Bab 4 - Abang dan Ading

Acara pernikahan Bastian dan Seruni pun telah usai. Seruni sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri yang digunakan sebagai kamar pengantin. Hiasan ala kadarnya yang ada di kamar tersebut.

Namun percayalah walaupun tampak sederhana, tetapi semua tampak bersih dan rapi. Seruni tipikal orang yang suka akan kebersihan dan kerapian. Ia juga wanita pekerja keras. Walaupun pendidikan sekolahnya hanya sampai SMP saja.

SMA di sana lokasinya sangat jauh. Bahkan jika bersekolah SMA, dari desa Seruni harus menempuh perjalanan sekitar dua jam lebih dengan mengendarai motor.

Seruni tak punya sepeda motor. Ia hanya punya sepeda ontel butut yang dikayuh pakai kaki atau yang biasa disebut sepeda keb0.

Sedangkan Rasti punya sepeda motor. Adik tirinya itu baru saja lulus SMA beberapa bulan yang lalu. Saat ini umur Rasti delapan belas tahun. Berjarak dua tahun dengan Seruni.

Di halaman belakang tepat di bawah pohon rambutan, Pak Tono menye_sap batang rokok miliknya. Ia sempat menawari Bastian untuk merokok bersama, namun ditolak dengan halus oleh menantunya itu.

Bastian memang tidak merokok setiap hari. Ia hanya akan merokok jika pikirannya sedang kalut atau resah saja. Namun saat ini entah mengapa pikirannya mengenai kasus pembunuhan Rossa mendadak menepi dari otaknya.

Berganti sosok paras cantik yang sejak pandangan pertama selalu menundukkan kepalanya terhadapnya maupun di depan para tamu yang hadir tadi saat acara pernikahan sederhana mereka.

"Jaga dan sayangi Seruni baik-baik. Bapak paham kamu saat ini tidak ada cinta untuknya. Begitu pun Seruni yang belum mengenalmu. Tapi bapak pastikan dia akan menjadi istri yang setia dan patuh pada suaminya. Hatinya juga lembut dan penyayang. Bapak yakin dia bisa mencintaimu dengan baik ke depannya," tutur Pak Tono membuka obrolan.

"Iya, Pak." Sahut Bastian.

"Kalau memang suatu hari kamu tak ingin bersama Seruni lagi sebagai suami-istri, tolong pulangkan putriku baik-baik. Jangan pernah membuatnya menangis atau bersedih," tutur Pak Tono sejenak menjeda kalimatnya. Bastian tetap mendengarkan dengan seksama petuah bijak dari ayah mertuanya.

"Aku sudah melakukan kesalahan fatal pada Seruni dan mendiang ibunya. Jangan sampai kamu melakukan hal yang sama terhadapnya. Aku benar-benar tak akan memaafkan mu jika sampai hal itu terjadi," lanjutnya.

"Kalau boleh tau, kesalahan apa yang sudah bapak perbuat pada Seruni dan mendiang ibunya?" tanya Bastian didera penasaran.

Pak Tono menghela nafas beratnya jika mengingat perkara masa lalu yang terjadi dalam biduk rumah tangganya.

"Tak perlu membahas masa lalu. Kita baru saling mengenal juga,"

"Maaf, Pak. Saya tak ada mau ikut campur perkara yang sudah berlalu. Hanya saja saya ingin tau agar diri ini tak melakukan kesalahan seperti bapak di masa lalu,"

"Intinya mengenai cinta yang cukup rumit dan perselingkuhan," ujar Pak Tono.

Bastian menganggukkan kepalanya kecil di depan Pak Tono. Ia paham ucapan ayah mertuanya itu. Sebab hal yang sama pernah terjadi dalam rumah tangga kedua orang tuanya di masa lalu hingga membuat dirinya trauma.

☘️☘️

Ceklek...

Derit pintu kamar pengantin dibuka oleh Bastian.

Deg...

Tatapan Bastian dan Seruni pun bertemu dalam satu pandangan garis lurus yang sama. Seruni masih tetap sama di posisinya yakni tengah duduk di tepian ranjang.

Detik selanjutnya, Bastian menutup dan mengunci pintu kamar mereka. Jujur, tiba-tiba jantung Bastian berdegup cukup kencang. Semacam anak SMA yang canggung ketemu sang pujaan hati atau kekasihnya.

Bastian mencoba untuk menolak degup rasa baru yang menyelinap masuk ke hatinya karena kehadiran Seruni di hidupnya. Nama Kirana masih tersemat di hatinya, walaupun wanita itu milik Aldo.

Tap...tap...tap...

Bastian melangkah mendekati Seruni. Ia tak sungkan mendaratkan b0kongnya di samping Seruni duduk. Sontak hal ini membuat sang pengantin wanita gemetaran serta dag-dig-dug. Seeer...

