Pengkhianatan

Nama Rumah Sakit Bandung Kiwari terpampang jelas di layar iPad-nya.

Lucy mengerutkan kening.

Kenapa Andika ke sana?

Rumahnya kan di Jalan Riau, ngapain jauh-jauh sampai ke Citarip?

Semakin lama ia menatap titik GPS yang diam di lokasi itu, rasa penasaran bercampur cemas mulai menekan dadanya.

Jangan-jangan dia kenapa-kenapa lagi...

Hujan di luar turun semakin deras, membentuk pola-pola acak di kaca jendela apartemennya. Lucy menggigit bibir bawahnya, menimbang sejenak. Logika bilang ia harus tunggu kabar, tapi hatinya menolak diam.

Tanpa pikir panjang, ia meraih payung dan tas kecilnya.

"Kalau bener dia sakit, terus gue cuma diem di sini doang, gimana coba?" gumamnya pada diri sendiri.

Langkah kakinya cepat menuruni koridor apartemen. Suara hujan menyambut di depan lobby—dingin, berat, tapi tak cukup untuk menghentikannya.

Lucy melangkah keluar, menembus malam Bandung yang basah, menuju arah titik GPS: Rumah Sakit Bandung Kiwari.

Wanita itu memacu mobilnya cukup cepat, hampir tanpa peduli pada rintik hujan yang terus menampar kaca depan. Wiper bekerja keras, tapi pandangannya tetap fokus pada jalanan yang basah dan sepi.

Sesampainya di area basement rumah sakit, mesin mobil ia matikan pelan.

Keheningan yang tersisa justru membuat jantungnya berdetak makin kencang.

Udara lembap bercampur bau obat yang samar-samar tercium dari ventilasi.

Lucy menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Ada perasaan aneh di dadanya—campuran antara cemas, takut, dan firasat buruk yang sulit dijelaskan. Tangannya sempat ragu di atas gagang pintu mobil.

Kok gue kaya gak enak feeling gini ya...

Matanya menatap sekeliling, mencari tanda keberadaan Andika. Tapi yang terlihat hanya deretan mobil parkir dan cahaya lampu neon yang redup.

Hujan belum juga reda ketika Lucy akhirnya tiba di depan Rumah Sakit Bandung Kiwari.

Payung hitam di tangannya bergetar halus diterpa angin malam. Setiap langkah terasa berat, bukan karena genangan air di bawah sepatu haknya, tapi karena firasat yang terus menekan dada.

Begitu mendekati pintu lobby, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang sangat ia kenal.

Andika.

Pria itu baru saja keluar dari dalam rumah sakit. Bersama seorang wanita berambut panjang, mengenakan cardigan krem.

Mereka tertawa kecil, saling menatap penuh keakraban yang nyaris menyakitkan untuk dilihat.

Langkah Lucy refleks terhenti.

Ia menunduk sedikit, bersembunyi di balik tiang dekat pintu otomatis lobby, payungnya menutupi sebagian wajah. Dari situ, suara mereka terdengar samar tapi cukup jelas menusuk telinganya.

"Sayang, kan aku udah bilang, jangan suka telat makan," suara Andika terdengar lembut, penuh perhatian.

"Lihat, sekarang kamu malah masuk rumah sakit kaya gini."

"Hehe, maaf ya Dika…" jawab perempuan itu manja, "tapi aku seneng kamu dateng. Aku kira kamu gak bakal nyusul."

"Kamu tuh gimana sih," Andika terkekeh kecil sambil membenarkan jaket wanita itu, "aku kan selalu dateng kalau kamu butuh. Kamu itu spesial, tahu?"

Lucy mengenal wanita itu, Dea. Dea Amanda, teman kuliahnya dulu.

Mulut Lucy menegang.

"Lucy, lo tuh cocok banget sama Dika," — kalimat lama dari Dea tiba-tiba berputar di kepalanya. Dulu, Dea-lah yang paling bersemangat menyatukan mereka. Yang pura-pura jadi penengah setiap kali Lucy dan Andika bertengkar.

Ironi rasanya menampar.

Yang dulu pura-pura menyemangati, kini diam-diam mengambil alih.

Lucy tersenyum miring, lebih ke geli.

"Selamat ya, Dea. Lo akhirnya dapet juga barang bekas temen lo sendiri."

Payung di tangan Lucy nyaris jatuh.

Kata sayang dan spesial dari mulut Andika bergema di kepalanya, seperti pisau kecil yang berputar perlahan di dada.

Ia menggigit bibir, mencoba menahan diri agar tidak keluar dan menampar kenyataan itu di depan wajah mereka berdua.

Tapi air mata tetap jatuh, menyatu dengan butiran hujan yang menetes di pipinya.

