“Mana Dahayu? Ada nya datang? Kok tak kelihatan?” Sari bertanya beruntun seraya menoleh ke kiri dan kanan.
“Eh Paok nya kau tepos! Kalau uang seratus perak saja, dari jarak satu meter kelihatan. Sementara leher panjang kayak Jerapah, nggak nampak. Disamping Mak germo kita, bila bukan Dahayu, lantas siapa?!” cibir Nelli sembari memandang sinis teman dekatnya.
Sari langsung melihat sosok berbeda dari beberapa Minggu tidak dilihatnya, matanya melebar dengan mulut terbuka. “Ini kau, Yu? Kok bisa cantik dan kinclong, mandi bunga berapa warna kau? Dukun mana yang dirimu datangi, kasih tahu lah awak … biar laris manis, supaya terhindar dari pelanggan kere, uang pas-pasan minta nya servis sampai lecet-lecet lidah_”
Plak!
“Banyak kali cakap mu!” Nelli memukul pundak Sari.
“Kan betul nya, bagian mana pulak yang salah?” tukas Sari.
“Begadoh lah terus kelen! Kuadu betul macam Banteng nanti, baru tahu rasa! Kau Sari, dapat kabar dari mana si Fiya mau kawin sama Wisnu?” Mak Beti menengahi.
Sari masih terpesona oleh wajah bersih Dahayu, meneliti lengan yang kini kulitnya tak segelap dulu, lebih ke kuning langsat. “Dari duo mulut gacor si Ratna dan Tatik, mereka kan anteknya Nafiya. Dengerkan ini ya, apa kata mereka. ‘Biduan paling cantik mau menikah dengan pak mandor lapangan, sungguh pasangan serasi. Pasti nanti keturunan mereka bibit unggul’. Gitu katanya Wee.”
“Bibit unggul kepalanya itu. Hasil mencicil, iya. Baru kemarin aku ketemu Nafiya dan si Wisnu mengantri di poli kandungan. Mau apa coba kalau bukan periksa kehamilan?” Jari telunjuknya Nelli mencolek sambal rujak di cobek.
“Lah kau sendiri sedang apa disana?” tanya balik Sari.
“Mau periksa lah, siapa tahu hamil anak Setan. Soalnya sering kali aku tidur ketindihan, bangun-bangun badanku biru-biru,” jawab Nelli asal.
“Yu, kau belum jawab pertanyaanku!” Mak Beti menyenggol lengan Dayu.
Dahayu mencocol buah mangga mengkal, yang membuat ketiga orang menunggu jawabannya, menelan air liur.
“Sudah lewat itu, Mak. Aku pernah memergoki mereka adu gigi. Awalnya sakit sih, tapi kini ya sudah biasa saja! Toh, kita tak bisa memaksakan hati seseorang. Lagipula aku bersyukur kepada Tuhan, menyadarkan diri ini sebelum tenggelam lebih dalam lagi.” Calon ibu muda itu mengedikkan bahu, sikapnya acuh tak acuh.
“Pantas saja mereka buru-buru Nikah, rupanya si Nafiya mentel sudah diobo…
DEMI IBU KU SEWAKAN RAHIM INI
44 : Awalnya memang sakit
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 129 Episodes
Comments
Ratih Tupperware Denpasar
ish si napi-ya ngatain dahayu bodoh aslinya kamu thuh yg bodoh dng berita setengah kuping aja langsung percaya dan kamu telen mentah2....tunggu mbak napi kalo kamu tahu sebenernua suami dahayu siapa ? kamu jangan pingsan ya
2025-09-07
14
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq punya tp ga pernah buka. nanti q cari deh thor.
2025-09-07
3
imau
kalau orang lain mungkin masih mikir mikir mau jawab apa, si Nelli main cerucus aja 😄
2025-09-07
7