Ikan Asin Emas

Ikan Asin Emas

Bab 1: Dipecat

Langit sore di atas Ibu Kota terasa kelabu, seolah turut merasakan ketidakadilan yang baru saja memukul Jin Xuan telak.

Ia adalah pria yang rajin dengan pandangan yang cerah,dulu dia berpikir hanya dengan rajin maka kesuksesan akan menantinya,hanya untuk di tampar oleh kenyataan.

Ia berdiri kaku di tengah karpet tebal, aroma kopi pahit dan kertas-kertas mahal menguar di Kantor Direktur Utama, sebuah ruangan yang sebentar lagi—ia sadari dengan getir—bukan lagi bagian dari dunianya.

Di seberangnya, Tuan Lim, pria paruh baya dengan lingkaran kekuasaan yang tercetak jelas di balik setelan mahalnya, bersandar di kursi kulit hitamnya.

Wajahnya menunjukkan perpaduan antara kebosanan dan sedikit rasa kasihan yang merendahkan.

“Jadi, begini cara Bapak memperlakukan karyawan yang sudah Bapak andalkan selama lima tahun terakhir?” tanya Jin Xuan, suaranya tercekat dan bergetar, berusaha keras menahan gelombang amarah yang mendidih di ulu hatinya.

Ia adalah Kepala Departemen Pemasaran. Ia telah mendatangkan proyek-proyek besar, tidur larut di kantor, dan mengorbankan setiap akhir pekan untuk perusahaan ini.

Tuan Lim hanya menghela napas, gestur itu lebih menusuk daripada sebuah makian. Ia menunjuk setumpuk dokumen di mejanya dengan pena emas.

“Jin Xuan,” katanya, nadanya datar dan tak terbantahkan, “Kita harus realistis. Perusahaan ini adalah milik keluarga. Putra saya, Henry, baru saja lulus dari luar negeri. Ia perlu mengambil alih posisi strategis. Ini sudah keputusanku.”

Dunia terasa berputar bagi Jin Xuan. Ini bukan sekadar keputusan bisnis; ini adalah pengkhianatan yang dingin.

Ia tahu betul, Henry Lim adalah pemuda manja yang hanya tahu menghamburkan uang, bukan menghasilkan keuntungan.

“Tapi, Pak, Henry bahkan tidak mengerti dasar-dasarnya! Saya yang membangun tim itu dari nol!”

Jin Xuan melangkah maju, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Saya yang memenangkan tender Proyek Zenith minggu lalu! Bapak tidak bisa hanya—”

Tuan Lim memotongnya dengan lambaian tangan yang arogan. “Justru, kau harusnya berterima kasih, Jin Xuan.”

Kata-kata itu menghantamnya seperti pukulan.

“Berterima kasih?” ulang Jin Xuan, seolah ia baru mendengar lelucon paling pahit.

“Tentu saja. Aku menerimamu lima tahun lalu saat kau hanya seorang lulusan yang bingung. Kau mendapat pengalaman berharga di sini. Anggap saja ini akhir dari magang panjangmu. Ambil pesangonmu, dan jangan buat masalah.”

Tuan Lim melirik jam tangannya, mengakhiri percakapan tanpa memberi kesempatan Jin Xuan untuk membalas. “Aku punya rapat penting sebentar lagi.”

Darah Jin Xuan berdesir panas ke kepala. Wajahnya terasa kebas karena menahan ekspresi yang tidak bisa ia kontrol lagi.

Lima tahun pengabdian, dibayar rendah,lembur hanya diberi pizza, kini hanya dianggap sebagai ‘magang panjang’ yang bisa diakhiri demi sebuah keegoisan.

Ia merasa harga dirinya diinjak-injak, dibuang seperti ampas kopi.

Ia menatap Tuan Lim untuk terakhir kalinya, tidak ada lagi rasa hormat, hanya kebencian yang samar.

Ia tahu, berdebat lebih jauh hanya akan merendahkan dirinya sendiri. Ia hanya akan menjadi badut yang memohon di hadapan seorang raja yang sombong.

Dengan napas yang berat, Jin Xuan berbalik, punggungnya tegak namun bahunya terasa menanggung beban gunung. Ia berjalan cepat menuju pintu.

Saat tangannya memegang kenop pintu, ia berhenti sejenak. Tanpa berbalik, ia menarik kenop itu, membukanya, dan menutupnya kembali dengan kekuatan penuh.

BAMMM!

Suara pintu kayu mahoni yang mahal itu bergetar hebat di seluruh koridor, menggema layaknya dentuman bom di dalam kesunyian kantor Direksi.

Suara itu adalah satu-satunya ekspresi kemarahan murni yang diizinkan Jin Xuan untuk keluar, sebuah pengakuan dramatis atas kekecewaannya.

Ia meninggalkan gedung itu secepat yang ia bisa, tanpa melihat ke belakang. Udara di luar lebih dingin, lebih menyakitkan.

Ia berjalan di sepanjang trotoar yang basah, kaki-kakinya terasa berat.

Setiap langkah adalah pengakuan atas kegagalannya, pengakuan bahwa di dunia nyata, kerja keras dan prestasi tidak selalu sebanding dengan kekuasaan dan koneksi.

Wajahnya keruh, matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya dipenuhi gambaran wajah Tuan Lim yang angkuh dan masa depan Jin Xuan yang kini mendadak kosong.

"Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana aku membayar sewa?"

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam siklus menyakitkan.

Ia hanya memiliki sedikit tabungan,semua uangnya sudah berakhir di kantong rentenir, kebanyakan uangnya harus disisihkan untuk membayar hutang ayahnya sebanyak 350 juta rupiah.

Ia sudah umur 29, sedangkan kebanyakan loker berumur 25 kebawah entah kenapa pemerintah tidak memperhatikan hal ini,dan mencari pekerjaan di posisinya tidak akan mudah. Ia merasa dirinya benar-benar sendiri.

Setelah berjalan kaki hampir satu jam, menembus kerumunan orang yang pulang kerja, Jin Xuan akhirnya tiba di tujuannya. Sebuah rumah kontrakan kecil yang terletak di gang sempit.

Rumah yang ia tinggalkan pagi ini dengan semangat seorang Kepala Departemen, kini ia masuki kembali sebagai seorang pengangguran yang tak berdaya.

Ia mengeluarkan kunci dari saku celananya, membukanya dengan gerakan yang lamban, dan mendorong pintu kayu itu hingga terbuka. Aroma apek, debu, dan keheningan menyambutnya. Ia bahkan tidak menyalakan lampu.

Dengan langkah gontai, ia menuju kamar tidur kecilnya. Kamar itu berisi ranjang tunggal, lemari pakaian usang, dan meja belajar yang penuh dengan buku-buku strategi bisnis yang kini terasa konyol.

Ia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang, tidak peduli dengan pakaian kantornya yang akan kusut. Ia hanya berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang diselimuti kegelapan. Keheningan di dalam ruangan itu terasa jauh lebih bising daripada hiruk pikuk di jalanan tadi.

Tangan Jin Xuan terangkat dan menutupi wajahnya. Ia tidak menangis, tapi rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih dalam daripada air mata.

Itu adalah sakitnya keputusasaan, sakitnya nasib yang tiba-tiba direnggut tanpa peringatan.

Di benaknya, ia teringat cerita-cerita yang sering ia baca di sela-sela istirahat kerjanya, kisah-kisah di komik dan novel fantasi yang menjadi pelariannya.

Kisah tentang protagonis yang, ketika mereka mencapai titik terendah, tiba-tiba mendapatkan kekuatan tersembunyi. Kekuatan yang memungkinkan mereka untuk membalas dendam, menciptakan jalan hidup baru, atau bahkan menyelamatkan dunia.

Sebuah bisikan lirih, lahir dari keputusasaan paling dalam, terlepas dari bibirnya. Bisikan itu memuat seluruh harapan yang tersisa dari seorang pria yang baru saja kehilangan segalanya.

“Andai saja…”

Jin Xuan menarik napas panjang, meredam emosinya yang tersisa, dan menyelesaikan kalimatnya dengan sebuah harapan yang absurd dan mustahil.

“Andai saja kekuatanku bangkit seperti di komik-komik.”

Tepat setelah kata-kata itu terucap, keheningan di dalam kamar itu pecah. Tidak ada gempa, tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya sebuah panel muncul didepannya.

{Ding...10%..20%..40%..60..80%..100%

.. SISTEM SIAP UNTUK DIGUNAKAN,KLIK UNTUK MEMUNCULKAN PANEL SISTEM}

Jin Xuan terkejut, jantungnya berdetak dengan cepat sudut mulutnya terangkat,dia sangat senang namun berangsur-angsur tenang.

Dia pun berpikir dengan keras, dan segera mencapai kesimpulan.

Dia sudah berusaha keras selama ini,jadi dia menganggap bahwa ini adalah kompensasinya,dia tidak ingin bekerja keras lagi, dia hanya ingin hidup damai,dan melakukan apapun yang dia inginkan

"Sistem ya? baiklah sepertinya aku bisa menyambung hidup dengan ini"

Ia menoleh ke sisi ranjangnya, duduk kemudian bersandar di dinding kamar.

Ia mengambil rokok,membakarnya dan menghisapnya.

Fuuuhhh..asap keluar dari mulutnya.

Dia mengklik tombol di panel lalu panel itupun di perbesar.

?

Host:Jin xuan

Kecerdasan:6(rata-rata)

Mental:5

Misi:1

"Hanya ini", Jin Xuan mengernyit,ia merasa systemnya tidak sama seperti yang biasa ia tahu.

Ia pun teralihkan dengan tanda tanya yang ada disudut panel dan menekan tombol itu

PETUNJUK

a.Misi digunakan untuk menambah poin mental,poin kecerdasan,dan keterampilan.

b.Jika poin mental mencapai 30 poin maka akan memperoleh keterampilan khusus.

c.pasif:poin kecerdasan dapat ditingkatkan dengan membaca 5 buku berturut-turut.

Jin xuan pun selesai membacanya,dia merasa sistem ini mudah di gunakan dan tidak akan menganggu waktu santainya.

setelah sejenak duduk diapun tidak berlama-lama lagi dalam berpikir, walaupun sudah mendapatkan sistem dia tidak terlalu bersemangat.

Karena sistem bisa muncul secara tiba-tiba, berarti bisa menghilang secara tiba-tiba, penting untuk tidak terlalu berekspektasi tinggi saat melihat sesuatu.

Dia pun berbaring telentang dan tidur dengan cepat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!