Sulastri 2

“Diajeng ...?” Dengan terhuyung Kartijo menghampiri sang istri yang berdiri di ambang pintu.

Sulastri mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya bergemeretak, “Apa tidak ada tempat lain selain kamar kita?!”

“A-ku bisa jelas—”

“Kita bicara di joglo tengah,” sergah Sulastri cepat, sembari berlalu pergi.

Di sebuah ruang tamu, pembicaraan penuh ketegangan itu berlangsung. Di kursi utama, Sasmitro berkali-kali menarik napas berat. Di sebelahnya sang istri— Rasmi menepuk lembut pundak sang suami bermaksud menenangkan. Ba’da magrib anak laki-laki satu-satunya yang baru menikah setahun lalu, memberi kejutan dengan membawa wanita simpanannya yang sedang hamil.

Di hadapan Sasmitro, Kartijo duduk dengan angkuh, sesekali laki-laki itu menghisap kreteknya, mengepulkan asap tipis ke udara.

“Bukankah hal lumrah jika aku mempunyai wanita lebih dari satu?!” ucap laki-laki itu sembari menatap Sulastri yang duduk di depannya.

Sulastri menelan ludah, berusaha menahan air mata agar tak tumpah, “Saya tidak pernah melarangmu bermain dengan wanita-wanita itu, Kangmas. Dan kita sudah sepakat dengan sebuah syarat, yakni saya tidak mau di madu!” sahutnya tajam.

Kartijo menekankan ujung putung rokoknya ke dalam asbak seng, kemudian beranjak dari kursinya, “Aku hanya bertanggung jawab, Diajeng. Hanya sampai dia melahirkan, setelah itu dia akan pergi,” ucapnya tegas. “Aku tidak akan menikahinya. Kau tetap istriku satu-satunya. Dia hanya—”

“Gundik?! Sampean tidak menikahinya tapi membawa dia masuk ke rumah kita, apa bedanya!” Sulastri menyahut dengan bibir bergetar, suaranya pecah oleh tangis yang tertahan.

“Diajeng, dia sedang hamil.”

“Bagaimana kalau saya juga sedang hamil?!” sergah Sulastri kembali, dadanya naik turun, sesak oleh rasa kecewa yang mendalam.

Kartijo terpaku sesaat, dengan wajah seolah tak percaya dia menghampiri Sulastri, “Kau juga hamil?”

Sulastri bergeming, tatapannya tajam pada wanita muda yang duduk bersimpuh di lantai kayu.

“Diajeng, benarkah ... Kau—”

“Sudah 2 bulan,” sahut Sulastri cepat.

Kartijo mengusap wajahnya kasar, bibirnya mengulas senyum palsu, “Kenapa kabar bahagia ini baru kau sampaikan sekarang, Diajeng?” protesnya sembari berpindah mengelus perut Sulastri yang masih rata.

Sulastri tersenyum masam, tatapannya masih tajam pada gundik yang dibawa suaminya, “Sampean, sudah lebih dulu memberi kejutan.”

Kartijo jatuh bersimpuh dihadapan sang istri, tangannya gemetar, wajahnya tertunduk pada lantai kayu, “Maafkan aku, Diajeng. Aku janji setelah dia melahirkan, dia akan pergi dari sini.”

Si gundik—Amina, tampak tak terima, wajahnya merah padam, sorot matanya menajam manakala mendengar ucapan Kartijo. Bagaimana bisa dia harus pergi setelah melahirkan, dia sudah mati-matian mencari cara agar bisa masuk dalam jajaran juragan kaya.

“Ini tidak adil! Aku juga mengandung anak Juragan. Jika pada akhirnya kehadiran anakku tidak diterima, lebih baik dari sekarang aku pergi!” sela wanita itu dengan suara yang bergetar.

Kartijo yang mendengar, seketika menoleh pada Amina. Keraguan menyelimuti hati laki-laki itu, sebelum suara Sasmitro menengahi.

“Lalu apa maumu?!”

Amina meremas kebayanya kuat-kuat, rahangnya mengetat, tatapannya menjurus pada Sulastri yang duduk di depannya, rencana yang sudah tersusun matang nyaris kandas di tengah jalan, gara-gara kehamilan wanita itu. Dengan bibir bergetar Amina kembali bersuara.

“Aku ingin mengajukan syarat,” ucapnya tegas.

Sasmitro menyeringai. “Sopo kowe berani memberi syarat pada keluarga punjer! Heh, jangan dikira aku tidak tau kowe itu siapa, bahkan aku tidak yakin yang dikandunganmu itu anak Kartijo!” sahutnya tajam.

Kartijo membelalak, pun Amina yang sedari tadi bersimpuh di lantai. “Romo, Amina memang seorang penari, tapi dia wanita baik-baik.”

“Wanita baik-baik mana yang hamil dengan suami orang?” Rasmi memotong sembari menatap sinis Amina.

Sulastri menghela napas berat, suaranya datar tapi tegas. “Apa syaratnya?!”

Senyum licik tergaris di wajah Amina, dengan congkak dia menatap Sulastri yang duduk di depannya. “Jika aku melahirkan anak laki-laki, aku juga berhak mendampingi Juragan, jika perempuan maka aku akan pergi, begitu juga denganmu!”

“Lalu bagaimana jika kita sama-sama melahirkan anak laki-laki?” sahut Sulastri.

Dengan tatapan menusuk, Kartijo membusungkan dada, membalas tegas ucapan istrinya. “Kau, harus menerima dia.”

“Sampai kapanpun aku tidak mau di madu! Kau harus memilih aku atau wanita itu!” bentak sulastri sembari menatap nanar sang suami.

Kartijo menatap sengit ke arah Sulastri. “Aku ini juragan. Kaya raya. Bukankah hal lumrah jika aku beristri lebih dari satu!”

“Tapi Kangmas sudah berjanji—”

“Siapapun bisa mengingkari janji!” sela Kartijo cepat.

Kartijo duduk tenang di kursi, tangannya memijat erat pelipisnya—berpikir keras, mana yang akan menjadi keputusannya. Dengan mantap, Kartijo menegaskan keputusannya. “Aku menyetujui syarat dari Amina.”

“Kangmas ...!”

“Aku ini orang terpandang, Lastri. Apa kata orang desa jika aku mencampakkan Amina begitu saja!” kilah Kartijo. “Mau tidak mau kau harus menerima, sudah menjadi risikomu mempunyai suami juragan sepertiku,” pungkas Kartijo dengan nada jumawa.

.

.

.

Setahun berlalu.

Kilat menyambar-nyambar di langit gelap, tangis bayi memecah hening. Sebulan yang lalu Amina lebih dulu melahirkan bayi laki-laki, berganti Sulastri. Namun, nasib sial menghampiri wanita itu, dia melahirkan bayi perempuan. Sesuai perjanjian, Sulastri menepatinya dan pergi dari joglo punjer.

Dengan tubuh yang kesakitan Sulastri keluar dari rumah itu, dokar yang dikendarai Dasim mengantarnya menuju desa Lereng Gunung, ke rumah orang tuanya. Nasib buruk masih berpihak pada wanita muda itu, kehadirannya mendapat penolakan dari sang bapak yang menganggap itu sebuah aib untuk keluarga mereka.

"Kamu harusnya bisa mempertahankan posisimu. Bagaimana bisa sebagai istri sah justru kamu yang terusir dari rumah itu!" hardik Margono— ayah Sulastri. "Sekarang kamu kembali ke sini membawa anakmu, apa kata-kata orang desa nanti. Sebelum matahari terbit pergilah ke desa Lereng Bukit, di sana ada rumah peninggalan kakek buyutmu, jangan sekali-kali kamu kembali ke desa ini sebelum bapak mati, bapak tidak mau menanggung wirang ini!"

Sulastri menunduk, menelan ludah yang pahit. Tatapannya sayu namun ada getir yang tertahan. “Kelak, Bapak akan menyesal atas ucapanmu!” ujarnya lirih, nyaris tak terdengar.

Dengan langkah gontai, Sulastri kembali naik ke dokar yang mengantarnya.

“Antarkan saya ke ujung desa, Sim.” perintahnya pada Dasim, kusir dokar itu.

Dalam guyuran air hujan dan pekatnya malam, dokar yang membawa Sulastri membelah jalan menuju ujung desa. Biasanya orang-orang yang akan pergi ke kota akan menunggu angkutan umum di sana. Sulastri mengulas senyum saat melihat sebuah mobil pickup terparkir di depan gardu kayu—tempat orang desa biasa menunggu.

Sulastri kemudian memerintahkan Dasim untuk menghentikan dokarnya. “Berhenti di sini saja, Sim,” ucapnya.

Dasim menengok sekilas, tatapannya luluh saat melihat Sulastri merapihkan kebayanya. “Saya antarkan sampai desa Lereng Bukit saja, Den,” sahutnya pelan.

Sulastri tersenyum samar. “Tidak usah, Sim. Itu sudah ada angkutan umum yang menunggu.”

Dasim menatap sendu wajah Sulastri yang lemas. “Tapi, Den. Ini masih terlalu gelap, saya temani sampai angkutan berangkat,” ujarnya sedikit memaksa.

“Jangan khawatir, Sim. Saya kenal kok dengan supir angkutannya.”

Dasim menghela napas kasar, dengan berat dia turun dari dokar, membantu Den ayu nya turun serta beberapa barang bawaan. Laki-laki itu kemudian menatap sekitar, tidak ada satu orang pun di tempat itu. Hanya mobil pickup dengan beberapa karung panenan di baknya.

“Tidak ada orang, Den. Apa tidak lebih baik—”

“Tidak apa-apa, Sim. Sebentar lagi orang desa juga akan datang, kamu tenang saja. Sudah sana kamu pulang. Nanti kalau kesiangan, Biyung bisa marah-marah,” sahut Sulastri.

“Tapi, Den …?”

Sulastri kembali mengulas senyum, sembari mengangguk pelan. “Pergilah,” titahnya.

