Beyond Code
Seoul, pukul 23.20.
Hujan deras menghantam jalan-jalan kota, membuat cahaya lampu lalu lintas tampak seperti garis-garis neon yang berpendar di atas aspal hitam. Air mengalir deras ke selokan, bercampur dengan suara klakson sesekali dari taksi yang terburu-buru mencari penumpang terakhir malam itu. Dari kejauhan, sirene ambulans meraung, memotong lengang dan kebisingan sekaligus.
Bagi sebagian orang, malam hujan seperti ini hanya berarti tidur lebih nyenyak.
Tapi bagi Hansung Medical Center, malam berarti permulaan.
Di ruang gawat darurat lantai dasar, suasana jauh dari tenang. Bau antiseptik bercampur dengan keringat, udara dingin dari pendingin ruangan tak mampu menutupi kehangatan tubuh puluhan orang yang lalu lalang. Monitor jantung berdentang pelan, beep… beep… beep… seakan jadi latar musik ruang trauma bay.
Dr. Han Ji-woo berdiri di tengah ruangan, matanya mengarah pada ranjang trauma yang kosong. Ia baru saja selesai dengan pasien pendarahan ringan akibat kecelakaan motor. Tangannya masih mengenakan sarung tangan lateks, penuh bercak darah yang mulai mengering. Ia melepas sarung itu, menggulungnya pelan, lalu membuangnya ke tempat sampah medis.
Sesaat, ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan denyut jantungnya sendiri.
Belum sempat duduk, ponsel di saku bajunya bergetar: pesan singkat dari paramedis.
> ETA 5 menit. Pasien tabrak lari. GCS 7. Tekanan 70/40. Syok hemoragik, kemungkinan pendarahan intraabdomen.
Mata Ji-woo langsung menajam. Ia menoleh ke arah perawat yang sedang merapikan meja.
“So-yeon-ssi, siapkan trauma bay. Pasien syok, kemungkinan laparotomi darurat.”
Yoon So-yeon, perawat IGD senior, mengangguk cepat. “Baik, Dok.”
Tangannya lincah menyiapkan peralatan: suction, set infus besar, kasa steril, dan monitor.
Pintu belakang trauma bay berderit terbuka. Dr. Park Hyun-woo, residen tahun akhir yang baru seminggu resmi ditempatkan di departemen trauma, masuk dengan wajah tegang. Rambutnya basah kuyup, entah karena hujan atau keringat.
“Pasien baru lagi?” suaranya agak panik.
“Korban tabrak lari. Tekanan rendah. Ini bisa jadi kasus besar,” jawab Ji-woo cepat. Ia menatap Hyun-woo sejenak. “Kau siap?”
Hyun-woo menelan ludah, lalu mengangguk. “Siap, Dok.”
Tapi tangannya yang memegang sarung tangan terlihat sedikit gemetar.
Belum sempat mereka menyiapkan semuanya, pintu trauma bay terbuka keras. Dr. Lee Min-seok, kepala departemen trauma, masuk dengan jas operasi biru gelap. Wajahnya serius, garis-garis tegas di kening menunjukkan usia dan pengalaman.
“Ada laporan tabrak lari?” tanyanya, suaranya berat, tanpa basa-basi.
“Ya, Dok. ETA tiga menit. Tekanan rendah, kemungkinan intraabdomen bleeding.”
Ji-woo melaporkan cepat.
Min-seok menatapnya dengan dingin. “Kau rencana langsung operasi?”
Ji-woo menahan napas sebentar. “Kalau memang pendarahan masif, kita tidak punya waktu untuk CT scan.”
“Hm.” Min-seok hanya mendengus, lalu melirik jam di dinding. “Kita lihat saja.”
Suasana trauma bay menegang. Semua orang tahu: bentrokan prinsip antara Min-seok dan Ji-woo sudah jadi rahasia umum. Yang satu penuh idealisme, yang satu pragmatis dan keras.
Sirene ambulans semakin dekat, menggema sampai ke ruang trauma. Semua kepala menoleh ke arah pintu.
Beberapa detik kemudian, pintu IGD terbuka, dan dua paramedis masuk sambil mendorong stretcher.
“Laki-laki, sekitar 25 tahun! Tabrak lari! Tekanan 70/40, nadi 140! Luka tembus di perut kiri bawah, pendarahan aktif!” teriak salah satu paramedis.
“Cepat, pindahkan ke ranjang trauma!” Ji-woo langsung bergerak, membantu mengangkat pasien ke meja.
Seorang pria muda dengan wajah pucat terbaring, darah menodai bajunya. Dadanya naik-turun pelan, hampir tak terlihat. Monitor portable berbunyi lemah: beep… beep…beep..
So-yeon segera memasang dua jalur infus besar. “Infus Ringer lactate jalan!”
Hyun-woo sibuk memasang monitor jantung dan saturasi oksigen.
Ji-woo memeriksa perut pasien, darah segar terus keluar. “Kita butuh operasi segera. Ini liver atau limpa yang robek.”
Min-seok melangkah mendekat, melihat cepat. “Bawa CT scan dulu. Kita butuh gambaran jelas sebelum membuka.”
“Pasien bisa mati di jalan kalau kita tunggu CT!” suara Ji-woo meninggi, penuh tekanan.
Hening beberapa detik. Monitor berdetak cepat, suara hujan di luar makin deras.
Akhirnya Min-seok menatap tajam. “Kau tanggung jawab penuh kalau gagal.”
Ji-woo hanya mengangguk, tak ada waktu untuk debat lagi.
“Siapkan ruang operasi! Laparotomi darurat sekarang juga!” teriak Ji-woo.
Lampu sorot operasi dinyalakan, sinarnya menusuk ruangan.
So-yeon meletakkan instrumen di meja: pisau bedah, klem, benang jahit.
Hyun-woo menyiapkan suction, meski tangannya masih sedikit gemetar.
Ji-woo mengenakan sarung tangan baru. Ia menghela napas, lalu menatap wajah pucat pasien sebentar.
“Aku akan menyelamatkanmu,” bisiknya lirih.
“Scalpel.”
Pisau bedah berpindah ke tangannya. Dengan satu gerakan tegas, ia mengiris perut pasien.
Darah langsung menyembur.
“Suction! Compress!” Ji-woo berseru cepat.
So-yeon menekan kasa ke area perdarahan. Hyun-woo berusaha mengisap darah dengan suction, tapi tangannya goyah, selangnya beberapa kali tergelincir.
“Hyun-woo! Fokus! Jangan biarkan darah menutup lapangan!” Ji-woo membentak.
“Y-ya, Dok!” Hyun-woo terbata.
Ji-woo mengintip organ dalam yang banjir darah. Hati terlihat robek parah, darah keluar deras.
“Ini liver rupture. Parah sekali.”
So-yeon melaporkan cepat, “Tekanan turun lagi, 60/30! Nadi tidak teraba jelas!”
“Transfusi darah, cepat!” Ji-woo berteriak.
Perawat lain masuk membawa kantong darah, menghubungkannya ke infus.
Min-seok berdiri di belakang, mengawasi, wajahnya datar. “Cepat atau dia mati di meja.”
Ji-woo mengabaikan komentar itu. Tangannya bergerak cepat, menjepit pembuluh yang robek, lalu mencoba menjahit sobekan hati.
Darah menutupi sarung tangannya, keringat menetes di keningnya meski ruangan dingin.
Monitor semakin cepat: beepbeepbeep, lalu mendadak… melambat.
“Pressure dropping! 40/20!” teriak So-yeon, wajahnya tegang.
Ji-woo menekan luka, mencoba mempertahankan. “Bertahanlah… bertahanlah…”
Monitor berbunyi panjang: beeeeeep—
Semua orang membeku. Garis lurus hijau menguasai layar.
“Tidak… jangan sekarang!” Ji-woo refleks melakukan kompresi jantung. “Adrenalin, satu ampul! Cepat!”
So-yeon menyuntikkan obat. Hyun-woo menekan balon ventilasi. Suasana penuh kepanikan.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Monitor tetap lurus.
“Time of death, 23:47.”
Suara Min-seok datar, tajam, tanpa emosi.
Sarung tangan Ji-woo berlumuran darah. Tangannya berhenti di dada pasien. Matanya kosong, menolak menerima kenyataan.
So-yeon menyentuh lengannya pelan. “Dokter… sudah cukup.”
Ji-woo melepaskan tangannya, darah menetes ke lantai.
Hening berat menggantung.
Di luar, hujan masih mengguyur Seoul.
Dan di ruang trauma bay yang dingin, Ji-woo tahu,malam ini baru permulaan.
Ruangan operasi terasa hening setelah suara flatline itu.
Bahkan bunyi hujan yang menghantam kaca jendela terasa lebih nyaring dibanding detak monitor yang kini mati.
Satu per satu, instrumen operasi ditaruh kembali ke meja, terdengar denting logam yang seakan menekankan kegagalan. Bau besi dari darah bercampur dengan aroma antiseptik, menusuk hidung, membuat tenggorokan Ji-woo terasa kering.
Ia masih berdiri di sisi meja, menatap tubuh kaku pasien yang kini hanya seonggok daging tanpa nyawa. Sarung tangannya kaku, basah oleh darah beku. Rasanya, dunia seakan berhenti di detik itu.
Yoon So-yeon melepaskan masker dari wajahnya, menarik napas dalam. Matanya menatap Ji-woo, ada kelelahan sekaligus iba di sana. Ia sudah sering melihat kematian, tapi selalu tahu ketika seorang dokter muda sulit menerima kenyataan itu.
“Dokter Han…” suaranya lembut, seakan berusaha mengembalikan Ji-woo ke bumi.
Namun sebelum Ji-woo menjawab, suara berat Min-seok memotong udara.
“Berhenti menyalahkan takdir. Kau terburu-buru.”
Ji-woo mengangkat kepalanya, menoleh dengan tatapan tajam. “Apa maksud Anda?”
“Kau memutuskan laparotomi terlalu cepat. Kalau kau bawa ke CT lebih dulu, kita mungkin bisa melihat letak robekan lebih jelas, menyiapkan strategi yang tepat. Sekarang? Kau membuka, tapi tak bisa mengendalikan perdarahan masif itu.”
Ji-woo mengepalkan tangan di balik sarung tangannya. “Pasien sudah syok, tekanan 70. Kalau kita tunggu CT, dia bisa mati di koridor. Aku tidak menyesali keputusanku.”
“Hasilnya sama saja, kan?” Min-seok balas dingin. “Dia mati juga.”
Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari pisau bedah.
So-yeon memalingkan wajahnya, mencoba menghindari percikan api yang jelas terlihat.
Ji-woo maju setapak, wajahnya memerah karena emosi. “Apakah setiap pasien mati selalu salahku? Seakan Anda tidak pernah gagal?!”
Tatapan Min-seok tidak bergeser sedikit pun. “Bedanya, aku belajar dari kegagalanku. Kau?”
ia mendekat, suaranya lebih rendah, penuh tekanan. “Kau hanya terjebak dalam idealisme. Kau ingin jadi pahlawan di meja operasi, tapi lupa kalau pahlawan tidak selalu menyelamatkan semua orang.”
Ji-woo terdiam. Hatinya berdegup keras, bukan karena takut, tapi marah dan terluka. Kata-kata itu seperti mengoyak luka lama yang belum sembuh.
Hyun-woo, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat, akhirnya membuka suara pelan.
“Saya… saya yang salah, Dok. Suction saya tidak stabil, saya”
“Bukan saatnya menyalahkan diri sendiri, Park.” Min-seok memotong. “Tugasmu hanya belajar. Semua tanggung jawab ada pada operator.”
Ucapan itu kembali menusuk Ji-woo. Ia merasakan tatapan semua orang di trauma bay, meski tak seorang pun berani bicara.
So-yeon akhirnya melangkah maju, berusaha menengahi. “Sudah cukup. Pasien sudah pergi. Kita punya pasien lain yang menunggu. Jangan biarkan perdebatan ini mengganggu tim.”
Min-seok menarik napas, lalu melepas sarung tangannya dengan gerakan kasar. “Bersihkan. Panggil forensik untuk dokumentasi. Aku akan menulis laporan.”
Tanpa menoleh lagi, ia keluar ruangan, meninggalkan hawa dingin yang lebih menusuk dibanding AC.
Pintu menutup. Hening.
Ji-woo berdiri kaku, tangannya masih menggenggam kosong. Pandangannya kabur, antara amarah dan rasa bersalah. Ia melepas sarung tangannya, satu demi satu, mendengar bunyi plop lembut saat sarung itu jatuh ke tong limbah medis.
“Dokter Han…” suara So-yeon kembali pelan, kali ini lebih seperti seorang kakak. “Kau sudah melakukan yang bisa dilakukan.”
Ji-woo hanya menggeleng. “Tidak. Aku seharusnya bisa lebih cepat. Seharusnya…” suaranya tercekat. “Seharusnya dia tidak mati di meja ini.”
So-yeon menatapnya beberapa detik, lalu memutuskan tidak menambah kata-kata. Ia tahu, tak ada kalimat yang bisa benar-benar menenangkan dokter muda yang baru kehilangan pasien pertama malam itu.
Hyun-woo akhirnya memberanikan diri mendekat. “Sunbaenim… saya benar-benar minta maaf. Saya ceroboh…”
Ji-woo menoleh, menatap wajah muda yang penuh rasa bersalah itu. Untuk sesaat, ia ingin menyalahkan, ingin melampiaskan amarahnya. Tapi yang ia lihat hanyalah dirinya sendiri beberapa tahun lalu,gemetar, takut, dihantui setiap kesalahan.
“Bukan salahmu, Hyun-woo.” Ji-woo akhirnya berkata, suaranya pelan tapi tegas. “Di trauma bay, bahkan satu detik bisa jadi perbedaan antara hidup dan mati. Kau akan belajar.”
Mata Hyun-woo memerah, ia menunduk dalam. “Ya, Dok.”
Suasana kembali hening.
Di meja operasi, tubuh pasien sudah ditutup kain putih. Wajah mudanya tampak damai, seakan tertidur.
Ji-woo menatap kain itu lama sekali. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya, apakah orang ini punya keluarga yang sedang menunggu kabar?
Apakah ada seseorang di luar sana yang akan hancur ketika mendengar berita kematian ini.
Ia menarik napas panjang, lalu berkata datar, “Bersihkan meja. Siapkan trauma bay lagi. Malam ini belum berakhir.”
So-yeon menatapnya sekilas, mengangguk. “Baik, Dok.”
Hyun-woo pun ikut bergerak, meski langkahnya berat.
Sementara itu, Ji-woo melangkah keluar ruangan, berjalan di lorong IGD yang penuh dengan pasien lain. Anak kecil menangis di kursi tunggu, seorang wanita muda berlumuran darah dibopong ke ruang tindakan, dan seorang pria tua memohon obat penahan nyeri.
Dunia tidak berhenti meski satu nyawa baru saja pergi.
Trauma bay tidak pernah berhenti.
Ji-woo berdiri di ujung lorong, menatap hujan deras di luar kaca.
Dalam hatinya, satu kalimat berulang-ulang:
“Aku gagal. Tapi aku tidak boleh berhenti. Tidak malam ini. Tidak selamanya.”
Hujan di luar belum juga reda. Butiran air mengalir deras di kaca lorong, memantulkan cahaya lampu neon rumah sakit yang dingin.
Ji-woo berdiri beberapa detik lebih lama, mencoba meredakan denyut di pelipisnya. Tapi suara intercom kembali pecah, membuyarkan keheningan batinnya.
> “Trauma bay, bersiap! Ambulans ETA tiga menit! Korban tabrak lari, laki-laki, perkiraan umur 30 tahun, tidak sadar, perdarahan masif di kepala dan dada!”
Suara operator IGD menggemuruh di seluruh lantai.
Ji-woo menutup matanya sejenak. Baru saja satu pasien pergi, kini pasien lain sudah dalam perjalanan menuju meja operasi.
Tidak ada waktu untuk berkabung. Tidak ada jeda untuk menarik napas panjang.
Langkah-langkah cepat terdengar dari belakang. So-yeon berlari mendekat sambil merapikan sarung tangannya. “Dokter Han! Ambulans kedua sudah sampai di pintu masuk. Paramedis bilang pasien sangat tidak stabil.”
Ji-woo menoleh, mencoba menyembunyikan getar di suaranya. “Siapkan ruang resusitasi. Hubungi radiologi, mungkin kita butuh CT segera.”
So-yeon mengangguk, tapi matanya memperhatikan wajah Ji-woo dengan seksama. Ada keraguan, seakan ingin bertanya apakah Ji-woo baik-baik saja setelah kejadian tadi. Namun, ia tahu tidak ada waktu untuk itu.
Mereka berdua melangkah cepat ke pintu trauma bay.
Suara sirine ambulans masih terdengar samar, mendekat.
Pintu otomatis terbuka. Udara dingin malam bercampur bau aspal basah langsung menerpa wajah Ji-woo. Hujan deras membuat lampu jalan tampak buram, dan suara roda tandu ambulans berdecit saat paramedis mendorong korban masuk.
“Laki-laki, sekitar 30 tahun, tidak sadar sejak lokasi kejadian!” teriak paramedis dengan suara keras di tengah hiruk-pikuk.
“Tekanan 60 per 40, nadi cepat 150, pupil anisokor, kemungkinan cedera otak berat! Luka terbuka di dada kiri, kemungkinan hemothorax!”
Darah masih mengalir deras dari sisi kepala pasien, membasahi perban seadanya yang ditempelkan paramedis. Wajahnya pucat, bibir membiru. Setiap detik terasa begitu rapuh, seakan nyawa pria itu tergantung hanya pada seutas benang tipis.
Ji-woo segera mengambil alih. “Pindahkan ke meja trauma bay! Cepat!”
Tandu didorong, suara roda beradu dengan lantai licin. Tim medis yang sudah bersiap langsung bergerak dalam harmoni kacau,seseorang menyiapkan infus, yang lain menempelkan elektroda monitor, So-yeon membuka jalan napas dengan laringoskop.
Monitor menyala.
Beep… beep… beep.
Ji-woo melirik angka yang membuat dadanya sesak: tekanan darah turun, saturasi menukik.
“Pasang dua jalur besar-bore IV! Masukkan cairan cepat!”
“Ya, Dok!” suara Hyun-woo terdengar sedikit gemetar, tapi tangannya berusaha gesit saat menusukkan jarum.
“Chest tube, cepat!” Ji-woo bersuara keras.
So-yeon sudah sigap, mengambil set tube thoracostomy. Dalam hitungan detik, ia menusukkan trokar ke sela iga, suara pshh terdengar ketika udara bercampur darah keluar deras. Cairan merah gelap mengalir ke tabung drainase.
Saturasi naik sedikit.
Ji-woo hampir merasa lega, tapi pandangannya tertuju pada kepala pasien yang masih berdarah deras. “Kita butuh CT kepala, segera!”
Namun saat ia mengucapkan itu, suara berat memotong dari pintu.
“Tidak ada waktu untuk CT.”
Ji-woo menoleh. Kang Min-seok berdiri di ambang pintu, tubuhnya masih basah kuyup oleh hujan, rambut meneteskan air. Wajahnya dingin seperti sebelumnya, tapi mata tajamnya langsung tertuju pada pasien.
“Pupil anisokor, tensi sudah jatuh. Dia tidak akan bertahan jika kau buang waktu untuk CT.”
Ji-woo merasakan amarah naik lagi. “Kita butuh konfirmasi pendarahan intrakranial. Kalau asal buka kepala tanpa imaging, kita bisa salah lokasi.”
Min-seok berjalan masuk, sarung tangan sudah terpasang. “Dan kalau kau buang waktu, dia mati sebelum sempat kau buka. Pilih, Han Ji-woo.”
Udara di trauma bay seketika tegang.
So-yeon menoleh ke Ji-woo, menunggu instruksi. Hyun-woo pun berhenti sejenak, jarum di tangannya masih meneteskan cairan saline.
Ji-woo menggertakkan gigi. Bayangan pasien sebelumnya masih segar di kepalanya,flatline, tangan dingin, tubuh yang terbungkus kain putih. Ia tidak mau kehilangan pasien kedua malam ini.
“Bawa ke ruang operasi sekarang!” suaranya akhirnya pecah, penuh ketegasan bercampur putus asa.
“Kita lakukan kraniotomi emergensi. Siapkan set neurosurgery, panggil tim anestesi!”
“Baik, Dok!” So-yeon langsung bergerak.
Min-seok menatap Ji-woo sejenak, kemudian hanya mengangguk tipis. “Akhirnya kau belajar.”
Kata-kata itu terdengar seperti pujian sekaligus sindiran. Ji-woo menahan napas, menahan dorongan untuk membalas. Ini bukan waktunya. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan pasien di depannya.
Ruang operasi kembali riuh.
Lampu sorot menyorot kepala pasien, suara instrumen bedah bergantian terdengar. Keringat menetes di bawah masker Ji-woo, meski ruangan begitu dingin. Tangannya bergetar tipis ketika ia melakukan insisi pertama di kulit kepala, suara kulit terbuka bercampur darah segar yang langsung mengalir.
“Retraktor.”
“Ya, Dok.”
Setiap langkah adalah tarian di antara hidup dan mati.
Suara monitor berkejaran dengan detak jantung tim.
Ji-woo tahu, malam ini baru dimulai.
Lampu sorot menggantung rendah, sinarnya putih menusuk, memantulkan kilau dingin pada logam bedah.
Keringat membasahi dahi Ji-woo, merembes ke bawah masker, membuat napasnya terasa lebih berat. Tangannya bergerak cepat, menyibakkan darah yang terus mengalir dari luka di kepala pasien.
“Tekanan 50 per 30, turun terus!” teriak anestesiolog di sisi kanan meja.
“Tambahkan norepinefrin, cepat!” jawab Ji-woo tanpa menoleh.
Ia membuat burr hole, suara bor kecil berdengung menusuk telinga, disusul semburan darah segar yang langsung menutupi sarung tangannya. So-yeon dengan sigap menghisap darah itu, sementara Hyun-woo memegang retraktor dengan tangan bergetar.
“Tenang, stabilkan tanganmu,” kata Ji-woo cepat, meski suaranya nyaris hilang ditelan suara monitor.
Beep… beep… beep.
Nada monitor semakin lemah, intervalnya makin panjang.
Ji-woo merasakan jantungnya ikut berdegup liar. Jangan sekarang. Jangan lagi.
Bayangan pasien sebelumnya kembali menyeruak dalam pikirannya: monitor flatline, tubuh yang ditutupi kain putih. Ia hampir bisa mendengar suara tangisan keluarga di lorong.
Tangannya sedikit kaku, tapi ia paksa untuk tetap bergerak.
“Dekompresi pelan-pelan… pelan-pelan…” gumamnya, setengah untuk dirinya sendiri, setengah untuk tim.
Akhirnya, bekuan darah besar terlihat.
“Ini dia! Evakuasi hematoma!”
So-yeon menyodorkan suction. Darah hitam pekat tersedot, sedikit demi sedikit tekanan intrakranial berkurang. Monitor berbunyi lebih teratur, meski masih lemah.
“Tekanan naik, 70 per 40!” suara anestesiolog penuh harapan.
Ji-woo menarik napas berat, hampir tidak percaya. Tangannya masih sibuk membersihkan area perdarahan, tapi dadanya terasa sedikit lega.
Dia masih punya peluang…
Namun, suara dingin terdengar dari seberang meja.
“Kau hampir kehabisan waktu. Jika kau tetap keras kepala untuk CT tadi, dia sudah mati sekarang.”
Ji-woo tidak perlu melihat untuk tahu itu Min-seok. Suaranya datar, tapi menusuk seperti pisau.
Ia menahan diri untuk tidak membalas.
Saat ini bukan waktunya berdebat. Yang penting hanyalah satu: pasien.
Beberapa menit berikutnya berjalan seperti berjam-jam.
Setiap detik adalah tarian di tepi jurang.
Ji-woo merasa tubuhnya seperti mesin: pikirannya hanya berisi instruksi, matanya hanya fokus pada jaringan otak yang rapuh di depannya, tangannya bergerak tanpa henti.
Akhirnya, pendarahan berhenti.
“Tamponade selesai… hemostasis baik… kita bisa tutup.”
Satu demi satu instrumen dilepaskan. Luka dijahit perlahan. Ruangan yang tadinya dipenuhi suara panik, kini berangsur tenang.
Monitor menunjukkan stabilisasi: nadi 100, tekanan darah 90 per 60.
Masih rendah, tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Ji-woo menurunkan tangannya perlahan, merasa otot-ototnya kaku dan pegal. Sarung tangannya penuh darah, tapi di baliknya ada sedikit rasa lega.
Pasien ini,setidaknya untuk malam ini,bertahan.
Saat operasi selesai, Ji-woo berjalan keluar ruang bedah dengan langkah berat.
Lorong rumah sakit sunyi, hanya suara hujan di luar yang terdengar. Ia bersandar sejenak pada dinding dingin, melepas masker, menarik napas panjang yang terasa seperti beban.
So-yeon menyusul dari belakang. “Pasien dibawa ke ICU. Masih kritis, tapi… dia punya peluang.”
Suara lembutnya seperti oase di tengah padang gersang.
Ji-woo mengangguk perlahan. “Terima kasih, So-yeon.”
Namun sebelum ia bisa menenangkan diri, suara berat kembali datang dari arah lain.
“Jangan terlalu cepat lega.”
Min-seok berdiri dengan tangan terlipat. Wajahnya tetap dingin, matanya menatap Ji-woo tanpa sedikit pun belas kasihan.
“Dia mungkin bertahan malam ini, tapi trauma semacam itu… kau tahu risikonya. Satu langkah salah, dan semua sia-sia.”
Ji-woo menoleh, menahan amarah. “Aku tahu risikonya. Tapi setidaknya… dia masih bernapas. Itu cukup untuk sekarang.”
Min-seok mendekat, suaranya lebih rendah, tapi tajam.
“Kalau kau terus membiarkan emosimu menguasai tanganmu, kau akan kehilangan lebih banyak pasien. Trauma bay bukan tempat untuk hati yang rapuh.”
Ji-woo menatap balik, sorot matanya campuran lelah dan keras kepala. “Aku lebih suka kehilangan diriku… daripada kehilangan rasa kemanusiaan.”
Untuk sesaat, keduanya saling berhadapan, seperti dua kutub yang tak bisa disatukan.
Namun Min-seok akhirnya hanya mendengus pelan, lalu berbalik. “Kita lihat saja berapa lama kau bisa bertahan, Han Ji-woo.”
Suara langkahnya menjauh, meninggalkan lorong yang kembali sunyi.
Ji-woo menutup mata sejenak. Di dalam kepalanya, dua wajah bercampur: pasien pertama yang meninggal, dan pasien kedua yang kini berjuang di ICU.
Kemenangan dan kekalahan hanya dipisahkan hitungan menit.
Tangannya masih terasa bergetar. Ia menatap sarung tangannya yang bernoda darah—beberapa bercak menempel hingga ke lengan bajunya.
Darah itu bukan hanya milik pasien.
Rasanya seperti noda yang akan selalu melekat di dirinya.
Ia tahu, ini baru malam pertama dari banyak malam lainnya.
Tidak ada waktu untuk berduka, tidak ada waktu untuk merayakan keberhasilan.
Trauma bay akan terus memanggil, dan ia harus selalu siap.
Namun di sudut hatinya, Han Ji-woo bertanya pada dirinya sendiri:
Berapa lama aku bisa bertahan sebelum hancur seperti pasien-pasienku?
Suara hujan di luar semakin deras, seperti jawaban samar yang tidak pernah jelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments