Pada keesokan hari Lidia meminta ijin tidak masuk kerja dengan alasan tidak enak badan. Padahal sebenarnya ia ingin menghindar dari Panca.
Sementara itu Panca di buat gelisah karna ketidak hadiran Lidia. Kerjaannya jadi kacau. Setelah pulang bekerja Panca tidak langsung pulang ia sengaja mendatangi apartemen Lidia tapi tak berniat menemui wanita itu. Ia hanya berdiri memandang dari kejauhan.
Saat hendak berbalik ia menangkap siluet orang yang ia ingin lihat. Ya itu Lidia yang tengah berjalan menuju supermarket yang ada di sebelah apartement. Lelaki itu segera turun dan mengikuti Lidia.
"Loh, bapak kok bisa ada di sini?" tanya Lidia saat melihat sosok yang tak ingin ia temui berada di dekatnya.
"Kebetulan lewat." bohong Panca sambil terus mengekori Lidia membuat wanita itu risih.
Saat hendak membayar belanjaannya, Panca lebih dahulu menyodorkan kartunya.
"Ga usah pak, saya masih sanggup membayarnya." tolak Lidia sambil memberikan kartunya pada kasir. Kasir di buat bingung oleh perdebatan kedua orang di hadapannya
"Ini jadi belanja apa tidak sih? di belakang masih banyak yang antri." Ujar kasir menyadarkan Lidia dan Panca.
Panca mengambil kartu Lidia dan menyerahkan kartunya pada kasir. Lidia terpaksa bungkam karna malu di liat orang ramai.
Lidia kira Panca tidak akan mengikutinya lagi tapi dugaannya salah. Panca menentang belanjakan Lidia dan mengantarnya hingga depan pintu unitnya.
"Terimakasih, pak. Cukup sampai di sini saja. Sebaiknya bapak pulang, karna Wulan pasti kwatir menunggu kepulangan bapak." Lidia merebut tentengan yang ada di tangan panca dan buru - buru masuk kedalam apartemennya.
Panca di buat bengong oleh tingkah Lidia. Lelaki itu tak sempat menahan Lidia, ia terpaksa memutar tubuhnya meninggalkan apartemen Lidia tapi sebelumnya ia sempat berkata lirih.
"Kali ini kamu lolos, tapi tunggu besok. Aku tak akan pernah melepaskan kamu. Kamu itu milikku, hanya milikku." Ada senyum misterius terbit di sudut bibir lelaki itu. Panca kembali ke mobilnya dan memacu roda empatnya menuju rumahnya.
"Mas." sapa Wulan sang istri yang nampak menunggu kepulangannya.
"Hmm....." dengus Panca dingin.
"Kok telat mas?" tanya Wulan berusaha mencairkan suasana yang nampak tegang.
"Banyak kerjaan." jawab Panca asal. Lelaki itu berjalan kekamar dan segera menganti pakainya tapi sebelumnya ia mandi dulu agar tubuhnya jauh lebih segar.
"Mau makan sekarang?" tanya Wulan.saat Panca sudah selesai mandi dan berpakain.
"Nanti saja."
"Mas."
"Apa?"
"Ga jadi deh." Wulan mengurungkan niat saat melihat wajah dingin suaminya. Ia takut jika ia bertanya banyak suaminya pasti akan marah.
Panca membuka laptopnya dan melihat hasil kerjaannya hari ini yang belum tuntas. Kepalanya sudah tak pusing lagi karna sudah bertemu dengan Lidia. Ternyata Lidia sanggup merubah moodnya.
Wulan yang melihat suaminya bekerja memilih merebahkan tubuhnya di ranjang. Tak ada gunanya ia duduk menunggu karna Panca jika sudah bekerja pasti tak kenal waktu. Perempuan itu berusaha mengertiin suaminya.
Belakangan ini entah kenapa ia merasa ada yang berubah pada suaminya. Tapi entah apa penyebabnya ia sendiri tak tau. Panca mulai agak sedikit menjaga jarak dan terkesan dingin. Apakah ia harus mencari tau penyebabnya atau memilih diam? Karna kepalanya terlalu banyak pikiran akhirnya ia pusing sendiri. Ia memilih memejamkan matanya dan mengistirahatkan otaknya agar kembali waras. Beberapa saat kemudian akhirnya Wulan sudah hanyut dalam dunia mimpinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum kk, terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya kk😘👍🙏
Jangan lupa mampir di karya lain thor " Ku beli Kesombongan Keluarga Suami ."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 180 Episodes
Comments
Ikram Itam
lanjut miin
2026-07-22
1
Pjjmakkem
kak, typo nya msh banyak di sini
2026-01-07
1
ardiana dili
lanjut
2026-01-07
1