BAB 2

Sani yang masih syok, menghampiri Yumi. Sekali lagi, menatap tespack di tangannya untuk memastikan. "Kamu hamil?" menatap Yumi, sebelah tangannya menyentuh bahu kakak tirinya tersebut.

"Iya," sahut Yumi dengan ekspresi datar, tanpa beban, maupun rasa bersalah. Raut wajah tersebut, sungguh tak menggambarkan ekspresi wanita yang hamil di luar nikah.

Sani menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. Ia dan Yumi tidak dekat, tak tahu seperti apa pergaulan saudaranya tersebut. "Apa Papa dan Tante Farah sudah tahu?"

"Ya, mereka sudah tahu, hanya kamu yang belum tahu," ekspresi datar Yumi, berubah menjadi senyuman, membuat kening Sani seketika mengkerut. Ia menyentuh rambut Sani, merapikan beberapa bagian yang kusut.

"Yum, are you ok?" Sani sampai bingung dibuatnya. Bukankah hamil di luar nikah itu adalah aib, tapi kenapa kakak tirinya tersebut malah terlihat bahagia.

"Of course."

Sani mundur selangkah, menelisik saudari tirinya tersebut dari atas ke bawah. Ada yang aneh disini.

"Aku sangat bahagia saat ini," dengan kedua lengan dilipat di dada, Yumi tersenyum.

Isani menggeleng, tak faham dengan Yumi. Kebahagiaan yang terpancar di wajahnya tampak begitu natural, bukan dibuat-buat.

"Em... " Yumi berjalan ke arah meja kerja Sani, mengambil sebuah foto berukuran 5R yang dipasang disebuah bingkai warna hitam, foto Sani dan Dafa. Ia tatap lekat-lekat foto tersebut. "Dia akan menikahiku," jari jempolnya, mengusap wajah Dafa dalam foto.

"Dia? Maksud kamu laki-laki yang menghamili kamu?" Sani tak faham karena Yumi berdiri membelakanginya.

"Iya, kamu benar sekali."

Sani bernafas lega, "Syukurlah kalau dia mau tanggung jawab." Pantas saja Yumi tak terlihat kalut, ternyata masalahnya sudah terselesaikan. "Jonatan, apa dia ayah dari anak itu?" Setahu dia, Jonatan adalah pacar terakhir Yumi. Yumi memang hobi gonta-ganti pacar, namun hingga usianya 28 tahun, belum juga menikah.

Yumi menggeleng sembari membalikkan badan ke arah Sani. "Dia," menunjuk foto Dafa yang ada di tangan kirinya.

"Maksud kamu?" Sani tak mau terlalu cepat menyimpulkan.

"Dafa. Dafa ayah dari anak dalam kandunganku."

Deg

Jantung Isani serasa langsung berhenti berdetak. Ia terdiam beberapa saat, sampai akhirnya menggeleng, berusaha menyangkal. "Enggak! Gak mungkin," terus menggeleng meski hatinya mulai gelisah. "Bercanda kamu gak lucu, Yum. Garing," tersenyum meski terkesan sangat dipaksakan.

Yumi tertawa terbahak-bahak, meletakkan kembali foto di tangannya ke atas meja, berjalan mendekati Isani.

"Enggak, gak mungkin!" Isani masih menggeleng, menyingkirkan tangan Yumi yang berada di bahunya.

"Isani, Isani, kamu itu terlalu lugu, terlalu bodoh!" mendorong kening Sani menggunakan telunjuknya. "Dafa sudah lama berselingkuh denganku, itupun kamu tak tahu."

Sani masih menggeleng meski matanya mulai memanas dan dadanya sesak. "Kamu bohong, Yum!"

Yumi mengambil ponsel di saku celananya. Mencari fotonya bersama Dafa, lalu menunjukkan pada Isani. "Apa sekarang, kamu percaya?" Ia menggeser satu persatu fotonya bersama Dafa.

Air mata Sani meleleh melihat begitu banyak foto Dafa bersama Yumi. Dari semua foto, yang paling membuatnya sakit hati adalah foto yang diambil di kamar Yumi, kamar yang hampir setiap hari dia bersihkan. Lututnya terasa lemas, dadanya makin sesak, dan seluruh tubuhnya gemetar.

"Sekarang kamu percayakan?" Yumi tersenyum jumawa, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. "Isani, kamu kasihan sekali. Cup, cup," mengusap punggung Sani, namun tangannya langsung ditepis kasar.

"Kenapa kamu tega melakukan ini?" dengan kedua telapak tangan terkepal kuat, Sani menatap Yumi nyalang. "KENAPA?" bentaknya tepat di depan wajah Yumi, nafasnya sampai tersengal-sengal.

"KENAPA KAMU BILANG HAH?" Yumi balik membentak, tatapannya tak kalah tajam dari Isani. "Karena aku pengen kamu merasakan, apa yang Mamaku rasakan!" ucapnya penuh penekannya. "Gak hanya Mama, tapi juga aku," menunjuk dirinya sendiri. "Gara-gara kamu dan ibu kamu, aku kehilangan sosok papa sejak kecil. Gara-gara kamu dan ibu kamu, rumah ini tidak pernah tenang, setiap hari aku harus mendengar Mama dan Papa bertengkar," Yumi tertawa sekaligus menangis.

Dulu, Yumi sering merindukan Papanya yang jarang pulang. Awalnya ia tak pernah marah karena ia fikir Papanya bekerja, namun saat tahu jika ternyata Papanya berada di rumah selingkuhannya, api amarah itu muncul di dadanya.

"Kamu merebut Papaku!" teriak Yumi, mendorong dada Isani hingga terhuyung ke belakang.

Isani tertawa ngakak, dari kedua matanya mengalir cairan bening. Bagaimana bisa dia dibilang perebut saat papa yang dimaksud, juga papanya.

"Bagaimana rasanya hah?" bentak Yumi. "Bagaimana rasanya saat calon suami kamu direbut orang?" rahangnya mengeras, telapak tangannya terkepal kuat. "Kamu tahu Isani," tersenyum, menyentuh rambut Isani, namun lagi-lagi, tangannya ditepis kasar. "Aku puas!" kedua matanya membulat sempurna. "Aku puas telah berhasil membalas dendam ku dan Mama," telunjuknya mengarah pada Isani, matanya menyala-nyala, penuh kebencian. "Aku puas melihat anak Ja lang, menerima karmanya. Aku puas karena sekarang, situasi berbalik. Akhirnya, kamu merasakan apa yang Mamaku rasakan dulu akibat ibumu, si J alang itu."

"Kamu yang ja lang!" bentak Isani, sebelah tangannya menjambak rambut Yumi. "Kamu yang Ja lang, Yumi!"

"Lepaskan!" Yumi berusaha berontak. Namun saat tak kunjung bisa melepaskan rambutnya dari tangan Sani, ia balas menjambak rambut Isani.

Keduanya terlibat adu jambak dan saling maki, seakan-akan semua perkataan kotor, sah-sah saja saat itu. Cacian, hinaan, sama-sama mereka keluarkan untuk mengungkapkan kekecewaan dan sakit hati, hingga suara gaduh mereka terdengar sampai luar kamar.

"Apa-apaan ini?" teriak Tante Farah yang baru masuk. "Lepaskan anakku!" ia langsung membantu Yumi.

PLAK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Isani saat ia dan Yumi sudah selesai adu jambak. Ia menyentuh pipinya yang panas, tersenyum sekaligus menangis.

Yumi tersenyum puas sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

"Berani sekali kamu menyakiti Yumi," bentak Tante Farah.

"Karena dia JA LANG!"

PLAK

Sekali lagi, Isani menerima tamparan keras hingga sudut bibirnya berdarah.

"Berani sekali kamu mengatai anak saya hah!" Tante Farah menatap Isani tajam. "Yang ja lang itu ibu kamu. Pelakor, perebut suami orang. Yumi dan Dafa saling mencintai, lagipula kamu dan Dafa belum menikah, masih sah-sah saja Yumi merebut."

"Sah-sah saja?" Sani sampai melongo, kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan ibu tirinya tersebut.

"Bersyukurlah saya mau menampung kamu di rumah ini, kalau tidak, kamu jadi gelandang di jalan. Jadi, jangan berani-berani pada anak saya." Farah menarik lengan Yumi meninggalkan kamar Isani.

Dengan langkah lunglai, Isani berjalan ke arah pintu, menutup lalu menguncinya. Tubuhnya ambruk ke lantai, bersandar pada daun pintu, memeluk kedua lutut sambil menangis. Teringat kembali hal-hal yang dulu dia anggap sepele, ternyata adalah hal yang luar biasa, seperti saat ia melihat kaos Dafa di kamar Yumi, juga melihat tanda merah di leher kekasihnya tersebut. Segala alasan Dafa ia terima tanpa rasa curiga sedikitpun, saking percayanya ia pada laki-laki itu. Dia marasa hanya punya Dafa, hanya Dafa yang menyayanginya, namun ternyata kepercayaannya di khianati. Sekarang, saat pernikahan sudah di depan mata, kenapa dia baru tahu semuanya. Benar kata Yumi, ia terlalu bodoh.

Terpopuler

Comments

Kar Genjreng

Kar Genjreng

😭😭sedih sekali Insani memang benar kalau ibunya merebut ayah yummy,,, tetapi kan belum tau yang sebenarnya,,, siapa tau Ayah yumi bilang kalau masih bujangan kan bisa jadi kan ,,,nah terus di sini siapa yang harus di bela dan di peraalhkan ,,, padahall Sani juga tidak mau di lahirkan dari istri yang di anggap merebut atau pELaKoR,,, makin sedih saja Sani dan ibunya apakah masih ada atau meninggal. atau pergi meninggalkan insani,,,belum tau,,,, satu hal buat Dafa ingat penghianatan mu tidak akan berumur panjang semoga Sani mendapatkan yang lebih baik,,,tapit entahlah belum paham,,, Ok makasih update nya Kak ,,

2025-08-21

1

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

Jangan menangisi laki2 speak dafa..sani? terlalu mahal air mata kamu buat menangisi laki2 penghianatt!! lebih baik kamu gagal menikah, daripada setelah menikah kamu mengetahui apa yang selama ini Dafa lakukan sama kamu. apa yang terjadi sama kamu, kali ini bukan sebuah musibah. tapi kamu terselamatkan dari laki2 tak bertanggung jawab dan kang selingkuhhh. kamu pantas mendapatkan laki2 yang lebih baik dari dafa, kalau kamu sekrang ingin menangis. menangis saja, setelah itu bangkit dan tunjukkan sama para penghianatt kalau kamu baik2 saja.

sebenarnya Yang jadi velakor itu ibunya yumi apa, ibunya sani tho? 🤭 Apa ibunya sani sebenarnya cinta pertama ayahnya sani 😁 dan tante farah sebenarnya pelaku tapi berkedok korban 🤭

2025-08-21

2

ElHi

ElHi

Thor...kalo kupikir dgn tenang..mereka nih satu ayah beda ibu yaa?? Ayah mereka pernah selingkuh dgn ibu Isani..lahirlah Isani tapi lalu ayahnya kembali ke ibu Yumi tapi dgn membawa Isani. Begitulah?? ato beda lagi ceritanya?

