"Tuan, mohon dengarkan saya sebentar sebelum anda mengambil keputusan yang gegabah," potong Martha cepat, menghalangi jalan Jeremy yang tampak sudah siap menyeret Cahaya keluar dari gerbang mansion.
Jeremy mendengus, matanya masih berkilat penuh permusuhan pada gadis yang kini berdiri berkacak pinggang di depannya.
"Tidak ada yang perlu didengar, Martha. Aku tidak akan membiarkan tikus kecil yang tidak punya sopan santun ini tinggal di rumahku. Suruh agen mengirimkan orang lain!"
"Masalahnya, Tuan, ini adalah orang ketujuh dalam bulan ini," bisik Martha, mendekat ke arah Jeremy agar suaranya tidak terdengar oleh Cahaya. "Agen sudah memberikan peringatan terakhir. Kontrak dengan nona Cahaya sudah ditandatangani dan dibayar di muka untuk tiga bulan. Jika anda membatalkannya secara sepihak sekarang, dendanya sangat besar. Belum lagi, nama baik keluarga Sebastian akan masuk daftar hitam di semua agen penyalur tenaga kerja di Milan."
Jeremy menggeram dengan rahang mengeras. "Aku tidak peduli soal uang!"
"Saya tahu anda tidak peduli soal uang, Tuan," lanjut Martha dengan suara serendah mungkin sembari melirik ke arah jendela lantai atas di mana Elio diam-diam mengintip. "Tapi lihatlah tuan muda Lio. Sejak gadis ini berdiri di sini, Lio tidak lagi menangis. Dia terus menatap nona Cahaya dari kejauhan. Wajah gadis itu, jelas anda tahu sendiri, Tuan. Dia adalah satu-satunya alasan yang mungkin bisa membuat Lio tenang."
Jeremy terdiam seketika. Ia melemparkan pandangan tajam ke lantai atas dan benar saja, ia menangkap sosok kecil Elio yang sedang mengintip dari balik tirai. Ada binar rasa ingin tahu di mata bocah itu, sesuatu yang sudah lama hilang sejak kematian Stella.
Cahaya, yang sejak tadi hanya menonton perdebatan itu, akhirnya angkat bicara dengan nada bosan.
"Sudah selesai bisik-bisiknya? Kalau Om mau saya pergi, ya sudah, saya pergi. Saya juga malas mengurus anak dari orang yang sifatnya kayak monster salju."
Jeremy memutar tubuhnya, menatap Cahaya dengan tatapan yang bisa membunuh seketika.
"Nona Diam!" seru Jeremy.
Cahaya memutar bola matanya malas. "Nama saya Cahaya, om sombong. Bukan nona diam."
"Cukup!" seru Jeremy dengan nada membentak. Ia mengambil napas panjang, mencoba menekan egonya yang setinggi langit demi menghindari prosedur hukum agen yang merepotkan.
"Kau boleh bekerja di sini. Tapi jangan berpikir kau bisa bersantai. Karena aku punya aturan yang tidak bisa diganggu gugat. Pertama, tugasmu hanya mengurus Elio. Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku," ucap Jeremy lagi.
Cahaya menyilangkan tangan di depan dada. "Oke, lanjut."
"Kedua. Jangan pernah muncul di hadapanku saat aku sedang berada di rumah. Aku tidak ingin melihat wajahmu atau mendengar suaramu yang berisik itu. Jika aku berada di ruang makan, kau harus di kamar. Jika aku di ruang tamu, kau harus menghilang dari pandanganku. Intinya, kau hanya berurusan dengan Elio, bukan denganku!" Jeremy melangkah maju, memperpendek jarak hingga Cahaya bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang kuat.
Cahaya terdiam sejenak, menatap Jeremy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukannya takut, ia justru tersenyum miring, sebuah senyuman yang membuat Jeremy semakin merasa terusik.
"Oh, itu syarat yang sangat mudah, Om," jawab Cahaya santai. "Malah saya mau minta syarat tambahan. Bisa nggak Om pakai bel atau apa gitu kalau mau lewat? Biar saya bisa siap-siap tutup mata atau lari ke gudang."
"Apa katamu?"
"Iya, soalnya jujur saja, siapa juga yang mau lihat wajah Om setiap hari? Aura Om itu negatif banget, tahu nggak? Bisa-bisa saya cepat tua kalau sering-sering tatapan sama Om. Kerutan di dahi Om itu saja sudah cukup bikin saya stres," cerocos Cahaya tanpa henti.
Martha di samping mereka nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar keberanian Cahaya. Sementara wajah Jeremy memerah padam.
"Kau benar-benar gadis kurang ajar!"
"Saya hanya jujur, Om. Jadi, kita sepakat ya? Saya jaga Elio, Om jaga jarak. Kita kayak kutub magnet yang sama, nggak boleh nempel karena pasti bakal saling tolak," pungkas Cahaya dengan kemenangan di matanya. "Bibi Martha, ayo antar saya ke kamar Elio. Saya sudah nggak sabar ketemu anak manis itu dan menjauhkannya dari pengaruh buruk ayahnya."
Cahaya langsung melenggang masuk ke dalam mansion tanpa menunggu izin lebih lanjut dari sang pemilik rumah.
Jeremy berdiri mematung di halaman, mengepalkan tinjunya erat-erat. Ia belum pernah merasa sefrustrasi ini menghadapi seorang wanita. Kecuali Stella, mendiang istrinya.
Jeremy bersumpah, jika bukan karena desakan Martha dan bayangan Stella yang ia lihat di wajah gadis itu, ia pasti sudah melempar Cahaya ke danau terdekat.
"Tuan?" panggil Martha ragu-ragu.
"Biarkan saja dia, Martha," desis Jeremy sambil berjalan menuju mobilnya kembali, membatalkan niatnya untuk masuk ke rumah karena suasana hatinya sudah hancur total.
"Tapi pastikan dia tahu tempatnya. Sekali saja dia melanggar batas, aku sendiri yang akan menyeretnya keluar dari Milan!" seru Jeremy.
"Baik, Tuan."
Di balik jendela lantai atas, Elio melihat ayahnya pergi dengan perasaan lega. Jantungnya berdebar kencang saat melihat sosok gadis berambut panjang itu masuk ke rumahnya.
"Siapa tante itu, ya?" gumam Elio.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Nurlaela
calon teman untuk berkeluh kesahmu siapa tahu bebanmu berkurang,,,coba untuk ceria seperti anak lainnya kamu tidak sendiri👍
2026-01-18
2
Nice1808
kasihan elio hidup dlm ketakutan akn kmarahan ayah nya 💪semngat cahaya jaga elio
2026-01-18
2
clover
ngakak bgt di ulti🤭
2026-02-03
2