Legenda Penapak Langit
Dalam sejarah benua ini, era generasi emas merupakan berkah dan kutukan secara bersamaan. Era yang melahirkan bakat dan keberuntungan bagi yang terpilih oleh takdir, namun siksaan bagi para sampingan yang tersingkir.
Sial bagi Ma Chen, dia lahir tepat di tengah badai itu.
Dalam badai yang dinamakan paviliun pelatihan. Napas Ma Chen tersengal, putus-putus seperti puputan pandai besi yang bocor.
Tangan Ma Chen gemetar hebat. Jari-jarinya memutih, mencengkeram gagang pedang dari kayu jati hitam. Bebannya terasa tidak rasional. Bukan sekadar berat massa kayu, melainkan berat ekspektasi yang perlahan membusuk menjadi keputusasaan.
Gurat hitam pada kayu itu selalu mengingatkannya pada meja makan kakeknya di desa—kokoh, kaku, dan terus mengingatkan posisinya di kasta terbawah dunia ini.
Repetisi keseribu. Teknik Blue Blade.
'Satu ayunan lagi,' batinnya.
Ia menghentakkan telapak kaki. Teknik Light Step seharusnya membuat langkah seringan bulu angsa. Bagi Ma Chen, dorongan Qi itu cuma mencegahnya tersandung sepatunya sendiri.
Ia melompat. Pinggulnya berputar di udara. Kayu pekat itu menebas angin aula latihan.
Cahaya biru super tipis berpendar sejenak di ujung bilah. Sangat tipis hingga nyaris transparan.
Tahap awal Penguasaan. Sesuatu yang biasanya dikunyah habis oleh murid jenius dalam tiga hari. Ma Chen menghabiskan waktu setahun penuh hingga muntah darah hanya untuk bisa menggunakannya dengan baik.
Tumitnya menghantam lantai batu. Bunyinya memekakkan telinga. Pendaratannya berantakan total.
Peluh membanjiri pelipis. Rasa asin merembes masuk ke mata, membakar kornea. Otot punggung dan lengannya menjerit, memohon untuk berhenti beroperasi.
"Mengingat takdirku yang pas-pasan, hasil segini lumayan," gumamnya, suaranya parau menahan perih.
Ia mengusap wajah dengan ujung lengan baju yang basah kuyup. Ma Chen sangat sadar diri. Ia bukan naga penyapu awan. Ia cuma kura-kura buta yang tersesat di kolam para monster langit. Bisa memakai seragam murid luar Sekte Blue Cloud saja sudah murni anomali alam.
'Setidaknya di sini aku bisa makan teratur, makan, dan fokus berlatih di bawah naungan,' pikirnya.
Ia memutar sirkulasi napas. Menstabilkan sisa Qi yang berantakan di dantiannya. Gerakannya malas, tapi ada jeda damai di sana. Begitu ritme jantungnya kembali beradab, ia menyarungkan pedang kayu itu.
Tepat saat ia melangkah ke ambang pintu keluar, sebuah bayangan panjang memotong jalannya.
Seseorang bersandar santai di pilar pualam. Anggun tingkat tinggi yang entah kenapa rasanya ingin kau pukul.
"Ma Chen!"
Pemuda itu berjalan mendekat. Tidak, ia tidak sekadar berjalan. Ia meluncur membelah udara. Tanpa suara benturan. Tanpa gesekan debu. Light Step yang nyaris paripurna.
Rasa iri murni menikam ulu hati Ma Chen. Cepat-cepat ia menelan rasa asam di tenggorokannya. Percuma dengki, itu hanya akan menyumbat sirkulasi kultivasinya.
Kong Gui. Bintang terang dari pusaran generasi emas. Garis rahangnya tegas, rambut hitam pekatnya terikat rapi oleh kain yang bersih. Qi di tubuhnya memancarkan aura kental yang membuat orang awam sulit bernapas.
Dunia mendadak bergeser sumbu saat Kong Gui bergerak. Sekelompok murid perempuan di pelataran seketika membeku.
Bisik-bisik meledak seperti sarang lebah yang disiram air panas.
"Itu Kong Gui ... dia tersenyum!"
"Astaga, lihat postur tubuhnya. Demi langit..."
"Tolong, dia suamiku di kehidupan selanjutnya!"
Tengkuk Ma Chen merinding keras. Berada di sebelah Kong Gui rasanya persis seperti disorot matahari siang bolong. Kulitmu melepuh terbakar dan bayanganmu lenyap ditelan cahaya.
Kong Gui menyunggingkan senyum lebar yang menyilaukan retina. "Ma Chen, ayo makan di tempat biasa!"
Ma Chen membalas dengan tatapan mata ikan mati. "Kau tahu isinya sakuku cuma angin, kan? Kalian terus-terusan menodongku masak."
Tawa Kong Gui pecah renyah. Telapak tangannya mendarat brutal di bahu Ma Chen. Hantamannya setara banteng bercula baja. Tulang selangka Ma Chen berderak, nyaris retak.
"Ayolah. Kau tahu masakanku mirip racun tikus. Cuma tanganmu yang bisa bikin makanan layak telan di tempat ini!" Kong Gui memasang wajah memelas. Ekspresi konyol yang menghancurkan wibawa jeniusnya menjadi debu.
Ma Chen membuang napas berat dari hidung. Bahunya turun serentak. Mendebat idiot jenius ini jauh lebih memeras mental ketimbang menembus batas kultivasi. "Bawa kayu bakarnya sendiri."
"Siap laksanakan!"
Mereka melipir ke tepi hutan sekte. Gemericik sungai kecil memecah kesunyian wilayah pinggiran. Udara terasa basah dan bersih, jauh dari aroma ambisi beracun para murid dalam yang haus kekuasaan.
Kong Gui menduduki batu pipih favoritnya yang sudah licin. Kakinya berayun santai layaknya anak balita tanpa beban hidup.
"Tadi aku lihat Senior Wang tembus Foundation Establishment. Gila, auranya merobek langit. Sampai ungu semua di atas atap paviliunnya!" Tangan Kong Gui menari-nari membelah udara, melukiskan hiperbola dengan semangat meluap.
Ma Chen mengeluarkan kuali tembaga dari tas spasialnya. Menata batu kali untuk membuat tungku darurat. "Kau ini hobi sekali mengabsen pencapaian orang."
"Harus! Biar ketularan jagonya." Kong Gui menepuk dada bangga. "Oh, instruktur juga memuji gerakanku barusan. Katanya Blue Blade-ku sudah di tahap sempurna. Aku bisa menembakkan tiga bayangan pedang sekaligus sekarang."
'Ya jelas dipuji. Otak dan tulangmu isinya bakat semua,' cibir Ma Chen dalam hati. Pisau dapurnya menghantam talenan kayu sedikit lebih beringas dari biasanya.
Api tungku membesar. Bau tajam bawang dan rempah melesat naik, menendang aroma lumpur basah di bantaran sungai.
Langkah kaki nyaris tanpa suara menyela ritme pisau Ma Chen.
Keduanya menoleh serentak.
Seorang perempuan berjalan membelah semak belukar. Begitu presisi, begitu menawan, sampai aliran air sungai seakan sungkan untuk mengalir deras di dekatnya.
Ju Mingyu.
Permata lain dari rentetan generasi emas sekte. Kulitnya sepucat pualam, matanya menyimpan badai api yang tenang. Definisi sempurna dari kata mematikan sekaligus membius.
"Maaf, aku mengganggu kalian?" Suara Ju Mingyu mengalun pelan. Ujung lengan bajunya diremas gelisah.
"Sama sekali tidak! Duduk sini, Mingyu. Bentar lagi matang," celetuk Kong Gui tanpa dosa. Ia menepuk-nepuk permukaan batu di sebelahnya dengan antusias.
Semburat merah muda menjalari leher hingga telinga Ju Mingyu. Ia duduk pelan, menjaga postur dan jarak agar tidak bersentuhan, tapi sudut matanya terus mencuri pandang ke arah Kong Gui.
Ma Chen sudah hafal anatomi bencana ini di luar kepala. Sang dewi jelas mabuk kepayang pada si jenius bodoh. Dan Kong Gui, dengan segala wawasan bela dirinya yang menembus langit, punya kepekaan romansa setumpul bagian belakang parang.
"Mingyu, kau sudah coba teknik sirkulasi dari Ketua Chen kemarin?" tanya Kong Gui. Kepalanya sedikit miring, murni penasaran tanpa motif tersembunyi.
"Sudah ... sedikit." Ju Mingyu melirik ragu, bulu matanya bergetar pelan. "Aku lumayan kesulitan mengatur aliran Qi di pusat dada. Mungkin ... Kau bisa mengajariku menstabilkannya?"
'Masuk perangkap,' sorak Ma Chen dalam diam. Ia mengaduk kualinya perlahan.
Kong Gui mengangguk keras. Matanya berbinar menemukan kegiatan baru. "Tentu bisa! Habis makan kita langsung latihan. Kebetulan Ma Chen juga butuh banyak koreksi postur. Kita bertiga saja! Nanti aku bimbing kalian satu per satu sampai lancar."
Napas Ma Chen tercekat di pangkal tenggorokan. Ia melotot tajam menatap si pandir di depannya. 'Dia minta diajari berdua saja, idiot!' makinya dari balik bibir yang mengatup rapat.
Cahaya di dalam pupil Ju Mingyu padam seketika. Bahunya menyusut beberapa sentimeter. Senyum manisnya berubah wujud menjadi topeng porselen yang kaku.
"Begitu, ya ... Boleh juga."
Udara di pinggir sungai mendadak turun suhunya. Lebih pengap dari uap kuali mendidih. Ma Chen buru-buru mengangkat masakannya dari perapian. "Makan. Keburu sayurnya layu."
Mereka menyantap porsi masing-masing. Bunyi dentingan sendok kayu menabrak mangkuk tanah liat merajai suasana canggung itu. Kong Gui, konsisten dengan dirinya sendiri, menyendok rakus seperti narapidana kelaparan.
"Gila, ini surga! Kau harus berhenti kultivasi dan daftar jadi koki utama sekte saja, Ma Chen!"
Ma Chen menatap pemuda itu datar. "Bicara sekali lagi pas mengunyah, bulan depan kau cari bahan mentahmu sendiri."
Kong Gui langsung menutup mulut rapat-rapat, mengunyah dalam diam dengan mata membulat lucu.
Ju Mingyu memakan porsinya perlahan. Gerakannya sangat tertata. Matanya kosong menatap ke arah riak air sungai, sesekali melirik Kong Gui dengan pendar patah hati tingkat dewa.
Dada Ma Chen rasanya ikut muak melihat sinetron murahan ini berputar tanpa ujung. Sebuah dorongan impulsif yang sangat bodoh tiba-tiba menguasai lidahnya.
'Bongkar saja, lah. Biar urusan si bodoh ini cepat beres,' putusnya sembrono.
Ia menelan suapan terakhirnya paksa. Berdehem pelan untuk memecah sunyi. "Ngomong-ngomong, Kong Gui. Sebenarnya tadi itu Ju Mingyu ..."
Kalimat Ma Chen menggantung di udara.
Hawa dingin ekstrem mendadak merayap naik, membekukan cairan sendi di lutut Ma Chen. Ia melirik patah-patah ke arah kanannya.
Ju Mingyu tidak lagi terlihat seperti dewi yang sedang kasmaran. Matanya memicing tajam ke arahnya. Pupilnya menjelma menjadi bongkahan es yang siap menusuk jantung. Aura Qi murni bocor dari pori-porinya secara agresif.
'Mati aku.'
Tangan mungil itu bergerak menyentak. Terlalu cepat untuk diproses oleh saraf retina Ma Chen. Gelombang Qi padat melesat membelah ruang kosong, menghantam langsung ke sisi kiri wajah Ma Chen.
BAM!
Tulang pipinya bergetar. Tubuh Ma Chen terangkat lepas dari gravitasi. Ia melayang mundur di atas tanah dengan ekspresi idiot sesaat, terlempar deras melewati bantaran.
BYUR!
Air sungai yang sedingin es menghantam paru-parunya.
"MA CHEN!" Kong Gui melompat dari batu dengan panik. Mangkuknya menggelinding jatuh membentur tanah.
Ma Chen muncul ke permukaan sungai. Air membasuh rambut dan membasahi wajahnya. Ia terbatuk keras, memuntahkan sisa air yang tak sengaja tertelan. Sisi wajahnya kebas total, seolah baru saja disapu godam baja.
"Aduh, maaf! Tanganku slip waktu mengatur napas!" Suara Ju Mingyu mengalun jernih. Begitu tenang. Tidak ada setitik pun dosa terlukis di wajah cantiknya. Hanya ada kilau kepuasan teritorial yang mengerikan di bola matanya.
Ma Chen berenang susah payah ke tepian bebatuan berlumpur. Baju seragam luarnya basah kuyup, menempel berat di sekujur kulit.
'Benar-benar ide tolol. Aku tidak akan pernah ikut campur urusan para monster ini lagi,' rutuknya.
Kong Gui mengulurkan tangan, menarik lengan Ma Chen naik ke darat. Kepanikannya tercetak jelas. "Kau masih utuh? Astaga, Mingyu, slip bagaimana ceritanya sampai energi sebesar itu keluar melempar orang?"
"Sungguh tidak sengaja. Kapasitas Qi-ku tiba-tiba meluap merespons sekitar," kilah Ju Mingyu tanpa merasa bersalah. Ia tersenyum sangat tipis.
Ma Chen menjatuhkan pantatnya ke tanah basah. Ia memeras ujung lengan bajunya yang mengucurkan air keruh. Pipinya perlahan mulai terasa berdenyut, membengkak. Pikirannya melayang sebentar ke pedang kayu di aula Paviliun. Ekspektasi, tekanan takdir, dan sekarang ... dikirim ke dasar sungai oleh perempuan dengan ego tergores.
Menjadi orang biasa di sarang para penguasa takdir rupanya tidak sekadar butuh kulit tebal.
Ju Mingyu memalingkan pandangannya, kembali menatap riak air yang menabrak batu dengan keanggunan seorang tiran. Kong Gui masih meraba pundak Ma Chen untuk mengecek letak tulang yang bergeser.
Ma Chen hanya menghembuskan napas pelan, menatap langit sore.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
🍒⃞⃟🦅 Ling Yuxiu
Hai Thor, aku mampir ya. semangat dan sukses selalu🙏
2026-01-30
1
Fransiskan Dionisius
ini kerasa kek wuxia klasik si, tapi coba aku lihat bab lainnya dulu.
2026-02-10
0
Lavicaysm
mampier browgh😘 ayo saling support like komen😜👈🥰
2026-01-26
0