2025-08-21

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1
2 BAB 2
3 BAB 3
4 BAB 4
5 BAB 5
6 BAB 6
7 BAB 7
8 BAB 8
9 BAB 9
10 BAB 10
11 BAB 11
12 BAB 12
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 BAB 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 BAB 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 BAB 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59
60 BAB 60
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
71 BAB 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86
87 BAB 87
88 BAB 88
89 BAB 89
90 BAB 90
91 BAB 91
92 BAB 92
93 BAB 93
94 BAB 94
95 BAB 95
96 BAB 96
97 BAB 97
98 BAB 98
99 BAB 99
100 BAB 100
101 BAB 101
102 BAB 102
103 BAB 103
104 BAB 104
105 BAB 105
106 BAB 106
107 BAB 107
108 BAB 108
109 BAB 109
110 BAB 110
111 BAB 111
112 BAB 112
113 BAB 113
114 BAB 114
115 BAB 115
116 BAB 116
117 BAB 117
118 BAB 118
119 BAB 119
120 BAB 120
121 BAB 121
122 BAB 122
123 BAB 123
124 BAB 124
125 BAB 125
126 BAB 126
127 BAB 127
128 BAB 128
129 BAB 129
130 BAB 130
131 BAB 131
132 BAB 132
133 BAB 133
134 BAB 134
135 BAB 135
136 BAB 136
137 BAB 137
138 BAB 138
139 BAB 139
140 BAB 140
141 BAB 141
142 BAB 142
143 BAB 143
144 BAB 144
145 BAB 145
146 BAB 146
147 BAB 147
148 BAB 148
149 BAB 149
150 BAB 150
151 BAB 151
152 BAB 152
153 BAB 153
154 BAB 154
155 BAB 155
156 BAB 156
157 BAB 157
158 BAB 158 ( Ekstra Part)
159 BAB 159 ( Ekstra Part)
160 BAB 160 ( Ekstra Part)
161 BAB 161 ( Extra Part)
162 BAB 162 ( Extra Part)
Episodes

Updated 162 Episodes

1
BAB 1
2
BAB 2
3
BAB 3
4
BAB 4
5
BAB 5
6
BAB 6
7
BAB 7
8
BAB 8
9
BAB 9
10
BAB 10
11
BAB 11
12
BAB 12
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
BAB 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
BAB 34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
BAB 41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59
60
BAB 60
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70
71
BAB 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86
87
BAB 87
88
BAB 88
89
BAB 89
90
BAB 90
91
BAB 91
92
BAB 92
93
BAB 93
94
BAB 94
95
BAB 95
96
BAB 96
97
BAB 97
98
BAB 98
99
BAB 99
100
BAB 100
101
BAB 101
102
BAB 102
103
BAB 103
104
BAB 104
105
BAB 105
106
BAB 106
107
BAB 107
108
BAB 108
109
BAB 109
110
BAB 110
111
BAB 111
112
BAB 112
113
BAB 113
114
BAB 114
115
BAB 115
116
BAB 116
117
BAB 117
118
BAB 118
119
BAB 119
120
BAB 120
121
BAB 121
122
BAB 122
123
BAB 123
124
BAB 124
125
BAB 125
126
BAB 126
127
BAB 127
128
BAB 128
129
BAB 129
130
BAB 130
131
BAB 131
132
BAB 132
133
BAB 133
134
BAB 134
135
BAB 135
136
BAB 136
137
BAB 137
138
BAB 138
139
BAB 139
140
BAB 140
141
BAB 141
142
BAB 142
143
BAB 143
144
BAB 144
145
BAB 145
146
BAB 146
147
BAB 147
148
BAB 148
149
BAB 149
150
BAB 150
151
BAB 151
152
BAB 152
153
BAB 153
154
BAB 154
155
BAB 155
156
BAB 156
157
BAB 157
158
BAB 158 ( Ekstra Part)
159
BAB 159 ( Ekstra Part)
160
BAB 160 ( Ekstra Part)
161
BAB 161 ( Extra Part)
162
BAB 162 ( Extra Part)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!