Harap maklum selama ini Seruni tak punya teman dekat laki-laki. Hanya Ardi yang pernah dekat dengannya. Selebihnya hanya berusaha mendekati, tapi tak berlanjut. Dikarenakan dahulu Seruni belum memikirkan soal pernikahan. Ia hanya fokus dengan sekolah dan bertani mengurus lahan milik ayahnya.

"Kenapa belum ganti baju?"

"Ehm, Abang kok gak ucap salam dulu!" protes Seruni dengan suara lirih dan kepala menunduk.

"Ya ampun, aku lupa. Inget Bastian sekarang ini kamu hidup di desa antah berantah. Harus tau agama dan tata krama!" batin Bastian bermonolog pada dirinya sendiri.

"Ah, ma_af. A_bang lu_pa," ucap Bastian tergagap. Seruni pun tersenyum tipis penuh maklum pada sang suami.

"Assalammualaikum,"

"Waalaikumsalam, Abang."

"Aku panggil kamu apa?" tanya Bastian seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal, tapi kebingungan melanda pak pengacara satu ini.

"Panggil Ading atau Runi juga boleh," cicit Seruni tersipu malu.

"Baiklah,"

"Abang tadi dari mana?"

"Ketemu bapakmu,"

"Apak cakap apa ke Abang?" tanya Seruni mendadak penasaran.

"Urusan laki-laki,"

"Oh begitu," gumam Seruni yang cukup mengerti dengan jawaban singkat Bastian.

Artinya, sebagai istri ia tak patut menanyakan hal tersebut lebih jauh karena bersifat rahasia.

Seruni adalah gambaran anak dan istri yang penurut, maka ia tak akan melangkah lebih jauh bila tuan rumah melarang dirinya untuk masuk.

"Tadi pertanyaanku belum kamu jawab," pancing Bastian.

"Yang mana, Bang?"

"Kenapa kamu tak juga ganti baju?"

"Nunggu abang dulu,"

"Kenapa harus nungguin abang?"

"Ading kan sekarang udah jadi istri abang. Jadi, ading mau minta izin dulu ke abang. Apa boleh ading ganti baju pengantin ini dengan pakaian yang lain?"

"Astaga, Runi. Perkara sepele seperti ini kamu tak perlu minta izin padaku. Lakukan saja yang kamu mau!" seru Bastian mendadak nada suaranya naik satu oktaf.

"Maafkan ading, Bang. Yang ading paham, apapun yang hendak seorang istri lakukan harus seizin suami. Ading pikir, abang bisa saja masih pengin lihat aku pakai baju pengantin. Jadi sengaja tak ku lepas dulu. Nunggu izin dari abang," ungkap Seruni secara jujur dan apa adanya.

"Maafkan Runi ya, Bang." Lanjutnya seraya menautkan jari-jemarinya.

Seruni mendengar jelas nada suara Bastian mendadak naik. Ia berpikir bahwa sang suami sedang marah padanya. Seruni jadi merasa bersalah pada Bastian.

Detik selanjutnya, Bastian memahami gestur tubuh Seruni yang dilanda ketakutan usai mendengarnya berbicara.

Bastian menghela nafas beratnya. Ia berusaha memukul mundur emosinya karena tingkah Seruni bertolak belakang dengan kebiasaan dirinya maupun kebiasaan teman-temannya di kota.

Dua orang dari dunia serta lingkungan yang berbeda. Sifat dan kebiasaan yang tak sama. Bahkan pergaulan yang sangat jauh berbeda antara Bastian dengan Seruni. Mendadak dua orang tersebut harus hidup bersama dalam satu mahligai suci yakni pernikahan. Semuanya pasti butuh saling beradaptasi.

"Kalau kamu gerah, ya ganti baju saja. Tanpa harus nunggu izin dariku. Apalagi cuaca hari ini panas banget. Terus di kamar ini aku lihat gak ada A C nya juga. Pasti kamu gerah sejak tadi," ucap Bastian.

"A C? Apa itu, Bang?"

Bersambung...

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

🌷Vnyjkb🌷

🌷Vnyjkb🌷

hedeeeehhhhh pakk pakkkk,,, sendirinya bikin seruni menangissss tanpa suara,,, disiplinkan itu istri - anak tirimu,,, jelalataaannnn mulu jd perempuan

2026-02-12

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

ciri khas orang Kalimantan yah, bahasanya hampir mirip, soalnya punya ipar orang Banjarmasin jadi agak familiar sama bahasanya😁😁😁

2026-02-12

1

Iccha Risa

Iccha Risa

Abang antara beruntung dan sial, serius Teh Fira, Bastian terdampar... dahlah gimana ntar cerita rumah tangga mereka ...

