03. Mas Kapten, ayo bercerai!

Ponsel Amara bergetar di atas meja, satu pesan singkat muncul di layar,

[Datang ke kamarku, sekarang!]

Jantung Amara berdebar pelan. Pesan itu pendek, tapi tegas, seperti semua kalimat Shaka selama lima tahun pernikahan mereka. Tidak ada sapaan, tidak ada penjelasan, hanya ada perintah. Namun entah kenapa malam itu, langkahnya menuruti pesan itu tanpa berpikir panjang. Ia berhenti di depan pintu kamar Shaka dengan nomor 1509. Cahaya di lorong hotel remang, dan hatinya terasa sesak tanpa alasan.

Setelah mengetuk Amara mendapati pintu terbuka perlahan, aroma alkohol langsung menyeruak keluar, kuat dan tajam, bercampur dengan aroma maskulin yang khas milik Shaka. Lampu kamar menyala setengah, menyisakan cahaya temaram di sudut ruangan.

“Mas…” panggil Amara pelan.

Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tangan Shaka sudah menarik pergelangan tangannya dengan kuat. Tubuh Amara terhuyung dan terperangkap dalam dekapan itu hangat, kasar, dan tak terduga. Tatapan Shaka buram, tapi tajam. Matanya memerah, entah karena lelah atau karena sesuatu yang lebih dalam dari sekadar alkohol.

“Aku … hanya ingin diam malam ini,” bisik Shaka, suaranya parau. Amara tak sempat menjawab ketika Shaka menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mencium keningnya perlahan.

Ciuman itu berpindah, dari kening ke pipi, dari pipi ke bibir dan waktu seakan berhenti, tak ada logika, tak ada kata. Hanya ada dua manusia yang terlalu lelah menahan rasa yang tak pernah sempat terucap. Ciuman itu dalam, bukan sekadar pelampiasan, tapi juga pencarian. Seolah Shaka sedang berusaha menemukan sesuatu yang hilang di dalam diri Amara atau mungkin dalam dirinya sendiri.

Namun di tengah kehangatan yang membutakan, satu kata meluncur dari bibir Shaka dengan lirih.

“Karina…”

Amara membeku, seolah udara di ruangan itu lenyap seketika. Nama itu menampar kesadarannya, nama yang terlalu asing untuk keluar dari mulut suaminya, tapi juga terlalu familiar untuk diabaikan. Karina, adik angkat Shaka, gadis yang belum kembali dari luar negeri.

Gadis yang dulu Shaka sendiri setujui untuk diadopsi, hanya karena ia mirip dengan sosok misterius yang pernah menyelamatkannya lima tahun lalu. Beberapa saat berlalu, Amara menatap wajah Shaka yang kini tertidur dalam pelukannya. Air mata turun perlahan, tanpa suara. Dia tahu, Shaka tidak sadar saat menyebut nama wanita lain. Tapi kesalahan itu tetap menoreh luka di dalam hatinya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Amara sadar bahwa mungkin bukan dirinya yang benar-benar Shaka cari selama ini. Dia menatap langit-langit kamar yang gelap, memeluk suaminya dalam diam. Mungkin cinta memang bukan tentang siapa yang kau miliki di sisimu, tetapi tentang siapa yang selalu ada di pikirannya ketika matanya terpejam.

Keesokan paginya.

Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar hotel itu, lembut tapi menyilaukan. Shaka mengerjap pelan, kepala terasa berat, tenggorokan kering, dan aroma alkohol masih samar di udara. Ia menatap sekeliling kamar, baju yang tergeletak di lantai, meja dengan botol anggur kosong, dan selimut yang setengah menutupi tubuhnya. Lalu matanya berhenti pada sosok Amara yang duduk di ujung ranjang, membelakanginya.

Rambutnya terurai acak, seragam pramugarinya sudah rapi kembali, dan tangan kirinya memegang secangkir kopi.

“Pagi,” suara Shaka serak.

Amara tidak langsung menoleh. Ia hanya meneguk kopinya pelan, lalu berkata tenang, “Pagi, Kapten.”

Nada panggilan itu menusuk, Kapten bukan Mas yang seharunya Amara panggil untuk Shaka.

Shaka terdiam sesaat, mencoba mencari potongan ingatan dari malam sebelumnya, tapi semua terasa buram. Yang ia ingat hanya rasa hangat, suara lembut, dan entah kenapa, nama Karina yang terlintas sekilas di benaknya tanpa alasan.

“Amara…”

Ia mencoba membuka percakapan. Namun Amara sudah berdiri, menata tasnya dan berkata datar,

“Kita akan berangkat pukul sepuluh. Aku sudah koordinasi dengan kru, jangan terlambat.”

Shaka hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh. Ada sesuatu di cara Amara melangkah, tenang tapi dingin, seperti seseorang yang sudah selesai berharap.

Tiga minggu kemudian.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Terminal VIP.

Shaka baru saja selesai memimpin pelatihan penerbangan tahunan ketika sekretaris ayahnya, Tuan Wirantara, datang dengan wajah bersemangat.

“Kapten, nona Karina sudah kembali dari Jepang. Nona lulus dengan predikat terbaik dari Akademi Pramugari Internasional. Keluarga berharap Anda menyambutnya secara pribadi.”

Shaka menatap pria itu datar. “Karina sudah pulang?”

“Ya, dan Nona akan mulai bekerja di bawah naungan keluarga Wirantara, di bandara ini.”

Shaka hanya mengangguk, di balik ekspresi tenangnya, sesuatu bergetar halus di dadanya. Nama Karina, orang yang punya nama itu selalu dianggap spesial oleh Shaka sebelumnya. Lorong bandara sore itu ramai, tapi suasananya berubah hening ketika seorang wanita melangkah masuk dengan anggun.

Rambut cokelat panjangnya terurai, seragam pramugarinya masih baru, dan senyumnya mampu menarik pandangan banyak orang sekaligus.

“Mas Shaka!”

Suara lembut itu menggema di antara kerumunan, Shaka langsung menoleh.

Dan sebelum ia sempat bereaksi, Karina sudah memeluknya erat, tanpa ragu, tanpa peduli tatapan puluhan orang di sekitar mereka. Amara berdiri tak jauh dari situ, membawa map laporan kru penerbangan.

Langkahnya terhenti seketika, lima tahun pernikahan. Dan itu kali kedua ia melihat Karina, sekali waktu pernikahannya, lalu kini dengan cara yang sama menyakitkan, pelukan itu cukup lama.

Semua orang di terminal bisa melihat dengan jelas, termasuk awak kabin yang mengenal Shaka dan Amara sebagai rekan kerja biasa.

Bisik-bisik mulai terdengar.

“Kapten Shaka dekat sekali dengan gadis itu, ya?”

“Dia adik angkatnya, katanya. Tapi … kelihatannya lebih dari itu.”

Amara tidak bergerak, dia hanya menatap dua orang yang saling berpelukan di tengah hiruk-pikuk bandara. Senyumnya kecil, tapi getir, mungkin inilah waktunya, pikirnya lirih.

Sore itu, dengan langkah tenang dan kepala tegak, Amara berbalik meninggalkan terminal VIP. Tak satu pun orang menyadari air mata yang nyaris jatuh di sudut matanya, tertahan oleh harga diri yang ia bangun selama bertahun-tahun. Sementara dari kejauhan, Shaka baru sadar Amara ada di sana. Tatapan mereka sempat bertemu sepersekian detik. Dan entah kenapa, dada Shaka terasa sesak seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pahami.

Hujan sore menetes di kaca jendela ruang apartemen Shaka dan Amara. Langit Jakarta gelap, dan suara rintik hujan menjadi satu-satunya musik yang menemani kesunyian ruang tamu yang luas namun terasa dingin. Amara duduk di meja makan, menatap cincin di jarinya.

Cincin yang dulu ia kenakan dengan doa, kini hanya menjadi simbol keterikatan tanpa makna. Pikirannya kembali ke sore di bandara, bagaimana Karina memeluk Shaka di depan semua orang, dengan hangat, dengan rasa yang jelas bukan sekadar saudara. Dan bagaimana Shaka membiarkannya.

Amara menarik napas panjang, lalu membuka laptopnya.

Satu dokumen yang sudah lama ia simpan tanpa keberanian untuk membukanya kembali kini muncul di layar, Surat Permohonan Cerai, Pengacara Keluarga Marvionne.

Ia membaca setiap baris dengan mata yang mulai basah. Lima tahun, lima tahun ia mencoba dan lima tahun juga ia bertahan dengan kesabaran yang bahkan dirinya sendiri sudah tak mengerti.

Dia menutup laptopnya, berdiri, dan menatap pantulan dirinya di cermin besar di ruang tamu. Raut wajah yang dulu lembut kini terlihat matang, tenang, dan kuat. Dia bukan lagi gadis yang menunggu cinta. Ia adalah wanita yang tahu kapan harus berhenti.

“Cukup,” bisiknya pada diri sendiri.

Sementara itu, di kantor pusat Wirantara Airlines, Shaka tengah duduk di ruangannya yang dindingnya penuh dengan sertifikat penerbangan dan peta rute udara.

Di atas meja, tergeletak foto keluarga kecil dirinya dan Amara di hari pernikahan. Dia menatap foto itu lama, tapi kini ada sesuatu yang terasa asing. Dia mengingat pandangan mata Amara saat meninggalkan bandara kemarin. Datar, tenang, tapi menyakitkan.

Dan untuk pertama kalinya, Shaka tak bisa membohongi dirinya sendiri ada sesuatu yang hilang.

“Mas,” suara lembut menyapa dari depan pintu.

Shaka menoleh, Karina berdiri di sana, seragam barunya masih rapi, senyumnya cerah.

“Boleh aku bicara sebentar?” tanyanya.

Shaka mengangguk, berusaha tetap profesional. “Masuk, Karina.”

Gadis itu berjalan pelan mendekat. “Aku ingin bekerja di bagian informasi penerbangan pilot dan pramugari. Aku ingin belajar lebih banyak … dekat denganmu.”

Nada suaranya halus, tapi Shaka menangkap sesuatu di baliknya, perasaan yang tak seharusnya dimiliki seorang adik angkat.

“Karina,” Shaka menatapnya dalam. “Kau tahu posisimu, aku sudah menikah.”

Karina tersenyum kecil. “Aku tahu, tapi bukankah pernikahan itu … hanya formalitas di mata mereka? Kita ini keluarga Mas.”

Kalimat itu meluncur ringan, tapi menusuk dalam. Shaka menegang. “Jaga ucapanmu.”

Karina menunduk, tersenyum tipis. “Baik, Kapten.”

Malamnya, Amara pulang lebih dulu. Dia sudah menyiapkan dua cangkir teh di meja, menunggu Shaka yang belum juga pulang. Ketika suara pintu terbuka, Amara sudah tahu ke mana arah percakapan malam ini akan berujung.

Shaka menatap istrinya sejenak sebelum duduk. Ada jarak yang bahkan udara di antara mereka tak sanggup isi.

“Mas,” ujar Amara lembut. “Aku sudah lelah, Mas Shaka.”

Shaka menatapnya. “Lelah kenapa?”

“Lelah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang,” jawabnya lirih, tapi pasti.

Ia menggeser sebuah amplop putih ke hadapan Shaka.

“Ini suratnya.”

Shaka menatap amplop itu, seolah benda kecil itu adalah sesuatu yang bisa meledak kapan saja.

“Amara, kau serius?”

Amara menatap matanya tanpa gentar. “Selama ini aku mencoba menjadi istri yang baik, tapi ternyata aku hanya peran pelengkap dalam hidupmu. Jadi ya, aku serius.”

Amara kemudian berdiri, mengambil tasnya. Sebelum pergi, ia sempat menatap Shaka untuk terakhir kali malam itu.

“Mas Kapten,” suaranya pelan tapi tegas.

“Ayo kita bercerai.”

Terpopuler

Comments

Nuryanti Ajah

Nuryanti Ajah

dasar mas kapten egois d saat istri nya minta cerai mah ga mau tp ga bisa ngargain istri nya

2026-05-12

0

guntur 1609

guntur 1609

mantap jangan mau kau dijadikan keset selamanya sama si 🐒 shaka

2026-01-26

0

Lisna Lisnati Teh Amis

Lisna Lisnati Teh Amis

awas aja klu Amara ttp bertahan,hrs pergi biar suaminya yg ngejar dia

2025-12-20

0

lihat semua
Episodes
1 01. Berikan aku anak!
2 02. Ada sesuatu di hati yang sulit dijelaskan.
3 03. Mas Kapten, ayo bercerai!
4 04. Tidak akan menunggu seseorang yang sedang membuat luka lebih dalam
5 05. menjaga jarak itu penting dari orang yang membuat luka.
6 06. Dalam dua hari itu tidak mudah memutuskan hubungan tanpa cinta
7 07. Kadang pergi itu lebih baik dari pada tinggal hanya untuk terluka
8 08. Mau kamu gu-gurkan atau pertahankan anak itu?
9 09. Meski jarak memisah sementara, namun ke khawatiran itu ada.
10 10. Meski dia kembali aku akan berusaha merebut - Karina
11 11. Sekali lagi kau lebih percaya dia dari pada aku!
12 12. Sampai bertemu di pengadilan, Mas Shaka.
13 13. Meskipun aku pergi setidaknya aku akan membawa pengkhianat itu bersama
14 14. Amara siapa kamu?
15 15. Belajar menghargai sebelum kamu kehilangan, Mas.
16 16. Kenapa hanya selalu aku yang salah?
17 17. Jika aku kehilangan anakku, orang satu satunya yang salah adalah kamu!
18 18. pergilah ke adik kesayanganmu, Mas!
19 19. Siapa yang pandai bermain seperti ini?
20 20. Kamu tak pernah mau berada dipihakku kan, Mas?
21 21. Pergi tanpa menoleh
22 22. Menyesal pun tiada guna
23 23. Shaka buang berlian demi serpihan kaca
24 24. Tiga bulan kemudian
25 25. Penyesalan itu selalu datang terlambat
26 26. Meskipun jauh orang yang dikhawatirkan Amara tetap Shaka
27 27. Enam Tahun Kemudian
28 28. Dia...
29 29. Jangan pergi ... Amara
30 30. Cucu kami masih hidup?
31 31. Bukan soal cinta yang hilang tapi kepercayaan yang hancur.
32 32. dua hari berlalu.
33 33. Semakin dikejar semakin jauh
34 34. Aku berusaha bahagia ...
35 35. masih cemburu
36 36. Om! jangann dekatin mama!
37 37. Memutar balikkan fakta
38 38. Aku kembali untuk membuka mata kamu kalau selama ini kamu salah.
39 39. Karena dia ayahmu!
40 40. Dua Minggu kemudian
41 41. Dia berhak jadi ayah Azril, tetapi...
42 42. Papa jangan sakiti Mama lagi.
43 43. Memaafkan itu mudah yg sulit itu melupakan
44 44. Malam itu
45 45. Biarkan aku memelukmu!
46 46. tidak hadir maka timbul rasa rindu
47 47. Rindu tapi gensi
48 48. Aku panik, aku pikir kamu diculik.
49 49. Aku akan memperbaiki semuanya
50 50. papa janji jangan tinggalin mama ya?
51 51. Gagal bukan berarti kalah
52 52. Shaka belajar menerima apapun keputusan Amara
53 53. dua hari berlalu
54 54. Hanya saja mereka takut jika dua orang itu bersatu
55 55. Bahaya
56 56. Setidaknya dia selalu ada.
57 57. serangan dadakan
58 58. Rumah sakit
59 59. Dia selamat dan musuh hancur
60 60. Seminggu kemudian.
61 61. Akhir yang indah
62 62. Hari pernikahan
63 63. Kembali bersama
64 Pengumuman
65 65
66 66. Spesial episode Shaka & Amara
67 67
68 68. Spesial Episode
Episodes

Updated 68 Episodes

1
01. Berikan aku anak!
2
02. Ada sesuatu di hati yang sulit dijelaskan.
3
03. Mas Kapten, ayo bercerai!
4
04. Tidak akan menunggu seseorang yang sedang membuat luka lebih dalam
5
05. menjaga jarak itu penting dari orang yang membuat luka.
6
06. Dalam dua hari itu tidak mudah memutuskan hubungan tanpa cinta
7
07. Kadang pergi itu lebih baik dari pada tinggal hanya untuk terluka
8
08. Mau kamu gu-gurkan atau pertahankan anak itu?
9
09. Meski jarak memisah sementara, namun ke khawatiran itu ada.
10
10. Meski dia kembali aku akan berusaha merebut - Karina
11
11. Sekali lagi kau lebih percaya dia dari pada aku!
12
12. Sampai bertemu di pengadilan, Mas Shaka.
13
13. Meskipun aku pergi setidaknya aku akan membawa pengkhianat itu bersama
14
14. Amara siapa kamu?
15
15. Belajar menghargai sebelum kamu kehilangan, Mas.
16
16. Kenapa hanya selalu aku yang salah?
17
17. Jika aku kehilangan anakku, orang satu satunya yang salah adalah kamu!
18
18. pergilah ke adik kesayanganmu, Mas!
19
19. Siapa yang pandai bermain seperti ini?
20
20. Kamu tak pernah mau berada dipihakku kan, Mas?
21
21. Pergi tanpa menoleh
22
22. Menyesal pun tiada guna
23
23. Shaka buang berlian demi serpihan kaca
24
24. Tiga bulan kemudian
25
25. Penyesalan itu selalu datang terlambat
26
26. Meskipun jauh orang yang dikhawatirkan Amara tetap Shaka
27
27. Enam Tahun Kemudian
28
28. Dia...
29
29. Jangan pergi ... Amara
30
30. Cucu kami masih hidup?
31
31. Bukan soal cinta yang hilang tapi kepercayaan yang hancur.
32
32. dua hari berlalu.
33
33. Semakin dikejar semakin jauh
34
34. Aku berusaha bahagia ...
35
35. masih cemburu
36
36. Om! jangann dekatin mama!
37
37. Memutar balikkan fakta
38
38. Aku kembali untuk membuka mata kamu kalau selama ini kamu salah.
39
39. Karena dia ayahmu!
40
40. Dua Minggu kemudian
41
41. Dia berhak jadi ayah Azril, tetapi...
42
42. Papa jangan sakiti Mama lagi.
43
43. Memaafkan itu mudah yg sulit itu melupakan
44
44. Malam itu
45
45. Biarkan aku memelukmu!
46
46. tidak hadir maka timbul rasa rindu
47
47. Rindu tapi gensi
48
48. Aku panik, aku pikir kamu diculik.
49
49. Aku akan memperbaiki semuanya
50
50. papa janji jangan tinggalin mama ya?
51
51. Gagal bukan berarti kalah
52
52. Shaka belajar menerima apapun keputusan Amara
53
53. dua hari berlalu
54
54. Hanya saja mereka takut jika dua orang itu bersatu
55
55. Bahaya
56
56. Setidaknya dia selalu ada.
57
57. serangan dadakan
58
58. Rumah sakit
59
59. Dia selamat dan musuh hancur
60
60. Seminggu kemudian.
61
61. Akhir yang indah
62
62. Hari pernikahan
63
63. Kembali bersama
64
Pengumuman
65
65
66
66. Spesial episode Shaka & Amara
67
67
68
68. Spesial Episode

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!