BAB 4

Dengan sisa uang dua puluh ribu dari semalam, Kirana membelikan dua buah tempe dan sebotol kecil kecap manis. Ia berencana membuat sarapan sederhana untuk kedua anaknya: tempe kecap favorit mereka.

Setelah selesai memasak, Kirana memanggil Arka dan Tiara.

Arka sudah rapi dengan seragam SD-nya, sementara Tiara juga sudah mandi dan mengenakan baju lucu kesukaannya. Kirana bersyukur, kedua anak itu mudah diatur dan tidak pernah menyulitkannya.

“Ibu sudah taruh lauk buat makan siang di dalam tudung ya. Jangan lupa makan siang. Jangan kayak semalam, Ibu khawatir kalau kalian sakit,” ucap Kirana lembut setelah sarapan selesai.

“Iya, Bu…” jawab mereka serempak.

“Nanti Abang pulang jam berapa? Masih kayak semalam?” tanya Kirana pada Arka.

“Arka nggak tahu, Bu. Tapi Arka usahain pulang cepat.”

“Ya sudah. Ibu berangkat duluan, ya. Ingat pesan Ibu, jangan main jauh-jauh. Takutnya kesasar.”

Kirana mengusap kepala Tiara.

“Iya, Bu. Nanti Tiara main sama Lilis aja,” jawab Tiara polos.

Lilis memang anak seusianya yang rumahnya berdampingan dengan mereka.

Setelah memastikan semuanya aman, Kirana bergegas pergi bekerja. Ia harus jalan kaki, jadi ia tak boleh terlambat.

Arka kemudian merapikan buku-bukunya dan berkata ke Tiara, “Abang ke sekolah dulu, ya. Kalau Abang pulangnya lama, Adek makan duluan. Jangan tungguin Abang.”

“Iya, Bang,” jawab Tiara sambil memainkan bonekanya.

“Abang berangkat, ya. Di rumah jangan pergi ke tempat kerja Ibu lagi. Kemarin kamu kesasar, kan? Untung Abang cepat temuin kamu. Kalau nggak, Ibu pasti khawatir. Jangan diulangi lagi.”

“Iya, Bang. Udah sana, nanti Abang telat,” jawab Tiara sok dewasa.

Arka tersenyum kecil dan berangkat.

Siang Harinya

Rumah kecil itu terasa sepi. Tiara duduk di depan rumah sambil menatap gang, menunggu Lilis keluar bermain.

Namun beberapa menit kemudian, ibunya Lilis keluar sambil menggandeng Lilis yang sudah berdandan rapi.

“Tiara, Tante ajak Lilis pergi dulu, ya. Mau ke rumah neneknya,” ucap Ibu Lilis ramah.

Tiara mengangguk, meski hatinya langsung kecewa.

Tidak ada teman bermain. Tidak ada siapa-siapa. Dan ia sangat merindukan ibunya.

Tiara menggigit bibir kecilnya, menatap jalan.

Ibu deket kok… Tiara tau jalan…

Tanpa pikir panjang, ia menutup pintu rumah perlahan dan mulai berjalan mengikuti ingatannya: belok kanan, lurus, belok kiri… atau kanan? Ia tidak ingat pasti.

Sepuluh menit berjalan, semua gang tiba-tiba terlihat asing. Rumah-rumah tidak lagi sama. Tidak ada orang yang ia kenal.

Tiara berhenti. Bibirnya mulai bergetar.

“I…bu…” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban.

Gang itu sepi. Panas. Dan amat besar untuk gadis kecil seusianya.

Tiara mulai menangis pelan. “Ibu… Abang…”

Air mata mengalir membasahi pipinya yang merah. Ia ketakutan, tidak tahu jalan pulang ataupun jalan ke toko tempat ibunya bekerja.

Di tengah tangisannya, sebuah suara laki-laki terdengar tidak jauh dari situ.

“Eh… dek?”

Tiara mendongak. Seorang pria berdiri di gerbang rumah besar, baru saja hendak masuk. Pria itu langsung berhenti ketika melihat bocah kecil yang menangis tersedu-sedu.

Itu adalah Yuda.

Ia membelalakkan matanya, langsung menghampiri.

“Dek, kenapa? Kok nangis sendirian? Kesasar ya?”

Tiara mengusap air matanya sambil terisak.

“A… Tiara mau… ke Ibu…”

Yuda berjongkok, menatap mata kecil itu dengan lembut.

