Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

BAB 1: KEMBALINYA SANG MANTAN

Jakarta siang itu terik. Matahari membakar aspal dan kaca-kaca gedung tinggi tanpa ampun.

Namun bagi Aira Senja, udara di luar sana terasa jauh lebih bersahabat dibandingkan suhu dingin yang menusuk tulang di dalam gedung Dirgantara Group.

Ia berdiri mematung di depan lift kaca menuju lantai 45. Di tangannya, sebuah map cokelat yang sudah lusuh diremas kuat-kuat—seolah benda itu satu-satunya pegangan agar ia tidak runtuh di tempat.

Sejak satu jam lalu, satu suara terus menghantui kepalanya.

“Mbak Aira, jika biaya administrasi ICU ibunya tidak segera dilunasi sore ini, dengan berat hati kami harus memindahkan ibu ke bangsal biasa.”

Tidak ada ancaman dalam nada suster itu. Hanya fakta. Dan fakta jauh lebih kejam daripada ancaman.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Aira melangkah keluar. Suara sepatu haknya yang mulai aus menggema di lorong sunyi berlapis marmer mewah. Setiap langkah terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju sesuatu yang sudah ia takdirkan untuk dihindari.

“Pelamar sekretaris pribadi untuk Pak Arlan?”

Seorang asisten pria menatapnya singkat. “Silakan masuk.”

Nama itu.

Arlan.

Nama yang selama lima tahun terakhir ia kubur dalam-dalam. Nama yang tetap muncul di setiap mimpi yang tak pernah benar-benar ia lupakan.

Klek.

Pintu kayu jati itu terbuka perlahan.

Aroma sandalwood langsung menyergap indra penciumannya—wangi yang terlalu familiar. Dulu, aroma itu selalu membuatnya merasa aman. Kini, justru terasa seperti racun yang perlahan memenuhi paru-parunya.

Ruangan itu luas dan dingin. Dinding kaca memamerkan pemandangan pencakar langit Jakarta. Kota besar itu terlihat kecil dari ketinggian ini.

Di balik meja kerja besar, seorang pria duduk membelakangi pintu.

“Selamat pagi, Pak,” ucap Aira pelan. “Saya Aira Senja. Pelamar untuk posisi sekretaris.”

Suaranya bergetar. Ia hampir tak mengenalinya sendiri.

Hening.

Pria itu tak langsung menjawab. Detak jam terdengar jelas, berpacu dengan degup jantung Aira yang semakin tak terkendali.

Perlahan, kursi kerja itu berputar.

Dunia Aira seolah berhenti.

Rahang yang lebih tegas. Tatapan hitam pekat yang menekan tanpa perlu usaha. Aura dingin yang membuat udara terasa menipis.

Arlan Dirgantara bukan lagi pria hangat yang dulu berjanji akan menikahinya.

Pria di hadapannya kini adalah penguasa.

“Lama tidak bertemu, Aira.”

Suara bariton itu berat. Datar. Mematikan.

“Atau haruskah aku memanggilmu… sang pengkhianat?”

Dada Aira terasa dihantam keras. Namun ia memaksa dirinya tetap berdiri.

“Arlan, aku—”

“Jangan sebut namaku.”

Nada suaranya rendah, hampir tenang. Justru itu yang membuatnya lebih mengerikan.

“Jangan kotori namaku dengan mulutmu.”

Arlan berdiri. Tinggi dan dominan. Aira refleks mundur setengah langkah.

Ia mendekat. Terlalu dekat.

Tanpa peringatan, Arlan merampas map cokelat di tangan Aira dan menjatuhkannya ke lantai. Kertas-kertas berhamburan seperti harga diri yang tercerai-berai.

“Kau pikir setelah apa yang kau lakukan lima tahun lalu,” ucapnya dingin, “kau bisa datang ke sini dan mengemis pekerjaan dariku?”

Tatapannya menyapu kemeja putih Aira yang mulai menipis karena terlalu sering dicuci.

“Ke mana perginya pria kaya yang dulu membuatmu membuangku seperti sampah?”

Air mata menggenang, tapi Aira menahannya.

Jika saja kau tahu kebenarannya.

Namun nyawa ibunya lebih penting daripada pembelaan apa pun.

“Aku butuh pekerjaan ini, Pak Arlan,” ucapnya pelan namun tegas.

“Aku akan melakukan apa pun… selama ibuku hidup.”

Arlan tertawa pendek. Kering. Tanpa kehangatan.

“Apa pun?”

Ia kembali ke meja dan mengambil sebuah dokumen.

“Tanda tangani. Ini bukan kontrak kerja biasa.”

Dokumen itu dilempar ke atas meja.

“Ini kontrak penebusan dosa.”

Tangan Aira gemetar membaca isinya. Setiap poin terasa seperti jerat yang semakin mengencang.

Matanya berhenti pada satu kalimat:

Seluruh waktu dan hidup pihak kedua berada di bawah kendali penuh pihak pertama.

“Penalti satu miliar?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Arlan mendekat, berbisik di dekat telinganya.

“Bukankah kau bilang akan melakukan apa pun demi uang?”

Suaranya rendah. Kejam.

“Tanda tangani. Biaya ICU ibumu lunas dalam sepuluh menit.”

Ia berhenti sesaat.

“Tolak… dan kau bisa melihatnya mati sore ini.”

Dunia Aira runtuh dalam diam.

Arlan tahu segalanya.

Ini bukan kebetulan. Ini jebakan.

Namun ia tidak punya pilihan.

Dengan tangan gemetar dan air mata yang akhirnya jatuh, Aira menandatangani kontrak itu. Setiap goresan tinta terasa seperti mengubur sisa hidup yang pernah ia impikan.

Arlan mengambil kembali kertas itu tanpa ekspresi.

“Pilihan yang cerdas, Aira.”

Suaranya tenang. Terlalu tenang.

“Selamat datang di nerakamu.”

Aira tidak menjawab.

Ia hanya menatap bekas tinta tanda tangannya yang masih basah.

Di luar ruangan itu, Jakarta tetap bergerak seperti biasa. Dunia tidak berhenti hanya karena satu hati baru saja dihancurkan.

Dan sekali lagi dalam hidupnya,

Aira memilih berjalan ke dalam kegelapan demi seseorang yang ia cintai.

Tanpa tahu…

apakah kali ini ia masih bisa kembali.

Episodes
1 BAB 1: KEMBALINYA SANG MANTAN
2 BAB 2: KONTRAK ITU MULAI BEKERJA
3 BAB 3: WANITA ITU DATANG
4 BAB 4: BATAS YANG MULAI KABUR
5 BAB 5: DI ANTARA LAMPU DAN BISIKAN
6 BAB 6: SERANGAN TANPA WAJAH
7 BAB 7: BATAS YANG MULAI RETAK
8 BAB 8: DI BAWAH MEJA RAPAT
9 BAB 9: RETAK YANG TAK TERLIHAT
10 BAB 10: BELAJAR DARI YANG TERBAIK
11 BAB 11: YANG TIDAK DIKATAKAN
12 BAB 12: TITIK PALING LEMAH
13 BAB 13: LANGKAH TANPA SUARA
14 BAB 14: KESETIAAN YANG DIPERTANYAKAN
15 BAB 15: DUA PULUH EMPAT JAM
16 BAB 16: DIAM YANG BERBAHAYA
17 BAB 17: BAYANGAN YANG TERTINGGAL
18 BAB 18: TEKANAN YANG TAK TERLIHAT
19 BAB 19: YANG DILEPASKAN
20 BAB 20: SEBELUM TERLAMBAT
21 BAB 21: GARIS YANG TIDAK TERLIHAT
22 BAB 22: HAL YANG TIDAK PERNAH DIUCAPKAN
23 BAB 23 — Pilihan yang Tidak Netral
24 BAB 24 — Retakan di Ruang Rapat
25 BAB 25 — Empat Puluh Delapan Jam
26 BAB 26 — Di Antara Dua Perang
27 BAB 27 — Versi yang Dipotong
28 BAB 28 — Bagian yang Tidak Pernah Diceritakan
29 bab 29 Di Antara Kebenaran dan Kebencian
30 Bab 30 — Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
31 Bab 31 — Bayangan yang Belum Selesai
32 Bab 32 — Jejak yang Ditinggalkan
33 Bab 33 — Kebenaran yang Tidak Bersih
34 Bab 34 — Anak yang Kehilangan Arah
35 Bab 35 — Luka yang Tak Terucap
36 Bab 36 — Kebenaran yang Terlambat
37 Bab 37 di ambang yang sama
38 Bab 38 — Yang Akhirnya Terlihat
39 Bab 39 — Yang Tidak Dia Ketahui
40 Bab 40 — Waktu yang Retak
41 Bab 41 — Kamu yang Belum Kehilanganku
42 Bab 42 — Hari yang Terasa Terlalu Tenang
43 Bab 43 — Jam yang Tidak Mau Berhenti
44 Bab 44 — Keputusan yang Mengubah Malam
45 Bab 45 — Takdir yang Tidak Hilang
46 Bab 46 — Rahasia yang Tidak Bisa Disembunyikan Lagi
Episodes

Updated 46 Episodes

1
BAB 1: KEMBALINYA SANG MANTAN
2
BAB 2: KONTRAK ITU MULAI BEKERJA
3
BAB 3: WANITA ITU DATANG
4
BAB 4: BATAS YANG MULAI KABUR
5
BAB 5: DI ANTARA LAMPU DAN BISIKAN
6
BAB 6: SERANGAN TANPA WAJAH
7
BAB 7: BATAS YANG MULAI RETAK
8
BAB 8: DI BAWAH MEJA RAPAT
9
BAB 9: RETAK YANG TAK TERLIHAT
10
BAB 10: BELAJAR DARI YANG TERBAIK
11
BAB 11: YANG TIDAK DIKATAKAN
12
BAB 12: TITIK PALING LEMAH
13
BAB 13: LANGKAH TANPA SUARA
14
BAB 14: KESETIAAN YANG DIPERTANYAKAN
15
BAB 15: DUA PULUH EMPAT JAM
16
BAB 16: DIAM YANG BERBAHAYA
17
BAB 17: BAYANGAN YANG TERTINGGAL
18
BAB 18: TEKANAN YANG TAK TERLIHAT
19
BAB 19: YANG DILEPASKAN
20
BAB 20: SEBELUM TERLAMBAT
21
BAB 21: GARIS YANG TIDAK TERLIHAT
22
BAB 22: HAL YANG TIDAK PERNAH DIUCAPKAN
23
BAB 23 — Pilihan yang Tidak Netral
24
BAB 24 — Retakan di Ruang Rapat
25
BAB 25 — Empat Puluh Delapan Jam
26
BAB 26 — Di Antara Dua Perang
27
BAB 27 — Versi yang Dipotong
28
BAB 28 — Bagian yang Tidak Pernah Diceritakan
29
bab 29 Di Antara Kebenaran dan Kebencian
30
Bab 30 — Luka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
31
Bab 31 — Bayangan yang Belum Selesai
32
Bab 32 — Jejak yang Ditinggalkan
33
Bab 33 — Kebenaran yang Tidak Bersih
34
Bab 34 — Anak yang Kehilangan Arah
35
Bab 35 — Luka yang Tak Terucap
36
Bab 36 — Kebenaran yang Terlambat
37
Bab 37 di ambang yang sama
38
Bab 38 — Yang Akhirnya Terlihat
39
Bab 39 — Yang Tidak Dia Ketahui
40
Bab 40 — Waktu yang Retak
41
Bab 41 — Kamu yang Belum Kehilanganku
42
Bab 42 — Hari yang Terasa Terlalu Tenang
43
Bab 43 — Jam yang Tidak Mau Berhenti
44
Bab 44 — Keputusan yang Mengubah Malam
45
Bab 45 — Takdir yang Tidak Hilang
46
Bab 46 — Rahasia yang Tidak Bisa Disembunyikan Lagi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!