Kamu pasti kuat, Nak.

Di lorong Rumah Sakit Permata Medika yang bersih dan dingin. Aroma antiseptik menusuk hidung.

Inara dan Bu Farida sudah tiba di Rumah Sakit. Daffa segera ditangani di Unit Gawat Darurat Anak. Inara duduk gemetar di kursi tunggu, sementara Bu Farida mencoba menenangkannya.

Tidak jauh dari sana, di sofa ruang tunggu pasien yang lebih nyaman, duduk Nyonya Martha, seorang wanita elegan dengan raut wajah lelah. Dan disampingnya adalah Rayyan, putranya yang sedang berbincang dengan seorang perawat. Rayyan baru saja menjalani pemeriksaan rutin pasca kecelakaan tiga tahun lalu, yang menyisakan masalah kesehatan serius, yakni disfungsi ereksi atau impoten.

Nyonya Martha termenung. Pandangannya kosong, memikirkan bagaimana cara agar Rayyan bisa pulih dan mendapatkan kembali kebahagiaannya. Tiba-tiba, ia tak sengaja melirik ke arah dua wanita yang sedang cemas di ujung lorong. Sosok yang satu, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana dan wajah penuh kerutan telah menarik perhatiannya.

Nyonya Martha tiba-tiba saja bangkit sedikit, kedua matanya menyipit.

"Rayyan, Nak... coba lihat ke sana." Bu Martha menunjuk ke arah Bu Farida

Rayyan berbalik, bingung. "Ada apa, Bu? Ibu mau minum?"

"Bukan Nak. Wanita itu... yang sedang menenangkan gadis muda di sana... Coba kamu lihat itu baik-baik. Hijab instannya, cara duduknya... Ya Tuhan, benarkah itu...?"

 "Siapa, Bu? Hanya ibu-ibu biasa yang sedang menemani anaknya."

Nyonya Martha lirih, hampir berbisik.

"Bukan 'ibu-ibu biasa', Rayyan. Itu... itu siluetnya tidak salah lagi. Bukankah selama ini Ibu berusaha mencarinya? Sahabat karib Ibu saat susah dan senang dulu, sahabat yang hilang kontak saat Ibu pindah ke luar kota sepuluh tahun lalu... Farida..."

Nyonya Martha tidak menunggu jawaban Rayyan. Ia bergegas berjalan, langkahnya cepat namun ragu. Semakin dekat, ia semakin yakin, wajah yang sudah dimakan usia itu memang wajah sahabatnya. Bu Farida, yang kini menjadi penghuni kawasan kumuh.

Nyonya Martha menghampiri Bu Farida dengan mata yang berkaca-kaca.

"Farida...? Benarkah ini kamu, Farida?"

Bu Farida menoleh, ia terkejut melihat wanita berkelas yang menyebut namanya. Butuh beberapa detik bagi Bu Farida untuk mengenali sosok di depannya saat ini

Bu Farida terkejut, setelah beberapa detik kemudian, ia baru tersadar.

"Martha...? Ya ampun, Martha! Kenapa kamu bisa ada di sini?"

Inara terdiam, kebingungan menyaksikan pertemuan tak terduga di tengah kecemasannya. Rayyan berdiri terpaku, memperhatikan ibunya yang menangis haru di pelukan seorang wanita yang sangat asing baginya, dan sekilas matanya melirik ke arah Inara.

Rayyan sempat berdehem dan menyadarkan ibunya serta Bu Farida.

" Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan putraku satu-satunya, kamu pasti masih ingat dengan Rayyan putraku!" Nyonya Martha menyenggol lengang putranya untuk berjabat tangan dengan Bu Farida, dan ia sudah tahu kode tersebut, lalu Nyonya Martha mulai melirik ke arah Inara yang terlihat cemas dengan wajahnya yang pucat.

"Aku masih ingat dengan Putramu, Martha!"

"Syukurlah, Farida, siapa wanita cantik di sampingmu? Apakah dia putrimu? Eh... Setahuku kau cuma punya satu anak laki-laki, sama sepertiku!" Pandangan Nyonya Martha terfokuskan ke arah Inara, sedangkan Inara tersenyum tipis ke arahnya.

Kemudian Bu Farida memperkenalkan Inara kepada Nyonya Martha dan juga Rayyan di tengah kegundahan hatinya Inara akan kondisi putranya, tak lama Dokter yang telah memeriksa Baby Daffa memanggil Inara ke dalam ruangannya dan meninggalkan Bu Farida, Nyonya Martha serta Rayyan di koridor Rumah Sakit.

Udara di ruang praktik Dokter, yakni Dokter Reza terasa dingin, seolah ikut membekukan suasana hati Inara. Sudah dua minggu sejak Daffa, putra semata wayangnya, lahir. Kebahagiaan menjadi ibu sempat tercoreng oleh vonis Down Syndrome saat Daffa baru berusia beberapa hari.

Kini, Inara duduk berhadapan dengan dokter anak yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Daffa. Bayi mungil itu terlelap pulas dalam dekapan Inara, tak menyadari betapa berat beban yang dipanggul ibunya saat ini.

Dokter Reza melepaskan kacamatanya, pandangannya teduh namun sarat akan kekhawatiran. Di atas mejanya, tergeletak beberapa lembar hasil pemeriksaan elektrokardiogram dan echocardiogram Daffa. Inara tahu, kabar yang akan disampaikan pasti jauh dari baik. Jantungnya berdebar kencang, menanti hantaman pahit yang sebentar lagi ia terima.

Dokter Reza menghela napasnya perlahan.

"Bu Inara setelah kami melakukan pemeriksaan mendalam, khususnya pada organ jantung Daffa, ada kabar yang harus saya sampaikan, seperti yang sudah kita diskusikan, kelainan bawaan pada jantung, atau yang dikenal dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB), memang sering sekali menyertai anak-anak dengan Down Syndrome."

Kemudian Inara menggenggam erat Daffa, suaranya bergetar.

 "Iya, Dok... saya sempat membaca soal itu. Tapi, seberapa parah kondisinya, Dok?"

"Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya Defek Septum Ventrikel (VSD) atau kebocoran pada sekat bilik jantung, dan juga ada indikasi Defek Septum Atrium (ASD). Saat ini, kebocoran ini sudah mulai signifikan memengaruhi fungsi jantungnya, jantung Daffa harus bekerja lebih keras, dan ada risiko peningkatan tekanan darah di pembuluh darah paru-paru."

Inara terdiam, bola matanya memanas, namun ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan dokter.

 "Maksud Dokter... jantung putra saya bermasalah... sekarang?"

"Benar, Bu Inara, kondisi ini perlu pemantauan ketat dan penanganan serius. Sebaiknya, Daffa segera mendapatkan perawatan medis intensif di rumah sakit agar kami bisa memantau kondisi jantungnya, memberikan obat-obatan penguat, dan mempersiapkan opsi terbaik ke depannya."

Kata-kata 'perawatan intensif' seolah telah menghantam Inara seperti sebuah palu, ia teringat akan tabungan yang ia miliki dari hasil penjualan cincin kawin miliknya, dan ia juga masih menyimpan kalung pemberian dari mantan suaminya, Hamdan! Pikirannya semoga sisa uang hasil penjualan cincin kawin miliknya serta kalung tersebut bisa ia gunakan untuk biaya pengobatan putranya selama beberapa waktu ke depan.

Inara menunduk, air mata akhirnya menetes membasahi pipi Daffa yang sudah tertidur lelap.

"Dokter... maafkan saya, jujur saja, saat ini saya terkendala biaya jika harus membawa Daffa dirawat intensif di rumah sakit dalam waktu yang lama. Apakah......apakah ada pilihan lain, Dok? Pengobatan rawat jalan, misalnya?"

Dokter Reza mengerti posisi serta kondisi Inara, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan rasa prihatin.

"Saya mengerti, Bu Inara. Kondisi ini memang berat. Secara medis, idealnya adalah perawatan di rumah sakit. Namun, melihat tekad dan cinta kasih Anda..."

Dokter Reza mulai berpikir sejenak, lalu ia menatap Inara dengan tatapannya yang serius.

 "Baiklah, saya akan berikan Anda waktu selama tiga bulan. Kita akan mencoba pengobatan berjalan di rumah dengan obat-obatan. Anda harus ketat mengawasi asupan nutrisi Daffa dan memastikan ia tidak mengalami infeksi pernapasan sedikit pun, saya juga akan menjadwalkan kontrol dan evaluasi setiap dua minggunya, bagaimana Bu Inara?"

Kemudian Inara menatap Dokter Reza penuh harap. "Tiga bulan, Dok? Terima kasih banyak."

"Namun, ada syarat mutlak Bu Inara, jika dalam tiga bulan kondisi Daffa tidak membaik, atau bahkan memburuk, misalnya berat badannya sulit naik atau ia mengalami sesak napas yang parah. Maka operasi jantung adalah satu-satunya jalan, operasi bertujuan untuk menutup kebocoran itu agar jantungnya bisa berfungsi dengan normal."

Inara terhenyak, operasi? Biayanya pasti sangat besar, pikirnya dalam hati.

"Operasi..."

"Iya , Bu Inara, anggaplah waktu tiga bulan ini adalah kesempatan Anda dan Daffa untuk berjuang. Saya akan memberikan resep dan panduan lengkap untuk perawatan di rumah. Ingat, Bu Inara, pantau perkembangannya dengan seksama, jangan pernah Ibu lewatkan jadwal kontrol untuk Daffa."

Kemudian Inara menghapus jejak air matanya, ia mengangguk mantap, meski hatinya remuk redam.

"Baik, Dok. Saya akan lakukan yang terbaik. Demi Daffa."

Akhirnya Inara keluar dari ruang praktek dokter dengan langkah gontai. Tangan kirinya memeluk Daffa, tangan kanannya menggenggam resep dan surat pengantar.

 Vonis Down Syndrome sudah terasa menyakitkan, kini ditambah lagi kelainan jantung yang mengancam nyawa putranya, tiga bulan, hanya tiga bulan waktu yang ia miliki untuk mencari keajaiban, atau terpaksa menghadapi kenyataan pahit yakni operasi yang menelan biaya tak terbayangkan. Ia menatap wajah polos Daffa yang damai. Sebuah janji lirih terucap di hatinya,

"Mama akan berjuang, Sayang. Mama tidak akan menyerah." Beban di pundaknya terasa amat berat, tetapi cinta seorang ibu adalah kekuatan yang tak terhingga sepanjang masa.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Suyati

Suyati

insyaAllaah nnti ada jln keluarnya

2026-06-14

2

Yeti Hayati

Yeti Hayati

Bismillah selalu ada jalan keluar

2026-04-18

1

Taga Putri Makassar

Taga Putri Makassar

semangat inara,demi sang buah hati😥

2026-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Maafkan aku, menceraikan mu
2 Kehidupan baru untuk Inara
3 Rayyan Witjaksono yang pernah tersakiti
4 Kemampuan Inara
5 Kamu pasti kuat, Nak.
6 Rencana Nyonya Martha
7 Membuka usaha menjahit
8 Usaha baru dan pertemuan yang sudah direncanakan
9 Diam-diam mengagumi
10 Sikap ego Rayyan terhadap Inara
11 Rencana Rayyan Witjaksono
12 Saling bertemu secara diam-diam
13 Perjanjian hitam di atas putih
14 Bertemu kembali dengan mantan Ayah mertua
15 Memanfaatkan situasi
16 Rencana dimulai
17 Ancaman yang sempurna
18 Kondisi Daffa yang memburuk
19 Keputusan yang berat
20 Kejutan untuk Rayyan
21 Keputusan Rayyan dan rencana busuknya
22 Surat perjanjian pernikahan
23 Membeli cincin pernikahan
24 Hari pernikahan
25 Pelajaran untuk Inara
26 Es yang mulai mencair
27 Rencana berjalan mulus
28 Pergi menemui Dokter Jordan
29 Persiapan menjelang acara ulangtahun perusahaan
30 Bertemunya Rayyan dan Hamdan
31 Acara ulangtahun perusahaan
32 Terkejutnya keluarga Santoso
33 Api cemburu
34 Rayyan yang menggila
35 Kejadian yang mengejutkan
36 Penyesalan Rayyan terhadap Inara
37 Tamu tidak di duga
38 Membujuk Inara
39 Ketegangan di pagi hari
40 Apakah aku cemburu?
41 Terjebak oleh surat perjanjian
42 Usaha Rayyan membujuk Inara
43 Aksi nekat Rayyan
44 Kembali ke Mansion
45 Sikap tegas Inara terhadap sang mantan
46 Surat perjanjian yang dianggap konyol
47 Tak ada lagi surat perjanjian
48 Di rawat di rumah sakit
49 Cemburu Buta
50 Saling meminta maaf
51 Baby Daffa akhirnya pulang
52 Balada gigitan nyamuk
53 Menyibukkan diri
54 Acara Fashion show dan rencana jahat Amara
55 Jebakan untuk Inara
56 Ketiban Durian Runtuh
57 Pagi yang manis
58 Amarah Rayyan
59 Jangan panggil aku Tuan
60 Kecurigaan Hamdan
61 Hamdan yang nekat
62 Misi penangkapan pelaku part 1
63 Misi penangkapan pelaku part 2 (akhir)
64 Pergi ke Rumah Sakit
65 Persiapan menjelang Honeymoon
66 Pergi Honeymoon part 1
67 pergi Honeymoon part 2( balada pil kontrasepsi)
68 Pergi Honeymoon part 3 ( sengaja membuat Inara cemburu )
69 Pergi Honeymoon part 4 ( Inara dan Rayyan baikan )
70 Pergi Honeymoon part 5( Flora mulai berulah )
71 Marahnya Inara
72 Honeymoon yang berakhir dengan indah
73 Apakah aku harus percaya?
74 Kebenaran yang terungkap
75 Tragedi di Mall
76 Mengejar pelaku
77 Akhir yang tragis
78 Gejala yang aneh
79 Kecurigaan Nyonya Martha
80 Inara Hamil
81 Kebahagiaan yang sempurna dan bahagia selamanya
82 pengumuman karya baruku
83 pengumuman karya terbaruku
84 pengumuman karya terbaru Bulan Februari 2026
85 Pengumuman karya terbaruku di bulan Maret
86 pengumuman karya terbaruku di bulan April 2026
87 Pengumuman karya terbaruku
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Maafkan aku, menceraikan mu
2
Kehidupan baru untuk Inara
3
Rayyan Witjaksono yang pernah tersakiti
4
Kemampuan Inara
5
Kamu pasti kuat, Nak.
6
Rencana Nyonya Martha
7
Membuka usaha menjahit
8
Usaha baru dan pertemuan yang sudah direncanakan
9
Diam-diam mengagumi
10
Sikap ego Rayyan terhadap Inara
11
Rencana Rayyan Witjaksono
12
Saling bertemu secara diam-diam
13
Perjanjian hitam di atas putih
14
Bertemu kembali dengan mantan Ayah mertua
15
Memanfaatkan situasi
16
Rencana dimulai
17
Ancaman yang sempurna
18
Kondisi Daffa yang memburuk
19
Keputusan yang berat
20
Kejutan untuk Rayyan
21
Keputusan Rayyan dan rencana busuknya
22
Surat perjanjian pernikahan
23
Membeli cincin pernikahan
24
Hari pernikahan
25
Pelajaran untuk Inara
26
Es yang mulai mencair
27
Rencana berjalan mulus
28
Pergi menemui Dokter Jordan
29
Persiapan menjelang acara ulangtahun perusahaan
30
Bertemunya Rayyan dan Hamdan
31
Acara ulangtahun perusahaan
32
Terkejutnya keluarga Santoso
33
Api cemburu
34
Rayyan yang menggila
35
Kejadian yang mengejutkan
36
Penyesalan Rayyan terhadap Inara
37
Tamu tidak di duga
38
Membujuk Inara
39
Ketegangan di pagi hari
40
Apakah aku cemburu?
41
Terjebak oleh surat perjanjian
42
Usaha Rayyan membujuk Inara
43
Aksi nekat Rayyan
44
Kembali ke Mansion
45
Sikap tegas Inara terhadap sang mantan
46
Surat perjanjian yang dianggap konyol
47
Tak ada lagi surat perjanjian
48
Di rawat di rumah sakit
49
Cemburu Buta
50
Saling meminta maaf
51
Baby Daffa akhirnya pulang
52
Balada gigitan nyamuk
53
Menyibukkan diri
54
Acara Fashion show dan rencana jahat Amara
55
Jebakan untuk Inara
56
Ketiban Durian Runtuh
57
Pagi yang manis
58
Amarah Rayyan
59
Jangan panggil aku Tuan
60
Kecurigaan Hamdan
61
Hamdan yang nekat
62
Misi penangkapan pelaku part 1
63
Misi penangkapan pelaku part 2 (akhir)
64
Pergi ke Rumah Sakit
65
Persiapan menjelang Honeymoon
66
Pergi Honeymoon part 1
67
pergi Honeymoon part 2( balada pil kontrasepsi)
68
Pergi Honeymoon part 3 ( sengaja membuat Inara cemburu )
69
Pergi Honeymoon part 4 ( Inara dan Rayyan baikan )
70
Pergi Honeymoon part 5( Flora mulai berulah )
71
Marahnya Inara
72
Honeymoon yang berakhir dengan indah
73
Apakah aku harus percaya?
74
Kebenaran yang terungkap
75
Tragedi di Mall
76
Mengejar pelaku
77
Akhir yang tragis
78
Gejala yang aneh
79
Kecurigaan Nyonya Martha
80
Inara Hamil
81
Kebahagiaan yang sempurna dan bahagia selamanya
82
pengumuman karya baruku
83
pengumuman karya terbaruku
84
pengumuman karya terbaru Bulan Februari 2026
85
Pengumuman karya terbaruku di bulan Maret
86
pengumuman karya terbaruku di bulan April 2026
87
Pengumuman karya terbaruku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!