******
Keesokan harinya, pagi yang tenang menyelimuti rumah besar itu. Calista menjalani harinya seperti biasa—dipenuhi kesepian dan kebosanan yang perlahan menggerogoti. Untuk mengusir perasaan itu, ia memutuskan melakukan sesuatu yang sudah ia lakukan beberapa hari ini.
Memasak.
Di dapur, Calista sudah bersiap. Ia mengenakan celemek sebatas paha yang bentuknya menyerupai dress—memberikan kesan manis dan anggun sekaligus. Rambut pendeknya yang mulai tumbuh agak panjang ke bawah diikat sederhana, memperlihatkan wajahnya yang bersih tanpa riasan.
“Bahan-bahannya lengkap… sepertinya cukup untuk membuat cookies dan beberapa loyang brownies cokelat,” gumamnya pelan sambil mengangguk kecil.
Padahal semalam, ia hanya sekadar bertanya pada kepala pelayan apakah ada stok bahan kue di dapur. Ia tidak menyangka, pagi ini semua sudah disiapkan dengan rapi. Bahkan dapur dibiarkan kosong, tanpa satu pun pelayan.
Memang, Calista pernah meminta agar dapur dikosongkan setiap kali ia ingin memasak. Ia ingin menikmati proses itu sendiri—tanpa gangguan, tanpa bantuan.
Lebih tenang. Lebih bebas.
Kini, kedua tangannya sibuk mengaduk adonan red velvet cookies—varian favoritnya sejak kecil. Dulu, ibunya sering membuatkannya. Aroma manis yang khas selalu berhasil membuatnya tersenyum, bahkan di hari terburuk sekalipun.
Ting!
Suara oven listrik berbunyi, menandakan cookies pertama telah matang.
Senyum lebar langsung terukir di wajah Calista saat aroma harum memenuhi seluruh dapur.
“Harumnya…”
Tanpa menunggu lama, ia mengambil satu cookies yang masih hangat, uap tipis masih terlihat mengepul. Dengan sedikit ragu, ia menggigitnya.
Matanya langsung melembut. “Enak… seperti buatan Ibu…”
Dadanya terasa sesak. Kenangan lama yang ia coba kubur perlahan muncul ke permukaan. Sosok ibunya, tawa hangat itu, dapur kecil yang penuh cinta…
Calista menunduk, menggenggam erat cookies di tangannya.
Ia ingin menangis.
Namun, ia menahannya. Kuat-kuat.
Ia tidak ingin kembali tenggelam dalam kenangan, meskipun itu indah.
Perlahan, ia menarik napas panjang. Lalu mengangkat wajahnya kembali, memaksakan senyum tipis di bibirnya.
“Sekarang bukan waktunya sedih…”
Dengan cepat, ia kembali sibuk. Tangannya bergerak lincah menyiapkan adonan berikutnya. Brownies cokelat menjadi pilihan selanjutnya.
Cairan cokelat pekat ia tuang perlahan ke dalam adonan, menciptakan aroma yang semakin menggoda. Sesekali ia mengaduk, sesekali mencicipi, memastikan rasanya pas.
Dapur yang semula sunyi kini terasa hidup.
Hanya dengan suara adukan, dentingan alat masak, dan napas pelan Calista.
Beberapa waktu kemudian, loyang brownies masuk ke dalam oven. Sementara menunggu, Calista menata cookies yang sudah matang ke dalam piring cantik.
Ia memperhatikan hasil buatannya.
Rapi. Cantik. Menggugah selera.
Calista kembali mencicipi red velvet cookies, mengunyah dengan perlahan-lahan— seraya ingin meresapi kenangan indah di masa lalu bersama orangtuanya, walau tadi ia berusaha untuk melupakannya.
Saking fokus…
Reinkarnasi Ke Tubuh Wanita Bersuami Dua
30
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 60 Episodes
Comments
Muft Smoker
waah apa niiih yg lgi di lakuin damar ,, 😒😒😒😒
2026-05-20
0
Muft Smoker
lanjuuuut kak
2026-05-20
0