Terperangkap Di Balik Selendang Sang Putri
"Mampus gue!" Itulah kata terakhir yang terlintas di benak Jaka sebelum truk tronton menghantam tubuhnya. Ironis memang, ajal menjemput saat matanya terpaku pada adegan ranjang di layar ponsel. Jaka memang mata keranjang akut. Baginya, melihat wanita seksi adalah hiburan nomor satu.
BRAK!
Gelap. Sepi. Kemudian...
"Apakah aku sudah mati?" tanya Jaka linglung.
Di hadapannya, seorang dewi berparas ayu tersenyum lembut. "Ya, Jaka. Selamat datang di alam baka."
Jaka mengucek mata. "Bidadarinya bening juga, ya ampun. Jadi pengen..." Gumam Jaka dalam hati.
Dewi itu terkekeh. "Kamu ini ada-ada saja. Sebenarnya, kamu belum pantas berada di sini. Tapi, karena kasihan melihatmu mati konyol, aku akan memberikanmu kesempatan kedua."
"Kesempatan kedua? Maksudnya?"
"Kamu akan kembali ke masa lalu. Tepatnya, ke zaman Kerajaan Sunda Galuh."
Mata Jaka berbinar. "Wah, asyik! Jadi pangeran, gitu? Nikah sama putri-putri cantik?"
Dewi itu menggeleng. "Kamu akan menjadi..." Dewi itu menggantung kalimatnya, "...Dyah Pitaloka Citraresmi."
DEG! Jantung Jaka serasa berhenti berdetak.
"Dyah Pitaloka? Itu kan nama cewek! Jangan bilang aku reinkarnasi jadi bencong?!" Jaka membayangkan dirinya memakai kebaya ketat, rambut disanggul, dan bibir dipoles lipstik merah menyala. "Tidak! Aku nggak mau jadi bencong!!!"
Dewi itu tertawa terbahak-bahak. "Tenang, Jaka. Kamu tidak akan jadi bencong. Kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri. Hanya saja, ragamu adalah raga Dyah Pitaloka."
Jaka masih belum sepenuhnya paham. "Maksudnya gimana, nih? Aku jadi cewek, tapi jiwa cowok?"
"Betul sekali. Ini adalah kesempatanmu untuk memperbaiki diri. Siapa tahu, dengan menjadi seorang wanita, kamu bisa lebih menghargai kaum hawa."
"Tapi, Dewi... Dyah Pitaloka itu kan putri kerajaan. Pasti banyak aturan dan tata krama yang ribet. Mana bisa aku yang urakan ini menjalaninya?"
"Itu urusanmu. Yang penting, kamu harus bisa menjaga nama baik Kerajaan Sunda Galuh."
Tiba-tiba, tubuh Jaka terasa tertarik ke dalam pusaran cahaya. "Dewi, tunggu! Aku belum siap jadi cewek! Apalagi jadi putri kerajaan! Dewi!!!"
Jaka membuka mata. Ia terbaring di ranjang mewah dengan kain sutra halus sebagai selimut. Aroma bunga melati menusuk hidungnya.
"Di mana ini?" Jaka mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa aneh. Lebih ringan, lebih lentur, dan...
Jaka menunduk. Matanya membelalak.
"ASTAGA! DADA GUE!!!"
Dua buah gunung kembar menyembul di balik kain yang menutupi dadanya. Jaka meraba-rabanya dengan gemetar. "Ini... ini beneran punya gue?"
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan masuk dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan.
"Nimas Dyah, anda sudah bangun? Syukurlah. Hamba sudah menyiapkan sarapan untuk Nimas."
Jaka, eh, Dyah Pitaloka, hanya bisa melongo. "Nimas? Hamba? Ini beneran gue jadi putri kerajaan?"
Wanita itu tersenyum. "Tentu saja, Nimas. Nimas adalah putri kebanggaan Kerajaan Sunda Galuh."
Setelah pelayan itu pergi, Jaka kembali bercermin. Ia meneliti setiap inci tubuhnya. Kulitnya halus mulus, rambutnya hitam panjang terurai indah, dan wajahnya... cantik!
"Gila! Kalau gue jadi cowok, pasti udah gue pepet nih cewek!" Jaka terkekeh. Tapi kemudian, ia tersadar. "Eh, tapi kan ini gue sendiri! Masa gue ngepepet diri sendiri?"
Jaka menghela napas. "Oke, Jaka. Sekarang lo adalah Dyah Pitaloka. Putri Kerajaan Sunda Galuh. Jangan malu-maluin, ya!"
Jaka, yang kini berwujud Dyah Pitaloka, masih berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan takjub. Wajahnya memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk seleranya yang biasa melihat wanita "berisi." Tapi yang paling mencengangkan adalah dua gundukan di dadanya.
"Ini... ini beneran punya gue?" Jaka meraba-raba dadanya lagi. Sensasi aneh menjalari tubuhnya. "Gila, ini rasanya kayak bawa dua semangka di depan. Berat juga!"
Ia mencoba berjalan, tapi langkahnya terasa canggung. Gaun sutra yang membalut tubuhnya terasa asing. "Ini baju apa sih? Ribet banget! Mana nggak ada kantongnya lagi. Terus kalau mau ngupil gimana?" Jaka membayangkan dirinya mengupil dengan anggun, lalu tersenyum kecut. "Mampus, bisa-bisa gue dikira kesurupan kalau ngupil sembarangan."
Tiba-tiba, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini, dua orang dayang muda masuk dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk.
"Nimas Dyah, saatnya mandi kembang," kata salah satu dayang dengan senyum manis.
"Mandi kembang?" Jaka mengerutkan kening. "Emangnya gue mau dikawinin apa?"
Kedua dayang itu saling pandang, sedikit bingung dengan ucapan sang putri. "Ini sudah menjadi kebiasaan Nimas setiap pagi, agar tubuh Nimas senantiasa harum dan segar."
Jaka mendengus. "Harum sih harum, tapi ribet amat. Mandi biasa aja kenapa sih?"
Dayang-dayang itu hanya tersenyum sabar. Mereka mulai melepaskan gaun yang dikenakan Jaka. Jaka sontak panik.
"Woy! Mau ngapain?!" Jaka refleks menutupi dadanya dengan kedua tangan. "Jangan sentuh-sentuh! Gue bisa mandi sendiri!"
Para dayang terkejut. "Ampun, Nimas. Hamba hanya ingin membantu Nimas melepas busana."
"Nggak usah! Gue bisa sendiri!" Jaka buru-buru mengambil handuk dan melilitkannya di tubuhnya. "Kalian tunggu di luar!"
Dengan wajah bingung, kedua dayang itu keluar dari kamar. Jaka menghela napas lega. "Hampir aja! Bisa malu tujuh turunan kalau mereka lihat 'aset' gue."
Ia melangkah ke dalam kamar mandi mewah yang dipenuhi bunga-bunga. Air hangat yang dicampur kelopak melati dan mawar memang terasa menyegarkan. Tapi, ada satu masalah besar.
"Sabunnya mana?" Jaka mencari-cari. "Ini cuma ada bunga-bunga doang? Terus keramasnya pakai apa? Nggak ada sampo, nggak ada sabun batang. Jangan-jangan mereka mandinya cuma pakai air doang?"
Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke, Jaka. Lo harus adaptasi. Ini zaman purba, Bro. Nggak ada Indomaret atau Alfamart."
Setelah mandi seadanya, Jaka kembali ke kamar. Dayang-dayang sudah menyiapkan pakaian lain: kebaya brokat yang indah dengan kain batik.
"Nimas Dyah, hari ini Nimas akan menghadap Ayahanda Prabu," kata dayang yang tadi.
"Menghadap Prabu? Ngapain?"
"Untuk sarapan pagi bersama, Nimas."
Jaka mengangguk-angguk. "Sarapan doang? Kirain mau disuruh perang."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments