Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Jebakan Di Meja Kerja

Suasana pagi di pusat kota Jakarta selalu sama; bising, panas, dan menyesakkan. Namun, bagi Alana, sesak yang ia rasakan saat ini bukan karena polusi, melainkan karena setelan rok span hitam dan blazer yang terasa terlalu ketat di tubuhnya.

Ia berdiri di depan cermin besar di lobi gedung pencakar langit "Arkananta Group". Tangannya gemetar hebat saat merapikan kacamata berbingkai hitam yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Rambutnya yang biasa dibiarkan terurai kini digelung rapi, sangat mirip dengan gaya rambut kakaknya, Elena.

"Ingat, Alana... kamu adalah Elena. Kamu adalah sekretaris profesional. Jangan ceroboh atau ibu tidak akan bisa dioperasi," bisiknya pada diri sendiri.

Suara Elena di telepon tadi malam kembali terngiang. Kakaknya itu kabur bersama kekasihnya ke luar negeri, meninggalkan tumpukan utang dan tanggung jawab sebagai sekretaris pribadi Arkananta—CEO paling ditakuti di industri properti. Jika Alana tidak menggantikan posisi itu hari ini, Elena akan dipecat secara tidak hormat, tuntutan hukum akan melayang, dan yang paling mengerikan: biaya rumah sakit ibu mereka akan dihentikan.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai 45. Lantai tertinggi yang hanya diisi oleh satu ruangan: ruang kerja Sang Presdir.

Begitu Alana melangkah keluar, keheningan menyambutnya. Lantai itu berlapis marmer hitam yang sangat mengkilap hingga Alana bisa melihat bayangan wajahnya yang pucat. Di ujung lorong, terdapat meja sekretaris yang rapi, dan di belakangnya adalah pintu jati besar setinggi tiga meter.

Baru saja Alana duduk di kursi kebesarannya yang baru, sebuah suara bariton yang berat dan dingin terdengar melalui interkom.

"Elena, masuk sekarang. Bawa laporan audit bulanan dan kopi tanpa gula."

Jantung Alana seakan melompat ke tenggorokan. Itu dia. Sang Monster Es.

Dengan tangan gemetar, Alana menyiapkan kopi hitam pekat. Ia mencari-cari map laporan yang dimaksud di atas meja. Setelah menemukannya, ia menarik napas panjang, merapikan blusnya, dan mengetuk pintu jati itu tiga kali.

"Masuk."

Alana mendorong pintu. Ruangan itu luas, dengan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian. Namun, fokus Alana langsung tertuju pada pria yang duduk di balik meja kerja luas itu.

Arkananta. Pria itu tidak mendongak. Ia sibuk dengan tablet di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang mengintimidasi. Rahangnya tegas, rambutnya ditata rapi ke belakang, dan aura kekuasaan yang terpancar darinya membuat oksigen di ruangan itu seolah menipis.

"Kopi Anda, Pak," suara Alana mencicit. Ia meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati.

Arkan berhenti mengetuk meja. Ia mengambil cangkir itu, menyesapnya sedikit, lalu tiba-tiba meletakkannya kembali dengan dentuman keras yang membuat Alana terlonjak.

"Terlalu panas," ucap Arkan dingin. Matanya tetap tertuju pada tablet. "Sejak kapan kamu lupa suhu kopi kesukaanku, Elena?"

"Ma-maaf, Pak. Saya akan menggantinya," Alana membungkuk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya.

"Letakkan laporannya dan diam di sana."

Alana meletakkan map itu dengan tangan gemetar. Ia berdiri mematung di depan meja kerja Arkan. Menit demi menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Arkan membaca laporan itu dengan teliti, sesekali mengernyitkan dahi. Alana bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Tiba-tiba, Arkan menutup map itu dengan kasar. Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya, mata elangnya menatap langsung ke arah Alana.

Tatapan itu tajam, seolah bisa menguliti semua rahasia yang Alana sembunyikan. Arkan menyipitkan matanya, memperhatikan Alana dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ada yang berbeda denganmu hari ini," ucap Arkan pelan, tapi nadanya penuh kecurigaan.

"Maksud... maksud Bapak?"

Arkan berdiri. Ia berjalan mengitari meja kerjanya, langkah kakinya yang berat terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi itu. Ia berhenti tepat di depan Alana, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap wajahnya. Arkan terlalu tinggi, dan jarak mereka sekarang terlalu dekat. Alana bisa mencium aroma parfum sandalwood dan maskulin yang sangat kuat.

"Parfummu," Arkan mendekatkan wajahnya ke leher Alana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Elena selalu memakai aroma mawar yang menyengat. Tapi kamu... kamu beraroma seperti vanila dan... sesuatu yang alami."

Alana menahan napas. Ia lupa! Ia lupa memakai parfum milik kakaknya.

"S-saya ingin mencoba suasana baru, Pak," jawab Alana terbata-bata.

Arkan tidak menjawab. Tangannya tiba-tiba terangkat, bukan untuk memukul, melainkan untuk menyentuh kacamata Alana. Dengan satu gerakan cepat, Arkan melepas kacamata itu dari wajah Alana.

"Dan sejak kapan penglihatanmu bermasalah hingga harus memakai kacamata sebesar ini?" Arkan menatap mata Alana yang bulat dan jernih, sangat berbeda dengan mata Elena yang selalu penuh dengan riasan tebal dan ambisi.

Alana merasa dunianya runtuh. Baru sepuluh menit ia berada di ruangan ini, dan penyamarannya sudah berada di ujung tanduk.

"Saya... saya sedang sakit mata, Pak. Dokter menyarankan untuk memakai pelindung," Alana mencoba mencari alasan seadanya.

Arkan terdiam lama, menatap dalam ke mata Alana yang bergetar karena takut. Ada kilat aneh di mata pria itu, sesuatu yang sulit diartikan. Ia kemudian melemparkan kacamata itu ke meja kerja.

"Kembali ke mejamu. Jadwalkan pertemuan dengan dewan komisaris jam sepuluh nanti. Dan Elena..." Arkan menjeda kalimatnya saat Alana hampir mencapai pintu.

"Ya, Pak?"

"Jangan pernah mencoba membodohiku. Sekali saja aku menemukan kejanggalan, kamu tahu apa konsekuensinya."

Alana mengangguk cepat dan hampir lari keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya di tembok, jantungnya berpacu seperti baru saja lolos dari maut.

Ia tidak tahu bagaimana ia bisa bertahan selama satu bulan ke depan. Arkananta bukan hanya sekadar bos yang dingin; pria itu adalah predator yang sangat peka.

Sementara itu, di dalam ruangan, Arkan berdiri di depan jendela kaca besar. Ia menatap ke arah pintu tempat Alana baru saja keluar. Ia mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor.

"Cari tahu ke mana Elena yang asli pergi," perintah Arkan pada orang di seberang telepon.

Ia menyeringai kecil, sebuah seringai yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Ia tahu itu bukan Elena. Ia tahu gadis itu adalah orang yang berbeda sejak pertama kali ia melangkah masuk. Namun, ketakutan di mata gadis itu, kepolosannya, dan aroma vanila itu... memberikan sensasi menarik yang sudah lama tidak Arkan rasakan.

"Permainan yang menarik, sekretaris kecil," gumam Arkan sambil menatap cangkir kopi yang tadi dibilangnya terlalu panas. Ia meminumnya kembali hingga habis.

Pagi itu, Alana mengira ia berhasil menipu Sang Monster Es. Ia tidak sadar bahwa ia sebenarnya baru saja melangkah masuk ke dalam sangkar emas yang sudah disiapkan Arkan untuknya.

Terpopuler

Comments

🍒WINA🍒

🍒WINA🍒

Arkan tahu gadis itu bukan elena sangat beda sekali dengan elena asli, sekali sangat jeli sekali tidak bisa ditipu😀

2026-02-22

1

Sweet Girl

Sweet Girl

Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???

2026-02-09

1

Sweet Girl

Sweet Girl

Bwahahaha bener tau dia.

