Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

BAB 1. TERBANGUN DI TUBUH YANG SALAH

..."Ketika seorang dokter modern terbangun di tubuh yang salah, di masa yang salah, ia hanya punya satu pilihan: bertahan hidup dengan pengetahuan sebagai senjata satu-satunya."...

...---•---...

Kepala Doni terasa seperti dipukul godam. Rasa sakit berdenyut dari belakang tengkorak, menjalar hingga ke pelipis. Ia mencoba membuka mata, namun cahaya yang menyeruak terlalu menyilaukan. Bau anyir dan amis menyerang hidung. Bukan bau antiseptik rumah sakit yang biasa ia hirup. Ini bau yang lebih kasar: campuran tanah basah, kotoran hewan, dan sesuatu yang membusuk.

"Bangun! Kau pikir aku membiarkanmu tidur seharian, dasar pemalas!"

Suara keras itu disertai tendangan di rusuk. Doni terhentak, napasnya tersedak. Ia membuka mata, kali ini memaksa diri mengabaikan silau. Yang pertama ia lihat adalah langit-langit bambu anyaman, penuh lubang, diterangi sinar matahari pagi yang menembus celah-celah. Dinding bilik dari gedek rapuh. Lantai tanah keras yang dingin.

Bukan kamar tidurnya. Bukan rumah sakit.

Seorang perempuan tua berdiri di hadapnya, bertubuh kurus kering, wajah penuh kerutan dalam. Urat di pelipis berdenyut. Rahangnya mengeras. Ia mengenakan kain jarik lusuh dan kebaya compang-camping. Rambutnya yang memutih diikat asal-asalan.

"Sudah tiga hari!" Perempuan itu menunjuk tumpukan keranjang di sudut, jarinya gemetar karena marah. "Tiga hari kau cuma terbaring seperti mayat! Sementara keranjang-keranjang ini tidak akan menjual diri sendiri!"

Ia meludah ke samping.

"Kalau masih mau tinggal di gubuk ini, kerja! Cari kayu bakar, bantu Pak Karso di sawah, atau..." Suaranya turun, dingin. "...pergi saja dari sini."

Doni mencoba duduk. Tubuhnya terasa asing. Terlalu kurus. Tulang rusuknya menonjol di bawah kulit yang gelap, penuh luka lecet dan bekas gigitan serangga. Tangannya kasar, penuh kapalan yang bukan miliknya. Ia menatap telapak tangannya yang kotor, kuku hitam penuh tanah.

Ini bukan tanganku. Tangan seorang dokter bedah harus bersih, terawat. Steril.

Ia ingat dengan jelas: tadi malam ia menyelesaikan operasi usus buntu darurat di Rumah Sakit Permata Medika. Shift malam yang melelahkan. Lalu ia pulang, mandi, dan tertidur di apartemennya yang nyaman di Jakarta Selatan.

"Jangan melamun," Perempuan tua itu mendekat, wajahnya menukik. Napasnya berbau sirih dan sesuatu yang asam. "Seperti orang gila! Apa kau masih demam? Atau memang otakmu sudah rusak sejak ibumu mati?"

Ibumu mati.

Kata-kata itu menohok sesuatu di kepala Doni. Tiba-tiba gambaran kabur menyeruak. Seorang wanita kurus terbaring di tikar, batuk darah. Tidak ada obat. Tidak ada dokter. Hanya dukun kampung yang membakar kemenyan dan membaca mantra. Wanita itu mati dalam kesakitan, meninggalkan anak laki-laki berusia lima belas tahun sendirian di dunia yang kejam.

Doni menggeleng keras. Itu bukan ingatanku. Tapi kenapa terasa begitu nyata?

"Mbok Sarmi..." Kata itu meluncur dari mulutnya tanpa ia sadari. Suaranya serak, asing di telinganya sendiri. "Maafkan saya."

Mbok Sarmi, bibi dari mendiang ibunya. Perempuan yang terpaksa memberinya tempat tinggal karena tidak ada kerabat lain yang mau menerima anak yatim piatu yang hanya akan menambah beban.

Perempuan tua itu mendengus. "Maaf tidak mengenyangkan perut. Hari ini kau harus pergi ke pasar, bawa keranjang bambu yang sudah kubuat. Jual dengan harga sepuluh duit satu keranjang. Jangan pulang sebelum semuanya laku atau sekalian saja tidak usah pulang ke gubuk ini.!"

Ia melempar sebuah keranjang anyaman kasar ke arah Doni, lalu berbalik pergi, meninggalkan jejak kaki telanjang di tanah. Pintu gubuk yang terbuat dari papan reot dibanting tertutup.

Doni terduduk di lantai tanah, keranjang bambu di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya pendek, tersangkut di tenggorokan. Ia mencubit lengannya keras-keras.

Sakit. Sangat sakit. Kulitnya memerah.

Bukan mimpi.

Doni bangkit dengan susah payah. Kakinya gemetar. Ia melangkah ke luar gubuk, menyipitkan mata menghadapi sinar matahari.

Deretan gubuk-gubuk serupa berjejer tak beraturan di sepanjang jalan tanah berlumpur. Orang-orang berkulit sawo matang berlalu-lalang, mengenakan pakaian tradisional Jawa. Para lelaki memakai kain sarung dan baju tanpa kerah, sebagian bertelanjang dada. Para perempuan mengenakan kebaya dan kain batik lusuh, membawa bakul di kepala atau bayi di gendongan. Tidak ada kendaraan bermotor. Hanya gerobak kayu ditarik kerbau dan beberapa ekor ayam yang berkeliaran mencari makan.

Di kejauhan, ia bisa melihat atap rumah-rumah besar bergaya Eropa dengan dinding putih bersih, berkontras tajam dengan gubuk-gubuk kumuh di sekitarnya. Bendera berkibar di salah satu gedung tinggi.

Bendera oranye, putih, dan biru.

Bendera Belanda.

Napasnya tercekat di paru-paru.

Seorang anak laki-laki berlari melewatinya, mengejar ayam. Anak itu berteriak dalam bahasa Jawa, "Pitik! Pitik!" Lalu seorang ibu keluar dari gubuk, memaki dalam bahasa yang sama.

Doni memahami setiap kata. Padahal ia tidak pernah belajar bahasa Jawa secara mendalam.

Sebuah kereta kuda melintas di ujung jalan. Di dalamnya duduk seorang pria Belanda berjas dan topi tinggi, di sampingnya seorang wanita berpakaian mewah dengan payung renda. Mereka menatap ke luar jendela, bibir mengerut, hidung sedikit terangkat saat melewati perkampungan kumuh.

Doni berjalan perlahan di antara kerumunan. Orang-orang meliriknya, beberapa menyapa dalam bahasa Jawa, dan ia menjawab tanpa berpikir. Kata-kata mengalir begitu saja, seolah lidahnya telah mengenalnya sejak lahir.

Ia melewati sebuah sumur, di mana beberapa perempuan sedang mencuci pakaian. Air keruh, bercampur busa sabun dan sesuatu yang lebih gelap. Beberapa meter dari sana, anak-anak bermain di genangan air yang sama, tertawa, saling memercik.

Seorang anak minum langsung dari genangan. Doni berpaling.

Seorang anak perempuan tiba-tiba batuk. Batuk yang dalam, basah. Tubuhnya kurus, tulang belikat menonjol di punggung. Ibunya menepuk-nepuk punggungnya, wajah pasrah.

Tanpa obat, anak ini tidak punya banyak waktu.

Ia berbalik, tidak sanggup melihat lebih lama.

Di ujung kampung, ia berhenti. Memandangi gedung-gedung kolonial yang menjulang megah. Jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari. Taman yang rapi dengan bunga-bunga asing. Pagar besi tinggi yang memisahkan dua dunia.

Di balik pagar, seorang anak Belanda berlari mengejar bola, kulitnya putih bersih, pakaiannya rapi. Tawanya riang, tanpa beban.

Di belakang Doni, anak kampung itu batuk lagi, batuk yang dalam, tak henti.

Doni menutup mata, menarik napas panjang. Paru-parunya terisi udara panas yang berbau tanah dan asap kayu bakar. Ketika ia membuka mata kembali, pemandangan itu masih sama. Tidak berubah. Tidak hilang.

Ini nyata. Bendera itu nyata. Kampung ini nyata. Tubuh ini nyata.

Di suatu tempat jauh di masa depan, tubuh aslinya mungkin sudah dingin di meja operasi. Atau mungkin tergeletak di apartemen, ditemukan berhari-hari kemudian oleh tetangga yang mencium bau busuk.

Tapi di sini...

Di sini ia masih hidup.

Dalam tubuh orang lain.

Di waktu yang salah.

Dan tidak ada jalan pulang.

...---•---...

...Bersambung...

Terpopuler

Comments

Cahaya Tulip

Cahaya Tulip

lah.. sadar malah ke masa penjajahan.. bisa ketemu pak soekarno dong🤔

2025-12-19

1

d_midah (Hiatus)

d_midah (Hiatus)

gak kebayang, tidur bersih tiba-tiba pas kebangun jadi sebaliknya🙈🙈

2025-12-19

1

d_midah (Hiatus)

d_midah (Hiatus)

baru buka udah mulai penasaran sama ceritanya 🤭🤭

2025-12-19

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. TERBANGUN DI TUBUH YANG SALAH
2 BAB 2. PERMINTAAN YANG TIDAK BISA DITOLAK
3 BAB 3. PERTARUHAN DOKTER TANPA OBAT
4 BAB 4. PERTARUHAN PERTAMA
5 BAB 5. VIGIL MALAM
6 BAB 6. GEMA DI KAMPUNG
7 BAB 7. PANGGILAN DARURAT
8 BAB 8. DARAH DI HUTAN
9 BAB 9. JERITAN
10 BAB 10. HARAPAN KAMPUNG
11 BAB 11. KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
12 BAB 12. OPERASI TENGAH MALAM
13 BAB 13. FAJAR MEMBAWA JAWABAN
14 BAB 14. DI GARIS BAHAYA
15 BAB 15. BISIKAN GELAP
16 BAB 16. MASUK KE MULUT SINGA
17 BAB 17. API DAN BAYANGAN
18 BAB 18. DUEL DI BAWAH CAHAYA API
19 BAB 19. KEMENANGAN TANPA KEANGKUHAN
20 BAB 20. DEMAM YANG TAK KENAL AMPUN
21 BAB 21. HUTANG DARAH YANG TAK TERBAYAR
22 BAB 22. BAYANGAN MASA LALU
23 BAB 23. KETIDAKBERDAYAAN
24 BAB 24. BEBAN YANG TAK TERLIHAT
25 BAB 25. KETIKA AMPUNAN DATANG TERLAMBAT
26 BAB 26. TAWARAN BERACUN
27 BAB 27. PERMAINAN KEKUASAAN
28 BAB 28. DI BALIK GERBANG KEKUASAAN
29 BAB 29. TARUHAN TERAKHIR
30 BAB 30. RUMPUT LAUT DAN HARAPAN
31 BAB 31. ANCAMAN KEMATIAN
32 BAB 32. TANDA-TANDA KEHIDUPAN
33 BAB 33. DARAH DI SAWAH
34 BAB 34. MUKJIZAT YANG BUKAN MUKJIZAT
35 BAB 35. SEBELUM PERTEMPURAN
36 BAB 36. PENGADILAN RAKYAT
37 BAB 37. SAKSI KEHIDUPAN
38 BAB 38. KEMENANGAN YANG PAHIT
39 BAB 39. RANTAI EMAS
40 BAB 40. HARGA PRIVILEGE
41 BAB 41. PINTU YANG TERBUKA
42 BAB 42. BAYANGAN PERTAMA
43 BAB 43. BAYANGAN DARI KOTA
44 BAB 44. RODA YANG BERPUTAR
45 BAB 45. SATU MATI, SATU HIDUP
46 BAB 46. PILIHAN YANG TIDAK DISUKAI
47 BAB 47. LINGKARAN YANG TERTUTUP
48 BAB 48. JEMBATAN ANTARA LAMA DAN BARU
49 BAB 49. COUNTDOWN KEHANCURAN
50 BAB 50. HARI PENGHAKIMAN
51 BAB 51. SIDANG PENGHAKIMAN
52 BAB 52. HASIL INSPEKSI
53 BAB 53. UNDANGAN DARI BATAVIA
54 BAB 54. PERJALANAN TANPA JAWABAN
55 BAB 55. PERJALANAN KE BATAVIA
56 BAB 56. PINTU GERBANG BATAVIA
57 BAB 57. INTEROGASI AWAL
58 BAB 58. RAHASIA SEBELUM FAJAR
59 BAB 59. TANGAN YANG MENENTUKAN
60 BAB 60. ANCAMAN TIGA HARI
61 BAB 61. BAYANGAN YANG MENGIKUTI
62 BAB 62. SISTEM YANG TIDAK MENGIZINKAN
63 BAB 63. DARAH DAN DOA
64 BAB 64. MIMPI YANG BUKAN MIMPI
65 BAB 65. PRESEDEN
66 BAB 66. PULANG
67 BAB 67. AWAL DENGAN GELAR YANG BARU
68 BAB 68. AUDIT PERTAMA
69 BAB 69. TANDA PERTAMA WABAH
70 BAB 70. TRIAGE LAPANGAN
71 BAB 71. HARI KELIMA WABAH
72 BAB 72. SURAT DARI JULIANA
73 BAB 73. DAFTAR YANG TIDAK UNTUK DITUNJUKKAN
74 BAB 74. KARTINI SOEROTO
75 BAB 75. MALAM DI ANTARA DUA PENJAGA
76 BAB 76. SURAT DARI GUBERNUR JENDERAL
77 BAB 77. SURABAYA
78 BAB 78. DARI BAWAH
79 BAB 79. PROTOKOL WABAH
80 BAB 80. PULANG DAN YANG MENUNGGU
81 BAB 81. KONSORSIUM PERKEBUNAN JAWA TIMUR
82 BAB 82. KERACUNAN MASSAL
83 BAB 83. INVESTIGASI RESMI
84 BAB 84. SAKSI YANG SALAH
85 BAB 85. JULIANA DI DONOMULYO
86 BAB 86. TIGA MINGGU
87 BAB 87. SETELAH JULIANA PERGI
88 BAB 88. TUMOR RAHANG
89 BAB 89. INFORMASI VAN RIJN
90 BAB 90. KEPUTUSAN
91 BAB 91. YOGYAKARTA
92 BAB 92. PERSIAPAN YANG MUSTAHIL
93 BAB 93. SEBELAS JAM
94 BAB 94. SETELAH SEBELAS JAM
95 BAB 95. TIGA HARI DI YOGYAKARTA
96 BAB 96. KEMBALI KE DONOMULYO
97 BAB 97. JULIANA KEMBALI
98 BAB 98. MALAM YANG JUJUR
99 BAB 99. KEPERCAYAAN
100 BAB 100. TUBUH YANG MEMBERONTAK
101 BAB 101. MANIFESTO
102 BAB 102. SATU PER SATU
103 BAB 103. WIRO DAN PISAU
104 BAB 104. KARYO
105 BAB 105. SADIMAN
106 BAB 106. KARYO (SAKIT DAN JANJI)
107 BAB 107. SURAT UNTUK JULIANA
108 BAB 108. HARI TERAKHIR
109 BAB 109. PAGI YANG BERBEDA
110 BAB 110. SEBULAN
111 BAB 111. TABIB DONOMULYO
112 BAB 112. DONOMULYO 2026
113 BAB 113. DUA TITIPAN
Episodes

