Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

I. Barisan Belakang

Hujan lagi.

Aruna menarik napas dalam-dalam, napas yang terasa berat di tenggorokan, seakan ada yang mengganjal di sana—entah apa, mungkin kebiasaan menelan semua kata-kata yang seharusnya keluar. Jari-jarinya main-main dengan ujung pulpen, tanpa sadar mencoret-coret pinggiran buku catatan. Garis-garis tak beraturan. Lingkaran-lingkaran kecil yang nggak ada artinya.

Di luar jendela, langit abu-abu. Tetesan air hujan meluncur pelan di kaca, satu per satu, kadang bergabung jadi satu garis panjang yang tiba-tiba... jleb, jatuh. Hilang. Aruna suka bagian itu. Bagian di mana sesuatu yang kecil dan sendirian tiba-tiba... nggak ada.

"Aruna, kamu dengar nggak sih?"

Suara Kayla. Samar. Aruna kedip-kedip, baru sadar kalau sahabatnya itu udah manggil dari tadi.

"Hah? Apa?"

Kayla cemberut, tapi matanya khawatir. Selalu begitu. Selalu khawatir. "Kamu melamun lagi. Bu Maita lagi ngomong penting, lho."

Aruna menoleh ke depan. Bu Maita berdiri di depan kelas dengan map biru di tangan, bibirnya bergerak tapi Aruna nggak denger apa-apa tadi. Semua suara kayak... tenggelam. Kayak lagi di bawah air.

"Jadi," Bu Maita ngelap kacamatanya sebentar, terus pasang lagi. "Tugas kelompok kali ini tentang ekosistem. Kalian berdua, harus bikin laporan dan presentasi. Saya yang tentukan pasangannya, jadi nggak usah protes."

Oh, tidak.

Tidak tidak tidak.

Aruna langsung tegang. Tangannya yang tadi main-main pulpen sekarang kaku, menggenggam erat sampai buku-buku jarinya putih. Dia nggak suka kerja kelompok. Nggak pernah suka. Karena kerja kelompok artinya... bicara. Artinya ketemu orang. Artinya harus... terlihat.

"Dengarkan baik-baik ya. Nisa dengan Dimas. Kayla dengan Riko..."

Aruna mulai berdoa dalam hati. Semoga dapat yang pendiam juga. Semoga dapat yang nggak akan maksa dia ngomong banyak. Semoga—

"Aruna Pratama dan Dhira Aksana."

Deg.

Waktu kayak berhenti sebentar. Cuma sebentar. Tapi cukup buat bikin Aruna lupa cara bernapas.

Dhira... Aksana?

Nggak mungkin. Pasti dia salah denger. Pasti—

Tapi bisikan udah mulai. Nyaring. Berisik.

"Serius? Aruna sama Dhira?"

"Wah, kasian Dhira deh..."

"Emang siapa sih Aruna itu? Yang duduk pojok belakang kan?"

Aruna nunduk. Dalam-dalam. Rambutnya jatuh menutupi wajah dan dia biarkan saja, karena lebih baik begini. Lebih baik nggak keliatan. Jantungnya dag dig dug nggak karuan, kayak mau copot. Tangannya gemetaran—kenapa gemetaran sih—dan dia sembunyikan di bawah meja, remas-remas ujung rok seragamnya.

Dhira Aksana.

Cowok yang... yang selalu dikelilingi orang. Yang kalau jalan, orang-orang minggir dengan sendirinya bukan karena takut, tapi karena... ya begitulah. Karena dia Dhira. Ganteng, pintar, jago basket, ramah tapi nggak lebay. Suaranya tenang. Senyumnya... Aruna pernah lihat sekali, waktu dia lagi ngobrol sama temen-temennya di kantin, senyum yang bikin orang lain ikut senyum juga.

Dan sekarang dia harus... kerja bareng cowok itu?

"Aruna? Kamu nggak apa-apa?" Kayla berbisik, nunduk dari bangku sebelahnya. Wajahnya cemas banget.

Aruna cuma menggelengkan kepala kecil. Nggak percaya. Masih nggak percaya.

Di depan sana, barisan kedua dari depan, Dhira cuma... diam. Nggak kaget. Nggak protes. Cuma angguk pelan, terus nulis sesuatu di bukunya. Seolah dapet pasangan siapa aja ya nggak masalah buat dia.

Tapi buat Aruna... ini masalah besar.

Karena Aruna itu... dia itu cuma... bayang-bayang. Orang yang duduk di pojok kelas, yang nggak pernah angkat tangan, yang jalannya nunduk, yang makannya sendirian di kantin pojok deket jendela yang kacanya retak. Dia bukan siapa-siapa.

Dan Dhira itu... cahaya. Terang. Semua orang liat dia.

Bagaimana mungkin cahaya dan bayang-bayang bisa jadi satu kelompok?

Bel istirahat berbunyi, tapi Aruna nggak gerak. Kayla udah berdiri, ngeliat Aruna dengan tatapan yang Aruna hapal banget—tatapan "aku-khawatir-sama-kamu-tapi-aku-nggak-tahu-harus-ngomong-apa".

"Aruna, yuk ke kantin. Aku traktir es teh manis—"

"Nggak usah, Kay. Aku... aku mau ke perpus aja."

"Sendirian lagi?"

Aruna nggak jawab. Dia berdiri, masukkin buku-buku ke tas dengan gerakan terburu-buru, nggak rapi, ada yang jatuh tapi dia ambil lagi dengan tangan yang masih... masih gemetar kenapa sih.

"Aruna—"

"Aku nggak apa-apa. Beneran."

Bohong.

Kayla pasti tahu itu bohong. Tapi Kayla nggak maksa. Kayla nggak pernah maksa, dan itu salah satu alasan kenapa Aruna sayang banget sama dia.

Aruna keluar kelas, langkahnya cepet, kepala nunduk, tas dipeluk di depan dada kayak tameng. Koridor ramai. Terlalu ramai. Suara ketawa, suara obrolan, suara sepatu yang nyenggol lantai keramik—semua itu bikin kepalanya pusing. Dia mau cepet-cepet sampai perpustakaan, tempat yang sepi, tempat yang—

"Aruna Pratama?"

Aruna berhenti.

Jantungnya... jantungnya serasa mau meledak.

Dia kenal suara itu. Semua orang kenal suara itu. Suara yang tenang, nggak tinggi tapi jelas, bikin orang dengerin tanpa maksa.

Perlahan, Aruna noleh.

Dan di sana, berdiri Dhira Aksana. Tinggi, dengan seragam yang rapi—kok bisa sih seragam sekolah biasa keliatan... begitu di dia—ransel di satu bahu, tangan kanan di saku celana. Rambutnya agak berantakan, mungkin habis olahraga tadi. Matanya... cokelat muda, lurus menatap Aruna.

Aruna lupa cara bernapas. Lagi.

"Iya?" suaranya keluar kecil banget. Hampir nggak kedengeran.

"Kita mulai kapan?"

Dhira bertanya dengan nada datar. Nggak dingin, tapi juga nggak ramah-ramah amat. Cuma... netral. Seperti nanya tugas ke siapa aja.

Aruna menggenggam tali tasnya. Erat. "A-aku... terserah kamu aja."

Kenapa dia gagap sih. Kenapa.

Dhira mikir sebentar, terus angguk. "Besok sepulang sekolah gimana? Di perpus?"

"O-oke."

"Oke." Dhira senyum. Tipis. Cuma sekilas. Terus dia jalan, lewat samping Aruna tanpa nengok lagi, langkahnya santai, kayak nggak ada yang baru terjadi.

Tapi buat Aruna... seluruh dunia serasa miring.

Dia berdiri di tengah koridor itu, sendirian, sementara orang-orang berlalu-lalang. Ada yang nyenggol bahunya, ada yang ngeloyor cepet sambil ketawa, ada yang teriak manggil temannya. Tapi Aruna nggak denger apa-apa.

Yang dia denger cuma detak jantungnya sendiri.

Dag. Dig. Dug. Dag. Dig. Dug.

Cepet banget.

Kenapa cepet banget?

 

Sore itu, Aruna duduk di kamarnya yang kecil. Kamar dengan dinding warna krem yang udah mulai kusam, ada poster lama pemandangan gunung yang dipasang Arya—kakaknya—waktu Aruna masih kelas enam SD. Jendela kamarnya ngadep ke jalanan kecil yang basah karena hujan siang tadi.

Di pangkuannya, jurnal bersampul cokelat.

Jurnal itu udah lusuh. Pinggiran sampulnya udah robek-robek dikit, ada noda tinta di pojok kanan bawah. Tapi Aruna nggak pernah ganti. Jurnal ini... temen satu-satunya yang nggak pernah menghakimi dia.

Dia buka halaman baru, pulpen di tangan, ujungnya dia gigit-gigit sebentar—kebiasaan buruk yang nggak bisa ilang—terus mulai nulis.

Tulisannya berantakan. Huruf-hurufnya miring ke kanan, kadang terlalu rapet, kadang terlalu renggang.

 ___

...Hari ini, namaku dipanggil bersamaan dengan nama yang paling terang di sekolah ini....

...Dhira Aksana....

...Aku nggak tahu kenapa Bu Maita nyodorin kami berdua. Mungkin dia nggak tahu. Nggak tahu kalau aku ini... bukan siapa-siapa. Kalau aku cuma bayangan yang duduk di pojok kelas, yang nulisnya di jurnal karena nggak berani ngomong keras-keras....

...Tadi dia nanya, "Kita mulai kapan?"...

...Suaranya... biasa aja. Kayak nanya ke temen biasa. Padahal aku... aku bahkan nggak yakin dia pernah sadar aku ada di kelas yang sama....

...Dadaku berdebar. Aku nggak ngerti kenapa. Aku nggak suka rasanya. Rasanya... kayak aku mau jatuh dari tempat tinggi tapi belum jatuh, cuma... melayang gitu. Ngambang. Takut....

...Besok kami mulai ngerjain tugas....

...Aku harap aku nggak ngecewain dia....

...Aku harap aku nggak bikin dia nyesel....

 

Aruna berhenti nulis. Dia natap kalimat terakhir itu, terus coret perlahan.

Aku harap aku nggak bikin dia nyesel.

Dia tutup jurnalnya. Pelan. Terus rebahan di kasur, memeluk jurnal itu di dada, menatap langit-langit kamar yang polos.

Hujan mulai turun lagi.

Suaranya pelan, kayak orang ngetuk pintu tapi nggak yakin mau masuk.

Dan Aruna... nggak tahu kenapa matanya jadi panas.

Nggak tahu kenapa dadanya terasa sesak.

Nggak tahu kenapa dia tiba-tiba takut.

Takut besok. Takut ketemu Dhira lagi. Takut... terlihat.

Karena selama ini, dia udah terbiasa nggak terlihat.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya...

Barisan belakang bukan lagi tempat yang aman.

Terpopuler

Comments

Risa Virgo Always Beau

Risa Virgo Always Beau

Sepertinya Dhira mencintai Aruna makanya dia belain Aruna bahkan sampai mengusir kedua sahabatnya supaya ngga menggangu Aruna

2026-01-05

1

Risa Istri Cantik

Risa Istri Cantik

Aruna kamu pendiam dan pasti nyaman ngobrol sama Kayla doang

2026-01-05

1

Risa Yayang Selamanya Bahagia

Risa Yayang Selamanya Bahagia

Wah romantis banget Dhira sama Aruna jalan sepayung berdua

2026-01-05

1

lihat semua
Episodes
1 I. Barisan Belakang
2 I. Partner yang Tak Diingankan
3 I. Hujan Pertama Bersama
4 I. Pertanyaan yang Tak Dijawab
5 I. Cinta Seperti Buih, yang Berharap Jadi Permadani
6 I. Teman yang Mulai Curiga
7 I. Tatapan yang Berbeda
8 I. Jarak yang Dipersempit
9 I. Mimpi Buruk yang Kembali
10 I. Perhatian yang Salah Diartikan
11 I. Elang yang Terlalu Takut
12 I. Dhira dan Elang, Sahabat yang Berbeda Dunia
13 I. Jurnal yang Hampir Terbaca
14 I. Pertanyaan Tanpa Jawaban
15 I. Pelukan di Bawah Hujan
16 I. Pertanyaan yang Menusuk
17 I. Pembelaan yang Tulus
18 I. Elang yang Mulai Runtuh
19 I. Surat yang Akhirnya Diberikan
20 I. Penolakan yang Lembut
21 I. Dhira yang Mulai Tahu
22 I. Foto yang Tersebar
23 I. Tatapan yang Menghakimi
24 I. Kayla di Antara Dua Api
25 I. Dhira yang Ragu
26 I. Nama yang Dicoret
27 I. Mimpi Buruk yang Tidak Pernah Berhenti
28 I. Aku Takut Tidur
29 I. Panggilan dari Masa Lalu
30 I. Adrian yang Semakin Brutal
31 I. Ibuku Tak Tahu Ini
32 I. Arya yang Terlambat Sadar
33 I. Pelukan yang Salah Dimengerti (Lagi)
34 I. Surat Panggilan Sekolah
35 I. Elang yang Mulai Tahu
36 I. Kayla yang Mulai Berubah
37 I. Kedekatan yang Berbahaya
38 I. Aruna yang Semakin Tenggelam
39 I. Jadian di Depan Matanya
40 I. Aku Capek Hidup
41 I. Elang yang Datang Terlambat
42 I. Detik-detik Terakhir
43 I. Rumah Sakit (Lagi)
44 I. Kayla yang Menyesal (Tapi Terlambat)
45 I. Dhira yang Hancur
46 I. Surat yang Tidak Terkirim
47 I. Kembali ke Sekolah (Mimpi Buruk Terulang)
48 I. Elang yang Terus Menjaga
49 I. Kayla yang Semakin Hancur
50 I. Hari Dimana Aku Menghilang (Persiapan)
51 I. Pagi Terakhir
52 I. Elang yang Merasakan Firasat Buruk
53 I. Terlambat Satu Detik
54 I. Ambulance di Tengah Hujan
55 I. Detak Jantung yang Melemah
56 I. Maaf, Aku Gagal Menjagamu
57 I. Detik Terakhir
58 I. Langit Hari itu Terlalu Sunyi
59 I. Pemakaman
60 I. Jurnal Aruna
61 I. Kayla, yang Dihantui Rasa Bersalah
62 I. Kehilangan Kedua, yang Menghancurkan Dhira
63 I. Kemarahan Elang
64 I. Nisa yang Akhirnya Hancur
65 I. Dhira, dan Jurnal yang Mengubah Segalanya
66 I. Sekolah yang Berubah (Tapi Terlambat)
67 PENGUMUMAN SEASON I
68 II. Hari Pertama di Penjara
69 II. Siksaan Pertama
70 II. Kunjungan Pertama (Bu Siti)
71 II. Kunjungan Kedua (Dhira)
72 II. Siksaan Brutal Kedua
73 II. Kunjungan Ketiga (Arya)
74 II. Kunjungan Keempat (Nisa)
75 II. Penolong dari Sesama Tahanan
76 II. Bu Siti Sakit Keras
77 II. Bu Siti Meninggal
78 II. Program Ijazah Sekolah SMA
79 II. Dhira dan Makam Aruna
80 II. Dhira dan Zona Nyaman Kita
81 II. Pertemuan Dhira dan Arya
82 II. Elang Bebas
83 II. Elang Mencari Pekerjaan
84 II. Pertemuan Elang dan Dhira, setelah 10 Tahun
85 II. Kehidupan Baru, Elang di Perusahaan
86 II. Dhira yang Jatuh Cinta pada, Zahra.
87 II. Zahra yang Jatuh Cinta pada Elang
88 II. Dhira Memberanikan Diri
89 II. Zahra Memilih Elang
90 II. Dhira yang Hancur
91 II. Hubungan Elang dan Zahra
92 II. Dhira yang Semakin Terpuruk
93 II. Terapi dan Penerimaan Diri
94 II. Elang Membuka Hati untuk, Zahra!
95 II. Pernikahan Tanpa Restu
96 II. Dhira Bertemu Aruni - Mata yang Mengingatkan
97 II. Dhira, yang Menjadi Pelindung Aruni!
98 II. Lamaran Tanpa Kata Cinta - Janji Seumur Hidup
99 II. Kehidupan yang Berubah
100 II. Rintik di Barisan Belakang, yang Tak Pernah Hilang.
Episodes

