05. Alena or Arum?

Aroma kopi hitam dan roti panggang seharusnya memenuhi ruang makan besar keluarga Argantara dengan kehangatan. Namun yang terasa hanyalah dingin, dingin yang berasal dari tatapan-tatapan tajam, dari kata-kata yang tak pernah diucapkan tapi terasa menggantung di udara.

Meja makan panjang dengan taplak putih dan vas mawar merah di tengahnya tampak begitu rapi dan mewah. Pelayan berdiri di sisi dinding, siap melayani, tapi tak satu pun berani bersuara.

Arum duduk di samping Reghan, menjaga jarak yang sopan. Dia menunduk, sibuk dengan piringnya, mencoba tidak memperhatikan suasana tegang di sekeliling.

Sementara di seberangnya, Alena duduk di sisi Elion tangan mereka bersentuhan, namun pandangan mata Alena bukan untuk Elion, melainkan untuk Reghan. Tatapan itu dingin, tapi penuh gejolak. Dia seperti berusaha mencari sesuatu di wajah Reghan mungkin perhatian, mungkin sisa rasa yang dulu pernah ada. Namun pria itu tak menoleh sedikit pun, hanya sibuk dengan sendok sup di tangannya.

Alena lalu melirik Arum. Senyum tipis terukir di bibirnya senyum yang lebih mirip ejekan. Arum sempat mengangkat wajah, membalas senyum itu dengan sopan. Tapi balasan Alena hanyalah helaan napas malas dan tatapan merendahkan. Keheningan itu akhirnya pecah ketika suara berat Tuan Argantara menggema di ujung meja.

“Sebelum kalian semua pergi, ada hal yang ingin aku bicarakan.”

Maya menegakkan duduknya, Elion mengangkat kepala, sementara Reghan hanya diam, rahangnya mengeras. Tuan Argantara meletakkan sendoknya, menatap ke arah Reghan dan Elion bergantian.

“Perusahaan kita sedang dalam masa penting. Aku tidak bisa terus menunggu pemulihanmu, Reghan,” katanya pelan namun tajam. “Untuk sementara waktu, aku memutuskan menunjuk Elion menggantikan posisimu sebagai CEO.”

Suara sendok Reghan terhenti di udara, ruangan mendadak hening. Elion menunduk pura-pura sopan, tapi senyum tipis di sudut bibirnya tak bisa disembunyikan. Maya menatap suaminya dengan ekspresi yang sulit ditebak antara puas dan khawatir.

Sementara Alena, yang duduk di samping Elion, hanya memandang Reghan dengan tatapan yang samar-samar seperti ingin tahu reaksi yang akan muncul. Reghan perlahan menatap ayahnya.

“Jadi, begitu mudahnya janji itu dilupakan?” suaranya pelan, tapi dingin dan tajam. “Dulu, Ayah sendiri yang bilang … apa pun yang terjadi, perusahaan itu akan tetap di tanganku.”

Tuan Argantara menatapnya dengan ekspresi datar. “Kau tidak bisa memimpin dari kursi roda, Reghan. Perusahaan butuh pemimpin yang kuat, bukan seseorang yang terus terjebak masa lalu.”

Nada itu, bagi Reghan, terdengar seperti cambuk di wajahnya sendiri. Tangan kirinya mengepal, sendok sup di tangan kanannya bergetar keras.

“Jadi ini maksud kalian?” gumamnya dengan suara berat. “Menghapusku perlahan, satu per satu, mulai dari meja ini?”

Oma Hartati yang duduk di sisi kiri Arum mulai menegakkan tubuhnya. “Argantara, tidak seharusnya hal seperti ini dibahas saat sarapan,” katanya tegas. “Kau tahu betapa sensitifnya hal ini bagi Reghan.”

Namun sudah terlambat, Reghan mengangkat tangan, dan dalam satu gerakan tiba-tiba, mangkuk sup ayam di depannya terlempar ke lantai. Cairan panas tumpah, piring-piring berderak, suara benturan memenuhi ruangan. Semua pelayan terpaku, Maya menjerit pelan. Alena justru tersenyum, senyum tipis, penuh kepuasan. Arum terlonjak, segera mendekat.

“Tuan, tolong tenangkan diri dulu,” bisik Arum lirih, mencoba menahan tangan Reghan yang bergetar di atas meja. Namun tatapan mata pria itu dingin, sangat dingin sehingga membuat darah Arum seolah berhenti mengalir.

“Jangan sentuh aku.” Suaranya datar, tapi tajam, seperti pisau. Arum sontak menunduk, melepaskan genggamannya perlahan.

Reghan menatap ayahnya dengan napas tersengal. “Jadi, semua ini rencana kalian? Meniadakan aku pelan-pelan, menjadikanku tamu di rumah sendiri?”