Jantungnya sedikit mencelos—bocah itu masih sangat kecil, tidak mungkin berjalan sejauh ini sendirian.

“Nama kamu Tiara?” tanya Yuda pelan.

Tiara mengangguk sambil menangis.

Yuda menarik napas panjang.

" ibu kamu dimana, kok dijalan sendirian, nanti kamu kenapa-kenapa gimana"

"Kamu tahu dimana tempat kerja ibu kamu" Tiara hanya menggeleng pelan.

Yuda baru hendak menenangkan Tiara lagi, ketika suara dari belakangnya terdengar.

“Yud? Kamu ngomong sama siapa itu?”

Pintu gerbang terbuka lebih lebar. Seorang wanita seusia enam puluhan keluar — Lasma ibunya Yuda. Ia mematung seketika saat melihat anak kecil yang menangis tersedu di depan rumah mereka.

“Ya Allah, ini anak siapa? Lucu banget tapi kok sendirian?” tanya ibunya panik. Ia langsung mendekat, memegang lembut kedua bahu Tiara. “ kamu kesasar, Nak?”

Tiara mengusap air matanya lagi, tapi sebelum sempat menjawab, suara langkah tergesa terdengar dari ujung gang.

“Tiara!!”

Seorang anak laki-laki berseragam SD berlari ke arah mereka Arka. Napasnya terengah, wajahnya pucat, jelas ia sudah mencari Tiara dari tadi.

Begitu melihat adeknya, Arka langsung menghampiri dan memeluk Tiara erat-erat.

“Ya ampun, Tiara… kenapa kamu pergi sih?” suaranya bergetar, hampir menangis.

“Aku cari dari tadi! Ibu kalau tahu bisa pingsan, Tiara…”

Tiara menangis semakin kencang, menyembunyikan wajahnya di dada abangnya.

Yuda dan ibunya saling pandang.

Ibunya Yuda menghela napas lega. “Syukurlah kamu datang, Nak… Ibu sudah khawatir tadi.”

Arka menatap Yuda dan ibunya, lalu menunduk sopan. “Maaf ya, Nek… Maaf ya, Mas… Adek saya bikin repot…”

Yuda mengusap puncak kepala Arka pelan, merasa iba melihat bocah sekecil itu sudah harus bertindak seperti orang dewasa.

“Tidak apa-apa. Untung tadi Abang lihat dia.”

Arka memanggil Tiara pelan, “Ayo pulang… jangan main jauh-jauh lagi, Tiara.”

Tiara mengangguk sambil sesenggukan.

Yuda memperhatikan adik-beradik itu sambil menatap wajah Arka yang kelelahan.

Ibunya Yuda menatap Arka dan Tiara yang masih terlihat ketakutan. Hati wanita tua itu langsung luluh melihat dua bocah kecil yang jelas-jelas tidak terurus dengan baik oleh keadaan hidup mereka.

“Nak… kalian sudah makan siang belum?” tanya ibunya Yuda lembut.

Arka menggeleng perlahan. “Belum, Bu… tapi kami pulang saja. Ibu kami pasti khawatir.”

“Lho, jangan pulang dulu. Masuk dulu, makan bareng Ibu ya.”

Nada suaranya begitu hangat, seperti ajakan seorang nenek pada cucunya sendiri.

Arka langsung buru-buru menggeleng. “Nggak usah, Bu… nanti ngerepotin. Kami pulang aja.”

Ibunya tersenyum lembut, tapi mata tuanya menyiratkan kekhawatiran besar. “Nggak repot, Nak. Kalian ini masih kecil. Lihat tuh adikmu sampai gemeteran. Masuk ya, makan dulu. Habis itu baru pulang.”

Arka tetap mencoba menolak dengan sopan. “Beneran, Bu. Kami—”

“Sudah. Ayo masuk.”

Kali ini nada ibunya Yuda berubah sedikit tegas—tegas namun penuh kasih.

Arka terpaku, bingung harus bagaimana.

Tiara yang masih memegang tangan abangnya menatap ibu Yuda dengan mata besar yang masih sisa tangisan. “Boleh ya, Bang… Tiara lapar…” ucapnya lirih, polos dan jujur.

Arka terdiam. Ia tidak bisa mengabaikan adiknya.

