk memastikan dan ia penasaran akan jawaban hal tersebut.
"Ya nggak papa itu kan terserah Aa dan keputusan aa untuk mampir ke sini atau enggak."
"Ranti ada hal yang mau disampaikan kepadamu sebelum aku kembali ke kota, kayaknya kalau aku ke kota tanpa menyampaikan hal ini rasanya akan sangat mengganjal dan aku akan merasa tidak tenang selama hidupku."
"Emang Aa Yudi mau ngomong apa ?."
Sejenak lelaki itu merasa ragu dan ia menghela nafas berat menyampaikan hal ini dengan mantap dan kesiapan juga resiko yang akan ditanggung setelahnya.
"Janji apapun yang akan aku sampaikan Kamu tidak akan marah, aku ingin bertanya sesuatu hal dan apapun keputusanmu aku akan terima."
"Tergantung, memangnya aa Yudi mau tanya apa dulu kalau sesuatu hal yang membuatku marah ya pasti aku marah."
"Aku sebenarnya menaruh hati kepadamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments