Menyamar Demi Cinta Tulus

Menyamar Demi Cinta Tulus

Hancur

...PROLOG...

Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk Cilla Anaya Salsabila.

Ia sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna—kue anniversary buatan sendiri dan sebuah kotak kado kecil berisi hadiah paling berharga untuk hubungan mereka yang menginjak satu tahun.

Dengan hati berbunga, Cilla berangkat ke sebuah kafe bersama supirnya. Ia ingin membooking ruangan VIP agar momen itu terasa spesial. Namun, pelayan mengatakan hal yang tidak ia duga.

“Maaf, Mbak… ruang VIP baru saja dibooking,” ujar pelayan sopan.

Cilla tersenyum tipis. “Siapa ya yang booking? Jangan-jangan Raga?” batinnya.

“Boleh saya tahu atas nama siapa?” tanya Cilla.

“Raga Adityan… dan pacarnya.”

Sekejap saja dunia Cilla terasa runtuh.

Tanpa menunggu penjelasan lain, ia melangkah cepat menuju ruangan VIP sambil membawa kue dan hadiah itu. Tangannya mulai bergetar.

Sesampainya di ujung tangga, Cilla berhenti.

Dari sana, ia menyaksikan pemandangan yang mematahkan hatinya.

Raga sedang bermesraan dengan seorang perempuan.

“Sayang… kamu beneran nggak ada rasa kan sama Cilla?” suara perempuan itu terdengar jelas.

Raga tertawa kecil.

“Rasa sayangku cuma buat kamu. Kalau sama Cilla… aku cuma suka hartanya aja.”

Kue di tangan Cilla terlepas dan jatuh menghantam lantai.

Air matanya menahan jatuh, tapi hatinya tidak bisa.

Cilla menuruni tangga perlahan, memungut kue itu… lalu menamparkannya ke wajah Raga.

Raga membelalak kaget. “Ci–Cilla?!”

“Lo gila! Jadi selama ini cinta lo nggak pernah tulus?” suara Cilla pecah, tapi tegas. “Di hari anniversary kita… gue mau kasih lo hadiah mobil. Tapi ternyata gue cuma jatuh cinta sama pembohong munafik.”

Raga hendak mengejar Cilla, tapi pacarnya langsung menahan.

Kini, semua sudah terbongkar.

Dan bagi Cilla, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Yuk lanjutin baca ceritanya.

komen ya pendapat kalian gimana🌟☺️

Support kalian berarti banget buat semangat ku😍💪🏻

Bab 1 "Hancur"

"Hancur itu, ibarat rumah yang dibanggakan tiba-tiba runtuh karena api yang membakarnya,sama halnya seperti cinta yang dibanggakan lalu hancur karena di khianati"

...****************...

Cilla berlari keluar dari kafe dengan napas terengah, air mata sudah tidak bisa ditahan lagi. Hatinya seperti diremas tanpa belas kasih. Ucapan Raga terngiang-ngiang di kepalanya—“Aku cuma suka hartanya aja.”

Setiap langkah terasa berat. Bahunya bergetar, pandangannya kabur oleh air mata.

Saat keluar dari pintu kaca kafe, Cilla tidak melihat jalan di depannya.

Bruk!

Ia menabrak seseorang.

“A–ah! Maaf!” Cilla buru-buru mengusap air matanya yang terus jatuh.

Pria itu—tampan, tinggi, dengan mata tajam namun teduh—menahan bahunya agar tidak jatuh.

“kamu nggak apa-apa?” suaranya tenang, tapi jelas terkejut melihat kondisi Cilla.

Cilla menggeleng cepat, matanya tak berani menatap wajah pria itu.

“Maaf… aku… aku harus pergi.”

Ia menunduk, membungkuk sedikit, lalu kembali berlari tanpa menoleh ke belakang.

Pria itu hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh, rambut panjangnya bergoyang tertiup angin sore.

Ada sesuatu pada gadis itu—kesedihan yang begitu nyata hingga membuat pria itu tanpa sadar ingin mengejarnya.

Tapi Cilla sudah hilang di antara deretan mobil.

...****************...

Cilla terus berjalan entah ke mana, hanya mengikuti langkah kakinya sendiri. Ia duduk di bangku taman kota yang sepi, menatap kosong tanpa suara. Kue yang tadinya ia siapkan dengan penuh cinta kini hanya menyisakan serpihan di tangannya.

Tangisnya pecah lagi.

“Hati aku kenapa sebodoh ini…?” bisiknya. “Kenapa harus sama orang yang cuma mau harta aku?”

Angin sore menyapu wajahnya yang basah. Cilla memeluk lututnya, mencoba menyatukan kembali hatinya yang berserakan.

Hari itu, ia sadar satu hal:

Jika cinta bisa dibeli dengan harta…

maka ia harus mencari cinta yang bahkan tidak tahu siapa dirinya.

Cilla berjalan tanpa arah hingga langkahnya berhenti di tepi danau. Angin sore membuat permukaan air bergetar pelan. Tempat itu sepi, hanya suara burung danau dan gemericik air yang menemani.

Ia duduk di pinggir danau, mengambil kerikil kecil, lalu melemparkannya satu per satu.

Pluk… pluk… pluk…

Setiap lemparan seperti mewakili pecahan hatinya yang jatuh satu demi satu.

Air matanya kembali turun tanpa ia sadari.

Saat ia mengambil kerikil berikutnya… seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Cilla menyadari kehadirannya.

