Sementara di ruang kerja istana, Zayed sedang membaca laporan digital ketika salah satu pengawalnya bicara pelan.
“Pangeran, lokasi Putri Amina terdeteksi keluar dari area istana... tanpa permintaan pengawalan.”
Zayed mengangkat kepala dengan cepat, wajahnya berubah serius. “Sendirian?”
“Sepertinya begitu.”
Zayed berdiri.
Tidak banyak yang bisa membuat dia cemas. Tapi Amina… adalah pengecualian. Ia terlalu melindungi sepupunya yang satu itu.
“Siapkan kendaraan, cepat.”
Namun sebelum pengawal itu pergi, seseorang mengirim pesan dan kembali melapor.
“Maaf Pangeran… ada satu laporan lagi. Pangeran Zaid, juga terdeteksi mengikuti Putri Amina.”
Zayed berhenti, dan wajahnya sedikit melembut.
“Syukurlah, gadis itu tidak sendirian,” gumamnya.
Tapi rasa lega itu hanya berlangsung beberapa detik, karena pengawal menambahkan.
“Dan… Putri Amina sedang bertemu seseorang bernama Malik Al-Ghassan. Data menunjukkan ia seorang pengusaha dari luar jaringan kerajaan, dan seseorang yang tidak mudah diselidiki.”
Zayed membeku, bukan masalah Malik orang biasa. Ia tak peduli status, yang ia pedulikan adalah…
“Maksudnya, tidak ada catatan penuh tentang pria itu? Tidak ada rekam keluarga? Tidak ada hubungan politik?”
“Benar, Pangeran. Orangnya terlalu ‘bersih’.”
Senyum tipis muncul di sudut bibir Zayed. “Orang yang terlalu bersih biasanya menyembunyikan sesuatu.”
Ia meraih mantel panjangnya. “Ambil tim investigasi. Kita selidiki Malik… malam ini juga.”
Sementara itu Putri Zalfa sedang bersolek di depan cermin besar, memoles bibirnya dengan warna merah marun ketika seorang pelayan mengetuk pintu.
“Putri Zalfa, aku membawa sesuatu yang mungkin Anda ingin lihat.”
Zalfa menoleh, pelayan itu memberikan tablet padanya. Ia membuka file dan wajahnya langsung berubah.
Foto Amina, di sudut kota Marina. Bersama seorang pria tampan yang bukan berasal dari kerajaan.
“Siapa ini?” tanya Zalfa tajam.
“Malik Al-Ghassan, pengusaha biasa.”
Zalfa menyipitkan mata. “Dan Amina bertemu dia diam-diam?”
“Benar, Putri.”
Senyum berbahaya muncul di bibir Zalfa.
Akhirnya, sesuatu yang bisa ia gunakan. Bukan hanya untuk menjauhkan Zayed dari Amina, tapi juga untuk mengusir gadis itu dari hidup semua orang yang memujanya.
“Kirimi aku semua rekam jejak Malik,” perintahnya.
“Tentu, Putri.”
Zalfa memiringkan kepala. “Dan pastikan, Zayed juga melihat informasi ini.”
Pelayan tampak ragu. “Apakah itu… bijaksana?”
Zalfa tersenyum pahit.
“Cinta membuat orang tidak bijaksana. Dan aku perlu membuat Zayed akhirnya memilihku… bukan saudarinya yang selalu ia lindungi itu. Aku sudah muak selalu tak dipedulikan!”
.
.
.
Amina masih berdiri bersama Malik di bawah cahaya marina.
“Aku sempat berpikir… kau tidak akan mau bertemu lagi,” kata Malik.
Amina tersenyum kecil. “Aku hanya butuh waktu.”
“Amina… jika suatu hari kau punya masalah, apa pun itu, kau bisa datang padaku. Kau bisa jadi dirimu sendiri, tanpa gelar.“
Dada gadis itu terasa hangat.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara langkah cepat terdengar dari kejauhan.