"Sialan…" gumamnya pelan, hampir tak terdengar di tengah derasnya hujan.

"Andika, ternyata begini ya lo di belakang gue..."

Hujan masih turun deras ketika Lucy melangkah cepat menuju mobilnya.

Tangannya gemetar saat membuka pintu, payung ia lempar begitu saja ke kursi belakang.

Begitu mesin menyala, matanya mulai memanas.

Suara tawa Andika dan perempuan tadi terus terngiang di telinga.

"Sayang…"

"Kamu spesial…"

"Sayang... sayang t*i emang!"

Kata-kata itu terasa menjijikkan sekarang.

Pedal gas diinjak sedikit dalam. Jalanan licin, tapi Lucy tak peduli.

Wiper bergerak cepat, namun pandangannya tetap kabur oleh air mata.

"Tolol banget lo Lucy astaga..." Lucy mengumpat dirinya sendiri.

"Udah dikasih tanda berkali-kali, tapi masih aja denial."

Setiap lampu jalan yang dilewatinya seperti kilatan ingatan—makan malam pertama, tawa di bioskop, janji-janji manis yang kini terasa palsu. Tangannya mengepal di setir.

"Dasar bangsat! Bertahun-tahun sia-sia aja semuanya…"

Satu tetes air mata jatuh ke punggung tangannya. Hujan di luar seolah ikut menangis bersamanya. Ia mempercepat mobil, seakan ingin melarikan diri dari semua suara di kepalanya.Namun yang tersisa hanyalah gema kesepian dan rasa jijik pada dirinya sendiri yang terlalu percaya.

Sesampainya di apartemen, Lucy tak peduli sepatu masih basah, rambut acak-acakan, atau hujan yang masih menetes dari ujung payung. Ia langsung membuka lemari. Menarik satu kotak besar dari bawah tempat tidur. Tanpa pikir panjang, semua benda yang mengingatkannya pada Andika ia lempar masuk ke dalam kotak itu.

Boneka hadiah ulang tahun, hoodie abu-abu yang pernah ia pinjamkan, tiket nonton yang masih tersimpan di dompet kecil.

"Bego banget, Lucy…" gumamnya di antara napas terengah.

"Tiap kali dia bilang sayang, gue malah percaya mentah-mentah."

Ia mengambil foto mereka berdua di pantai, menatapnya beberapa detik, lalu meremasnya sampai kusut.

"Empat tahun. Empat tahun buat orang kayak lo, Dik?! Anjing emang!"

Tangannya gemetar menahan amarah.

Satu per satu benda itu kembali dilempar masuk—gelas couple, parfum hadiah ulang tahun, bahkan gelang yang dulu sempat bikin dia senyum tiap lihatnya.

"Semua cuma dusta!"

Tendangan keras meluncur ke kotak itu hingga terguling.

Air matanya jatuh satu persatu, tapi kali ini bukan karena sedih. Lebih ke rasa muak dan jijik.

"Lo selingkuh di belakang gue, minta duitnya ke gue, tapi ketawa ketiwi sama perempuan lain??!"

"Aaarrrghh!! Gue yang bego. Gue yang terlalu percaya!"

Perempuan itu duduk di lantai, punggungnya bersandar ke kasur, napasnya terengah-engah. Kotak itu tergeletak di depannya, terbuka, isinya berantakan.

Untuk malam itu, ia tak ingin menahan apa pun. Biarlah semuanya keluar bersama tangis, amarah, dan semua kata kasar yang selama ini ia tahan demi cinta yang ternyata cuma palsu.

Di sela amarah yang belum sepenuhnya reda, Lucy menghapus air matanya dengan kasar. Napasnya masih naik turun, tapi pikirannya mulai jernih. Ia menatap iPad di meja kerja. Masih terhubung ke akun pesannya.

Jemarinya mengetik cepat, tanpa ragu sedikit pun.

Lucy:

Besok hari Minggu, HP aku ketinggalan di mobil kamu.

Anterin ke apartemen aku ya. Aku ada sesuatu buat kamu.

Pesan terkirim.

Senyum miring muncul di bibirnya—bukan senyum bahagia, tapi senyum getir yang dingin.

...----------------...

