Eternal Love

Eternal Love

Mistwood

"Kamu yakin mau pindah ke sana, Sayang?"

"Mommy dan Daddy sudah bertanya berkali-kali. Please, Mom, aku benar-benar ingin pindah ke sana," jawab Olive dengan nada memohon yang tertahan.

"Tapi Sayang, kamu akan sendirian di sana. Bagaimana kalau Mommy ikut saja?"

Ide itu lagi, batin Olive. Ibunya sudah puluhan kali mengajukan usul yang sama selama sebulan terakhir.

"Mommy sayang, kita sudah membahas ini berulang kali. Lagipula, apa Mommy lupa? Di sana aku tidak sendiri. Ada Paman Eric dan keluarganya yang akan menjagaku."

"Tapi mereka tidak tinggal satu atap denganmu, Olive," sahut ibunya, Freya, dengan nada frustrasi. "Jadi, biarkan Mommy ikut, ya?"

Olive berpaling ke arah ayahnya dengan tatapan minta tolong. "Daddyyy..." ia merengek, karena hanya William yang bisa menenangkan kekhawatiran ibunya yang berlebihan.

"Sayang, sudah, jangan dibahas lagi," sela William lembut sambil merangkul bahu istrinya. "Kamu mau meninggalkanku sendirian dengan Lily di sini?"

Olive segera menggenggam tangan ibunya, mencoba memberikan keyakinan. "Mommy, dengarkan aku. Aku tahu Mommy khawatir, tapi aku janji akan menjaga diri dengan baik. Aku tidak akan melakukan hal bodoh," bujuknya lirih. "Tolong jangan buat keputusanku goyah lagi."

Olive menghela napas pendek, lalu menambahkan, "Lily juga butuh perhatian Mommy, kan?"

Liliana Smith, adik Olive, kini sudah beranjak remaja dan duduk di bangku kelas delapan. Pagi itu Lily tidak bisa ikut mengantar karena sudah harus berangkat ke sekolah lebih awal. Mendengar nama putri bungsu mereka disebut, Freya dan William hanya bisa menarik napas panjang.

Mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu alasan kuat apa yang membuat Olive begitu bersikeras pindah ke rumah peninggalan kakek-neneknya di Mistwood—sebuah kota kecil yang jauh dan terisolasi.

"Aku hanya ingin mencari suasana baru, Mom," ujar Olive singkat setiap kali ditanya.

Sebagai orang tua, Freya dan William tentu merasa berat hati. Namun, mereka sadar Olive sudah dewasa dan berhak memilih jalannya sendiri. Meski di mata mereka, Olive tetaplah gadis kecil yang belum cukup kuat menghadapi dunia sendirian.

...----------------...

Bandara Internasional

"Jangan lupa hubungi Mommy kalau sudah sampai. Oke?" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Freya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah di tempat umum. "Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau. Jika ada masalah, beri tahu kami. Mommy akan langsung datang."

Olive melepaskan pelukan ibunya perlahan. "Jangan khawatirkan aku, Mom. Aku akan baik-baik saja. Aku menyayangimu," ucapnya tulus. Ia kemudian beralih ke pelukan ayahnya—cinta pertamanya, sosok yang selalu menjadi garda terdepan pelindungnya.

"Hubungi Daddy jika terjadi sesuatu," bisik William dalam dekapan hangat itu. "Jaga dirimu baik-baik. Paman Eric sudah menunggu di bandara sana."

"Olive sayang Daddy," lirihnya. William mempererat pelukannya sejenak sebelum akhirnya merelakan putrinya melangkah menuju pintu keberangkatan.

"Sampaikan salam untuk paman dan bibimu!" teriak Freya yang akhirnya tak kuasa menahan isak tangis. Olive hanya membalas dengan senyuman tipis dan lambaian tangan, sebuah salam perpisahan yang menandai babak baru hidupnya.

Setelah menempuh perjalanan udara selama dua jam, pesawat akhirnya mendarat di Mistwood. Meski masih berada dalam satu negara dengan Therondia—kota asalnya—perbedaan atmosfer di sini sangat terasa.

"Ah, aku pasti akan merindukan matahari," gumam Olive begitu menginjakkan kaki di luar bandara. Ia langsung disambut hujan lebat yang memaksanya berlari kecil menuju lobi.

