Desakan orang tua

Langit sore mulai meredup ketika gadis itu melangkah pelan menuju parkiran. Map yang ia pegang terasa lebih berat dari biasanya, seakan setiap lembar kertas di dalamnya berubah menjadi beban yang menekan dadanya. Wajahnya pucat, dan langkahnya tidak beraturan. Suasana kampus sudah mulai sepi, hanya beberapa mahasiswa yang masih berjalan sambil menenteng laporan atau laptop.

Ponselnya bergetar. Ia menghela napas panjang sebelum melihat layarnya.

Mama:

Tiga panggilan tak terjawab. Dua pesan belum dibaca.

Tangan Shaqila sedikit gemetar saat membuka chat itu.

Mama:

Sha, kamu jadi bimbingan hari ini?

Mama:

Mama cuma ingetin… kamu harus lulus tahun ini, ya. Kami berharap banyak sama kamu. Jangan kecewakan kami!

Ia memejamkan mata, jantungnya mencelos seperti dijatuhkan dari ketinggian. Ia tahu orang tuanya bermaksud baik. Mereka ingin dirinya lulus tepat waktu. Tapi tetap saja, rasanya seperti ada tali yang terus dikencangkan di lehernya.

Gadis itu tidak lansung pulang. Ia duduk di jok motornya yang dingin. Angin sore menyapu rambutnya, namun tidak mampu menahan rasa panas di matanya. Ia menunduk, memeluk map nya erat-erat sambil mencoba bernapas stabil.

“Lulus tahun ini… lulus tahun ini… lulus tahun ini…” gumamnya lirih, seolah kalimat itu adalah mantra yang dipaksa masuk ke kepalanya.

Padahal skripsinya baru saja ditolak yang ke sekian kalinya. Ia tidak yakin akan lulus tahun ini.

Pikirannya melayang ke perbincangan seminggu lalu di rumah.

Dimana Sinta, mamanya berdiri di dapur, menyendok sup sambil berkata dengan nada datar, “teman mama bilang anaknya sudah mau sidang, masa kamu stay di skripsi?"

Fandi, papanya menimpali sambil membaca berita di ponselnya, "papa malu Sha kalau kamu tidak lulus tahun ini. Anak teman papa selesai sidang, sudah resmi jadi sarjana. Tinggal nunggu acara wisuda aja,"

"Apa kata teman papa nanti, jika anak papa tidak lulus tahun ini. Padahal papanya lulusan terbaik waktu kuliah dulu," lanjutnya lagi.

Gadis itu hanya diam, menggenggam ujung bajunya.

“Shaqila usahakan kok,” Itu saja yang bisa ia ucapkan.

Mamanya menghela napas panjang, suara yang terus terngiang di kepala Shaqila sampai hari ini. "Mama cuma ingin kamu cepat lulus. Tetangga kita saja anaknya sudah lulus tepat waktu,"

Kalimat itu lebih tajam dari pisau.

Dan sekarang, ketika ia membaca pesan-pesan dari mamanya, luka itu terbuka kembali.

Air mata yang tak diundang datang tanpa permisi.

Ia mencoba menoleh ke sekeliling, sepi. Nafasnya mulai tercekat. Tangan kirinya mengusap wajah cepat-cepat, tetapi semakin ia menahan, semakin deras tetesan itu keluar. Ia jatuh diam-diam, tanpa suara, tetapi getaran tubuhnya tak bisa disembunyikan.

Ia membungkuk, wajahnya tertutup rambut panjangnya. Bahunya naik turun, tersengal. Air mata jatuh membasahi punggung tangannya. Ia menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan suara.

“Kenapa harus gue yang alami seperti ini?” bisiknya dengan suara pecah.

Tekanan itu terasa seperti dinding yang semakin menyempit, mendorongnya dari segala arah. Orang tuanya menginginkan kelulusan tahun ini. Kampus menuntut kualitas. Dosen pembimbing menuntut ketelitian dan perfeksionis. Dan dirinya sendiri ia bahkan tidak yakin apa nanti ia dapat mengabulkan keinginan orang tuanya.