Tuan Argantara tidak menjawab. Hanya diam, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kata apa pun. Maya berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana.

“Kau tidak perlu berpikir sejauh itu, Reghan. Elion hanya sementara menggantikanmu. Kau harusnya berterima kasih karena adikmu bersedia membantu.”

Nada lembutnya terdengar menenangkan di permukaan, tapi di telinga Reghan, itu hanyalah racun yang dibungkus madu.

Elion tersenyum kecil, berusaha tampak tulus. “Benar, Kak. Aku hanya ingin membantu. Semua orang tahu kau lebih berpengalaman, tapi sementara kau fokus pemulihan...”

“Diam!”

Bentakan Reghan memecah udara. Tangan kirinya menghantam meja hingga gelas bergetar. Arum refleks menarik tangannya ke pangkuan, jantungnya berdegup kencang. Suasana membeku, tak seorang pun berani bergerak. Hanya Oma Hartati yang bersuara, tenang tapi tegas.

“Cukup, Argantara, aku mohon, jangan bahas hal ini lagi. Aku tidak ingin melihat cucuku kehilangan harga dirinya di depan banyak orang.”

Tatapan tajam wanita tua itu menembus ke arah Tuan Argantara. Tuan Argantara akhirnya menunduk sedikit, mencoba mengendalikan situasi.

“Baiklah, kita bicarakan nanti di ruang kerja.”

Tapi Reghan sudah lebih dulu menggerakkan kursi rodanya, menabrak kaki meja tanpa peduli, lalu berbalik meninggalkan ruangan.

“Reghan!” panggil Oma Hartati dengan nada cemas.

Arum yang duduk di sampingnya langsung berdiri, mengikuti pria itu.

“Arum, biarkan saja,” kata Maya, suaranya tenang tapi matanya menyipit sinis. “Dia hanya butuh waktu sendiri.”

Namun Arum tidak mendengarkan. Ia sudah melangkah cepat, mengejar Reghan yang meluncur ke arah taman belakang dengan wajah kelam. Begitu mereka berdua menghilang di balik pintu kaca, Alena bersandar di kursinya, senyum samar muncul di bibirnya. Dia menyendok sedikit sup yang tersisa, lalu menatap ke arah pintu keluar itu lama.

“Elion,” katanya pelan, “kau yakin dia hanya butuh waktu?”

Elion menoleh, suaranya nyaris seperti bisikan.

“Kau tak perlu mencemaskan Reghan. Tapi jangan coba-coba bermain api di depannya.”

Senyum Alena melebar, penuh arti. “Kau lupa, aku pernah terbakar olehnya.”

Oma Hartati memejamkan mata, menahan napas panjang. Ia tahu, pagi ini hanyalah awal dari badai besar yang belum reda. Sementara di taman belakang, Arum menemukan Reghan berhenti di bawah pohon kamboja tua. Pria itu memandangi bunga-bunga putih yang gugur di tanah, bahunya tegang, matanya gelap.

“Reghan…” panggil Arum pelan.

Pria itu tak menoleh.

“Pergilah,” ucapnya dingin. “Kau tidak perlu pura-pura peduli.”

“Aku tidak pura-pura,” jawab Arum lembut. “Aku hanya tidak ingin orang-orang melihatmu hancur.”

Kata itu membuat Reghan menoleh, menatapnya dengan pandangan tajam yang bergetar di tepi emosi. “Aku sudah hancur sejak lama, Arum. Dan kau … hanya bagian dari reruntuhannya.”

Arum terdiam, angin pagi meniup rambutnya, membuat helai-helai hitam itu menari di depan wajah. Ia tahu, cinta tak bisa tumbuh dari luka yang belum sembuh. Tapi di balik kemarahan Reghan, ia juga merasakan sesuatu yang lain sebuah kesepian yang sangat dalam, seperti jiwa yang terperangkap di antara harga diri dan rasa sakit.

Dengan suara nyaris berbisik, Arum berkata,

“Kalau begitu, biarkan aku bantu kau berdiri … meski hanya satu langkah.”

Reghan menunduk, tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya, tangannya yang dingin tak menepis tangan Arum ketika menyentuh bahunya. Dari kejauhan, Alena yang berdiri di balkon lantai dua memandangi mereka dengan mata berkilat. Dan senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan iri yang menusuk.

Terpopuler

Comments

iqha_24

iqha_24

penasaran nii apakah Alena mantan pacarnya Reghan ?

