Ricuh sebelum subuh

Malam itu di kamar Senja, suasana terasa sangat kaku dan dingin. Senja langsung merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang paling pinggir, membelakangi Langit tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Baginya, kehadiran Langit di kamar pribadinya adalah sebuah invasi yang sangat menyesakkan.

Sementara itu, Langit mencoba meringkuk di sofa kecil yang ada di sudut kamar.

Namun, ukuran sofa itu sangat tidak manusiawi bagi badannya yang tinggi tegap. Berkali-kali ia mengubah posisi; miring ke kiri kakinya kepentok, miring ke kanan kepalanya menggantung.

Suara decitan sofa dan hembusan napas frustrasi Langit memenuhi ruangan.

"Sial banget sih hidup gue," gerutu Langit pelan. Akhirnya, karena sudah tidak tahan dengan rasa pegal yang menjalar di punggungnya, Langit bangkit dengan kasar dan melangkah menuju ranjang. Tanpa permisi, ia merebahkan diri di sisi kosong sebelah Senja.

Senja yang belum benar-benar tidur langsung tersentak. Ia bangkit terduduk dan menatap Langit dengan mata melotot.

"Ngapain kamu di sini?! Turun! Tidur di sofa sana!" usir Senja dengan suara bergetar karena marah.

Langit tidak bergeming, ia justru menarik selimut dan memejamkan mata.

"Sofa lo itu buat orang kerdil, bukan buat gue! Badan gue sakit semua. Udah deh, jangan berisik, gue cuma numpang tidur doang," sahut Langit dengan nada ketus.

"Tapi ini kamar saya! Kamu nggak boleh sembarangan!" Senja berusaha mendorong bahu Langit.

Langit membuka satu matanya, menatap Senja dengan sinis.

"Eh, denger ya. Gue di sini juga terpaksa. Nggak usah kegeeran, gue nggak bakal nyentuh lo sama sekali. Bagi gue, perempuan itu cuma pembawa sial! Gara-gara lo, gue terjebak di sini. Gara-gara perempuan juga hidup gue berantakan. Jadi tenang aja, lo aman karena gue udah males berurusan sama yang namanya cewek!" cerocos Langit tanpa henti, mengeluarkan semua kekesalannya.

Senja tertegun mendengar ucapan kasar Langit. "Kalau perempuan pembawa sial, terus kenapa tadi kamu... kamu mencium saya?!" balas Senja dengan wajah memerah, antara malu dan murka.

Langit sempat terdiam, wajahnya sedikit salah tingkah.

"Itu... itu kan biar lo nggak teriak! Darurat! Udah ah, tidur!" Langit langsung membalikkan badan membelakangi Senja, menutupi seluruh kepalanya dengan bantal.

Senja hanya bisa menghentakkan kakinya ke kasur dengan dongkol, akhirnya kembali berbaring dengan jarak sejauh mungkin dari Langit, sambil merutuki nasibnya yang harus bersuamikan pria paling menyebalkan sedunia.

Suasana di kamar semakin memanas, jauh dari kesan malam pertama yang romantis. Senja yang merasa wilayah pribadinya dilanggar, bangkit berdiri di atas kasur dan menunjuk-nunjuk Langit dengan wajah merah padam.

"Aku hitung sampai tiga! Kalau kamu nggak pindah ke sofa, aku bakal teriak biar Abah sama Umi masuk ke sini!" ancam Senja dengan suara tertahan namun tajam.

Langit hanya melirik malas, tangannya masih menyangga kepala di atas bantal. Bukannya takut, ia justru tersenyum miring yang terlihat sangat menyebalkan.

"Teriak aja. Paling Abah lo cuma bakal senyum dan bilang, 'Sabar ya, namanya juga pengantin baru'. Lo lupa? Kita udah sah. Mau gue tidur di kasur, di lantai, atau bahkan kalau gue mau 'macem-macem' sama lo sekarang pun, malaikat malah doain, bukan ngelarang. Status gue suami lo, Senja," balas Langit dengan nada santai namun penuh penekanan yang membuat Senja bungkam seketika.

Senja semakin kehilangan kesabaran. Ia mulai memukuli punggung Langit dengan bantal sekuat tenaga. "Pergi! Jangan tidur di sini! Aku benci kamu, Langit!" teriaknya frustrasi.

"Nggak akan! Gue capek, badan gue remuk semua!" seru Langit sambil menangkis serangan bantal Senja dengan tangannya.

Akhirnya Langit memejamkan mata rapat-rapat, mengabaikan segala protes istrinya itu.

Melihat Langit yang keras kepala, Senja punya ide lain untuk mengganggu.

"Oke, kamu nggak mau pindah? Jangan harap bisa tidur tenang malam ini!" Senja mulai bergerak gelisah di atas kasur. Ia sengaja berguling ke sana kemari, menarik-narik selimut yang dipakai Langit, hingga menendang-nendangkan kakinya ke kasur agar menimbulkan guncangan.

Bukan hanya itu, Senja terus mengomel tanpa henti. "Kenapa sih aku harus ketemu orang kayak kamu? Kenapa kamu harus masuk ke kamar ini? Hidupku rusak gara-gara kamu! Dasar cowok kota nggak tahu aturan! Cowok pembawa sial!"

Langit yang tadinya sangat mengantuk akhirnya mendengus kencang.

Ia menutup telinganya dengan bantal, namun ocehan Senja tetap menembus pendengarannya. Malam itu di kamar putri Kyai yang biasanya tenang, kini dipenuhi dengan perdebatan konyol antara dua orang yang dipaksa dewasa oleh keadaan, sementara di luar jendela, bulan hanya menjadi saksi bisu pertengkaran suami-istri baru yang paling tidak akur sedunia.

Pertengkaran yang tadinya bising dengan suara tendangan dan omelan Senja mendadak berubah menjadi keheningan yang menyesakkan napas.

Langit, yang sudah di batas akhir kesabarannya karena tidak bisa tidur, tiba-tiba membalikkan badannya dengan gerakan secepat kilat.

Dalam satu gerakan tangkas, ia menarik tubuh Senja masuk ke dalam dekapannya. Lengan kekar Langit melingkar erat di pinggang Senja, mengunci gerakan gadis itu sepenuhnya.

"Langit! Lepasin! Aku nggak bisa napas!" pekik Senja panik, wajahnya kini terbenam di dada Langit yang bidang.

Jantungnya berdegup sepuluh kali lipat lebih kencang, bukan karena benci, tapi karena kedekatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Langit tidak melepaskannya, malah semakin mempererat pelukannya hingga Senja benar-benar tak berkutik.

"Diem. Tidur dengan tenang," desis Langit tepat di telinga Senja, suaranya rendah dan mengancam.

"Kalau kamu masih grasak-grusuk atau teriak-teriak ngomel nggak jelas, aku bakal peluk kamu begini sampai pagi. Bahkan mungkin lebih dari sekadar peluk. Kamu mau coba?"

Ancaman itu bekerja seketika. Senja membeku. Bulu kuduknya meremang mendengar suara berat Langit yang terasa begitu dekat.

Dengan sisa keberaniannya, ia berbisik lirih, "Iya, iya... aku janji diam. Tolong lepasin."

Langit perlahan melonggarkan pelukannya lalu melepaskan Senja sepenuhnya. Begitu terbebas, Senja langsung berguling ke pinggir kasur, memunggungi Langit dengan napas yang masih tersenggal.

Langit pun melakukan hal yang sama, berbalik memunggungi Senja.

Di bawah temaram lampu tidur, keduanya terdiam dalam kegelapan.

"Sial, kenapa jantung gue deg-degan gini cuma gara-gara meluk dia?" batin Langit sambil meremas bantalnya.

Sementara itu, Senja menyentuh dadanya yang bergemuruh. "Ya Allah, kenapa aku merasa sangat takut tapi juga merasa terlindungi? Kenapa dia harus jadi suamiku?"

Hening pun menyelimuti kamar itu. Hanya suara detak jam dinding yang menemani pergolakan batin mereka, hingga akhirnya kelelahan fisik dan emosi membawa keduanya terlelap dalam posisi saling membelakangi, dua jiwa yang terikat paksa namun mulai merasakan getaran yang tak mampu mereka jelaskan.

Udara dingin sebelum Subuh merayap masuk melalui celah ventilasi, membuat suhu di dalam kamar turun drastis.

Dalam keadaan setengah sadar, Langit yang merasa kedinginan mencari sumber panas, ia bergeser mendekat dan meringkuk di belakang Senja.

Senja pun, yang dalam mimpinya merasa menemukan bantal guling yang hangat, secara alami berbalik dan menyusupkan kepalanya ke dada Langit.

Keduanya pun berakhir saling mendekap erat di bawah satu selimut, mencari kehangatan satu sama lain hingga lelap yang dalam.

Saat suara adzan Subuh berkumandang nyaring dari masjid pesantren, Senja perlahan membuka matanya.

Ia mengerjap-ngerjap, dan jantungnya nyaris copot saat menyadari wajah tampan Langit berada tepat di depan matanya, dengan tangan cowok itu mendekap pinggangnya posesif.

"AAAAA!"

Secara refleks, Senja mengerahkan seluruh tenaganya dan... DUAR! Satu tendangan telak mendarat di perut Langit.

"Aduh! Sialan!" Langit terjatuh dari ranjang dengan suara terdengar yang cukup keras. Ia meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya yang menghantam lantai kayu.

"Lo ya! Sengaja banget mau bikin pinggang gue patah?! Ini sakit banget, Senja!"

Senja yang sebenarnya ingin tertawa melihat posisi Langit yang mengenaskan di lantai, berusaha menahan diri dan memasang wajah galak.

"Lagian! Katanya benci perempuan, katanya nggak mau sentuh-sentuh! Tapi apa tadi? Kamu meluk aku erat banget!"

Langit berdiri sambil tertatih, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. Ia mulai melangkah mendekat ke arah ranjang dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa? Kamu nggak terima? Inget ya, sah-sah aja saya peluk kamu, Senja. Saya ini suami kamu!"

"Pergi, Langit! Jangan deket-deket!" Senja mulai panik melihat Langit yang terus maju. Ia mundur merangkak di atas kasur sampai punggungnya kepentok sandaran ranjang.

Dengan satu gerakan gesit yang tak terduga, Langit mengunci tubuh Senja. Ia berada di atas istrinya, menumpu berat badannya dengan kedua tangan di sisi kepala Senja.

"Lepasin! Kalau nggak, aku teriak nih!" ancam Senja, meski suaranya mulai gemetar.

"Teriak aja, Senja... dan aku bakal bungkam kamu pakai ciuman kayak kemarin," bisik Langit dengan seringai menggoda.

Senja baru saja membuka mulutnya untuk protes, namun Langit benar-benar membuktikan ucapannya. Ia membungkam bibir Senja dengan ciuman yang kali ini terasa berbeda, tidak ada paksaan yang kasar seperti malam itu, melainkan sebuah sentuhan lembut yang membuat jantung keduanya berpacu liar.

Langit yang awalnya hanya ingin menggoda, justru terhanyut dalam rasa manis yang membuatnya candu, sementara Senja perlahan melemas, kehilangan kata-kata dalam dekapan suaminya yang sangat menyebalkan namun entah sejak kapan mulai terasa nyaman.

Sentuhan yang awalnya hanya untuk menggoda itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Senja yang tadinya memberontak, perlahan merasakan desiran aneh yang melumpuhkan akal sehatnya. Ia memejamkan mata erat-erat, dan entah sejak kapan, tangannya yang semula mendorong dada Langit kini meremas kaus cowok itu.

Senja mulai membalas ciuman suaminya, membuat suasana di atas ranjang itu semakin panas dan dipenuhi emosi yang meledak-ledak.

Namun, di saat napas mereka kian memburu dan dunia seolah hanya milik berdua, sebuah ketukan keras di pintu kayu membuyarkan segalanya.

TOK! TOK! TOK!