Di saat yang sama, ia takut pada dirinya sendiri, takut tidak mampu memenuhi harapan siapa pun.

“Sha?"

Gadis itu tersentak. Ia buru-buru mengusap wajah, namun jejak basah itu terlalu banyak. Ia mendongak perlahan dan melihat Siska berdiri di depannya dengan alis terangkat dan ekspresi khawatir.

"Lo kenapa? dari tadi gue cari, kok masih duduk di sini sendirian?"

Shaqila menggeleng panik. "Nggak apa-apa, Sisk. Gue cuma… capek."

Siska ikut duduk di jok motor tepat didepan motor Shaqila. Ia tidak peduli dengan siapa pemilik motor itu. Toh dia cuma mendudukinya bukan mengambilnya.

Shaqila menggigit bibir dan hanya bisa mengangguk.

Siska menepuk bahunya. "Ya ampun, Sha. Kalau lo mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan."

Kata-kata itu menjadi pemicu. Shaqila memalingkan wajah, tetapi tubuhnya kembali bergetar. Siska langsung berdiri dan merangkulnya.

Shaqila terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berbisik, “Mama maunya gue lulus tahun ini, Sis. Katanya gue jangan buang-buang waktu lagi… Papa juga bilang dia malu sama temannya karena anak-anak mereka lulus tepat waktu. Kenapa rasanya semua orang makin menekan gue?”

Siska menghela napas, lalu mengusap punggung Shaqila dengan lembut.

"Sabar Sha, lo pasti bisa,"

Shaqila menutup wajah, suaranya pecah, "Gue takut gagal. Gue takut bikin mereka kecewa… gue takut kalau gue nggak sanggup lulus tahun ini…"

"Dengar gue." Siska menarik dagu Shaqila agar menatapnya. "Kalaupun lo nggak lulus tahun ini, itu bukan kegagalan. Itu bukan akhir dunia. Lo sudah berusaha sekeras mungkin."

Shaqila menggeleng, "Tapi mereka nggak lihat itu… mereka cuma lihat hasil. Mereka cuma ingin gue selesai."

"Tugas lo bukan menyenangkan semua orang, Sha."

Shaqila mengembuskan napas kasar, matanya kembali berkaca-kaca. "Gue lelah, Sisk… gue beneran lelah."

Siska merangkulnya lebih erat. "Gue tahu! dan itu wajar karena lo manusia."

"Sha," Siska mencondongkan badan. "Takut itu wajar. Tapi lo nggak boleh berhenti cuma karena takut. Lo udah sejauh ini."

"Gue cuma pengen…" Shaqila menggigit bibir, mencari kata, "pengen bebas dari tekanan ini."

Siska mengangguk pelan. "Lo capek karena lo nahan semuanya sendirian. Bagi sedikit ke gue, Sha. Gue bukan cuma teman buat ketawa bareng."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kafe kecil dekat kampus biasanya menjadi tempat favorit Shaqila untuk mengerjakan tugas, tetapi siang itu ruangan yang nyaman justru terasa menyesakkan. Laptopnya terbuka, cursor berkedip di layar word kosong seperti sedang mengejeknya. Di samping laptop, kertas revisi dari dosen pembimbingnya Reyhan, berserakan, penuh coretan tinta merah yang tajam, menyiratkan banyak sekali kekurangan.

Shaqila menatap halaman itu lekat-lekat. Setiap catatan tertulis seperti suara-suara yang menghantam pikirannya.

"Kurang relevan!"

"Analisis sangat dangkal!''

"Perbaiki seluruh paragraf!"

"Harusnya kamu sudah menguasai ini!"

Tangan Shaqila mengepal pelan. Nafasnya pendek, dada terasa sesak. Ia sudah membaca komentar itu berkali-kali sejak kemarin, tetapi setiap kali membuka file skripsinya, pikirannya membeku. Ia tahu apa yang harus dikerjakan, tapi tubuhnya seperti menolak.

*Kenapa susah banget…" bisiknya parau.

Ia berusaha mengetik. Satu kalimat, lalu menghapusnya lagi. Mengetik ulang, menghapus lagi. Tiga puluh menit berlalu, dan layar word masih tetap kosong.

