02. Topeng Kepatuhan

.

Udara dingin malam itu seolah ikut menusuk-nusuk hatinya yang remuk redam. Almira masih berdiri mematung di ambang pintu, menyaksikan punggung Gilang dan Lila yang semakin menjauh.

Dunia terasa berputar, dan semua berubah menjadi gelap. Dengan sisa tenaga yang ada, Almira menutup pintu dan bersandar di baliknya. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya.

"Mengapa aku harus merasakan sesakit ini? Mengapa kau tega melakukan ini, Mas Gilang?" bisik Almira pilu, suaranya tenggelam dalam isak tangisnya.

Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dengan cepat, ia menghapus air matanya dan mencoba memasang wajah tegar. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Gilang dan Lila. Ia tidak ingin mereka melihatnya hancur.

Gilang muncul di hadapannya dengan ekspresi bersalah. "Almira, aku tahu ini berat bagimu. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku akan tetap menyayangimu seperti dulu. Aku akan bersikap adil pada kalian berdua," ucap Gilang lembut. Pria itu berusaha meraih tangan Almira.

Namun, Almira menepis tangan Gilang dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" bentak Almira dengan suara bergetar. Ia tidak bisa menerima sentuhan Gilang setelah apa yang telah pria itu lakukan. Baginya kini, Gilang tak lebih dari makhluk yang menjijikkan. Tubuh pria itu kotor dengan aroma pengkhianatan.

"Almira, kumohon… Jangan seperti ini. Aku tahu kamu marah dan kecewa. Tapi beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya," pinta Gilang dengan nada memelas.

Almira menatap Gilang dengan tatapan dingin dan sinis. "Menjelaskan apa? Menjelaskan bagaimana kamu telah menghancurkan hidupku? Menjelaskan bagaimana kamu telah mengkhianati cintaku? Aku tidak butuh penjelasanmu!" balas Almira dengan nada sinis yang menusuk.

"Almira…"

Sebelum Gilang sempat melanjutkan perkataannya, Lila muncul di belakangnya dengan senyum manis di bibirnya.

"Sayang, kenapa lama sekali? Mbak Almira pasti lelah setelah memasak makan malam untuk kita. Kenapa kita tidak segera makan? Kita harus menghargai hasil kerja kerasnya, kan? Lagi pula, aku sudah lapar. Anakmu ini butuh asupan."

Suara Lila terdengar mendayu-dayu, sebelah tangannya merangkul lengan Gilang dengan manja. Sebelah tangannya lagi mengusap-usap perutnya seakan ingin berkata pada Almira, ‘Lihatlah, aku bisa menguasai suamimu.”

Almira menatap Lila dengan sorot mata jijik. Ia bisa melihat, Lila adalah tipe wanita manipulatif. Bermuka dua. Di depan Gilang wanita ini berpura-pura baik, sebenarnya hanya untuk menyakitinya.

"Mbak Almira, kamu tidak keberatan jika mulai sekarang aku tinggal di sini, kan? Aku janji, aku tidak akan merebut Mas Gilang darimu. Aku justru akan meringankan tugasmu dalam merawat Mas gilang. Kita bisa hidup bersama, aku akan menjadi adik yang patuh," ucap Lila lembut, namun terdengar begitu pisau yang menusuk jantung.

“Serius kamu ingin dia tinggal di sini bersama kita, Mas?" Almira bertanya dengan menahan gerahamnya yang saling beradu. Kedua tangannya terkepal erat hingga kuku-kukunya yang panjang menusuk telapak tangan. Terasa sakit, tapi tak lebih sakit dari luka hatinya yang menganga.

“Apa salahnya? Rumah ini cukup besar. Kasihan kamu tinggal sendirian. Jika ada Lila, kamu tidak akan kesepian." Begitu enteng Gilang mengucapkan kata-kata itu.

Almira menahan amarahnya. Ia tidak ingin terpancing emosi dan melakukan hal bodoh. Ia tahu, ini bukan saat yang tepat untuk berteriak. Ia harus berpura-pura menerima kehadiran Lila dan mencari cara untuk membuat wanita itu merasa hidup bagai di neraka.

"Baiklah, jika itu maumu, Mas. Aku tidak keberatan menerima dia tinggal di sini. Seperti katamu, rumah ini cukup besar untuk kita bertiga," jawab Almira dengan senyum yang dipaksakan. "Selamat datang di rumahku, adik madu. Aku harap ucapanmu tulus. Meringankan tugasku merawat suami!”

Almira tersenyum lebar. Senyum yang hanya dia dan Tuhan yang tahu artinya.

*

Setelah acara makan malam yang begitu kacau, karena Almira justru dipaksa melihat pertunjukkan drama romantis, wanita yang akhirnya urung memberikan kejutan untuk suaminya itu kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ia menutup pintu dan bersandar di baliknya, membiarkan air matanya kembali mengalir. Di hadapan dua manusia durhaka, ia terlihat tegar bak batu karang. Sesungguhnya ia merasa begitu hancur, begitu terluka, begitu dikhianati.

Perlahan Almira merebahkan tubuhnya di tempat tidur, memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kenangan indah bersama Gilang berputar-putar di benaknya, semakin menambah pedih hatinya.

Ia ingat saat pertama kali mereka bertemu, Gilang yang tak putus asa mengejar meski ratusan kali dia menolak, saat pertama kali akhirnya ia jatuh cinta karena kegigihan pria itu, dan saat mereka berjanji untuk hidup bersama selamanya. Janji itu kini hanyalah tinggal kenangan yang menyakitkan.

Di tengah kesedihannya, Almira teringat akan kekecewaan mama dan papanya, saat ia tetap memilih menikah dengan Gilang. Papanya yang pernah mengingatkannya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup, sempat menolak tegas saat ia memperkenalkan Gilang.

Papanya juga enggan bertemu dengan Gilang di rumah mereka. Bahkan pernikahan mereka saja dilakukan di rumah Gilang yang saat itu masih ngontrak. Papanya hanya datang untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang ayah yang menikahkan putrinya.

"Maafkan aku, Ma, Pa. Aku terlalu bodoh dan naif. Aku terlalu percaya pada Gilang. Aku pantas mendapatkan hukuman ini," bisik Almira penuh penyesalan.

Almira bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja riasnya. Ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah album foto. Ia membuka album itu dan terlihat olehnya foto-foto dirinya dan kedua orang tuanya saat ia masih kecil hingga lulus kuliah.

Almira menatap foto itu dengan tatapan penuh tekad. "Pa, aku janji akan membuat mereka menyesal. Aku akan membuat Gilang dan Lila merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan saat ini. Mereka yang menghancurkan kebahagiaanku, maka aku akan menghempaskan hidup mereka hingga tak mampu bangkit lagi,” ucap Almira dengan suaranya yang dingin.

Ia menutup kotak itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci. Ia kemudian berjalan menuju jendela dan menatap langit malam yang gelap. Angin malam membelai wajahnya, membuatnya sedikit lupa akan rasa sakit. Di tengah kegelapan itu, ia melihat bintang-bintang yang bersinar terang.

"Gilang... ternyata semua pengabdianku sama sekali tak ada artinya bagimu. Aku yang menemani kamu dari nol, dan sekarang kamu membiarkan wanita lain untuk ikut menikmatinya. Apa itu pantas? Sudah cukup aku menjadi istri yang patuh selama ini. Mulai sekarang, lihat sisi diriku yang berbeda! Aku, Almira Abimanyu, tak kan membiarkan serangga seperti kalian menginjak ku," gumam Almira dengan tekad yang membara.

Wanita itu menyeringai sinis, membayangkan rencana balas dendam yang sudah mulai terbentuk di benaknya. Ia akan membuat Gilang dan Lila menyesali perbuatan mereka.

Terpopuler

Comments

Nar Sih

Nar Sih

ternyata pernikahan mu dgn gilang tnpa restu ke dua org tua mu ya almira,dan bnr hubungan tnpa ridho org tua ngk bahagia

2026-01-21

3

astr.id_est 🌻

astr.id_est 🌻

bagus almira lawan mereka jangan mau jadi wanita lemah dan jangan biarkan mereka merendahkan mu

2026-01-21

2

Yuliati Soemarlina

Yuliati Soemarlina

jika ortu tdk setuju pasti ada alasannya..

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Antara Kebahagiaan dan Pengkhianatan
2 02. Topeng Kepatuhan
3 Bab. 3. Awal Perlawanan
4 Bab. 4. Mengamankan Aset
5 Bab 5. Bertemu Sahabat
6 Bab 6. Teguran Untuk Gilang
7 Bab 7. Me Time Almira # Hasutan Lila
8 Bab 8. Perubahan Almira
9 Bab 9. Ancaman Almira
10 Bab 10. Cinta yang Hilang
11 Bab 11. Kedatangan Ibu Mertua
12 12. Ketika Sabar berubah Sadar
13 13. Rumahku Istanaku.
14 14. Drama di Sore Hari
15 15. Rencana Almira
16 16
17 17. Ketika Almira Mengembalikan Kendali
18 18. Umpan Pertama
19 19. Umpan telah dimakan
20 20. Menyiram Bensin Dalam Kobaran Api
21 21. Keributan di Pagi Hari
22 22. Rencana Busuk
23 23. Laksmana Abimanyu
24 24. Jabatan yang Diturunkan
25 25. Kamar yang digeledah
26 26. Revan Anggara
27 27
28 28. Nikahi Saya
29 29. Ketika Pembantu Lebih Menggoda
30 30. Ledakan Kecil
31 31. Rini Menuntut Keadilan
32 32
33 33. Rencana Bertemu Pengacara
34 34
35 35
36 36.
37 37
38 38. Kejutan Untuk Gilang
39 39. Resmi Bercerai
40 40. Perubahan Sikap Rini
41 41. Malam Pertama?
42 42
43 43.
44 44
45 45
46 46.
47 47
48 48
49 49
50 50.
51 51
52 52.
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62.
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87.
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112. END
113 1000 hari perjalanan Mama Mia Bersama NOVELTOON
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1 - Antara Kebahagiaan dan Pengkhianatan
2
02. Topeng Kepatuhan
3
Bab. 3. Awal Perlawanan
4
Bab. 4. Mengamankan Aset
5
Bab 5. Bertemu Sahabat
6
Bab 6. Teguran Untuk Gilang
7
Bab 7. Me Time Almira # Hasutan Lila
8
Bab 8. Perubahan Almira
9
Bab 9. Ancaman Almira
10
Bab 10. Cinta yang Hilang
11
Bab 11. Kedatangan Ibu Mertua
12
12. Ketika Sabar berubah Sadar
13
13. Rumahku Istanaku.
14
14. Drama di Sore Hari
15
15. Rencana Almira
16
16
17
17. Ketika Almira Mengembalikan Kendali
18
18. Umpan Pertama
19
19. Umpan telah dimakan
20
20. Menyiram Bensin Dalam Kobaran Api
21
21. Keributan di Pagi Hari
22
22. Rencana Busuk
23
23. Laksmana Abimanyu
24
24. Jabatan yang Diturunkan
25
25. Kamar yang digeledah
26
26. Revan Anggara
27
27
28
28. Nikahi Saya
29
29. Ketika Pembantu Lebih Menggoda
30
30. Ledakan Kecil
31
31. Rini Menuntut Keadilan
32
32
33
33. Rencana Bertemu Pengacara
34
34
35
35
36
36.
37
37
38
38. Kejutan Untuk Gilang
39
39. Resmi Bercerai
40
40. Perubahan Sikap Rini
41
41. Malam Pertama?
42
42
43
43.
44
44
45
45
46
46.
47
47
48
48
49
49
50
50.
51
51
52
52.
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62.
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87.
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112. END
113
1000 hari perjalanan Mama Mia Bersama NOVELTOON

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!