2026-02-09

1

lihat semua
Episodes
1 Jebakan Di Meja Kerja
2 Di Bawah Pengawasan Sang Predator
3 Dansa di Atas Bara Api
4 Kontrak Iblis di Atas Meja
5 Satu Atap dengan Sang Iblis
6 Rahasia yang Terkoyak
7 Perjamuan di Sarang Ular
8 Harga Sebuah Nyawa
9 Ikrar di Balik Jeruji Emas
10 Di Balik Dinding Posesif
11 Pesta Di Atas Tebing Kehancuran
12 Rahasia Di Balik Tirai Putih
13 Umpan Di Meja Perjamuan
14 Mahkota Berduri Sang Pewaris
15 Antara Api dan Air Mata
16 Takhta yang Berlumuran Dosa
17 Benang Merah yang Mulai Terurai
18 Dansa di Atas Ladang Ranjau
19 Perburuan di Balik Bayangan
20 Balasan Sang Monster Es
21 Di Balik Tirai Luka
22 Singgasana di Atas Kaca Tipis
23 Tamu dari Masa Lalu
24 Gema dari Masa Silam
25 Puing-Puing di Danau Jenewa
26 Pesta di Atas Sarang Ular
27 Belati di Balik Nama
28 Sekutu di Balik Kabut
29 Perjamuan Agen Ganda
30 Labirin Kecurigaan
31 Kelahiran di Balik Kabut Rahasia
32 Perjamuan Para Serigala
33 Badai di Puncak Alpen
34 Gema dari Dasar Danau
35 Sang Pengecoh dan Sang Algojo
36 Cahaya di Balik Jendela Mansion
37 Singgasana di Atas Kaca
38 Luka yang Dipahat
39 Dansa di Atas Belati
40 Dua Wajah dalam Satu Cermin
41 Retaknya Topeng Sang Pengganti
42 Rantai Tanpa Wujud
43 Harga Diri yang Terampas
44 Dua Wajah, Satu Pengkhianatan
45 Antara Benci dan Candu
46 Pesta di Atas Bara Api
47 Perjamuan di Mulut Serigala
48 Ikrar di Atas Kehancuran
49 Istri Sang Monster
50 Bayang-bayang dari Masa Lalu
51 Racun dalam Gaun Sutra
52 Jejak di Balik Kabut
53 Racun dalam Cawan Emas
54 Runtuhnya Topeng Arkananta
55 Mahakarya dari Reruntuhan
56 Serigala di Ruang Sidang
57 Cahaya dari Garasi Sempit
58 Retakan dalam Mahkota
59 Badai dalam Gelas Kristal
60 Gejala yang Tak Terucap
61 Labirin Keraguan
62 Bayang-Bayang Pelarian
63 Jeratan di Balik Kebebasan
64 Konfrontasi di Ambang Kehancuran
65 Singgasana yang Retak
66 Racun di Balik Senyuman Manis
67 Topeng di Bawah Cahaya Kristal
68 Jejak yang Tersembunyi
69 Dinding Kaca yang Tak Terlihat
70 Pelarian dalam Hujan
71 Di Bawah Langit yang Sama
72 Pertemuan yang Tercuri
73 Dinding yang Runtuh
74 Jejak yang Memudar
75 Pilihan Terakhir di Bawah Langit
76 Di Antara Pecahan Kaca
77 Mahkota yang Terlepas
78 Operasi Phoenix Dimulai
79 Pengepungan di Gang Sempit
80 Runtuhnya Menara Gading
81 Takhta yang Kosong
82 Langkah Pertama di Atas Puing
83 Racun dalam Secangkir Teh
84 Jerat di Balik Sandiwara
85 Guncangan di Tengah Badai
86 Sumpah di Balik Kaca
87 Kejujuran Sang Phoenix
88 Bayang-Bayang Masa Lalu
89 Duri yang Masih Tersisa
90 Cahaya di Balik Badai
91 Runtuhnya Takhta Kaca
92 Bisikan di Balik Dinding
93 Serangan Sang Phoenix
94 Puing Menjadi Pondasi
95 Dinding yang Retak
96 Menyusun Strategi
97 Pasukan Bayangan
98 Serangan Kilat
99 Retakan di Singgasana
100 Sang Penakluk Pulang
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Jebakan Di Meja Kerja
2
Di Bawah Pengawasan Sang Predator
3
Dansa di Atas Bara Api
4
Kontrak Iblis di Atas Meja
5
Satu Atap dengan Sang Iblis
6
Rahasia yang Terkoyak
7
Perjamuan di Sarang Ular
8
Harga Sebuah Nyawa
9
Ikrar di Balik Jeruji Emas
10
Di Balik Dinding Posesif
11
Pesta Di Atas Tebing Kehancuran
12
Rahasia Di Balik Tirai Putih
13
Umpan Di Meja Perjamuan
14
Mahkota Berduri Sang Pewaris
15
Antara Api dan Air Mata
16
Takhta yang Berlumuran Dosa
17
Benang Merah yang Mulai Terurai
18
Dansa di Atas Ladang Ranjau
19
Perburuan di Balik Bayangan
20
Balasan Sang Monster Es
21
Di Balik Tirai Luka
22
Singgasana di Atas Kaca Tipis
23
Tamu dari Masa Lalu
24
Gema dari Masa Silam
25
Puing-Puing di Danau Jenewa
26
Pesta di Atas Sarang Ular
27
Belati di Balik Nama
28
Sekutu di Balik Kabut
29
Perjamuan Agen Ganda
30
Labirin Kecurigaan
31
Kelahiran di Balik Kabut Rahasia
32
Perjamuan Para Serigala
33
Badai di Puncak Alpen
34
Gema dari Dasar Danau
35
Sang Pengecoh dan Sang Algojo
36
Cahaya di Balik Jendela Mansion
37
Singgasana di Atas Kaca
38
Luka yang Dipahat
39
Dansa di Atas Belati
40
Dua Wajah dalam Satu Cermin
41
Retaknya Topeng Sang Pengganti
42
Rantai Tanpa Wujud
43
Harga Diri yang Terampas
44
Dua Wajah, Satu Pengkhianatan
45
Antara Benci dan Candu
46
Pesta di Atas Bara Api
47
Perjamuan di Mulut Serigala
48
Ikrar di Atas Kehancuran
49
Istri Sang Monster
50
Bayang-bayang dari Masa Lalu
51
Racun dalam Gaun Sutra
52
Jejak di Balik Kabut
53
Racun dalam Cawan Emas
54
Runtuhnya Topeng Arkananta
55
Mahakarya dari Reruntuhan
56
Serigala di Ruang Sidang
57
Cahaya dari Garasi Sempit
58
Retakan dalam Mahkota
59
Badai dalam Gelas Kristal
60
Gejala yang Tak Terucap
61
Labirin Keraguan
62
Bayang-Bayang Pelarian
63
Jeratan di Balik Kebebasan
64
Konfrontasi di Ambang Kehancuran
65
Singgasana yang Retak
66
Racun di Balik Senyuman Manis
67
Topeng di Bawah Cahaya Kristal
68
Jejak yang Tersembunyi
69
Dinding Kaca yang Tak Terlihat
70
Pelarian dalam Hujan
71
Di Bawah Langit yang Sama
72
Pertemuan yang Tercuri
73
Dinding yang Runtuh
74
Jejak yang Memudar
75
Pilihan Terakhir di Bawah Langit
76
Di Antara Pecahan Kaca
77
Mahkota yang Terlepas
78
Operasi Phoenix Dimulai
79
Pengepungan di Gang Sempit
80
Runtuhnya Menara Gading
81
Takhta yang Kosong
82
Langkah Pertama di Atas Puing
83
Racun dalam Secangkir Teh
84
Jerat di Balik Sandiwara
85
Guncangan di Tengah Badai
86
Sumpah di Balik Kaca
87
Kejujuran Sang Phoenix
88
Bayang-Bayang Masa Lalu
89
Duri yang Masih Tersisa
90
Cahaya di Balik Badai
91
Runtuhnya Takhta Kaca
92
Bisikan di Balik Dinding
93
Serangan Sang Phoenix
94
Puing Menjadi Pondasi
95
Dinding yang Retak
96
Menyusun Strategi
97
Pasukan Bayangan
98
Serangan Kilat
99
Retakan di Singgasana
100
Sang Penakluk Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!