Udara Mistwood terasa menggigit, menusuk hingga ke tulang bahkan di balik jaket tebal yang ia kenakan. Di tengah kerumunan, Olive melihat sepasang suami istri paruh baya melambai ke arahnya. Paman Eric dan Bibi Sonya.

"Olive, di sini!" seru Paman Eric.

Olive menghampiri mereka dan memberikan pelukan hangat. "Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Bibi Sonya ramah.

"Seperti yang Bibi lihat," jawab Olive dengan senyum merah delima yang tak luntur, mencoba meyakinkan kedua kerabatnya bahwa ia baik-baik saja.

"Syukurlah. Ayo pulang. Bibi sudah membersihkan rumah untukmu dan memasak makanan kesukaanmu."

"Terima kasih, Bi."

Sepanjang perjalanan, hujan tak kunjung reda. Langit tampak abu-abu pekat, seolah matahari memang enggan menampakkan diri di kota ini.

"Mistwood selalu seperti ini, ya?" tanya Olive sambil menatap butiran air yang mengalir di kaca mobil.

"Hujan adalah napas kota ini, Nak," timpal Sonya. "Di sini, matahari hanya muncul saat musim panas. Sisanya? Langit akan selalu ditutupi awan gelap."

"Oh ya, kenapa Bella tidak ikut menjemput?" tanya Olive teringat sepupunya.

"Dia masih ada kelas kuliah, Sayang. Tapi tenang saja, setelah kelas selesai dia akan langsung ke rumahmu. Bella yang akan menemanimu tinggal di sana mulai sekarang," jelas Paman Eric.

Olive hanya ber-oh ria. Tinggal bersama sepupunya sebenarnya tidak ada dalam rencana awalnya, namun ia tidak keberatan. Tiba-tiba, Olive menyadari jalan yang mereka lalui terasa asing.

"Sepertinya dulu kita tidak lewat sini, Paman?"

"Jalan utama sedang ada perbaikan saluran air karena sering banjir, jadi kita lewat jalur alternatif," jelas Sonya.

Olive mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya. Pemandangan di luar tampak asri namun suram; pohon-pohon pinus menjulang tinggi di sisi jalan yang sepi. Setelah tiga puluh menit, mata Olive terpaku pada sebuah bangunan di atas bukit kecil. Sebuah rumah minimalis dua lantai yang didominasi kaca, berdiri kokoh dan tampak kontras dengan hutan di sekelilingnya.

"Indah sekali. Rumah siapa itu, Paman?" tanya Olive penasaran.

"Rumah keluarga Wilson," jawab Eric singkat.

"Kenapa mereka membangun rumah di tempat sesepi ini?" tanya Olive lagi. Sepanjang jalan yang mereka lalui, tak ada satu pun rumah penduduk lain. Hanya bangunan bernuansa putih itu yang berdiri megah secara terisolasi.

Saat mobil melintas lebih dekat, Olive tanpa sengaja menangkap sebuah bayangan di balik jendela lantai dua. Seorang pria berkulit pucat dengan fitur wajah yang sangat tajam berdiri di sana. Pria itu menatap lurus ke arah mobil mereka—atau lebih tepatnya, menatap lurus ke arah mata Olive.

Tatapan itu begitu intens, seolah mengunci pergerakan Olive.

"Mereka pendatang baru, pindah beberapa tahun lalu," suara Bibi Sonya memecah lamunan Olive. "Keluarga yang sangat tertutup. Tuan Wilson dan istrinya adalah dosen di kampus lokal."

Olive masih menoleh ke belakang, mencoba mencari sosok pria tadi meski rumah itu sudah menjauh. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ada sesuatu yang sangat mengusik dari tatapan pria itu.

"Apakah mereka hanya tinggal berdua?" tanya Olive, pura-pura sekadar ingin tahu.

"Tidak, mereka tinggal bersama anak dan menantunya," jawab Sonya.

Olive terdiam. Rumah itu telah hilang dari pandangan, tertutup rimbunnya pepohonan Mistwood yang gelap. Namun, bayangan pria misterius dengan tatapan tajam di balik jendela kaca itu menolak pergi dari ingatannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!