Sandiwara Terakhir

Tiga hari telah berlalu sejak Indira menyaksikan langsung pengkhianatan suaminya. Tiga hari di mana ia pulang ke rumah yang sama, tidur di tempat tidur yang sama, berbagi ruang dengan pria yang sama, namun semuanya terasa asing. Seperti tinggal bersama hantu. Atau lebih tepatnya, seperti menjadi hantu di rumahnya sendiri.

Indira berdiri di dapur, tangannya secara mekanis mengaduk kopi di cangkir. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Rangga akan segera turun untuk sarapan, seperti biasa. Rutinitas yang sama, sandiwara yang sama, kebohongan yang sama.

Tapi kali ini, Indira tidak lagi bodoh. Kali ini, ia bermain dengan aturannya sendiri.

Langkah kaki terdengar dari tangga. Indira tidak menoleh. Ia sudah tahu itu Rangga, langkahnya yang mantap, aroma parfum mahalnya yang menyengat, kehadirannya yang dulu membuat jantungnya berdebar kini hanya membuat perutnya mual.

"Pagi, sayang," sapa Rangga dengan nada yang dibuat-buat ceria. Ia menghampiri Indira, mencoba memeluknya dari belakang.

Indira melangkah menjauh, seolah-olah hanya ingin mengambil gula. "Pagi," sahutnya datar, tanpa menatap suaminya.

Rangga mengernyit sedikit. Ia merasakan kejanggalan itu, dinginnya sikap Indira yang semakin hari semakin membeku. Tapi ia cepat-cepat mengabaikan perasaan itu, lebih memilih menyalahkan PMS atau stres.

"Aku sudah buatkan roti panggang," kata Indira sambil menunjuk piring di meja makan. "Dan kopi sudah siap."

"Terima kasih, sayang." Rangga duduk, tersenyum, senyum palsu yang sudah ia latih bertahun-tahun untuk menutupi kebusukan di baliknya. "Kamu tidak sarapan?"

"Sudah," jawab Indira singkat. Kebohongan. Ia tidak punya nafsu makan sejak hari itu.

Mereka duduk di meja yang sama, tapi dunia mereka sudah terpisah ribuan kilometer. Rangga makan dengan santai, sesekali membuka ponselnya, mungkin membaca pesan dari dia. Indira hanya duduk di seberangnya, menatap kosong ke arah jendela, pikirannya melayang jauh.

"Oh ya, Dira," Rangga berbicara sambil mengunyah. "Aku ada kabar."

Indira menoleh, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Apa?"

"Aku harus ke luar kota. Dua minggu. Untuk proyek besar di Surabaya."

Hati Indira tersentak. Bukan karena kaget. Bukan karena sedih. Tapi karena marah. Marah pada betapa mudahnya Rangga berbohong, betapa lancarnya ia merangkai kebohongan demi kebohongan.

Dua minggu. Indira tahu apa artinya. Ia sudah melihat surat undangan itu. Pernikahan Rangga dan Ayunda dijadwalkan akhir pekan ini. Resepsi kecil hanya untuk keluarga dekat dan teman-teman terdekat. Di sebuah resort mewah di Bali. Dua minggu cukup untuk menikah dan honeymoon.

Sementara istri sahnya duduk di rumah, menunggu dengan bodohnya.

Tapi Indira tidak bodoh lagi.

"Kapan?" tanya Indira, suaranya tetap tenang.

"Besok pagi. Penerbangan jam delapan." Rangga menatap Indira, mencoba membaca reaksinya. "Kamu... tidak apa-apa aku pergi?"

"Tentu saja aku tidak apa-apa. Pergilah. Nikahi dia. Hancurkan sepenuhnya sisa-sisa pernikahan kita." Tapi yang keluar dari mulut Indira hanyalah: "Tidak apa-apa."

Rangga tampak lega. Terlalu lega. "Terima kasih, sayang. Aku tahu ini mendadak, tapi proyek ini sangat penting untuk perusahaan."

Perusahaan. Selalu perusahaan. Perusahaan keluarga Rangga yang ia kelola sebagai CEO, posisi yang ia dapatkan bukan karena kemampuan, tapi karena ia anak tunggal. Perusahaan kecil yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan, cukup untuk membuat mereka hidup nyaman tapi tidak cukup besar untuk membenarkan jam kerja Rangga yang gila-gilaan.

Atau mungkin memang tidak pernah soal pekerjaan. Selalu soal dia.

"Kamu butuh aku bantu packing?" tanya Indira, masih dengan nada yang datar.

"Ah, tidak usah. Aku bisa sendiri." Rangga berdiri, menghampiri Indira. Ia menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin dan kaku. "Dira, aku tahu belakangan ini aku sering sibuk. Aku tahu aku kurang perhatian. Tapi setelah proyek ini selesai, kita akan punya banyak waktu bersama. Aku janji."

Janji.

Kata yang sudah kehilangan maknanya.

Indira menatap tangan suaminya yang menggenggam tangannya. Tangan yang sama yang memeluk wanita lain. Tangan yang sama yang akan mengenakan cincin untuk istri keduanya.

Ia ingin menarik tangannya, ingin berteriak, ingin menampar wajah penuh kepalsuan itu. Tapi ia tidak melakukan apapun. Ia hanya duduk diam, membiarkan Rangga memainkan peran suami yang baik.

"Oke," gumam Indira. "Hati-hati di jalan."

Rangga tersenyum lebar, senyum yang membuat Indira ingin muntah. "Aku akan bawa oleh-oleh untukmu. Kamu mau apa?"

"Tidak usah. Fokus saja dengan pekerjaanmu," jawab Indira.

"Kamu ini," Rangga mencubit pipi Indira dengan gemas, gestur yang dulu manis, kini menjijikkan. "Baiklah, kalau begitu."

Ia mencium kening Indira cepat, tanpa perasaan. Lalu berlalu begitu saja, kembali ke atas untuk bersiap-siap pergi ke kantor.

Indira duduk diam di kursi itu, tangannya masih menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Ia menatap kosong ke arah tangga tempat Rangga menghilang.

Dia bahkan tidak berusaha lebih keras. Dia bahkan tidak peduli untuk membuat kebohongannya lebih meyakinkan. Karena baginya, Indira sudah terlalu jinak. Terlalu patuh. Terlalu mudah dibodohi.

Tapi Rangga salah.

Indira bukan lagi wanita yang dulu. Wanita yang menangis diam-diam di kamar mandi. Wanita yang berdoa agar suaminya selalu mencintainya. Wanita yang rela memaafkan apapun demi menjaga pernikahan.

Indira sekarang adalah wanita yang sudah melihat kebenaran. Dan kebenaran itu membebaskannya dari ilusi cinta yang sudah lama mati.

---

Malam harinya, Indira duduk di ruang keluarga, menatap televisi yang menyala tapi tidak ia tonton. Rangga sedang di lantai atas, sibuk packing untuk perjalanan bisnisnya. Suara benda-benda yang dipindahkan, suara lemari yang dibuka tutup, suara kesibukan yang dibuat-buat.

Indira menggenggam ponselnya, membuka galeri foto. Foto-foto yang ia ambil hari itu. Rangga memeluk Ayunda. Rangga mencium kening Ayunda. Bukti yang tidak bisa dibantah.

Langkah kaki menuruni tangga. Rangga muncul dengan koper besar di tangannya. Ia tersenyum ke arah Indira, senyum yang penuh dengan kepercayaan diri bahwa ia masih memegang kendali.

"Sudah siap," kata Rangga sambil meletakkan koper di dekat pintu. "Besok pagi-pagi aku akan langsung berangkat. Kamu tidak usah bangun."

"Oke," jawab Indira tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.

Rangga menghampirinya, duduk di samping Indira di sofa. Ia meraih tangan istrinya, lagi-lagi sentuhan palsu yang terasa dibuat-buat.

"Dira, aku tahu kamu sedang kesal padaku," ucap Rangga dengan nada yang dibuat serius. "Aku tahu aku mengecewakan kamu tentang rencana ke mall kemarin. Tapi percayalah, setelah ini selesai, kita akan punya banyak waktu untuk kita berdua."

Indira akhirnya menoleh, menatap mata suaminya. Mata yang dulu ia cintai. Mata yang dulu penuh kehangatan. Kini hanya mata seorang asing yang ia kenal terlalu baik.

"Rangga," Indira berbicara pelan, "apa kamu... mencintai aku?"

Rangga tersentak. Pertanyaan itu datang tiba-tiba, menohoknya tepat di hati nurani yang sudah lama ia kubur.

"Tentu saja aku mencintaimu," jawabnya cepat. Terlalu cepat. "Kenapa kamu tanya begitu?"

"Tidak," Indira menggeleng, menarik tangannya perlahan. "Aku hanya... ingin tahu."

"Dira, kamu ini kenapa sih?" Rangga mulai terdengar frustasi. "Kamu jadi aneh. Kamu jadi dingin. Ada apa sebenarnya?"

Indira tersenyum yang tidak sampai ke mata. "Tidak ada apa-apa. Aku cuma lelah."

"Kalau lelah, istirahat. Jangan berpikir macam-macam," kata Rangga sambil berdiri. "Aku mau tidur duluan. Besok harus bangun pagi."

"Oke. Selamat malam."

"Selamat malam, sayang."

Rangga menghilang ke lantai atas. Indira mendengar pintu kamar mereka tertutup. Pintu yang akan tertutup untuk selamanya setelah ini.

Ia menatap ponselnya lagi. Jemarinya bergerak, membuka kontak Rani.

"Ran, dia akan pergi besok. Untuk 'perjalanan bisnis'. Kita tahu itu artinya apa."

Balasan Rani datang cepat.

"Apa rencanamu?"

Indira diam, memikirkan jawaban. Lalu jemarinya mengetik perlahan.

"Aku akan membiarkan dia pergi. Biarkan dia menikah dengan Ayunda. Biarkan dia pikir dia menang. Dan saat dia kembali dengan segala kebohongannya, aku akan menunjukkan padanya apa artinya kehilangan kendali."

"Kamu yakin? Apa kamu tidak mau konfrontasi sekarang?"

"Tidak. Aku mau dia merasa aman. Aku mau dia pikir aku tidak tahu apa-apa. Dan saat dia lengah, saat dia pikir semuanya sudah selesai, aku akan mengakhiri semuanya dengan syarat-syaratku."

Rani membalas dengan emoji tangan mengacung tanda dukungan.

Indira mematikan ponselnya, mematikan televisi, dan duduk dalam kegelapan. Rumah ini terasa dingin. Atau mungkin hatinya yang sudah membeku.

Besok Rangga akan pergi. Akan menikahi wanita lain. Akan mengkhianatinya dengan cara paling keji di hadapan Tuhan, di hadapan keluarga, dengan sumpah dan janji yang sama seperti yang pernah ia ucapkan untuk Indira.

Tapi Indira tidak akan menangis. Tidak akan memohon. Tidak akan menunjukkan kelemahan.

Ia akan menunggu. Menunggu dengan sabar. Menunggu dengan tenang.

Karena pembalasan terbaik bukan yang cepat. Tapi yang tepat.

Dan Indira akan memastikan Rangga merasakan persis apa yang ia rasakan kehilangan, pengkhianatan, dan kehancuran total.

Hanya saja, Rangga belum tahu itu.

Belum.

Terpopuler

Comments

Night Watcher

Night Watcher

kalo cuma foto mah masih bisa disangkal, dgn dalih editan.
kenapa gak sekalian video?🤦

2026-08-22

0

Kira kira Indira mau membalas dengan cara apa ya pada suami bejatnya itu ?