2026-02-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Melarikan Diri
2 Bab 2 - Seruni
3 Bab 3 - Terpaksa Menikah
4 Bab 4 - Abang dan Ading
5 Bab 5 - Pingsan
6 Bab 6 - Arena Uji Nyali
7 Bab 7 - Tempat Pengasingan
8 Bab 8 - Di Luar Ekspektasi
9 Bab 9 - Baper
10 Bab 10 - Pillow Talk
11 Bab 11 - Apa Kamu Keberatan ?
12 Bab 12 - Jangan Lama-Lama
13 Bab 13 - Ular Berbisa
14 Bab 14 - Nugal
15 Bab 15 - Baju Tidur
16 Bab 16 - Ungkapan Hati Seruni
17 Bab 17 - Minta Jabatan
18 Bab 18 - Masa Lalu Orang Tua Bastian Part 1
19 Bab 19 - Masa Lalu Orang Tua Bastian Part 2
20 Bab 20 - Tania Malik
21 Bab 21 - Kebohongan Tania
22 Bab 22 - Pesta Rakyat
23 Bab 23 - Perselingkuhan Masa Lalu (Pak Tono-Siti-Bu Dewi)
24 Bab 24 - Penyesalan Pak Tono
25 Bab 25 - Wanita Berlabel Flash Sale
26 Bab 26 - Cemburu Tak Kasat Mata
27 Bab 27 - Menginap
28 Bab 28 - Sengaja Membumihanguskan Penonton VVIP
29 Bab 29 - Kegamangan Seruni
30 Bab 30 - Sebuah Ide
31 Bab 31 - Pimpinan Baru Pabrik
32 Bab 32 - Mantan Kekasih
33 Bab 33 - Menjaga Jarak
34 Bab 34 - Pilihan yang Sulit
35 Bab 35 - Vitamin Penenang
36 Bab 36 - Obat Tidur
37 Bab 37 - Menghubungi Mama Elsa
38 Bab 38 - Manjanya Seruni
39 Bab 39 - Positif Hamil
40 Bab 40 - Buntu Pikiran
41 Bab 41 - Dituduh Sebagai Penculik
42 Bab 42 - Penyesalan (Bastian)
43 Bab 43 - Titik Pasrah Seruni
44 Bab 44 - Berbaikan
45 Bab 45 - Siapa Pak Danu ?
46 Bab 46 - Berpamitan
47 Bab 47 - Ramdan
48 Bab 48 - Tipu Daya Selvi di Masa Lalu
49 Bab 49 - Seminggu Tanpa Kabar
50 Bab 50 - Istri Sah vs Mantan Kekasih
51 Bab 51 - Syok
52 Bab 52 - Pukulan Seorang Ibu
53 Bab 53 - Pertengkaran Hebat
54 Bab 54 - Kemarahan Alex
55 Bab 55 - Sebuah Tawaran
56 Bab 56 - Penolakan Bastian
57 Bab 57 - Aksi Demo Warga Desa
58 Bab 58 - Situasi Semakin Menegangkan
59 Bab 59 - Kedatangan Mertua
60 Bab 60 - Bercak Merah
61 Bab 61 - Sebuah Rekaman
62 Bab 62 - Siapa yang Menyuruh ?
63 Bab 63 - Bu Dewi Menghilang (Buron)
64 Bab 64 - Tania Pergi ke mana?
65 Bab 65 - Mode Tantrum (Papa Surya-Mama Selvi)
66 Bab 66 - Semakin Curiga
67 Bab 67 - Berpamitan
68 Bab 68 - Perdana Bertemu AC
69 Bab 69 - Sigaraning Nyawa
70 Bab 70 - Malam Milik Bastian
71 Bab 71 - Kejutan di Pagi Hari
72 Bab 72 - Berpisah Sementara
73 Bab 73 - Pesan dari Ramdan
74 Bab 74 - Siapa Kekasih Tania ?
75 Bab 75 - Sidang Perdana
76 Bab 76 - Cepat Katakan !!
77 Bab 77 - Tabir yang Terungkap
78 Bab 78 - Semakin Terbuka Jelas
79 Bab 79 - Digelandang ke Kantor Polisi
80 Bab 80 - Sidang Kedua
81 Bab 81 - Kesaksian Maura
82 Bab 82 - Setelah Persidangan
83 Bab 83 - Gangguan
84 Bab 84 - Kondisi Tania
85 Bab 85 - Tania Siuman
86 Bab 86 - Kebenaran Terungkap
87 Bab 87 - Hasil Tes DNA
88 Bab 88 - Kepergian Tania
89 Bab 89 - Seruni Melahirkan
90 Bab 90 - Akhir Kisah
91 PROMO KARYA BARU