Updated 100 Episodes

1
I. Barisan Belakang
2
I. Partner yang Tak Diingankan
3
I. Hujan Pertama Bersama
4
I. Pertanyaan yang Tak Dijawab
5
I. Cinta Seperti Buih, yang Berharap Jadi Permadani
6
I. Teman yang Mulai Curiga
7
I. Tatapan yang Berbeda
8
I. Jarak yang Dipersempit
9
I. Mimpi Buruk yang Kembali
10
I. Perhatian yang Salah Diartikan
11
I. Elang yang Terlalu Takut
12
I. Dhira dan Elang, Sahabat yang Berbeda Dunia
13
I. Jurnal yang Hampir Terbaca
14
I. Pertanyaan Tanpa Jawaban
15
I. Pelukan di Bawah Hujan
16
I. Pertanyaan yang Menusuk
17
I. Pembelaan yang Tulus
18
I. Elang yang Mulai Runtuh
19
I. Surat yang Akhirnya Diberikan
20
I. Penolakan yang Lembut
21
I. Dhira yang Mulai Tahu
22
I. Foto yang Tersebar
23
I. Tatapan yang Menghakimi
24
I. Kayla di Antara Dua Api
25
I. Dhira yang Ragu
26
I. Nama yang Dicoret
27
I. Mimpi Buruk yang Tidak Pernah Berhenti
28
I. Aku Takut Tidur
29
I. Panggilan dari Masa Lalu
30
I. Adrian yang Semakin Brutal
31
I. Ibuku Tak Tahu Ini
32
I. Arya yang Terlambat Sadar
33
I. Pelukan yang Salah Dimengerti (Lagi)
34
I. Surat Panggilan Sekolah
35
I. Elang yang Mulai Tahu
36
I. Kayla yang Mulai Berubah
37
I. Kedekatan yang Berbahaya
38
I. Aruna yang Semakin Tenggelam
39
I. Jadian di Depan Matanya
40
I. Aku Capek Hidup
41
I. Elang yang Datang Terlambat
42
I. Detik-detik Terakhir
43
I. Rumah Sakit (Lagi)
44
I. Kayla yang Menyesal (Tapi Terlambat)
45
I. Dhira yang Hancur
46
I. Surat yang Tidak Terkirim
47
I. Kembali ke Sekolah (Mimpi Buruk Terulang)
48
I. Elang yang Terus Menjaga
49
I. Kayla yang Semakin Hancur
50
I. Hari Dimana Aku Menghilang (Persiapan)
51
I. Pagi Terakhir
52
I. Elang yang Merasakan Firasat Buruk
53
I. Terlambat Satu Detik
54
I. Ambulance di Tengah Hujan
55
I. Detak Jantung yang Melemah
56
I. Maaf, Aku Gagal Menjagamu
57
I. Detik Terakhir
58
I. Langit Hari itu Terlalu Sunyi
59
I. Pemakaman
60
I. Jurnal Aruna
61
I. Kayla, yang Dihantui Rasa Bersalah
62
I. Kehilangan Kedua, yang Menghancurkan Dhira
63
I. Kemarahan Elang
64
I. Nisa yang Akhirnya Hancur
65
I. Dhira, dan Jurnal yang Mengubah Segalanya
66
I. Sekolah yang Berubah (Tapi Terlambat)
67
PENGUMUMAN SEASON I
68
II. Hari Pertama di Penjara
69
II. Siksaan Pertama
70
II. Kunjungan Pertama (Bu Siti)
71
II. Kunjungan Kedua (Dhira)
72
II. Siksaan Brutal Kedua
73
II. Kunjungan Ketiga (Arya)
74
II. Kunjungan Keempat (Nisa)
75
II. Penolong dari Sesama Tahanan
76
II. Bu Siti Sakit Keras
77
II. Bu Siti Meninggal
78
II. Program Ijazah Sekolah SMA
79
II. Dhira dan Makam Aruna
80
II. Dhira dan Zona Nyaman Kita
81
II. Pertemuan Dhira dan Arya
82
II. Elang Bebas
83
II. Elang Mencari Pekerjaan
84
II. Pertemuan Elang dan Dhira, setelah 10 Tahun
85
II. Kehidupan Baru, Elang di Perusahaan
86
II. Dhira yang Jatuh Cinta pada, Zahra.
87
II. Zahra yang Jatuh Cinta pada Elang
88
II. Dhira Memberanikan Diri
89
II. Zahra Memilih Elang
90
II. Dhira yang Hancur
91
II. Hubungan Elang dan Zahra
92
II. Dhira yang Semakin Terpuruk
93
II. Terapi dan Penerimaan Diri
94
II. Elang Membuka Hati untuk, Zahra!
95
II. Pernikahan Tanpa Restu
96
II. Dhira Bertemu Aruni - Mata yang Mengingatkan
97
II. Dhira, yang Menjadi Pelindung Aruni!
98
II. Lamaran Tanpa Kata Cinta - Janji Seumur Hidup
99
II. Kehidupan yang Berubah
100
II. Rintik di Barisan Belakang, yang Tak Pernah Hilang.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!