Amina menoleh. “Zaid?”
Zaid mendekat, wajahnya gelap dan tatapannya seperti badai yang siap meledak.
“Hai,” katanya dingin, tapi nadanya jelas tidak ramah.
Malik menegakkan tubuh.
“Saudara sepupu Amina, ya?”
Zaid menyeringai kecil.
“Santai saja,” Zaid menjawab sambil menatap Malik, tidak memedulikan Amina. “Aku cuma ingin tahu… apa urusanmu dengan sepupuku?”
Malik tak mundur. “Amina mengajakku bertemu.”
“Ooh, begitu.” Zaid mengangguk pelan. “Dan aku bertanggung jawab atas keselamatannya. Jadi aku harus tahu apakah kau… seseorang yang bermasalah.”
Amina menatap Zaid dengan kesal. Tapi Malik hanya tersenyum tipis, dia tidak tersinggung.
“Saya bukan pembawa masalah,” kata Malik tenang. “Saya hanya seseorang yang ingin mengenal Amina lebih dekat.”
Tapi bagi Zaid, kata-kata itu seperti percikan bensin ke api yang sudah menyala.
“Kau dengar itu, Amina?” Zaid memiringkan kepala. “Dia ingin mengenalmu lebih dekat, kau juga begitu padanya?”
Amina menutup wajahnya. “Zaid, berhenti menyebalkan!”
Ketegangan mereka mulai menarik perhatian orang sekitar, dan saat itulah mobil hitam berhenti di ujung marina.
Pintu mobil terbuka, Zayed keluar. Dengan mantel hitam panjang, wajah tegas, dan tatapan dingin.
Amina memucat, Zaid gelisah. Sementara Malik, tetap berdiri tegak.
Zayed berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya seperti bunyi palu godam, sampai ia berhenti tepat di depan Malik. “Jadi, kau Malik Al-Ghassan.”
Malik tidak gentar. “Benar.”
Zayed tidak berkedip saat menatap mata Malik. Dan ketika ia akhirnya berbicara kembali, suaranya rendah… tapi mematikan.
“Jika kau hadir hanya untuk menyakiti sepupuku, walaupun hanya satu luka kecil... aku sendiri yang akan memastikan kau menghilang dari peta negara ini.”
Amina menahan napas, namun Zaid tersenyum puas.
Malik hanya mengangguk perlahan. “Saya tidak berniat menyakiti Amina, tidak pernah.”
Zayed menatap tajam beberapa detik sebelum berbalik pada Amina. “Kita pulang.”
Amina menunduk, mengetahui dia akan mendengar ceramah panjang setelah ini.
Namun sebelum pergi, Zayed memberi satu tatapan terakhir pada Malik. Tatapan yang mengatakan 'Aku akan mengawasi setiap gerakanmu.'
Malik membalas dengan anggukan kecil. Tatapan dua pria itu saling bertabrakan dalam diam, namun penuh peringatan.
Saat Amina naik ke mobil, seseorang dari kejauhan mengamati mereka membawa kamera. Dan mengirim foto itu… kepada seseorang yang sudah lama menunggu.
Pesannya dikirim. [Putri Amina telah bertemu target utama kita... Malik.]
Dikhianati Suami Dicintai Pangeran Dubai
Chapter — 56.
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 66 Episodes
Comments
Tiara Bella
si Malik ternyata ada udang dibalik bakwan ya....trs di goreng deh
2025-11-19
2
Azahra Rahma
betul kata pangeran Zayed,,,sesuatu yg terlalu bersih justru itu yg mencurigakan dan harus di selidiki
2025-11-19
2
Desyi Alawiyah
Hmmm perasaan Zayed selalu peka, persis bapaknya, si Pangeran Fadil...
Lanjutkan Zayed, selidiki pria yang bernama Malik Al Ghassan itu 👍💪
2025-11-19
0