Yuda ikut berbicara, suaranya menenangkan, “Masuk aja dulu. Kalian nggak merepotkan kok. Ibuku kalau sudah nawarin makanan, susah nolaknya.”

Ibunya cepat menimpali, “Nggak usah jaim. Ayo, Arka… Tiara… masuk.”

Arka akhirnya menunduk sopan.

“Kalau begitu… maaf ya, Bu… kami ikut.”

“Pinter.”

Ibunya Yuda tersenyum puas, lalu menggandeng Tiara masuk ke rumah, sementara Arka mengikuti dari belakang.

Yuda menutup gerbang sambil memperhatikan mereka.

Ada sesuatu di hatinya yang terasa hangat—entah kenapa, suasana ini terasa… lengkap. Seperti rumah yang sudah lama ia rindukan.

Terpopuler

Comments

Wisnu Mahendra

Wisnu Mahendra

keren diawal ceritanya, moga bagus sampe akhir

2026-04-30

0

Ning Suswati

Ning Suswati

yeeee, ada2 aja jalannya kalau jodoh

2026-06-09

0

Miss Typo

Miss Typo

calon anak tiri mu Yuda 😁

2026-04-20

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1
2 BAB 2
3 BAB 3
4 BAB 4
5 BAB 5
6 BAB 6
7 BAB 7
8 BAB 8
9 BAB 9
10 BAB 10
11 BAB 11
12 BAB 12
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 BAB 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BSB 27
28 BAB 28
29 BAB 29
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32
33 BAB 33
34 34
35 BAB 35
36 BAB 36
37 BAB 37
38 BAB 38
39 BAB 39
40 BAB 40
41 41
42 BAB 42
43 BAB 43
44 BAB 44
45 BAB 45
46 BAB 46
47 BAB 47
48 BAB 48
49 BAB 49
50 BAB 50
51 BAB 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 BAB 55
56 BAB 56
57 BAB 57
58 BAB 58
59 BAB 59
60 BAB 60
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
71 BAB 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 BAB 78
79 BAB 79
80 BAB 80
81 BAB 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86
87 BAB 87
88 BAB 88
89 BAB 89
90 BAB 90
91 BAB 91
92 BAB 92
93 BAB 93
94 BAB 94
95 BAB 95
96 BAB 96
97 BAB 98
98 BAB 98
99 BAB 99
100 BAB 100
101 BAB 101
102 BAB 102
103 BAB 103
104 BAB 104
105 BAB 105
106 BAB 106
107 BAB 107
108 BAB 108
109 109
110 BAB 110
111 BAB 111
112 BAB 112
113 BAB 113
114 BAB 114
115 BAB 115
116 BAB 116
117 BAB 117
118 BAB 118
119 BAB 119
120 BAB 120
121 BAB 121
122 season 2
Episodes

Updated 122 Episodes

1
BAB 1
2
BAB 2
3
BAB 3
4
BAB 4
5
BAB 5
6
BAB 6
7
BAB 7
8
BAB 8
9
BAB 9
10
BAB 10
11
BAB 11
12
BAB 12
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
BAB 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BSB 27
28
BAB 28
29
BAB 29
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32
33
BAB 33
34
34
35
BAB 35
36
BAB 36
37
BAB 37
38
BAB 38
39
BAB 39
40
BAB 40
41
41
42
BAB 42
43
BAB 43
44
BAB 44
45
BAB 45
46
BAB 46
47
BAB 47
48
BAB 48
49
BAB 49
50
BAB 50
51
BAB 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
BAB 55
56
BAB 56
57
BAB 57
58
BAB 58
59
BAB 59
60
BAB 60
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70
71
BAB 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
BAB 78
79
BAB 79
80
BAB 80
81
BAB 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86
87
BAB 87
88
BAB 88
89
BAB 89
90
BAB 90
91
BAB 91
92
BAB 92
93
BAB 93
94
BAB 94
95
BAB 95
96
BAB 96
97
BAB 98
98
BAB 98
99
BAB 99
100
BAB 100
101
BAB 101
102
BAB 102
103
BAB 103
104
BAB 104
105
BAB 105
106
BAB 106
107
BAB 107
108
BAB 108
109
109
110
BAB 110
111
BAB 111
112
BAB 112
113
BAB 113
114
BAB 114
115
BAB 115
116
BAB 116
117
BAB 117
118
BAB 118
119
BAB 119
120
BAB 120
121
BAB 121
122
season 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!