Orang-orang di sekitarnya tertawa pelan, bercanda, dan sebagainya seolah dunia mereka berjalan lancar. Sementara dia seolah terjebak dalam kabut di dalam kepalanya sendiri.

Gadis itu mengambil draf revisi, membaca satu komentar dari Reyhan.

"Teorimu tidak mengarah ke pembahasan

utama. Pahami lagi konsepnya."

Ia membuka Google Scholar. Mencari jurnal. Membaca beberapa halaman tapi setelah lima menit, matanya buram. Tulisan-tulisan itu menyatu, menjadi garis-garis yang ia tak mampu pahami.

Ia menutup jurnal dan memijat pelipis.

"Gue tuh ngerti… tapi kenapa kayak nggak masuk otak?" suaranya getir.

Ia mencoba membaca lagi.

Tapi dalam hitungan detik, tenggorokannya tercekat. Ada rasa panas mengalir ke matanya.

"Sha, fokus… fokus…" Ia menampar pipinya pelan, mencoba menyadarkan diri, tetapi suara putus asa dari dalam kepalanya terdengar lebih keras.

'Kamu memang nggak cukup pintar.'

'Orang lain bisa lulus cepat, kamu kenapa nggak?

'Mama benar… kamu buang-buang waktu dan membuat papa malu,'

'Pak Reyhan pasti juga capek bimbing kamu.’

Shaqila menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa asin. Tubuhnya mulai bergetar ringan. Ia menunduk, mengusap matanya dengan cepat.

Laptopnya menjadi buram karena air mata yang tak tertahan. Ia buru-buru menutup layar, menundukkan kepala, bahunya naik turun.

Ia memeluk tasnya erat-erat, mengatur napas sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

"Gue capek… sumpah capek banget…" gumamnya, suara nyaris tidak terdengar.

Seketika itu, semua beban yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan runtuh bersamaan. Tekanan orang tua, tekanan kampus, tekanan dosen pembimbing, dan tekanan pada dirinya sendiri.

Ia takut gagal.

Ia takut orang tuanya kecewa.

Ia takut kalau ia akan jadi bahan perbandingan keluarga selamanya.

Dan ia takut Reyhan akan meremehkannya lagi.

"Kalau gue nggak lulus tahun ini… apa mereka bakal marah? Apa gue bakal di banding-bandingin terus?"

Pikiran itu menghantamnya seperti ombak besar. Ia mengusap air mata lagi dan lagi, tetapi setiap usapan hanya memaksa air baru keluar.

Setelah beberapa menit, ia akhirnya menarik napas dalam-dalam. Ia membuka laptop pelan, meski matanya masih merah. Ia memaksa dirinya membaca ulang catatan Reyhan lagi.

“Tambahkan variabel kontrol. Tidak bisa seperti ini.”

Shaqila mengetik.

Variabel kontrol adalah…

Stop.

Ia menghapusnya.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Mengusap wajahnya keras-keras hingga pipinya memerah.

"Kok susah banget, sih…" suaranya pecah, penuh frustrasi.

Ia mencoba membuka file lain, membaca bab satu, bab dua, berharap menemukan ritme. Tapi yang ia rasakan justru keraguan yang semakin menebal.

Kepalanya mulai pusing. Pandangannya berputar sesaat. Ia bersandar ke kursi, menutup mata sambil menekan dada kanan. Napasnya berat, tersengal seperti ada batu besar menekan.

"Satu paragraf… please… satu paragraf aja…" mohon Shaqila pada dirinya sendiri.

Ia mengetik satu kalimat.

Hening.

Ia baca ulang.

“Ini jelek banget…” ia berbisik, suara pecah.

Air matanya jatuh lagi.

“Ya Tuhan, kenapa gue nggak bisa? kenapa gue bodoh banget?”

Di tengah kejatuhan itu, ia tiba-tiba teringat percakapan singkat dengan mamanya pagi tadi.

"Sha, mama mau lihat kamu wisuda tahun ini. Kerja itu susah kalau kamu nggak lulus-lulus."

"Sha, jangan main HP terus. Fokus skripsi!"

"Jangan bikin malu keluarga."

Kata-kata itu menghantamnya lagi. Luka lama terbuka, lebih dalam dari sebelumnya.

Tiba-tiba ada tangan lembut menyentuh bahunya.

Shaqila terkejut. Ia mendongak pelan dan menemukan Siska berdiri di sampingnya, nafas sedikit terengah seperti habis berlari.

"Gue tahu lo disini, dan gue tahu lo butuh teman," ucap Siska.

Ya Siska memang sudah tahu ini adalah tempat favorit sahabatnya. Karena mereka juga beberapa kali nongkrong ditempat ini.

Ia bersandar pada Siska dan menangis tanpa suara, bahunya bergetar, tubuhnya melemah.

"Lo nggak harus sesempurna itu, Sha…" bisik Siska. "Revisi itu bukan bukti lo bodoh. Semua orang prosesnya beda."

Shaqila menyeka air mata dengan lengan. "Gue takut… Sisk. Gue takut banget. Rasanya kayak apa pun yang gue lakukan itu salah."

Siska mengusap kepalanya. ''Nggak apa-apa takut. Yang penting lo tetap ada di sini dan nggak nyerah."

"Kayaknya… gue hampir nyerah."

"Nggak! lo nggak boleh nyerah! Gue aja yang baru nulis bab awal nggak nyerah. Masa lo nggak. Kita usahain wisuda bareng-bareng tahun ini ya" Siska memegang pipinya, menatapnya serius.

"Lo masih mau buka laptop, lo masih mau baca ulang, lo masih duduk di sini dan itu bukti bahwa lo belum nyerah," lanjutnya.

Shaqila terdiam, air mata kembali turun, tapi kali ini lebih tenang.

Siska tersenyum lembut. "Ayo kita cicil pelan-pelan. Satu kalimat dulu, kalau nggak bisa, ya istirahat sebentar. Kita bukan robot!"

Terpopuler

Comments

@dadan_kusuma89

@dadan_kusuma89

Betul sekali apa yang dikatakan sahabatmu itu, Shaqila. Kamu harus menumpahkan segala problema dalam jiwamu. Luapkan keluar, ini dalam artian kamu harus berbagi cerita dan berdiskusi dengan temanmu itu, agar semua beban menjadi terasa lebih ringan.

2025-12-01

0

Pengabdi Uji

Pengabdi Uji

Nah jgn di dengerin jg ortu tu kadang cuma bandingin doang dy kg tau anaknya skripsi berdarah2😌 Tmen gue ada yg mo loncat saking stres nya skripsi🤪🤪 tp itu lah kenikmatan g bsa dulang 2x stlah kita lulus cm bsa ktawa inget memory itu

2026-02-14

0

𝕰𝖛𝖊𝖑𝖞𝖓

𝕰𝖛𝖊𝖑𝖞𝖓

Itu sih gmpg pak, tinggal jgn menemui mereka aja kn, biar gk denger kata mereka. toh bkn mereka yg ksh ksliqn makan. jgn prnh mmbandingkan ankmu dg ank orang lain pak, semua org itu punya kelebihan dan kekurangan masing2

2025-12-03

0

lihat semua
Episodes
1 Penolakan ke enam belas
2 Desakan orang tua
3 Si Killer yang perfeksionis
4 Calon istri
5 Nikah kontrak?
6 Manipulatif
7 Malam pengantin
8 Rumah baru
9 Nafkah
10 Heboh
11 Ganti Dospem
12 Salting
13 Bau mulut
14 Pendekatan
15 Sekedar teman
16 Sakit
17 Manusia Jelly
18 Ciuman
19 Kopi, Mie Instan, dan Cabai rawit
20 Liburan
21 Bahagia
22 Syukuran
23 Rumor
24 Drop Out
25 Caper
26 Hidup yang rumit
27 Gila
28 Rasa bersalah
29 Permainan kasar
30 Kegiatan lain
31 Ngidam bermain di mobil
32 Suka kamu
33 Ciuman part 2
34 Laki-laki mesum
35 Terbongkar
36 Pengakuan
37 Kejutan
38 Kejutan (part ll)
39 Honeymoon
40 Paris kota romantis
41 Hari pertama di Paris
42 Terbongkar ll
43 Hari Terakhir di Paris
44 Cerai
45 Kecewa
46 Nyerah
47 Memulai hidup baru
48 Hamil dan kenangan kota
49 Bertemu
50 Kehidupan baru
51 Tak tergantikan
52 Terbakar Emosi
53 Kehilangan
54 Perpisahan yang menyakitkan
55 Perdebatan panas
56 Mulai menerima
57 Wasiat dalam mimpi
58 Wasiat tertulis
59 Larutan Letharin
60 Penyesalan
61 Menerima
62 Misi
63 Terungkap
64 Kejutan yang menyenangkan
65 Status yang berbeda
66 Tidak pernah bercerai?
67 Ngidam daster?
68 Takut wanita hamil?
69 Ngidam aneh
70 Tukar tambah Suami
71 Pencurian ide
72 Mama punya pacar?
73 Perdebatan panas ll
74 Bercocok tanam
75 memanfaatkan keadaan
76 Mama kenapa?
77 Takut salah pilih
78 Susunan rencana
79 Normal atau Sesar
80 Persahabatan yang selesai
81 Lebih baik mama mati?
82 Strategi
83 Tertangkap
84 Harapan saat persalinan
85 Pendarahan
86 Sidang pertama
87 Sadar
88 Dendam membara
89 Kemasan Sachet
90 Sidang kedua
91 Hilang?
92 Penyesalan
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Penolakan ke enam belas
2
Desakan orang tua
3
Si Killer yang perfeksionis
4
Calon istri
5
Nikah kontrak?
6
Manipulatif
7
Malam pengantin
8
Rumah baru
9
Nafkah
10
Heboh
11
Ganti Dospem
12
Salting
13
Bau mulut
14
Pendekatan
15
Sekedar teman
16
Sakit
17
Manusia Jelly
18
Ciuman
19
Kopi, Mie Instan, dan Cabai rawit
20
Liburan
21
Bahagia
22
Syukuran
23
Rumor
24
Drop Out
25
Caper
26
Hidup yang rumit
27
Gila
28
Rasa bersalah
29
Permainan kasar
30
Kegiatan lain
31
Ngidam bermain di mobil
32
Suka kamu
33
Ciuman part 2
34
Laki-laki mesum
35
Terbongkar
36
Pengakuan
37
Kejutan
38
Kejutan (part ll)
39
Honeymoon
40
Paris kota romantis
41
Hari pertama di Paris
42
Terbongkar ll
43
Hari Terakhir di Paris
44
Cerai
45
Kecewa
46
Nyerah
47
Memulai hidup baru
48
Hamil dan kenangan kota
49
Bertemu
50
Kehidupan baru
51
Tak tergantikan
52
Terbakar Emosi
53
Kehilangan
54
Perpisahan yang menyakitkan
55
Perdebatan panas
56
Mulai menerima
57
Wasiat dalam mimpi
58
Wasiat tertulis
59
Larutan Letharin
60
Penyesalan
61
Menerima
62
Misi
63
Terungkap
64
Kejutan yang menyenangkan
65
Status yang berbeda
66
Tidak pernah bercerai?
67
Ngidam daster?
68
Takut wanita hamil?
69
Ngidam aneh
70
Tukar tambah Suami
71
Pencurian ide
72
Mama punya pacar?
73
Perdebatan panas ll
74
Bercocok tanam
75
memanfaatkan keadaan
76
Mama kenapa?
77
Takut salah pilih
78
Susunan rencana
79
Normal atau Sesar
80
Persahabatan yang selesai
81
Lebih baik mama mati?
82
Strategi
83
Tertangkap
84
Harapan saat persalinan
85
Pendarahan
86
Sidang pertama
87
Sadar
88
Dendam membara
89
Kemasan Sachet
90
Sidang kedua
91
Hilang?
92
Penyesalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!