Terpopuler

Comments

꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂

꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂

Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭

2025-12-26

0

yuningsih titin

yuningsih titin

makin heboh aja senja sama langit

2025-12-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pengasingan sang raja jalanan
2 Bab 2 Langit di Penjara Suci
3 Bab 3 Malam yang menghancurkan
4 Akad ditengah malam
5 Ricuh sebelum subuh
6 Diantara senja dan langit
7 Cinta ditengah keramaian
8 Dibawah hujan kita menghangat
9 Pulang karena kamu
10 Rindu tanpa sinyal
11 Jejak ditepi sungai
12 Jejak Rindu dibalik Tirai
13 Bintang di Langit Uluwatu
14 Jejak cinta di Bali
15 Kembali ke Realita
16 Dermaga rindu pesantren
17 Oleh oleh dari Langit
18 Rahasia Jendela Langit
19 Janji diantara jarak
20 Langit yang terbaik
21 Senja sakit, Langit kangen
22 Janji sebelum berpisah lagi
23 Senja Hamil
24 Tujuh Bulan, Satu Janji
25 Ketika langit kehilangan
26 Pelukan setelah kehilangan
27 Diantara doa dan luka
28 Sejauh doa
29 Merelakan senja
30 Rindu yang tertahan
31 Malam yang menghancurkan
32 Malam ketika amanah diuji
33 Dibawah cahaya doa dan fitnah
34 Cinta setelah Badai
35 Awal baru dilombok
36 Ugal-ugalan dalam cinta, khusyuk dalam doa
37 Cinta dibawah langit lombok
38 Perlombaan dimalam terakhir
39 Ramen Cinta dan Suami Siaga
40 Rahasia ustad hasan
41 Misi Cinta di langit pesantren
42 Kotak pink dan cemburu senja
43 Kepercayaan yang retak
44 Diantara Cemburu dan Doa
45 Rumah yang kembali ditemukan
46 Lintas Benua, Satu Hati
47 Ujian langit di Negeri Kanguru
48 Rencana Bella Gagal
49 Badai di antara doa dan jarak
50 Antara Fitnah dan Kesetiaan
51 Harga sebuah kebenaran
52 Tangisan senja dipelukan langit
53 Janji Langit diujung perjalanan senja
54 Ketika istriku jadi pusat semesta
55 Diantara cemburu dan cinta sama dalam
56 Dibawah langit Australia, Cinta itu terjaga
57 Batas yang dilanggar, Cinta yang diperjuangkan
58 Dibalik luka, ada pelukan yang menyelamatkan
59 Jejak tak terhindarkan
60 Vros Kecil, Niat yang besar
61 Senja, kampus dan Cinta
62 Kecupan terakhir di pagi Yogya
63 Ketika Cinta salah Alamat Menjadi Senjata
64 Serigala di Balik senyuman sahabat
65 Malam yang dicuri, dendam yang disemai
66 Ketenangan sebelum badai
67 Diambang Kehilangan
68 Dibawah bayang obsesi
69 Malam terakhir di Bali
70 Janji diujung harapan
71 Putaran menuju pulang
72 Langkah kecil menuju langit
73 Hati yang salah Alamat
74 Jas putih yang tercabik, Harga diri yang bangkit
75 Terapi ala langit Sterling
76 Satpam Cinta Ugal Ugalan
77 Saat sunyi bertemu riuh
78 Klaim Cinta dibawah langit Yogya
79 Hijrah di preman Jakarta
80 Cemburu dibalik mukena putih
81 Diantara masa lalu dan jalan pulang
82 Bayang Masa Lalu
83 Luka yang Membawa Pulang
84 Garis Takdir yang Berpulang
85 Takdir yang Menemukan Jalan Pulang
86 Pernikahan dadakan Nathan dan Nayra
87 Malam pertama yang gagal
88 Ketika keramaian menjadi takdir
89 Kabut kebohongan
90 Jebakan di balik Kabut
91 Jebakan pembunuhan
92 Senja hamil
93 Satu Bulan dibalik jeruji
94 Diambang Maut
95 Ketika kebenaran memilih jalan
96 Dari Peluru Ke Pelukan
97 Sajadah Terakhir sang raja jalanan
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Bab 1 Pengasingan sang raja jalanan
2
Bab 2 Langit di Penjara Suci
3
Bab 3 Malam yang menghancurkan
4
Akad ditengah malam
5
Ricuh sebelum subuh
6
Diantara senja dan langit
7
Cinta ditengah keramaian
8
Dibawah hujan kita menghangat
9
Pulang karena kamu
10
Rindu tanpa sinyal
11
Jejak ditepi sungai
12
Jejak Rindu dibalik Tirai
13
Bintang di Langit Uluwatu
14
Jejak cinta di Bali
15
Kembali ke Realita
16
Dermaga rindu pesantren
17
Oleh oleh dari Langit
18
Rahasia Jendela Langit
19
Janji diantara jarak
20
Langit yang terbaik
21
Senja sakit, Langit kangen
22
Janji sebelum berpisah lagi
23
Senja Hamil
24
Tujuh Bulan, Satu Janji
25
Ketika langit kehilangan
26
Pelukan setelah kehilangan
27
Diantara doa dan luka
28
Sejauh doa
29
Merelakan senja
30
Rindu yang tertahan
31
Malam yang menghancurkan
32
Malam ketika amanah diuji
33
Dibawah cahaya doa dan fitnah
34
Cinta setelah Badai
35
Awal baru dilombok
36
Ugal-ugalan dalam cinta, khusyuk dalam doa
37
Cinta dibawah langit lombok
38
Perlombaan dimalam terakhir
39
Ramen Cinta dan Suami Siaga
40
Rahasia ustad hasan
41
Misi Cinta di langit pesantren
42
Kotak pink dan cemburu senja
43
Kepercayaan yang retak
44
Diantara Cemburu dan Doa
45
Rumah yang kembali ditemukan
46
Lintas Benua, Satu Hati
47
Ujian langit di Negeri Kanguru
48
Rencana Bella Gagal
49
Badai di antara doa dan jarak
50
Antara Fitnah dan Kesetiaan
51
Harga sebuah kebenaran
52
Tangisan senja dipelukan langit
53
Janji Langit diujung perjalanan senja
54
Ketika istriku jadi pusat semesta
55
Diantara cemburu dan cinta sama dalam
56
Dibawah langit Australia, Cinta itu terjaga
57
Batas yang dilanggar, Cinta yang diperjuangkan
58
Dibalik luka, ada pelukan yang menyelamatkan
59
Jejak tak terhindarkan
60
Vros Kecil, Niat yang besar
61
Senja, kampus dan Cinta
62
Kecupan terakhir di pagi Yogya
63
Ketika Cinta salah Alamat Menjadi Senjata
64
Serigala di Balik senyuman sahabat
65
Malam yang dicuri, dendam yang disemai
66
Ketenangan sebelum badai
67
Diambang Kehilangan
68
Dibawah bayang obsesi
69
Malam terakhir di Bali
70
Janji diujung harapan
71
Putaran menuju pulang
72
Langkah kecil menuju langit
73
Hati yang salah Alamat
74
Jas putih yang tercabik, Harga diri yang bangkit
75
Terapi ala langit Sterling
76
Satpam Cinta Ugal Ugalan
77
Saat sunyi bertemu riuh
78
Klaim Cinta dibawah langit Yogya
79
Hijrah di preman Jakarta
80
Cemburu dibalik mukena putih
81
Diantara masa lalu dan jalan pulang
82
Bayang Masa Lalu
83
Luka yang Membawa Pulang
84
Garis Takdir yang Berpulang
85
Takdir yang Menemukan Jalan Pulang
86
Pernikahan dadakan Nathan dan Nayra
87
Malam pertama yang gagal
88
Ketika keramaian menjadi takdir
89
Kabut kebohongan
90
Jebakan di balik Kabut
91
Jebakan pembunuhan
92
Senja hamil
93
Satu Bulan dibalik jeruji
94
Diambang Maut
95
Ketika kebenaran memilih jalan
96
Dari Peluru Ke Pelukan
97
Sajadah Terakhir sang raja jalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!