Pria itu diam-diam menyodorkan tisu.

“Kalau butuh sandaran… silakan,” ucapnya pelan, suaranya lembut tapi penuh ketegasan.

Cilla terkejut. Itu pria yang tadi ia tabrak—atau mungkin ia hanya salah lihat. Tapi tatapannya… sama. Tenang, dan seolah mengerti luka yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Setelah ragu beberapa detik, Cilla mengambil tisu itu dan—untuk pertama kalinya hari itu—menghela napas panjang. Ia akhirnya bersandar pelan di pundak pria itu. Tidak terlalu lama, tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat hatinya terasa sedikit lega.

“Aku pernah percaya…” ucap Cilla dengan suara pecah, “cinta itu akan selalu buat aku bahagia. Tapi ternyata aku salah. Cinta malah hancurin aku sampai begini.”

Pria itu menatap danau tanpa memalingkan wajahnya.

“Kamu nggak pernah salah,” katanya pelan, seolah setiap kata telah dipikirkan dengan hati.

“Yang salah itu tempat kamu jatuh… di orang yang salah.”

Cilla menggigit bibirnya, menahan tangis.

“Kalau kamu jatuh cinta ke orang yang tepat,” lanjut pria itu,

“kamu nggak bakal hancur. Kamu bakal selalu dijaga… dan selalu bahagia.”

Cilla menatap air danau yang memantulkan cahaya matahari sore. Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, hatinya sedikit hangat—entah karena kata-kata pria itu, atau karena pundaknya yang begitu tenang.

Yang jelas, Cilla merasakan satu hal:

Hari ini ia kehilangan cinta palsu…

tapi mungkin tanpa sadar, ia baru saja dipertemukan dengan seseorang yang mampu menyembuhkan lukanya.

Cilla masih bersandar di bahu pria itu, mencoba menata napasnya yang masih tersengal. Setelah beberapa menit hening, pria itu akhirnya membuka suara.

“Seharusnya aku nggak ikut campur…” katanya pelan, “tapi aku nggak tega lihat kamu sendirian begini.”

Cilla mengusap sisa air mata di pipinya.

“Maaf… aku merepotkan kamu.”

Pria itu menggeleng pelan. “Kamu nggak merepotkan.”

Ia menoleh sedikit, matanya teduh memantulkan sinar danau.

“Oh iya… aku belum kenalan.”

Ia mengulurkan tangan dengan senyum tipis yang hangat.

“Nama aku Zayn Arya Laksana.”

Cilla terdiam sebentar. Nama itu… terasa begitu pas dengan sosoknya—tenang, misterius, tapi punya aura yang membuat orang merasa aman.

Perlahan, Cilla menjabat tangan itu.

“Cilla…” suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam angin sore.

“…Cilla Anaya.”

Zayn tersenyum, senyum yang tidak menghakimi dan tidak penasaran.

“Sesuatu yang hancur itu bukan akhir, Cilla,” ucapnya perlahan.

“Kadang… itu hanya cara hidup buat kamu bertemu yang lebih baik.”

Kata-kata itu membuat dada Cilla menghangat.

Entah kenapa, di samping orang asing bernama Zayn Arya Laksana ini… ia merasa sedikit lebih kuat.

Sedikit lebih berani untuk kembali bernapas.

Senja perlahan turun, meninggalkan semburat jingga di permukaan danau. Angin berhembus lebih dingin, membuat Cilla tanpa sadar merapatkan jaketnya. Zayn memperhatikan gerak kecil itu, lalu melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Cilla tanpa banyak kata.

“Jangan masuk angin,” ucapnya singkat.

Cilla terkejut, tapi tak menolak. Kehangatan jaket itu bukan hanya mengusir dingin, tapi juga rasa sepi yang sejak tadi menekan dadanya.

“Terima kasih,” bisik Cilla.

Mereka kembali terdiam. Hening yang anehnya tidak canggung. Hanya suara air danau yang sesekali bergesek dengan batu di tepiannya.

“Aku nggak tahu kenapa,” Cilla akhirnya membuka suara, “tapi aku merasa aman cerita ke kamu. Padahal kita baru kenal.”

Zayn tersenyum tipis. “Kadang, orang asing justru lebih jujur mendengarkan. Karena mereka nggak punya alasan untuk menilai.”

Cilla mengangguk pelan. Matanya kembali menatap danau.

“Mungkin aku harus belajar berhenti percaya sama janji,” katanya lirih.

“Bukan berhenti percaya,” Zayn membalas, suaranya tenang.

“Tapi belajar memilih siapa yang pantas dipercaya.”

Cilla menoleh. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu di mata Zayn—ketenangan yang tidak dibuat-buat.

“Kalau suatu hari kamu ketemu orang yang mencintai kamu tanpa syarat,” lanjut Zayn,

“jangan ragu buat bahagia.”

Cilla tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu.

Entah kenapa, kata-kata Zayn terasa seperti doa yang diam-diam ia tunggu.

Saat matahari benar-benar tenggelam, Cilla berdiri.

“Aku harus pulang.”

Zayn ikut berdiri. “Semoga besok… kamu lebih kuat.”

Cilla melangkah pergi, tapi kali ini tanpa berlari.

Dan Zayn Arya Laksana tetap berdiri di sana, menatap punggung gadis itu, dengan satu keyakinan dalam hatinya:

Pertemuan ini belum selesai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!