Satu kata untuk Andika? Waktu dan tempat mengumpat dipersilahkan 🔥

Jangan lupa vote, like, dan komen ya kawaann 😌

Terpopuler

Comments

MULIANA 💦

MULIANA 💦

ngumpat pake bahasa daerah ya thor. lebih puas.
yak pap ma keuh, ka lop bak set deh asei /Facepalm/

2025-10-31

0

Ratna Sumaroh

Ratna Sumaroh

hempaskan andi yang sudah bohongimu dan juga dea yang menusukmu dari belakang

2026-01-01

1

Xlyzy

Xlyzy

sebenernya dia mau bilang Lo ga cocok sama Dika tapi dia ga punya nyali makanya bilang Lo cocok banget cih... perempuan kayak gini ni cocok nya di masukin karung campak laut
siuuuuuu hilang deh

2025-10-21

0

lihat semua
Episodes
1 Reddog
2 Grab
3 Curiga
4 Pengkhianatan
5 Susah Lepas
6 Kantor Polisi
7 Kegilaan Andika
8 Akibat Andika!
9 Rumah Sakit
10 Kesepakatan
11 Gagal??!
12 HAH??! NIKAH??!
13 Keputusan Sadewa
14 SAH!
15 Serius Kok
16 Maunya apa?
17 Dilanda Bahaya
18 Orang Baru
19 Tak Terduga
20 Cemburu
21 Mulai Suka?
22 Sadewa, are you okay?
23 Sleepwalking
24 Tumbang
25 Sebuah Pertanyaan
26 Masa Lalu Sadewa 1
27 Masa Lalu Sadewa 2
28 Mertua Indah
29 Modus
30 Kedatangan Mertua...
31 No Name
32 Sedikit Kecewa
33 Perang Dingin yang Fatal
34 Cerai Aja
35 Setelah Badai
36 Seseorang Di Balik Pintu
37 Gak Bisa Udahan
38 Kejutan dari Garut
39 Orang Tua Sadewa
40 Setelah Sekian Lama
41 Tamu Tak Diundang
42 Penting
43 Bertemu Kembali
44 Hadirnya Dia
45 Gagal Move On
46 Riak Dalam Diam
47 Saya Suami Lucyana
48 Pangandaran In Love ++
49 Pangandaran In Love, lanjut? +++
50 Tragedi
51 Kepemilikan Mutlak!
52 Obsesi Part 2
53 Hampir Terkuak
54 Terkuak
55 Kepulangan
56 Surprise di Jakarta
57 Obsesi Akbar
58 Luka Sadewa
59 Aftermath!
60 Go Public
61 Go Public 2
62 2026
63 Teror dan Galih
64 Fakta yang Tertunda
65 Rahasia Arka
66 Insiden di Pabrik Walini
67 Berita yang Mengejutkan
68 After the Fall
69 Calon Ayah
70 Tebing Es yang Mencair
71 Kehangatan dan Kesunyian di Tempat Berbeda
72 Diluar Ekspetasi ++
73 End of Ahmad
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Reddog
2
Grab
3
Curiga
4
Pengkhianatan
5
Susah Lepas
6
Kantor Polisi
7
Kegilaan Andika
8
Akibat Andika!
9
Rumah Sakit
10
Kesepakatan
11
Gagal??!
12
HAH??! NIKAH??!
13
Keputusan Sadewa
14
SAH!
15
Serius Kok
16
Maunya apa?
17
Dilanda Bahaya
18
Orang Baru
19
Tak Terduga
20
Cemburu
21
Mulai Suka?
22
Sadewa, are you okay?
23
Sleepwalking
24
Tumbang
25
Sebuah Pertanyaan
26
Masa Lalu Sadewa 1
27
Masa Lalu Sadewa 2
28
Mertua Indah
29
Modus
30
Kedatangan Mertua...
31
No Name
32
Sedikit Kecewa
33
Perang Dingin yang Fatal
34
Cerai Aja
35
Setelah Badai
36
Seseorang Di Balik Pintu
37
Gak Bisa Udahan
38
Kejutan dari Garut
39
Orang Tua Sadewa
40
Setelah Sekian Lama
41
Tamu Tak Diundang
42
Penting
43
Bertemu Kembali
44
Hadirnya Dia
45
Gagal Move On
46
Riak Dalam Diam
47
Saya Suami Lucyana
48
Pangandaran In Love ++
49
Pangandaran In Love, lanjut? +++
50
Tragedi
51
Kepemilikan Mutlak!
52
Obsesi Part 2
53
Hampir Terkuak
54
Terkuak
55
Kepulangan
56
Surprise di Jakarta
57
Obsesi Akbar
58
Luka Sadewa
59
Aftermath!
60
Go Public
61
Go Public 2
62
2026
63
Teror dan Galih
64
Fakta yang Tertunda
65
Rahasia Arka
66
Insiden di Pabrik Walini
67
Berita yang Mengejutkan
68
After the Fall
69
Calon Ayah
70
Tebing Es yang Mencair
71
Kehangatan dan Kesunyian di Tempat Berbeda
72
Diluar Ekspetasi ++
73
End of Ahmad

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!