Updated 113 Episodes

1
BAB 1. TERBANGUN DI TUBUH YANG SALAH
2
BAB 2. PERMINTAAN YANG TIDAK BISA DITOLAK
3
BAB 3. PERTARUHAN DOKTER TANPA OBAT
4
BAB 4. PERTARUHAN PERTAMA
5
BAB 5. VIGIL MALAM
6
BAB 6. GEMA DI KAMPUNG
7
BAB 7. PANGGILAN DARURAT
8
BAB 8. DARAH DI HUTAN
9
BAB 9. JERITAN
10
BAB 10. HARAPAN KAMPUNG
11
BAB 11. KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
12
BAB 12. OPERASI TENGAH MALAM
13
BAB 13. FAJAR MEMBAWA JAWABAN
14
BAB 14. DI GARIS BAHAYA
15
BAB 15. BISIKAN GELAP
16
BAB 16. MASUK KE MULUT SINGA
17
BAB 17. API DAN BAYANGAN
18
BAB 18. DUEL DI BAWAH CAHAYA API
19
BAB 19. KEMENANGAN TANPA KEANGKUHAN
20
BAB 20. DEMAM YANG TAK KENAL AMPUN
21
BAB 21. HUTANG DARAH YANG TAK TERBAYAR
22
BAB 22. BAYANGAN MASA LALU
23
BAB 23. KETIDAKBERDAYAAN
24
BAB 24. BEBAN YANG TAK TERLIHAT
25
BAB 25. KETIKA AMPUNAN DATANG TERLAMBAT
26
BAB 26. TAWARAN BERACUN
27
BAB 27. PERMAINAN KEKUASAAN
28
BAB 28. DI BALIK GERBANG KEKUASAAN
29
BAB 29. TARUHAN TERAKHIR
30
BAB 30. RUMPUT LAUT DAN HARAPAN
31
BAB 31. ANCAMAN KEMATIAN
32
BAB 32. TANDA-TANDA KEHIDUPAN
33
BAB 33. DARAH DI SAWAH
34
BAB 34. MUKJIZAT YANG BUKAN MUKJIZAT
35
BAB 35. SEBELUM PERTEMPURAN
36
BAB 36. PENGADILAN RAKYAT
37
BAB 37. SAKSI KEHIDUPAN
38
BAB 38. KEMENANGAN YANG PAHIT
39
BAB 39. RANTAI EMAS
40
BAB 40. HARGA PRIVILEGE
41
BAB 41. PINTU YANG TERBUKA
42
BAB 42. BAYANGAN PERTAMA
43
BAB 43. BAYANGAN DARI KOTA
44
BAB 44. RODA YANG BERPUTAR
45
BAB 45. SATU MATI, SATU HIDUP
46
BAB 46. PILIHAN YANG TIDAK DISUKAI
47
BAB 47. LINGKARAN YANG TERTUTUP
48
BAB 48. JEMBATAN ANTARA LAMA DAN BARU
49
BAB 49. COUNTDOWN KEHANCURAN
50
BAB 50. HARI PENGHAKIMAN
51
BAB 51. SIDANG PENGHAKIMAN
52
BAB 52. HASIL INSPEKSI
53
BAB 53. UNDANGAN DARI BATAVIA
54
BAB 54. PERJALANAN TANPA JAWABAN
55
BAB 55. PERJALANAN KE BATAVIA
56
BAB 56. PINTU GERBANG BATAVIA
57
BAB 57. INTEROGASI AWAL
58
BAB 58. RAHASIA SEBELUM FAJAR
59
BAB 59. TANGAN YANG MENENTUKAN
60
BAB 60. ANCAMAN TIGA HARI
61
BAB 61. BAYANGAN YANG MENGIKUTI
62
BAB 62. SISTEM YANG TIDAK MENGIZINKAN
63
BAB 63. DARAH DAN DOA
64
BAB 64. MIMPI YANG BUKAN MIMPI
65
BAB 65. PRESEDEN
66
BAB 66. PULANG
67
BAB 67. AWAL DENGAN GELAR YANG BARU
68
BAB 68. AUDIT PERTAMA
69
BAB 69. TANDA PERTAMA WABAH
70
BAB 70. TRIAGE LAPANGAN
71
BAB 71. HARI KELIMA WABAH
72
BAB 72. SURAT DARI JULIANA
73
BAB 73. DAFTAR YANG TIDAK UNTUK DITUNJUKKAN
74
BAB 74. KARTINI SOEROTO
75
BAB 75. MALAM DI ANTARA DUA PENJAGA
76
BAB 76. SURAT DARI GUBERNUR JENDERAL
77
BAB 77. SURABAYA
78
BAB 78. DARI BAWAH
79
BAB 79. PROTOKOL WABAH
80
BAB 80. PULANG DAN YANG MENUNGGU
81
BAB 81. KONSORSIUM PERKEBUNAN JAWA TIMUR
82
BAB 82. KERACUNAN MASSAL
83
BAB 83. INVESTIGASI RESMI
84
BAB 84. SAKSI YANG SALAH
85
BAB 85. JULIANA DI DONOMULYO
86
BAB 86. TIGA MINGGU
87
BAB 87. SETELAH JULIANA PERGI
88
BAB 88. TUMOR RAHANG
89
BAB 89. INFORMASI VAN RIJN
90
BAB 90. KEPUTUSAN
91
BAB 91. YOGYAKARTA
92
BAB 92. PERSIAPAN YANG MUSTAHIL
93
BAB 93. SEBELAS JAM
94
BAB 94. SETELAH SEBELAS JAM
95
BAB 95. TIGA HARI DI YOGYAKARTA
96
BAB 96. KEMBALI KE DONOMULYO
97
BAB 97. JULIANA KEMBALI
98
BAB 98. MALAM YANG JUJUR
99
BAB 99. KEPERCAYAAN
100
BAB 100. TUBUH YANG MEMBERONTAK
101
BAB 101. MANIFESTO
102
BAB 102. SATU PER SATU
103
BAB 103. WIRO DAN PISAU
104
BAB 104. KARYO
105
BAB 105. SADIMAN
106
BAB 106. KARYO (SAKIT DAN JANJI)
107
BAB 107. SURAT UNTUK JULIANA
108
BAB 108. HARI TERAKHIR
109
BAB 109. PAGI YANG BERBEDA
110
BAB 110. SEBULAN
111
BAB 111. TABIB DONOMULYO
112
BAB 112. DONOMULYO 2026
113
BAB 113. DUA TITIPAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!