A Moment With You

A Moment With You

Bab 1 Langit, Senja, Laut

"Aksara ini akan amerta selamanya, karena dipenuhi rasa yang mendalam ketika menuliskannya. Aksara ini akan berkesan karena menulisnya dengan amila".

Deburan ombak ditepi pantai dengan laut yang elok membuat seorang gadis cantik tidak hentinya menatap laut dan ombak yang bergelombang. gadis itu bernama nayanika, seorang gadis cantik berhijab yang sedang duduk ditepi pantai, memandangi betapa indahnya ciptaan tuhan dengan senyuman yang selalu melekat di bibirnya.

"Kakak ayo pulang" panggil seorang gadis kecil yang cantik tanpa hijab yang tak lain dan tak bukan adalah adik nayanika yaitu Anindita.

Nama kakak adik ni memang tergolong unik dan indah, nama mereka diambil dari bahasa sanskerta. Nayanika memiliki arti mata yang indah, sangat pas dengan si pemilik nama, mata teduh dan tatapan yang indah.. Sedangkan adiknya Anindita yang berarti sempurna, sangat cantik.

" Tunggu senjanya turun dulu baru kita pulang" jawab naya kepada sang adik.

Anindita mengangguk dan perlahan duduk ditepi pantai bersama sang kakak.

Kedua gadis itu dengan setia menunggu senja itu tiba, duduk dibibir pantai sambil bercengkrama dan tertawa. Nayanika memang sangat menyukai senja, laut, dan langit.

" Kak naya pilih mana senja, laut atau langit?" tanya dita kepada naya.

"Kakak suka ketiganya" jawab naya

Adiknya heran mendengar jawaban sang kakak.

"Jawaban kakak nggak nyambung"

"Kenapa nggak nyambung?" tanya naya

"Dita kan suruh pilih, bukan malah milih ketiganya"

"Kakak nggak bisa milih"

"kenapa?"

" karena ketiganya memiliki keindahannya masing-masing, kamu tahu senja itu memang munculnya lama dan perginya sebentar, tapi ketika dia muncul semua orang pasti terkesima, senja itu aswara dan dikara"

" Kalau laut?" tanya dita penasaran

"Laut itu luas dan laut itu membawa kedamaian dan ketenangan, bahkan ketika orang memandang laut akan menimbulkan asa dan harsa"

" Kalau langit, kenapa kakak menyukai langit?"

"Menyukai langit tidak berarti harus menggapainy, cukup lihat dan nikmati keindahannya".

Dita tersenyum mendengar penuturan sang kakak, sekarang ia paham kenapa kakaknya begitu menyukai langit, senja dan laut.

"Dita juga mau ngikut kakak ah sebagai pecinta senja, laut, dan langit" tutur dita dengan riang, sedangkan naya hanya tertawa melihat tingkah sang adik.

Hari semakin sore dan langit semakin menampakkan warna cantiknya dikala petang, dan senja perlahan muncul dengan warnanya yang khas.

Sedang adik kakak itu asyik bermain ditepi pantai berlari dan tertawa riang, dita tiba-tiba menatap ke arah langit, seketika dia bersorak riang.

Naya: "Kenapa?" tanya naya yang heran melihat tingkah sang adik.

Dita mengarahkan telunjuknya keatas seakan memberikan pertanda bahwa yang ditunggu tunggu telah tiba. Naya mengikuti arah telunjuk dita, senyumnya terpancar melihat senja muncul dengan sempurna.

"Kamu tahu dita?" tanya naya kepada dita

Dita menggeleng dengan mata mereka yang tetap fokus menatap kearah langit.

"Senja begitu cantik buksn, dia muncul dengan satu warna tapi begitu cantik, dari senja kita juga belajar, selama apapun kita menunggu pasti yang datang tidak akan mengecewakan"

"Tapi senja datang cuman sebentar"

"Setiap yang datang pasti akan pergi, asalkan dia pergi dengan meninggalkan keindahan bukan kekecewaan."

Setelah menikmati keindahan senja, dan mengabadikan moment itu di kamera, kedua kakak beradik itu pergi meninggalkan pantai karena hari sudah semakin gelap.

Di dalam kamar naya masih memandangi foto dikamera hasil jepretan adiknya.

"Ternyata adikku punya bakat jadi fotografer" batin naya sambil tersenyum.

Ia tak menyangka adiknya dita bisa ahli dalam mengambil foto. Di tengah asik memandangi foto dirinya satu persatu, ada satu foto yang membuat naya berhenti tersenyum dan dengan seksama memandangi foto itu.

" Siapa pria itu, kenapa sepertinya dia sengaja melihat ke arah kamera, tapi kalau di lihat-lihat dia tampan, manis" gumam naya sambil membayangkan wajah asli pria itu.

Naya: "Eh astagfirullah apa sih nay, yang di maya belum tentu sama, sama yang asli" naya menggerutu sendiri meratapi kebodohannya yang mengkhayalkan seorang pria yang bahkan dia nggak kenal.

Naya terus memandangi foto itu yang fokusnya selalu ke pria di dalam kemera itu. Pria yang tersenyum dan berdiri tidak jauh dari belakang naya yang sepertinya sengaja ingin ikut di foto.

"Kakak ayo makan malam disuruh bunda" teriak dita dari luar kamar.

'ceklek' pintu kamar terbukan, dita masuk dan berjalan ke arah naya.

"Kakak lagi liatin apa kok senyum-senyum gitu" tanya dita penasaran.

"Astaga dita, bikin kakak kaget aja" ucap naya sambil mengelus dada akibat kaget karenaa dita yang tiba-tiba berada di sampingnya.

"Kakak liatin apa sih, dari tadi dita panggil kakak nggak dengar".

"Ha en-nggak, kakak cuman liatin foto tadi, hasil jepretan kamu bagus".

Dita memicingkan matanya dan menatap curiga ke arah naya.

"Kakak bohong ya" goda dita.

"Apasih kakak nggak bohong, kamu nanti kalau udah besar cocok deh jadi fotografer" berusaha mengalihkan pembicaraan.

" Siapa dulu dong, anindita gitu loh" ucap dita bangga.

Tiba-tiba seorang wanita cantik yang masih keliatan awet muda, hijab yang selalu melekat di kepalanya, masuk dan berdiri di dekat pintu kamar naya, bunda Anindya, nama yang cantik seperti orangnya.

Bunda Anindya: "Kalian berdua bunda tungguin loh dari tadi, kalian malah disini, ayo cepat kita makan malam".

"Siap bunda" jawab naya dan dita serentak.

Naya menaruh kameranya di atas kasur dan pergi bersama dita ke meja makan untuk makan malam. Mereka makan cuman bertiga, bunda, naya dan dita. Ya, ayah mereka sudah meninggal tiga tahun yang lalu, meskipun tanpa sosok seorang ayah mereka berusaha ikhlas dan membuka lembaran baru.

Naya siap menjadi tempat curhat sang bunda, saat bunda merasa kesepian dan butuh tempat cerita naya sebagai anak sekaligus anak pertama selalu siap menjadi tempat sandaran sang bunda, mendengarkan keluh kesah sang bunda dan selalu memberikan support terbaik sebagai seorang anak.

Tidak bisa dipungkiri naya juga sangat merindukan sosok seorang ayah, sosok yang selalu mendampingi naya, mendukung apapun yang naya lakukan, yang terpenting naya bahagia. Salah satu alasan kenapa naya menyukai langit, karena ada sosok yang ia rindukan. Ketika naya menatap langit naya seperti menatap ayahnya, kadang ia tersenyum, kadang dia meneteskan air matanya jika dia sudah tidak bisa menahan rindu yang ia rasakan.

Jika bintang-bintang bersinar dilangit naya pasti tersenyum senang, karena menurutnya dari atas sana, ayahnya pasti juga tersenyum melihat naya. Kadang naya juga menagajak adiknya dita untuk melihat langit di sela-sela malam, sebagai seorang kakak naya paham betul kalau adiknya juga pasti sangat merindukan ayahnya. Naya selalu menghibur adiknya jika dita sedang merindukan ayahnya.

Terpopuler

Comments

Citraa_28

Citraa_28

jangan lupa like and komen yaaa guyss

2026-01-17

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!