Dasim dengan ragu kembali ke dokarnya, sekali lagi dia menoleh pada Sulastri. Namun, wanita dengan senyum getir itu mengisyaratkan dia untuk tetap pergi. Dengan berat Dasim menarik tali kendali menjalankan dokarnya pelan.

Sulastri menatap dokar yang perlahan hilang di telan gelap malam, bahunya merosot seolah tak mampu lagi menahan beban. Dengan langkah pelan dia menuju gardu kayu berniat ingin duduk sembari memberi susu pada bayinya. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendengar suara seorang pria yang begitu di segani di seluruh desa.

“Jangan duduk di situ, papan itu gapuk.”

___Bersambung.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

emg kartijo bkn laki" sejati, mk'a ingkar janji👊

2026-02-15

2

Seroja_layu

Seroja_layu

dih najong banget

2025-11-24

2

Edelweis Namira

Edelweis Namira

Aku sukaaaa sama ceritanya😍

2025-11-24

3

lihat semua
Episodes
1 Sulastri 1
2 Sulastri 2
3 Sulastri 3
4 Sulastri 4
5 Sulastri 5
6 Sulastri 6
7 Sulastri 7
8 Sulastri 8
9 Sulastri 9
10 Sulastri 10
11 Sulastri 11
12 Sulastri 12
13 Sulastri 13
14 Sulastri 14
15 Sulastri 15
16 Sulastri 16
17 Sulastri 17
18 Sulastri 18
19 Sulastri 19
20 Sulastri 20
21 Sulastri 21
22 Sulastri 22
23 Sulastri 23
24 Sulastri 24
25 Sulastri 25
26 Sulastri 26
27 Sulastri 27
28 Sulastri 28
29 Sulastri 29
30 Sulastri 30
31 Sulastri 31
32 Sulastri 32
33 Sulastri 33
34 Sulastri 34
35 Sulastri 35
36 Sulastri 36
37 Sulastri 37
38 Sulastri 38
39 Sulastri 39
40 Sulastri 40
41 Sulastri 41
42 Sulastri 42
43 Sulastri 43
44 Sulastri 44
45 Sulastri 45
46 Sulastri 46
47 Sulastri 47
48 Sulastri 48
49 Sulastri 49
50 Sulastri 50
51 Sulastri 51
52 Sulastri 52
53 Permohonan Maaf
54 Sulastri 53
55 Sulastri 54
56 Sulastri 55
57 Sulastri 56
58 Sulastri 57
59 Sulastri 58
60 Sulastri 59
61 Sulastri 60
62 Sulastri 61
63 Sulastri 62
64 Sulastri 63
65 Sulastri 64
66 Sulastri 65
67 Sulastri 66
68 Sulastri 67
69 Sulastri 68
70 Sulastri 69
71 Sulastri 70
72 Sulastri 71
73 Sulastri 72
74 Sulastri 73
75 Sulastri 74
76 Sulastri 75
77 Sulastri 76
78 Sulastri 77
79 Sulastri 78
80 Sulastri 79
81 Sulastri 80
82 Sulastri 81 End
83 Sulastri Bonus part
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Sulastri 1
2
Sulastri 2
3
Sulastri 3
4
Sulastri 4
5
Sulastri 5
6
Sulastri 6
7
Sulastri 7
8
Sulastri 8
9
Sulastri 9
10
Sulastri 10
11
Sulastri 11
12
Sulastri 12
13
Sulastri 13
14
Sulastri 14
15
Sulastri 15
16
Sulastri 16
17
Sulastri 17
18
Sulastri 18
19
Sulastri 19
20
Sulastri 20
21
Sulastri 21
22
Sulastri 22
23
Sulastri 23
24
Sulastri 24
25
Sulastri 25
26
Sulastri 26
27
Sulastri 27
28
Sulastri 28
29
Sulastri 29
30
Sulastri 30
31
Sulastri 31
32
Sulastri 32
33
Sulastri 33
34
Sulastri 34
35
Sulastri 35
36
Sulastri 36
37
Sulastri 37
38
Sulastri 38
39
Sulastri 39
40
Sulastri 40
41
Sulastri 41
42
Sulastri 42
43
Sulastri 43
44
Sulastri 44
45
Sulastri 45
46
Sulastri 46
47
Sulastri 47
48
Sulastri 48
49
Sulastri 49
50
Sulastri 50
51
Sulastri 51
52
Sulastri 52
53
Permohonan Maaf
54
Sulastri 53
55
Sulastri 54
56
Sulastri 55
57
Sulastri 56
58
Sulastri 57
59
Sulastri 58
60
Sulastri 59
61
Sulastri 60
62
Sulastri 61
63
Sulastri 62
64
Sulastri 63
65
Sulastri 64
66
Sulastri 65
67
Sulastri 66
68
Sulastri 67
69
Sulastri 68
70
Sulastri 69
71
Sulastri 70
72
Sulastri 71
73
Sulastri 72
74
Sulastri 73
75
Sulastri 74
76
Sulastri 75
77
Sulastri 76
78
Sulastri 77
79
Sulastri 78
80
Sulastri 79
81
Sulastri 80
82
Sulastri 81 End
83
Sulastri Bonus part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!