2026-05-05

0

ᴍᴏʏᴀ ᴢᴀʏᴀ

ᴍᴏʏᴀ ᴢᴀʏᴀ

kira² apa yaa rencana Dira buat balas perlakuan Rangga

2026-05-17

0

lihat semua
Episodes
1 Undangan pernikahan
2 Kesempatan terakhir
3 Janji yang terlupakan
4 Kenyataan yang lebih kejam
5 Sandiwara Terakhir
6 Hadiah Pernikahan
7 Tamu Tak Diundang
8 Ratu yang Bangkit
9 Saat Segalanya Runtuh
10 Malam yang Berbeda
11 Permintaan yang Mengejutkan
12 Batas Penghinaan
13 Permulaan Perubahan
14 Realita yang Pahit
15 Jarak yang Tak Terjembatani
16 Pertemuan dengan Kakek
17 Urusan Rumah Tangga
18 Undangan reuni
19 Reuni
20 Di Balkon
21 Pengakuan dan Penguncian
22 Pelarian
23 Pagi yang Kelam
24 Kemajuan dan Undangan
25 Pertemuan Tak Terduga
26 Kejutan
27 Drama di Pesta
28 Niat Rangga dan Rani
29 Sahabat Sejati
30 Kesepakatan
31 Sidang putusan
32 Pesta Kesombongan
33 Kembali
34 Permainan berbahaya
35 Pembukaan Identitas
36 Penyesalan
37 Runtuh
38 Pesta kecil-kecilan
39 Pengungkapan
40 Kehancuran keluarga
41 Lamaran Adrian
42 Ya, untuk selamanya
43 kabar gembira
44 Persiapan pernikahan
45 Pernikahan
46 Malam pertama
47 Malam pertama 2
48 Dua sisi berbeda
49 Awal yang baru untuk Rangga
50 Pengasingan
51 Jebakan bulan madu
52 Honeymoon
53 Keruntuhan
54 Pulang
55 Kepercayaan yang diuji
56 Jujur
57 Panggilan tengah malam
58 Ajakan makan siang
59 Menguji kesabaran
60 Pelakor jahanam
61 perkembangan
62 Berakhir
63 Suami bau
64 Orang ketiga
65 Paling menderita
66 Kembar 3
67 Rindu Darren
68 Lagi-lagi Darren
69 Mencari kedamaian
70 Dibuang ke jurang
71 Menolong
72 Sadar
73 Kostum monyet
74 Kostum monyet 2
75 Kalah sama aktor
76 Kiara
77 Kembali hidup
78 Mulai tumbuh
79 Benci
80 USG
81 Tanda-tanda
82 Persalinan
83 Triplets
84 Ending
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Undangan pernikahan
2
Kesempatan terakhir
3
Janji yang terlupakan
4
Kenyataan yang lebih kejam
5
Sandiwara Terakhir
6
Hadiah Pernikahan
7
Tamu Tak Diundang
8
Ratu yang Bangkit
9
Saat Segalanya Runtuh
10
Malam yang Berbeda
11
Permintaan yang Mengejutkan
12
Batas Penghinaan
13
Permulaan Perubahan
14
Realita yang Pahit
15
Jarak yang Tak Terjembatani
16
Pertemuan dengan Kakek
17
Urusan Rumah Tangga
18
Undangan reuni
19
Reuni
20
Di Balkon
21
Pengakuan dan Penguncian
22
Pelarian
23
Pagi yang Kelam
24
Kemajuan dan Undangan
25
Pertemuan Tak Terduga
26
Kejutan
27
Drama di Pesta
28
Niat Rangga dan Rani
29
Sahabat Sejati
30
Kesepakatan
31
Sidang putusan
32
Pesta Kesombongan
33
Kembali
34
Permainan berbahaya
35
Pembukaan Identitas
36
Penyesalan
37
Runtuh
38
Pesta kecil-kecilan
39
Pengungkapan
40
Kehancuran keluarga
41
Lamaran Adrian
42
Ya, untuk selamanya
43
kabar gembira
44
Persiapan pernikahan
45
Pernikahan
46
Malam pertama
47
Malam pertama 2
48
Dua sisi berbeda
49
Awal yang baru untuk Rangga
50
Pengasingan
51
Jebakan bulan madu
52
Honeymoon
53
Keruntuhan
54
Pulang
55
Kepercayaan yang diuji
56
Jujur
57
Panggilan tengah malam
58
Ajakan makan siang
59
Menguji kesabaran
60
Pelakor jahanam
61
perkembangan
62
Berakhir
63
Suami bau
64
Orang ketiga
65
Paling menderita
66
Kembar 3
67
Rindu Darren
68
Lagi-lagi Darren
69
Mencari kedamaian
70
Dibuang ke jurang
71
Menolong
72
Sadar
73
Kostum monyet
74
Kostum monyet 2
75
Kalah sama aktor
76
Kiara
77
Kembali hidup
78
Mulai tumbuh
79
Benci
80
USG
81
Tanda-tanda
82
Persalinan
83
Triplets
84
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!