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1 - Melarikan Diri
2
Bab 2 - Seruni
3
Bab 3 - Terpaksa Menikah
4
Bab 4 - Abang dan Ading
5
Bab 5 - Pingsan
6
Bab 6 - Arena Uji Nyali
7
Bab 7 - Tempat Pengasingan
8
Bab 8 - Di Luar Ekspektasi
9
Bab 9 - Baper
10
Bab 10 - Pillow Talk
11
Bab 11 - Apa Kamu Keberatan ?
12
Bab 12 - Jangan Lama-Lama
13
Bab 13 - Ular Berbisa
14
Bab 14 - Nugal
15
Bab 15 - Baju Tidur
16
Bab 16 - Ungkapan Hati Seruni
17
Bab 17 - Minta Jabatan
18
Bab 18 - Masa Lalu Orang Tua Bastian Part 1
19
Bab 19 - Masa Lalu Orang Tua Bastian Part 2
20
Bab 20 - Tania Malik
21
Bab 21 - Kebohongan Tania
22
Bab 22 - Pesta Rakyat
23
Bab 23 - Perselingkuhan Masa Lalu (Pak Tono-Siti-Bu Dewi)
24
Bab 24 - Penyesalan Pak Tono
25
Bab 25 - Wanita Berlabel Flash Sale
26
Bab 26 - Cemburu Tak Kasat Mata
27
Bab 27 - Menginap
28
Bab 28 - Sengaja Membumihanguskan Penonton VVIP
29
Bab 29 - Kegamangan Seruni
30
Bab 30 - Sebuah Ide
31
Bab 31 - Pimpinan Baru Pabrik
32
Bab 32 - Mantan Kekasih
33
Bab 33 - Menjaga Jarak
34
Bab 34 - Pilihan yang Sulit
35
Bab 35 - Vitamin Penenang
36
Bab 36 - Obat Tidur
37
Bab 37 - Menghubungi Mama Elsa
38
Bab 38 - Manjanya Seruni
39
Bab 39 - Positif Hamil
40
Bab 40 - Buntu Pikiran
41
Bab 41 - Dituduh Sebagai Penculik
42
Bab 42 - Penyesalan (Bastian)
43
Bab 43 - Titik Pasrah Seruni
44
Bab 44 - Berbaikan
45
Bab 45 - Siapa Pak Danu ?
46
Bab 46 - Berpamitan
47
Bab 47 - Ramdan
48
Bab 48 - Tipu Daya Selvi di Masa Lalu
49
Bab 49 - Seminggu Tanpa Kabar
50
Bab 50 - Istri Sah vs Mantan Kekasih
51
Bab 51 - Syok
52
Bab 52 - Pukulan Seorang Ibu
53
Bab 53 - Pertengkaran Hebat
54
Bab 54 - Kemarahan Alex
55
Bab 55 - Sebuah Tawaran
56
Bab 56 - Penolakan Bastian
57
Bab 57 - Aksi Demo Warga Desa
58
Bab 58 - Situasi Semakin Menegangkan
59
Bab 59 - Kedatangan Mertua
60
Bab 60 - Bercak Merah
61
Bab 61 - Sebuah Rekaman
62
Bab 62 - Siapa yang Menyuruh ?
63
Bab 63 - Bu Dewi Menghilang (Buron)
64
Bab 64 - Tania Pergi ke mana?
65
Bab 65 - Mode Tantrum (Papa Surya-Mama Selvi)
66
Bab 66 - Semakin Curiga
67
Bab 67 - Berpamitan
68
Bab 68 - Perdana Bertemu AC
69
Bab 69 - Sigaraning Nyawa
70
Bab 70 - Malam Milik Bastian
71
Bab 71 - Kejutan di Pagi Hari
72
Bab 72 - Berpisah Sementara
73
Bab 73 - Pesan dari Ramdan
74
Bab 74 - Siapa Kekasih Tania ?
75
Bab 75 - Sidang Perdana
76
Bab 76 - Cepat Katakan !!
77
Bab 77 - Tabir yang Terungkap
78
Bab 78 - Semakin Terbuka Jelas
79
Bab 79 - Digelandang ke Kantor Polisi
80
Bab 80 - Sidang Kedua
81
Bab 81 - Kesaksian Maura
82
Bab 82 - Setelah Persidangan
83
Bab 83 - Gangguan
84
Bab 84 - Kondisi Tania
85
Bab 85 - Tania Siuman
86
Bab 86 - Kebenaran Terungkap
87
Bab 87 - Hasil Tes DNA
88
Bab 88 - Kepergian Tania
89
Bab 89 - Seruni Melahirkan
90
Bab 90 - Akhir Kisah
91
PROMO KARYA BARU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!