2025-10-15

0

Naufal Affiq

Naufal Affiq

sadar reghan,untuk saat ini keluarga mu gak ada yang benar,maka dari apa salah nya kau terbuka dengan istrimu,biar dia bisa membantu mu untuk sembuh

2025-10-15

0

Ddek Aish

Ddek Aish

penasaran si Alena tinggal disitukah tor

2025-10-15

0

lihat semua
Episodes
1 01. Satu Miliar Untuk Mahar
2 02. Rumah baru
3 03. Dia bereaksi padanya.
4 04. Aku diundang karena uang, tetapi aku akan melakukan semua dengan hati
5 05. Alena or Arum?
6 06. Rasa cemburu itu muncul sendiri tanpa diminta.
7 07. Cinta mulai tumbuh masa lalu mulai memperbarui memorinya
8 08. Semua orang punya tujuan masing masing
9 09. Aroma terapi
10 10. Denial dengan perasaan sendiri.
11 11. Jangan pergi...
12 12. Setidaknya lebih baik dari kemarin
13 13. Cucu?
14 14. Dia mulai jatuh cinta, namun tak mau mengakuinya.
15 15. Pesta pernikahan
16 16. Lebih baik pergi membawa luka
17 17. Kehilangan itu sakit
18 18. Kembali untuk berjanji
19 19. Permainan hati
20 20. Bukan aku!
21 21. Pergi kadang lebih baik dari pada tinggal tapi tak dihargai
22 22. Empat Tahun Kemudian...
23 23. Kembali ke kota yang penuh luka
24 24. Siapa dia?
25 25. Dadah Om Tampan...
26 26. Karena dia anakku!
27 27. Dia belum siap kembali ke masa itu.
28 28. Dia datang membawa luka atau menyembuhkan luka?
29 29. Jangan bicara cinta jika yang ku rasakan hanya luka.
30 30. Untuk apa kalian datang setelah menghancurkan hidup orang lain?
31 31. Aku saja yang menjadi anak, om!
32 32. badai itu akan berlalu
33 33. Kenapa kau harus datang di saat luka itu mulai sembuh?
34 34. Dua hari kemudian
35 35. Meskipun mereka mencoba hapus semua luka, tetapi rasa perih itu masih terasa
36 36. Aku berubah karena sikap kalian
37 37. Reghan
38 38. Memberi kesempatan kedua
39 39. kadang memaafkan itu mudah, tapi melupakan rasa sakit yang sulit.
40 40. Dua Minggu berlalu.
41 41.
42 42
43 43.
44 44.
45 45.
46 46.
47 47.
48 48.
49 49.
50 50.
51 51.
52 52.
53 53.
54 54.
55 55.
56 56.
57 57.
58 58.
59 59.
60 60.
61 61.
62 Pengumuman
Episodes

Updated 62 Episodes

1
01. Satu Miliar Untuk Mahar
2
02. Rumah baru
3
03. Dia bereaksi padanya.
4
04. Aku diundang karena uang, tetapi aku akan melakukan semua dengan hati
5
05. Alena or Arum?
6
06. Rasa cemburu itu muncul sendiri tanpa diminta.
7
07. Cinta mulai tumbuh masa lalu mulai memperbarui memorinya
8
08. Semua orang punya tujuan masing masing
9
09. Aroma terapi
10
10. Denial dengan perasaan sendiri.
11
11. Jangan pergi...
12
12. Setidaknya lebih baik dari kemarin
13
13. Cucu?
14
14. Dia mulai jatuh cinta, namun tak mau mengakuinya.
15
15. Pesta pernikahan
16
16. Lebih baik pergi membawa luka
17
17. Kehilangan itu sakit
18
18. Kembali untuk berjanji
19
19. Permainan hati
20
20. Bukan aku!
21
21. Pergi kadang lebih baik dari pada tinggal tapi tak dihargai
22
22. Empat Tahun Kemudian...
23
23. Kembali ke kota yang penuh luka
24
24. Siapa dia?
25
25. Dadah Om Tampan...
26
26. Karena dia anakku!
27
27. Dia belum siap kembali ke masa itu.
28
28. Dia datang membawa luka atau menyembuhkan luka?
29
29. Jangan bicara cinta jika yang ku rasakan hanya luka.
30
30. Untuk apa kalian datang setelah menghancurkan hidup orang lain?
31
31. Aku saja yang menjadi anak, om!
32
32. badai itu akan berlalu
33
33. Kenapa kau harus datang di saat luka itu mulai sembuh?
34
34. Dua hari kemudian
35
35. Meskipun mereka mencoba hapus semua luka, tetapi rasa perih itu masih terasa
36
36. Aku berubah karena sikap kalian
37
37. Reghan
38
38. Memberi kesempatan kedua
39
39. kadang memaafkan itu mudah, tapi melupakan rasa sakit yang sulit.
40
40. Dua Minggu berlalu.
41
41.
42
42
43
43.
44
44.
45
45.
46
46.
47
47.
48
48.
49
49.
50
50.
51
51.
52
52.
53
53.
54
54.
55
55.
56
56.
57
57.
58
58.
59
59.
60
60.
61
61.
62
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!