Jejak Langkah Naila
Suara tawa Ayah masih terngiang di kepalaku. Ayah selalu punya cara membuatku lupa bahwa hidup kami serba sederhana. Kadang hanya dengan segelas teh manis dan cerita lucunya di teras rumah, dunia terasa cukup. Aku, Naila, anak keempat dari tujuh bersaudara, adalah anak yang paling dekat dengannya.
“Kalau sudah besar nanti, kamu harus jadi orang yang kuat, ya, Nak,” ucap Ayah sambil menepuk bahuku sore itu.
Aku hanya mengangguk, tak pernah menyangka kata-kata itu akan menjadi pesan terakhir yang begitu membekas.
Hari itu, Ayah pergi bersama Kak Niko untuk melamar seorang gadis bernama Siska, anak pedagang di rumah sakit swasta kota A. Segalanya berjalan seperti biasa, sampai tiba-tiba kabar buruk itu datang: Ayah pingsan di jalan.
Orang-orang bilang wajahnya pucat, tangannya gemetar, lalu jatuh begitu saja. Kak Niko panik dan membawanya ke UGD. Hasil pemeriksaan bahwa tekanan darah tinggi, pembuluh darah di kepalanya pecah.
Di rumah, aku sedang bermain ketika mendengar bisikan tetangga.
“Katanya ayahnya Naila masuk rumah sakit… kritis.”
Dadaku seperti diremas. Aku berlari pulang mencari Mama dan Tidak ada. Kutemukan Mama di rumah tetangga, sedang membantu memasak untuk selamatan.
“Ma, Ayah… Ayah masuk rumah sakit!” kataku terbata.
Mama menoleh, wajahnya tenang tapi matanya bergetar. “Jangan bercanda, Naila. Ayahmu baik-baik saja. Dia pergi sama Kak Niko.”
Aku ingin berteriak, tapi suaraku tercekat. Perasaan tak enak mulai merayapi tubuhku.
Malam itu, teman Kak Niko datang. “Cepat siap-siap, Bu. Ikut saya.”
Tapi tidak ada yang berani jujur tentang kondisi Ayah. Hanya tatapan mata yang membuatku makin gelisah.
Kak Miko, Kak Nela, dan Kak Mila yang tinggal di kota B sudah dikabari. Mereka segera pulang. Sementara aku dan Kak Keyla ditinggal di rumah, hanya bisa saling menatap, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pagi buta, Kak Nela datang. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi di meja.
“Ini, makan dulu sebelum sekolah.”
Aku heran. “Tumben Kakak pulang? Kakak mau ke mana?”
Kak Nela tersenyum tipis. “Ke rumah sakit.”
Aku ingin ikut, tapi ia pergi tanpa menjelaskan. Aku dan Keyla akhirnya tetap berangkat sekolah, pura-pura biasa, meski kepala penuh tanda tanya.
Malam pun tiba. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh ketika suara ketukan keras di pintu memecah keheningan. Aku dan Keyla belum tidur. Dengan hati-hati kubuka pintu, kulihat tetangga berdiri dengan wajah muram.
“Naila… sabar ya. Ayahmu… sudah nggak ada.”
Dunia seketika runtuh. Suara mereka seperti gema jauh yang tak ingin kudengar.
“Tidak… tidak mungkin,” bisikku. Tangisku pecah, dada sesak.
Dua jam kemudian, suara sirine ambulans mengantar pulang tubuh Ayah. Mama terduduk di lantai, seperti kehilangan separuh jiwanya. Tangannya gemetar, matanya kosong. Aku hanya bisa menatapnya, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Padahal dulu, aku dan Laila sering diajak Ayah ke tempat kerjanya di kota. Padahal aku baru benar-benar mengerti arti kasih sayang Ayah. Tapi kini… Tuhan mengambilnya. Sungguh Tuhan tidak adil.
Sejak malam itu, sifat ceria yang selalu melekat padaku ikut terkubur bersama kepergian Ayah. Aku belajar diam, belajar kuat, meski di dalam hati aku hanya anak kecil yang ingin dunia tetap sama yang dunia di mana Ayah masih ada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments